Adzkia Laila Tamin, kerap di sapa Laila. Gadis cantik dan periang. Ia jatuh cinta pada seorang pemuda yang bernama Fajri. Fajri adalah seorang pemuda yang begitu tampan dan berkarisma.
pertemuan awalnya dengan Fajri membuat
Laila sangat terhipnotis dengan semua yang dimiliki Fajri. Sampai dia tidak bisa lagi membendung perasaannya.
Pada saat yang tiba Fajri di minta oleh ayah Laila menjadi supir pribadinya. Saat itulah Laila sering bertemu dengan Fajri. Semakin hari Laila tidak bisa lagi membendung perasaannya sehingga memberanikan diri megungkapkan perasaannya. namun ternyata, Fajri bukan Ia menolak atau menerima sehingga Laila merasa dipermainkan.
Bagaimanakah sebenarnya perasaan Fajri pada Laila?
Dan kankah cinta Fajri, Laila dapatkan?
Simak kisah mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Masrianiani Hijab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 perkataan fajri menyentuh hati Laila.
Fajri terus melajukan mobilnya. Sesekali Laila menatap dirinya lewat pantulan kaca spion. Laila merasa kesal melihat Fajri hanya diam. Dia pun memutar musik. Fajri mengecilkan suara musik itu. Laila semakin kesal.
Fajri kembali serius mengemudi dan lagi-lagi Laila kembali bertingkah membuat Fajri kembali kesal. Fajri melirik Laila sekilas dengan memasang wajah datarnya yang membuat Laila bukannya takut akan tetapi merasa jika Fajri terpancing olehnya.
Sepanjang Perjalanan laila terus bertingkah. Terlihat wajah Fajri menahan kekesalannya terhadap Laila. Laila yang notabennya mencari perhatian segala cara dilakukannya agar Fajri mau buka suara.
Karena bosan Fajri tidak mau juga buka suara akhirnya Laila meminta Fajri menepikan mobilnya di sebuah taman yang cukup ramai pengunjung. Fajri menghentikan mobilnya. Laila turun dari mobil dan di susul oleh Fajri setelah mobil diparkir dengan baik. Sebuah taman yang cukup ramai sore itu dan anak-anak bermain dengan riang gembiranya dan didampingi oleh orang tua mereka.
Laila memilih kursi yang ada di sana dan Fajri mengikuti Laila ikut duduk di kursi panjang tersebut. Fajri ikut duduk dengan jarak yang cukup. Fajri dan Laila melihat anak-anak di depannya bermain dengan begitu tampak riang. Sesekali terlihat wajah Laila tersenyum dan sekejap terlihat murung.
"Aku tidak pernah merasakan seperti mereka, di dampingi dengan ayah dan ibunya bermain. "ujar Laila dan berbalik kearah Fajri yang terus melihat anak yang sedang bermain bersama ayah dan ibunya. Terlihat raut wajah Fajri begitu bahagia melihat anak-anak di depannya berlari dan tertawa dengan asyiknya.
"Karena kesibukan mereka kau menganggap bahwa mereka tidak menyayangimu? kamu salah jika, beranggapan seperti itu. Harusnya kamu cari cara bagaimana agar kedua orang tuamu sadar akan kesibukannya. Bukan dengan cara kau marah padanya atau membencinya. Mungkin dengan cara kamu mendoakan mereka pada pemilik yang membolak-balikan hati." Fajri terus melihat anak-anak bermain bersama kedua orang tuanya.
Laila terdiam mencerna kata demi kata yang di lontarkan Fajri. Merasa cukup tenang laila berdiri dari tempatnya dan meninggalkan Fajri. Fajri menyusul dan masuk dalam mobil. Sepanjang perjalanan mereka kembali terdiam.
Laila kembali terdiam membayangkan jika seandainya anak-anak tadi adalah dirinya akankah sebahagia itu?
Kemudian Laila kembali melihat Fajri dan merubah posisinya menghadap kearah Fajri dan memberanikan diri untuk bertanya menghilangkan rasa penasarannya.
"Apa tadi perempuan itu kekasihmu? Lumayan cantik. Bahkan kau menatapnya cukup lama.
Fajri memilih diam sesekali terlihat memasukkan personel mobilnya dan pandangannya tertuju ke depan. " Kenapa kau tidak mau menatapku. Apa aku terlihat menjijikkan? Laila memegang tangan fajri.
Fajri menghembuskan napasnya dan meminta Laila untuk melepaskan tangannya dengan alasan Fajri tidak bisa mengemudi dengan baik jika Laila terus memegang lengannya.
"Kenapa denganku kau tidak mau menatapku?" kesal Laila.
mendengar pertanyaan Laila Fajri memberi alasan jika dirinya hanya menjaga pandangannya sambil Fajri terus melajukan mobilnya. Fajri juga memberi jawaban duduk berdua dalam mobil seperti itu Fajri merasa malu dan takut pada dirinya sendiri tapi, namun karena pekerjaan mengharuskan Fajri menjalani apa adanya.
