NovelToon NovelToon
Logika Diatas Cinta

Logika Diatas Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seeula

Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Keangkuhan yang Terluka dan Retorika Lembaran Kontrak

​Aroma manis sekaligus menenangkan dari lilin aromaterapi kayu cendana memenuhi setiap sudut kamar tidur pribadi milik Nadine Lavena di lantai dua sayap barat rumah Menteng. Hawa malam yang dingin menyusup halus melalui celah gorden beludru abu-abu yang sengaja dibuka sedikit. Di luar jendela kaca besar, dedaunan pohon peneduh tampak tak bergerak, sunyi di bawah siraman cahaya bulan purnama yang keperakan.

​Jam dinding minimalis di atas meja rias telah melewati pukul satu dini hari, namun Nadine masih belum bisa memejamkan sepasang mata indahnya. Ia duduk bersandar di kepala ranjang dengan mengenakan gaun tidur satin hitam berpotongan longgar yang elegan. Permukaan kain satin yang licin dan dingin bersentuhan dengan kulit lengannya, memberikan sedikit kenyamanan fisik di tengah benak yang terus berputar liar.

​Pikirannya melayang kembali pada pusaran peristiwa besar yang menjungkirbalikkan hidupnya dalam dua bulan terakhir. Pengkhianatan Heyden Ames tepat tiga minggu sebelum hari pernikahan mereka, luka masa kecil ketika melihat punggung ibu kandungnya menjauh di bawah guyuran hujan deras, hingga kini berakhir di dalam sebuah pernikahan kontrak tiga tahun dengan Kyle Ernest.

​{Cinta... komitmen emosional manusia. Mengapa semua orang di dunia ini begitu bodoh hingga rela mempertaruhkan seluruh harga diri dan logika waras mereka hanya demi mengejar ilusi perasaan semu? Bukankah segalanya bisa berubah menjadi racun pengkhianatan yang mematikan hanya dalam sekejap mata?}

​Nadine meremas ujung selimut sutranya yang halus. Dinding es yang ia bangun di dalam dadanya sebagai pelindung diri kini kembali merapat, mengeras tanpa celah. Kejadian sabotase yang dilakukan oleh Kinara dan Heyden beberapa jam lalu justru semakin mengokohkan keyakinan mutlak di dalam kepalanya.

​Di dunia yang penuh dengan kepalsuan ini, satu-satunya hal nyata yang bisa dipercaya, disayangi, dan diandalkan untuk melindunginya dari rasa kecewa hanyalah angka nominal saldo rekening yang terus bertambah serta kasih sayang tulus dari ayahnya. Selebihnya, seluruh interaksi sosial manusia murni hanyalah sebuah transaksi bisnis yang dingin, yang kebetulan kali ini dikemas dengan sangat rapi di atas lembar draf kontrak pernikahan.

​Tok. Tok. Tok.

​Suara ketukan pelan, teratur, namun terdengar sangat ragu di atas permukaan pintu kayu jati kamarnya tiba-tiba memecah keheningan malam yang sunyi.

​Nadine mengernyitkan dahi rapat-rapat. Ia melirik jam meja, memastikan bahwa indra pendengarannya tidak salah menangkap suara pada jam selarut ini. Tidak biasanya ada ketukan di pintu kamarnya, terutama setelah ia menegaskan batasan privasi pasal ketiga kepada Kyle tempo hari.

​Nadine turun dari tempat tidur, membiarkan kaki telanjangnya menyentuh permukaan karpet bulu domba yang hangat. Langkah kakinya teramat sunyi saat mendekati pintu, memutar kunci kuningan dari dalam dengan bunyi klik yang nyaring, lalu menarik daun pintu tersebut sedikit terbuka.

​Kyle Ernest berdiri di ambang pintu koridor lantai dua yang temaram. Pria beraura es itu tampak sudah menanggalkan seluruh pakaian formal tuksedo mewahnya. Kemeja putih kasual yang kini ia kenakan tampak sedikit longgar dengan tiga kancing teratas yang dibiarkan terbuka, mengekspos garis leher dan dada bidangnya yang kokoh.

​Wajah tampannya tidak lagi dilapisi ekspresi CEO yang angkuh dan tak tersentuh; melainkan dipenuhi rona lelah yang teramat pekat dengan sepasang mata kelabu yang tampak berantakan, menyimpan badai pikiran yang belum mereda.

​Nadine menyandarkan bahunya pada bingkai pintu, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap pria di hadapannya tanpa binar ramah.

​"Pak Kyle? Ada urusan darurat apa lagi yang membuat Anda nekat melanggar kesepakatan batasan pasal ketiga pada pukul satu malam seperti ini?"

​Kyle tidak segera menyahut. Sepasang mata tajam kelabunya menatap lurus ke dalam manik mata indah milik Nadine dari jarak dekat di bawah temaramnya lampu koridor. Riak getaran emosional yang teramat dalam tampak bergolak di sana, sunyi namun dipenuhi kerapuhan batin seorang pria yang sedang berjuang keras melawan keangkuhannya sendiri yang terus runtuh.

