"Mama akan menikah."
Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.
"Aku tidak setuju, Ma..."
Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.
"Mama berhak bahagia, Amerta."
Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.
Amerta Bunga Adiguna.
Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.
Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Mahesa Putra Dirgantara.
Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 9
Waktu bergerak begitu lambat di dalam ruang kerja bernuansa gelap itu, seolah-olah detiknya sengaja tertahan demi mengunci sepasang manusia yang terjebak di dalamnya. Sesuai dengan perintah mutlaknya, Mahesa benar-benar mengunci seluruh pergerakan Amerta tanpa menyisakan ruang untuk tawar-menawar. Setelah menghabiskan setengah mangkuk bubur ayam hangat dan meminum beberapa butir obat berdosis kuat dari dokter, kekuatan fisik laki-laki itu tampak mencapai batasnya. Mahesa kembali merebahkan tubuh tegapnya di atas sofa kulit yang luas, membiarkan kepalanya bersandar pada bantal empuk yang sudah ditata oleh Amerta.
Namun, bahkan di saat kesadarannya mulai meredup tersedot oleh kantuk yang berat, jemari kekarnya yang besar kembali bergerak gelisah. Dengan insting yang luar biasa posesif, jemari itu meraba permukaan kasur sofa sampai akhirnya menemukan kembali pergelangan tangan Amerta. Mahesa menguncinya dalam genggaman yang sangat hangat dan erat, seolah memastikan bahwa gadis itu tidak akan pernah melangkah keluar dari teritorialnya sebelum ia menutup mata di bawah pengaruh obat penenang yang kuat.
Amerta hanya bisa menghela napas pasrah, menatap pergelangan tangannya yang terperangkap dalam kungkungan telapak tangan Mahesa yang besar. Jam dinding di sudut ruangan terus berdetak konstan, melewati angka satu siang, beranjak sore, hingga akhirnya malam musim hujan kembali turun menyelimuti ibu kota. Selama belasan jam yang menyiksa itu, Amerta praktis tidak bisa meninggalkan sisi sofa. Jangankan untuk keluar ruangan, bergeser untuk sekadar meregangkan kakinya saja akan langsung memicu reaksi tidak nyaman dari rahang Mahesa yang mengeras dalam tidurnya.
Gadis itu hanya duduk bersandar pada lantai marmer dingin yang untungnya dilapisi oleh karpet bulu tebal sewarna arang. Kepala mungilnya ditopang dengan tidak nyaman di pinggiran kasur sofa, tepat di samping tempat Mahesa berbaring. Rasa lelah yang teramat sangat setelah terjaga penuh sejak semalam untuk mengganti kompres, ditambah dengan keheningan ruangan kerja yang begitu mencekam dan kedap suara, perlahan-lahan mulai mengikis kesadaran Amerta. Kelopak matanya yang jernih terasa seberat timah, berkedip pelan beberapa kali sebelum akhirnya ia kalah oleh rasa kantuknya sendiri. Amerta terlelap dalam posisi duduk yang sangat tidak nyaman di lantai, dengan jemari tangan kanan yang masih saling bertautan erat dengan tangan kekar sang kakak tiri.
Tepat pukul tiga dini hari, kesunyian di dalam ruang kerja itu mendadak terusik. Mahesa terbangun.
Efek dari obat penurun demam berdosis tinggi yang ia telan semalam telah bekerja sepenuhnya, memaksa sistem imunnya membersihkan racun dari dalam tubuhnya. Sisa-sisa panas membakar yang semalam membuat kulitnya bagaikan tungku kini sudah banyak berkurang, menyisakan lapisan keringat dingin yang membasahi kemeja hitam sutranya yang sengaja dibiarkan setengah terbuka di bagian dada. Kesadarannya perlahan-lahan pulih seutuhnya, bebas dari kabut demam yang mengacaukan logikanya.
Hal pertama yang dirasakan oleh indra perasanya adalah sebuah beban hangat yang bersandar pasrah di tepi sofanya. Sentuhan halus itu langsung memicu insting waspadanya.
Mahesa menundukkan kepalanya perlahan, membuat beberapa helai rambut indahnya jatuh berantakan menutupi sebagian keningnya. Di sana, tepat di bawah temaram cahaya kuning redup dari lampu meja kerja yang sengaja dibiarkan menyala, Amerta sedang tertidur dengan sangat pulas. Wajah polos gadis itu tampak begitu tenang, bersih dari segala gurat ketakutan, amarah, atau kecanggungan defensif yang biasa ia tunjukkan setiap kali mereka terpaksa duduk berhadapan di meja makan keluarga di depan orang tua mereka. Bibir mungilnya sedikit terbuka, mengembuskan napas yang teratur dan halus. Rambut panjangnya yang sewarna cokelat gelap tampak berantakan, sebagian helaiannya jatuh menutupi pipinya yang halus dan pias karena kelelahan.
Genggaman tangan Mahesa yang sejak semalam mengunci pergelangan tangan Amerta perlahan-lahan melonggar. Namun, ia tidak berniat untuk melepaskannya sama sekali. Sebaliknya, dengan gerakan yang sangat hati-hati, Mahesa membalikkan telapak tangannya sendiri untuk menopang tangan kecil Amerta yang tampak begitu rapuh, mungil, dan tak berdaya di dalam genggamannya. Laki-laki bermata biru sebiru laut luas itu mengamati setiap inci dari wajah adik tirinya dengan intensitas yang sangat pekat—sebuah pandangan obsesif dan gelap yang selalu ia sembunyikan rapat-rapat di balik topeng es kutubnya selama satu minggu terakhir semenjak perkenalan pertama mereka.
