Tidak mudah harus berperan ganda sebagai istri dan ibu di waktu bersamaan. Alina Inayyah harus dihadapkan pada kenyataan di mana dirinya dituntut untuk menjadi istri kedua dari seorang pria bernama Azam.
Yasmin sebagai istri pertama meminta Alina dan juga suaminya, Azam untuk menikah. Penyakit Leukimia yang diterinya membuat ia mengambil keputusan tersebut untuk kebaikan sang suami.
Masalah demi masalah terus berdatangan, Alina tidak menyangka jika pernikahannya hanya bisa bertahan seumur jagung. Kenyataan pahit di balik kematian Yasmin pun mencuat ke permukaan. Ditambah orang-orang baru semakin merajalela membangkitkan ujian.
Mampukah Alina menghadapi setiap permasalahan melandanya di balik peran ganda? Adakah cinta sejati mendatanginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Tiga hari setelah kejadian itu Alina terus terlihat dingin. Di mana pun ia berada tidak ada lagi senyum yang menghiasi wajah ayunya. Azam mengerti dengan rasa kecewa yang diemban istri keduanya tersebut. Ia bersalah sangat bersalah sudah memberikan luka teramat dalam.
Musim hujan di bulan november mengantarkan luka batin yang tak berujung. Aroma kepedihan begitu menyengat kala tetesan air dari langit jatuh membasahi tanah. Bunga yang kehilangan sari madunya tidak bisa bermekaran dengan indah lagi. Sang lebah membagikan kepedihan yang teramat besar.
Peran ganda masih melekat dalam diri seorang Alina. Ia masih melakukan tugas sebagai istri dan ibu yang baik. Namun, sorot mata hangat menghilang dalam diri. Ia tidak jauh berbeda dari boneka tanpa nyawa.
Namun, di kala sendirian air mata mengalir tanpa henti.
Seperti saat ini, Alina kembali sendirian berada di kamar pribadinya tengah menangis menyambut pilu yang lagi-lagi datang menyeruak. Tanpa permisi mendobrak pintu hatinya memberikan luka tak berdarah.
"Bertemu dengan mas Azam bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sudah menjadi ketentuan. Allah memberikan luka pasti ada obatnya, tetapi, tetap saja ini terasa sangat sakit. Aku tahu tidak ada cinta untukku darinya. Ya Allah jika perasaan ini hanya mengundang luka tiada akhir, maka hapsuka lah. Namun, jika rasa tersebut memang terbaik untuk hamba, maka kuatkan lah," lirih Alina.
Tidak ada air mata yang abadi, semua memiliki akhir. Namun, ketika masih berada di fase itu memang tidak mudah untuk dilalui. Percayalah jika skenario Allah tidak pernah salah untuk digariskan kepada setiap hamba.
Beberapa saat kemudian pintu kamar diketuk seseorang. Alina buru-buru menghapus jejak air mata dan beranjak dari sana.
"Sarah?" Panggilnya saat mendapati pengasuh bayinya di sana.
"Saya ingin memberitahu jika tuan sudah pulang," jelasnya.
"Baik, nanti saya akan ke sana."
Sarah pun undur diri seraya berkata dalam benak, "mbak Alina menangis lagi? Ini sudah tiga hari apa beliau melakukan hal yang sama? Sebenarnya apa yang terjadi? Ah, aku tidak boleh ikut campur dalam rumah tangga orang lain."
Tidak lama berselang Alina pun keluar dari kamar dan berjalan mendekati Azam berada. Pria itu tengah duduk bersandar di sofa tunggal di ruang keluarga. Ia sedikit tersentak saat mendapati sang istri kedua tiba-tiba saja berjongkok di hadapannya.
Alina selalu melakukan hal yang sama, melepaskan sepatu kerjanya. Dalam diam ia memperhatikan dengan seksama. Mata bengkak, hidung memerah, bibir pucat serta keringat bermunculan di pelipisnya, memperlihatkan kondisi wanita itu
Azam menautkan kedua alis menyadari perubahan sang istri.
"Kamu sakit?" tanyanya seraya meletakan tangan di dahi wanita itu.
Alina terlonjak merasakan sentuhan tangan hangat sang pasangan hidup. Bayangan tiga hari lalu pun kembali hinggap dalam kepalanya. Seperti ketakutan, ia mundur beberapa langkah dengan menggelengkan kepala beberapa kali. Badannya bergetar hebat membuat Azam beranjak dari duduk.
"Alina." Panggilnya.
Kedua tangan tegap itu terulur hendak menangkap tubuh ringkih sang istri. Alina semakin menjauhkan diri, tidak mau kejadian menyakitkan hari itu kembali lagi. Sampai kaki kanannya terpeleset dan membuat ia jatuh begitu saja.
