rima yang baru saja patah hati tiba tiba saja harus menikah dengan calon kakak iparnya..
semua itu demi menyelamatkan nama baik keluarga..
akankah rumah tangga mereka berakhir bahagia..?
selamat membaca..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berangkat
Hari keberangkatan Rendra, semua keluarga berkumpul dirumah Rendra, Rendra sengaja.. tidak ada seorangpun boleh mengantarnya,
entah kenapa.
Rima sibuk menyiapkan minuman dan makanan untuk keluarga, sedangkan Rendra masih di dalam kamar, entah apa yang ia sibukkan sejak pagi,
Rima pun menyibukkan diri di dapur, keduanya seperti salah tingkah karna kejadian tadi malam.
" Panggil suamimu.. suruh makan," kata ibu Rendra,
ketika semua orang sudah duduk di kursi meja makan,
" enggeh bu.. "jawab Rima, sebenarnya ia tidak mau memanggil Rendra di kamarnya tapi mau bagaimana lagi.
" Mas..?" Rima mengetuk pintu,
" masuk.." jawab Rendra dari dalam, mendengar itu Rima membuka pintu dan masuk,
ia melihat suaminya itu sedang memakai kaos berwarna abu abu tua,
" ibu minta mas makan dulu," kata Rima melihat ke arah lain,
" biar mereka makan duluan saja" jawab Rendra berbalik ke arah rima.
" Rim.. kalau rima sedang libur dan ada sedikit waktu luang.. Rima jenguk mas ya disana..?"suara Rendra lembut dan berjalan mendekat ke arah Rima, Rima yang malu tanpa sengaja membuang muka pelan,
" Kenapa.. masih marah sama mas gara gara semalam..?" tanya Rendra serius.
" Tidak.. siapa yang marah sama mas" jawab Rima cepat tanpa menatap Rendra,
" mas dengar ada yang bilang mas kurang ajar tadi malam.." Rendra tersenyum, dan membelai pipi rima lembut,
rima sedikit kaget karna ternyata renda mendengar umpatan Rima tadi malam, sesungguhnya Rima kelepasan.
" jangan marah lagi, memang mas yang salah.. " Rendra menatap lembut istrinya itu,
"kadang mulut mas penuh dengan duri,
kadang penuh dengan madu.." sindir Rima ketus, Rendra tertawa mendengar itu.
Rendra mendekatkan bibirnya tiba tiba,
" istriku imut begini.. bisa bisa nya ku tinggal pergi.. dadaku rasanya sesak.." Rendra mendekat dan bibir mereka semakin dekat,
Saat melihat Rima tidak menolak, Rendra tanpa ragu mencium bibir istrinya itu,
keduanya saling membalas, namun tidak menggebu gebu seperti kemarin, keduanya tau dan sadar mereka akan segera berpisah dan harus menghentikan ciumannya itu sebelum ada yang mengetuk pintu.
Rendra menenangkan dirinya,
jantung nya berdegub kencang hingga tak sadar dahinya beradu dengan dahi rima, keduanya cukup lama diam dengan posisi dahi saling bertumpu satu sama lain,
" jangan antar aku... aku tidak akan sanggup pergi kalau kamu mengantarku.." suara Rendra sedikit bergetar menahan sesuatu,
" jaga dirimu.. kita bertemu bulan depan.." Rendra mengecup kening Rima,
Rima hanya diam, namun ada sedikit yang tidak biasa di hatinya.. di tinggalkan lagi,
kenapa aku harus selalu di tinggal begini.. keluh Rima dalam hati, meski ia tidak mencintai Rendra..
namun dua minggu ini Rendra sudah cukup menghibur hatinya, ia bersikap baik sekali sebagai suami..
dua minggu yang pendek..
namun rima lagi lagi tidak bisa memilih dan mengatur segalanya sesuai keinginannya.
Semua keluarga berkumpul di ruang tengah, mereka minum teh sambil berbincang ringan,
" kebiasaan Ren,makan siang dulu" suara ibu Rendra melihat Rendra malah sibuk memilih sendal, Rendra tampil santai sekali bahkan ia tak menampakkan sisi militernya sama sekali dengan kaos oblong dan celana selutut yang berwarna hitam.
" Rendra?!" suara ibu Rndra lebih keras,
" iya bu iya.." jawab Rendra duduk di samping ibunya,
" lho malah duduk disini?!" ibu Rendra setengah melotot,
Rendra menatap Rima yang duduk di sebelah ibunya,
" suapilah.." pinta Rendra sambil menatap lekat, itu membuat semua mata tertuju ke arah Rima,
" wah.. ngelunjak.. badan segede gitu minta suapi.." keluh Rima dalam hati,
" Weh.. manja manja..." suara Ita kakak sepupu perempuan Rendra,
" gayamu Ren.. suapi..! " ejek Ita dan sepupu lainnya,
" ya wes nduk, ambilkan suamimu makanan terus suapi, nanti dia telat.." suara ayah Rima, mau tak mau Rima bangkit dan berjalan ke arah dapur, mengambil makanan lalu kembali duduk di samping Rendra dan menyuapinya.
" Ren,jemputan mu di depan" suara suami Ita,
" tolong suruh masuk mas.." .
Tak lama seorang laki laki muda bertubuh tegap dan berseragam loreng berdiri di hadapan Rendra,
" ijin, mobil sudah siap, tinggal berangkat ndan" laki laki berbaju loreng itu memberi hormat,
" Tolong bawakan tas di ruang tamu dan tunggu di depan" jawab Rendra santai,
Rendra kembali ke ruang tunggu dimana semua keluarganya berkumpul,
" saya berangkat dulu ya yah, ibu.." kata Rendra membungkukkan badan dan mencium telapak tangan orang tua dan mertuanya, tak lupa para sepupunya, lalu dia beralih ke istrinya,
" jaga diri.. selalu telfon mas.. jangan lupa.." hanya itu saja kalimat Rendra, ia mencium kening istrinya, memandang istrinya sejenak.. lalu berbalik pergi.
Semua orang mengantarkannya ke depan tapi Rima hanya mengantarnya sampai ruang tamu saja, entah kenapa Rima juga merasa perasaannya tidak nyaman ketika melihat Rendra pergi.
" Yah.. bu.. titip istriku.. " kata Rendra sambil memeluk ayah ibunya sendiri,lalu mencium tangan mertuanya sekali lagi sebelum memasuki mobil,
" bekerja yang tenang le.. kami akan menjaga istrimu dengan baik.." jawab ayah Rendra,
" enggeh yah.." Rendra mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil,
terlihat sekali sorot matanya yang berat, jika boleh memilih..
ia sebenarnya tidak mau berangkat.. karna ia seorang abdi negara mau tidak mau ia harus berangkat.
Mobil Rendra sudah menjauh, dan para orang tua kembali ke dalam rumah,
" sepertinya perkembangan hubungan mereka bagus mas.." tiba tiba ayah Rima membuka suara,
" sepertinya begitu.. terlihat sekali meski masih sama sama malu malu..
yah, memang dari kecil Rendra sudah tau Rima.. Rima saja yang belum tau kalau Rendra yang momong dia sewaktu balita.."
" semoga kita cepat dapat cucu ya mas.."
" lha itu.. proyek pensiun kita.." kedua laki laki tua itu tertawa dan saling merangkul, melihat Rendra dan Rima romantis begitu seluruh keluarga sangat bahagia bahkan lupa atas luka yang di timbulkan oleh Rafa.
tdk ulang2
Semangat & lanjut berkarya thor...