​Kyle menarik napas panjang, membiarkan embusan napasnya yang terasa hangat berbaur dengan hawa dingin koridor. Suaranya terdengar sangat rendah dan serak saat memecah kesunyian malam di sayap barat rumah tersebut.

​"Aku... aku hanya ingin memastikan bahwa kamu tidak mengalami gangguan tidur atau rasa tidak nyaman pasca-insiden kekacauan sabotase dokumen di gedung konvensi malam tadi, Nadine."

​Nadine menaikkan sebelah alisnya perlahan, menatap wajah tampan di hadapannya dengan binar mata yang dipenuhi keacuhan mutlak. Ada rasa tidak percaya yang samar terhadap dalih yang baru saja ia dengar.

​"Saya memiliki kondisi kesehatan mental dan kesiapan psikologis yang teramat prima, Tuan Ernest. Ketenangan tidur saya sama sekali tidak akan pernah terganggu hanya karena adegan drama sabotase murah dari jajaran masa lalu Anda yang berantakan itu. Kurasa alasan Anda mengetuk pintu saya malam-malam begini bukan murni untuk menanyakan kualitas tidur saya, Pak Kyle. Silakan kembali ke kamar Anda di sayap timur sebelum saya menghitung alokasi biaya denda pelanggaran waktu istirahat kerja saya."

​Kyle mengepalkan jemarinya di dalam saku celana kain hitamnya. Seulas senyuman smirk yang tipis namun tersirat rasa frustrasi yang mendalam muncul di sudut bibirnya yang kokoh. Ia memajukan tubuh tegapnya satu langkah, mengikis jarak fisik di antara mereka hingga aroma maskulin dari parfum wood and amber miliknya kembali mendominasi udara, menekan keharuman kayu cendana dari dalam kamar Nadine.

​"Kamu benar-benar wanita yang sangat keras kepala, kaku, dan selalu berlindung di balik retorika pasal-pasal kontrak itu untuk mengusir diriku dari dekatmu, Nadine."

​Sepasang mata kelabu itu menatap tajam langsung ke dalam manik mata Nadine dengan kilat posesif yang kian mengakar kuat, mengabaikan topeng sedingin es yang biasa ia agungkan.

​"Kontrak pernikahan kontrak delapan pasal ini adalah satu-satunya legalitas hukum yang menjamin bahwa kerja sama di antara kita berdua tetap berjalan di jalur profesional yang sehat tanpa ada drama emosional yang merugikan, Pak Kyle. Saya menerima pernikahan ini karena uang seratus juta per bulan dan fasilitas kemewahan yang Anda berikan, bukan untuk menjadi wadah pelampiasan rasa frustrasi emosional atau drama sentimental dari seorang CEO Ernest Group yang sedang patah hati karena dikhianati oleh wanita tulusnya."

​Mata Nadine tidak berkedip sedikit pun saat membalas tatapan tajam yang mengintimidasi itu. Kata-katanya meluncur begitu tenang, namun setajam belati es yang langsung menghantam telak harga diri dan ego maskulin Kyle malam itu.

​Kyle terdiam membisu di tempatnya berdiri. Hening yang mencekik kembali merayap di antara mereka. Ada rasa perih yang asing dan kekesalan yang teramat mendalam yang mendadak merayap di dalam rongga dada Kyle, melihat betapa bersihnya mata Nadine dari segala bentuk percikan perasaan atau ketertarikan terhadap pesona fisiknya yang selama ini dipuja banyak wanita.

​Nadine benar-benar memperlakukannya murni sebatas mitra bisnis, mesin ATM berjalan yang legal, tanpa ada celah emosional sedikit pun yang bisa ia tembus bahkan dengan seluruh kekuasaan materi yang ia miliki.

​Kyle menarik tubuhnya mundur satu langkah, menegakkan kembali postur tubuhnya yang sempat condong ke arah Nadine. Sorot matanya berubah sedingin salju, kaku, dan dipenuhi penekanan emosi yang ditahan rapat-rapat.

​"Baiklah. Jika itu adalah draf batasan profesional kerja yang selalu kamu agungkan, Nona Nadine. Nikmati saja ketenangan tidurmu malam ini di dalam benteng es kontrakmu ini."

​Kyle membalikkan tubuh maskulinnya dengan cepat. Langkah kakinya yang berat terdengar konstan menjauhi koridor sayap barat, meninggalkan keheningan pekat di koridor lantai dua saat ia berjalan kembali menuju wilayah kekuasaannya di sayap timur rumah Menteng.

​Nadine menatap punggung tegap yang kian menjauh itu selama satu detik, sebelum akhirnya menutup pintu kayu jati kamarnya dengan rapat, memutar anak kunci dari dalam dengan bunyi klik yang menandakan batas suci itu telah kembali terkunci seutuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!