Azam melebarkan bola mata menyaksikan kejadian tersebut.
"Alina."
Secepat kilat ia merengkuh sosok mungil istri keduanya ke dalam pelukan hangat.
Seketika itu juga Alina berontak mencoba melepaskan diri dari kungkungan Azam. Ia kembali menangis, meraung melepaskan sesak dalam dada.
Dengan sabar Azam mengusap puncak kepalanya dan beberapa kali membubuhkan kecupan hangat di sana.
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf, sudah membuatmu terluka seperti ini. Jangan menangis lagi, itu membuatku terluka juga."
Suara Azam terdengar bergetar seraya terus memberikan kecupan hangat di puncak kepala istri keduanya. Alina masih saja menangis tanpa henti membiarkan air mata mengambil alih rasa sakit dalam dada. Setidaknya hal tersebut bisa mengurangi penderitaannya sebagai seorang ibu dan istri.
Peran ganda yang ia lakoni setelah kata sah terucap membuatnya terus menerus mendapatkan luka. Tidak dihargai sebagai istri membuat ia seperti barang yang tidak berharga. Hanya untuk mencegah hal yang tidak diinginkan Alina dinikahi pria bernama Azam.
Sehingga kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia pikir setelah menikah, maka hidupnya akan bahagia. Namun, ternyata memang hanya sebagai balas budi semata. Azam serta keluarganya sudah sangat baik pada Alina dan juga para penghuni panti.
Alina, seorang anak sebatang kara hanya mengandalkan belas kasih dari ibu panti dan juga donatur. Sudah jelas jika jalan yang dilaluinya begitu penuh lika liku dan sekarang bertambah luka. Cinta hadir dalam hati mengantarkan ketidaberdayaan.
Alina sudah jatuh cinta pada Azam sebelum pria itu menikah dengan Yasmin.
"Aku sangat mencintaimu sebelum Mas Azam mengenal mbak Yasmin. Aku tidak salah, aku tidak merasa bersalah atas perasaan ini, tetapi kenapa harus aku yang menanggung luka? Apa yang sudah kuperbuat Mas? Apa mencintaimu adalah sebuah kesalahan terbesar?" ungkap Alina membuat Azam mematung.
Kepala bersurai hitam dengan potongan rapih tersebut menggeleng beberapa kali. Azam teringat lagi pertemuan pertamanya dengan Alina. Gadis pendiam yang menyembunyikan senyum manis membuat ia ingin berteman dengannya.
Masa kanak-kanak mempunyai cerita tersendiri bagi mereka berdua, hingga waktu merenggut kebersamaan Azam dan Alina.
Perbedaan usia enam tahun membuat Alina menganggapnya sebagai seorang kakak. Saat mereka beranjak remaja perasaan aneh mulai melingkupi hati terdalam. Ia sadar akan hal tersebut dan hanya memendamnya sendirian dan sadar diri akan status mereka yang jauh berbeda.
"Apa dari dulu kamu sudah menyukaiku?" tanya Azam membuat wanita dalam dekapannya mengangguk yakin.
"Ya Allah, apa yang sudah kuperbuat? Aku benar-benar minta maaf, Alina. Aku sudah menyakiti wanita sebaik dirimu."
Lagi, kata maaf terucap dari balik bibir menawan Azam. Alina tidak mengatakan apa-apa hanya mendengarkan degup jantung sang suami. Suaranya begitu mendamaikan, baru pertama ia bisa merasakannya. Debaran orang yang paling ia cintai.
"Jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan, maka aku siap untuk menanggungnya. Bagaimanapun juga sekarang Mas sudah menjadi suamiku," jata Alina seraya mencengkram erat pakaian Azam.
"Kamu sama sekali tidak bersalah, Alina. Aku sangat berterima kasih, karena perasaan itu datang padamu. Di sini aku yang salah, sudah menempatkan mu dalam posisi yang serba salah."
Azam mengakui itu, bagaimanapun juga ia sangat membutuhkan keberadaan Alina untuk membantunya mengurus rumah tangga. Namun, apa perasaan itu juga ada padanya? Alina masih menunggu kata-kata selanjutnya dari sang suami, tetapi hingga beberapa saat pria itu tidak mengatakan apa pun lagi.
Alina hanya bisa membenamkan wajah berair nya di dada bidang suaminya. Seketika liquid bening kembali mengalir tanpa bisa dicegah. Tanpa isakkan membuat luka dalam hati semakin menganga.
Entahlah, Alina hanya membiarkan suaminya terus mendekap tubuhnya yang sudah sangat lelah. Biarkan sekarang waktu berjalan dan keadaan mereka berhenti untuk sementara. Dalam pelukan hangat itu hanya ada deru jantung yang berdetak seirama.