" Apa aku begitu menakutkan?
"Fajri tersenyum sambil terus melakukan mobilnya. "Aku hanya takut akan terperdaya hingga imanku goyah karena pakaian yang kau kenakan yang kurang bahan.
Laila cukup bingung maksud Fajri KURANG BAHAN dan kembali melihat Fajri dengan wajah datarnya. Laila protes jika baju yang dikenakannya tidak KURANG BAHAN
"Terserah." Fajri malas berdebat.
Laila cemberut dan melihat seluruh tubuhnya, memang benar pakaian Laila sedikit terbuka bagian dada dan itulah Laila setiap hari pakaian yang di kenakan seperti itu. Sementara roknya menampakkan sedikit *** putihnya.
"Besok-besok pakailah pakaian yang sedikit tertutup. Cukup buat suamimu kelak nanti yang menikmatinya. Hargailah dirimu sendiri.
Laila tersenyum dan timbullah ide jahilnya. Laila semakin mendekat mengerjai Fajri. Membuat Fajri semakin risih.
Deg.....
Fajri semakin merasa ingin gila dibuat kekonyolan Laila. dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi putri majikannya. semakin diberitahu semakin jadi kelakuannya.
Laila terus menggoda Fajri dengan kembali memegang tangan Fajri. Fajri semkin galau di buat oleh kelakuan Laila. Fajri tiba-tiba menghentikan mobilnya lama berdiam ditempatnya dan membuka jasnya yang membuat Laila menjauh.
"Apa yang mau kau lakukan." Laila sedikit ketakutan. Fajri tidak menjawab. Fajri menghadap kearah Laila. " Jika kau macam-macam denganku aku akan berteriak." Laila ketakutan den hendak turun dari mobil tapi mobil terkunci.
"Kau takut? Kau yang memancing ku. Fajri hendak tertawa melihat Laila ketakutan. Kenapa kau takut?
"Jangan mendekat." Laila semakin ketakutan. Sementara Fajri menahan tawanya melihat Laila ketakutan.
"Fajri menutup tubuh Laila dengan jas miliknya." Pakai itu. Jangan sampai aku benar-benar tergoda olehmu, hingga aku di cap sebagai laki-laki yang kurang ajar. Apa kau tahu kelakuanmu bisa memperdaya orang lain. jaga sikapmu pada lawan jenismu karena hal itu bisa merusak kehormatan dan harga dirimu sebagai perempuan dan Laila memperbaiki roknya yang menampilkan sedikit pahanya.
Fajri kembali melajukan mobilnya dan pandangannya tertuju ke depan. Laila semakin terhipnotis dengan Fajri.
"Kenapa kau masih menatapku seperti itu. Apa betul-betul kau menginginkan yang lebih?
Laila pun diam dan tidak berani lagi menoleh kearah Fajri. Tidak terasa perjalanan mereka sampai. Laila dan Fajri turun dari mobil. David Tamin tersenyum melihat Fajri dan meminta Fajri mengikutinya.
Laila sedikit heran melihat ayahnya sudah di rumah tidak seperti biasanya dan menoleh kearah ayahnya sambil mengeluarkan kata yang cukup tidak sopan.
"Seperti itulah putriku. kuharap kau betah dengan pekerjaan ini. cukup dua bulan kau mendampinginya. setelah itu kau boleh balik kekantor."
Mereka terus berjalan hingga sampai di sebuah ruang kerja. David Tamin mempersilahkan Fajri duduk. Fajri melihat ruang kerja David Tamin yang begitu luas dan melihat foto Laila waktu masih berumur lima tahun. Tampak keluarga bahagia pikir Fajri.
"David Tamin menghembuskan nafasnya. "aku yang menghancurkan kebahagiaan mereka karena kegilaan ku dengan pekerjaan.
" Apa maksud tuan? fajri penasaran.
"Dulu aku bukan orang berada. Ada banyak cemoohan yang terlontar membuat ayahku sakit hingga meninggal. Aku berjanji pada ibuku saat itu, akan menjadi orang yang sukses. Namun belum menjadi orang sukses ibuku menyusul. Hingga aku bertemu dengan ayahmu dan bersahabat dengannya. Kami kuliah sambil kerja ayahmu terus memberiku dukungan hingga suatu hari aku dan ayahmu menggelar sarjana, saat itulah aku mulai gila dengan pekerjaan, hingga akhirnya aku berada pada puncak kesuksesan. Di situlah aku berjanji kelak aku punya keluarga sendiri aku tidak akan membiarkan mereka bernasib sama denganku yang selalu mendapat celaan dari orang-orang sekitar karena hidup miskin.
mendengar cerita David Tamin Fajri memberikan jempol semangat juang seorang David Tamin dalam hatinya. namun disisi lain Fajri sedikit terharu mendengar kisah hidup seorang David Tamin.