Dorongan di dalam dadanya bergejolak hebat, mengalahkan rasa lemas yang masih tersisa di sendi-sendinya. Dengan gerakan yang sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun di atas lantai, Mahesa menggeser posisi tubuh tegapnya. Ia turun dari atas kasur sofa kulit, menapakkan kakinya tanpa alas, lalu berlutut di atas karpet berbulu tebal, tepat di hadapan Amerta yang masih terbuai jauh di dalam alam mimpinya.
Aroma vanila yang sangat lembut dan manis dari tubuh Amerta, yang kini telah bercampur dengan sisa wangi maskulin sandalwood milik Mahesa sendiri, langsung menyeruak memenuhi rongga penciumannya. Perpaduan aroma itu bagai pemantik yang memicu sesuatu yang liar, agresif, dan luar biasa posesif di dalam dada sang konglomerat muda.
Tangan kiri Mahesa yang besar dan memiliki urat-urat tegas perlahan merayap ke belakang tubuh Amerta. Ia menyusupkan telapak tangannya ke bawah helai rambut panjang cokelat gadis itu yang terasa sehalus sutra, lalu mulai mengusap punggung Amerta dengan gerakan yang sangat lambat, konstan, dan sensual. Sentuhan itu bergerak berirama ritmis, seolah-olah ia sedang menenangkan seekor makhluk kecil yang sangat rapuh agar tidak terbangun dari tidurnya dan menyadari bahaya yang sedang mengintainya.
Perlahan, Mahesa mencondongkan wajah tampannya ke depan, memotong sisa jarak di antara mereka hingga hidung bangirnya hampir menyentuh pipi Amerta. Di dalam kesunyian malam yang pekat dan dingin, dorongan posesif yang gelap di dalam dirinya tidak lagi bisa dibendung oleh logika atau batasan hukum keluarga tiri yang baru saja mereka sandang. Sisi agresifnya yang selama ini terkunci rapat menuntut sebuah penaklukan yang nyata.
Cup.
Sebuah kecupan yang teramat lembut, hangat, dan sarat akan perasaan mendalam mendarat di dahi mulus Amerta. Mahesa membiarkan bilah bibir tebalnya menetap di sana selama beberapa detik yang panjang, memejamkan matanya sembari menghirup dalam-dalam aroma manis dari kulit gadis itu. Amerta sedikit melenguh kecil di dalam tidurnya, merasa terusik oleh tekanan hangat tersebut. Namun, usapan konstan dan ritmis di punggungnya dari tangan kiri Mahesa yang besar membuat tubuh mungil gadis itu kembali rileks dan tenang dalam tidurnya.
Mahesa tidak berhenti di sana. Ia menggeser kecupannya turun perlahan, menyusuri pelipis Amerta. Dengan kelembutan yang luar biasa kontras dari sikap kasarnya selama ini, ia mengecup kelopak mata kiri Amerta yang tertutup rapat, lalu beralih memberikan kecupan yang sama di kelopak mata kanannya. Ia seolah ingin menghapus seluruh bayangan kelelahan dan ketakutan yang sempat tercetak di sana karena harus menjaganya semalaman penuh. Gerakannya begitu memuja, penuh dengan gairah terselubung yang tidak akan pernah ia izinkan untuk terlihat di bawah terik lampu siang hari atau di ruang publik.
Kecupan hangat itu terus bergerak turun ke puncak hidung Amerta yang bangir, menimbulkan sensasi hangat yang magis sekaligus sensual di dalam ruangan kerja yang senyap. Mahesa bertindak seperti seorang pria predator yang sedang menandai setiap jengkal wilayah teritorial kekuasaannya, memastikan bahwa tidak ada satu bagian pun dari gadis ini yang tidak memiliki cap kepemilikannya yang sah.
Terakhir, pergerakan bibir tebal Mahesa berhenti tepat di atas bibir mungil Amerta yang sedikit terbuka. Malam ini, ia menahan dirinya untuk tidak melumatnya dengan kasar karena tidak ingin membangunkan mangsanya. Ia hanya menempelkan bibirnya di sana dengan tekanan yang sangat dalam, menekan bilah bibir mereka hingga menyatu sempurna, menyalurkan seluruh hasrat posesif, obsesi gelap, dan rasa frustrasi yang ia pendam sendirian selama mengasingkan gadis ini dalam satu minggu terakhir sejak kedatangannya ke rumah ini.
"Kamu milikku, Amerta," bisik Mahesa dengan suara baritonnya yang teramat sangat rendah, serak, dan nyaris seperti embusan angin malam yang tak kasat mata, tepat di depan bilah bibir gadis itu yang terasa begitu ranum dan hangat. "Bahkan jika dinding es ini harus mengurungmu selamanya di dalam rumah mewah ini, kamu tidak akan pernah bisa pergi atau lepas dari genggamanku."
Usapan lembut yang sensual di punggung Amerta terus berlanjut tanpa henti, memberikan rasa aman palsu di tengah belenggu obsesi yang sedang Mahesa rajut erat-erat di sekeliling tubuh mungil gadis itu. Di dalam tidurnya yang lelap, Amerta sama sekali tidak menyadari bahwa kakak tirinya yang terkenal sedingin es kutub baru saja menelanjangi seluruh sisi agresif dan kegilaan gelapnya di bawah kesunyian dini hari yang mencekam.