Arabella Elisa Jodie, gadis tomboy dengan segudang keahlian, pandai beladiri dan menyukai kebebasan. Memiliki beberapa sahabat pria yang sudah akrab dengannya sejak bertahun lamanya.
Bagaimana bila tiba-tiba Ara harus terpaksa menjadi seorang istri?
Istri dari tuan muda tampan yang sejak kecil sudah memiliki kehidupan berkelas.
"Apa dia wanita?" (Dilano Danuarta)
"Dia terlalu mulus untuk ukuran seorang pria matang." (Ara)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azra ziya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asisten Pribadi
Boy masuk ke dalam kamar putrinya. Pria itu menghela napas sebelum mengucapkan kalimat di benaknya pada sang putri yang akhir-akhir ini bertingkah tidak biasa. Mengabaikan ucapannya.
"Apa Papa boleh mengatakan sesuatu?" Boy duduk di pinggir ranjang dekat putrinya yang masih berbaring di atas ranjang sambil bermain ponsel.
Ara menoleh pria yang selalu memanjakan dan membela dirinya saat sang ibu memarahinya.
Tatapan gadis itu berubah sendu. Dua hari tidak bertegur sapa dengan sang ayah, membuat dirinya begitu kesulitan. Ada rasa yang tidak biasa, tidak bisa ia singkirkan bahwa dia begitu menyayangi pria itu.
"Pap, maaf," ucapnya lirih sembari menunduk menyesal.
Boy memeluk tubuh mungil itu dengan penuh kasih sayang. Sebagai seorang ayah ia tentu tau bagaimana putrinya. Ada kelembutan dibalik sikap keras kepala gadis itu. Perempuan dengan wajah kecil itu selalu membuat dirinya bahagia sejak ia dilahirkan.
"Papa juga minta maaf sudah membentak kamu." Boy mengusap kepala Arabella dengan lembut.
"Papa tidak salah, Ara yang salah. Ara minta maaf sudah berkata kasar sama Papa." Gadis itu berusaha menahan airmatanya. Dua hari merasa bersalah dengan ayahnya begitu membuat gadis itu merindukan sosok cinta pertamanya itu.
"Ya sudah, Papa maafkan." Boy memeluk erat tubuh anak kesayangannya.
Tidak ada anak yang sempurna. Begitu juga ayah yang tak memiliki kesalahan. Namun rasa cinta yang keduanya miliki tak pernah berkurang meski kadang kesalahpahaman sering terjadi.
"Ara sayang, Papa."
"Papa juga," jawab Boy.
"Ara janji akan menuruti semua yang papa mau, tapi dengan satu syarat." Ara mendongak. Melihat wajah tampan yang selalu tulus memberikan cinta padanya.
"Syarat apa?" tanya Boy sambil mengelus rambut Arabella.
"Ara akan pelan-pelan melepas hobi ekstrim Ara, tapi ... Ara mohon jangan paksa Ara untuk menikah dengan kak Lano."
Boy menatap dalam manik mata Ara. Aura memelas itu sungguh membuat Boy luluh begitu saja.
"Baiklah, tapi papa punya satu permintaan lagi, jika kamu menurut Papa janji tidak akan memaksa kamu untuk menikah dengan tuan muda."
Ara berbinar, gadis itu tampak melengkungkan bibirnya.
"Apa yang Papa inginkan?"
"Gantikan posisi papa mulai sekarang!"
"Posisi?"
"Jadilah asisten pribadi tuan muda Lano mulai besok, karena mulai besok Lano akan memimpin perusahaan menggantikan Tuan Dilan."
"Apa?!" Ara mengerjap mata berkali-kali. Permintaan yang sama sekali tidak mudah.
"Bantulah tuan muda, sayang. Tak mudah mencari orang kepercayaan yang selalu berada di samping tuan muda. Lano tidak mudah beradaptasi, papa mohon bantulah papa kali ini."
"Lalu kenapa harus Ara? Apa Ara bisa bekerja seperti Papa?"
"Papa sangat yakin kamu bisa, kamu hampir menguasai semua keahlian Papa. Kamu pandai beladiri, berani dan punya rasa empati."
"Papa yakin?" Ara sendiri tidak tau bagaimana dia sebenarnya, tapi kenapa Papanya begitu percaya padanya. Padahal dia sering melakukan kesalahan di belakang pria itu.
"Sangat yakin dan Papa rasa hanya kamu orang yang cocok untuk berada di samping tuan muda."
Ara memikirkan ucapan ayahnya sesaat, ia tampak berpikir beberapa detik sebelum akhirnya gadis itu menyetujui keinginan Papanya.
"Baiklah, Ara akan mencoba." Katanya yakin.
"Ini baru anak Papa." Boy kembali bersemangat.
***
"Sudah siap?" tanya Boy pada sang putri yang sudah terlihat siap dengan outfit serba hitam.
Blazer hitam dipadu dengan kemeja putih. Celana panjang bahan hitam dan sepatu pantofel hak tahu yang juga berwarna hitam. Rambut sebahu ia kuncir kuda rapi dengan wajah tanpa make up, hanya sedikit pelembab bibir ia gunakan supaya bibirnya tidak terlihat pucat.
Semalam sang ibu sudah menyiapkan semua keperluan anak gadisnya itu dengan sempurna. Bella begitu senang saat suaminya mengatakan ide untuk menjadikan Ara sebagai asisten Lano.
"Bagaimana penampilan Ara? Apa Ara sudah seperti Papa?" Ara tersenyum lebar, sejak kecil ia memang mengagumi penampilan dan gaya pakaian sang ayah. Dalam hati ia juga ingin mempunyai pekerjaan seperti ayahnya. Sangat keren menurutnya.
"Kamu sangat cocok sayang." Bella memuji putrinya.
"Apa daddy dan tante Sofia akan terima Ara jadi asisten kak Lano?" Ara duduk di meja makan bersama Boy dan Bella.
"Tentu saja, mereka akan sangat senang." Boy menjawab cepat.
"Oh ya Pap, apa nanti Ara juga harus membantu mengurus perusahaan itu seperti Papa yang membantu Daddy?"
"Untuk sementara kamu cukup berada di samping Tuan muda saja."
Ara mengangguk. Menjadi asisten jauh lebih baik daripada harus menjadi istri pikirnya. Namun Ara tidak tau bahwa sebenarnya kedua orangtua mereka memang sengaja memberikan pekerjaan ini padanya agar Ara dan Lano semakin dekat dan saling bergantung nantinya.
Setelah sarapan habis, Boy dan Ara menuju garasi mobil. Mobil sport hitam keluaran terbaru sudah terparkir rapi di garasi.
Pandangan Ara langsung berpusat pada mobil mewah yang baru pertama kali ia lihat berada di garasinya.
"Pap, ini mobil Papa yang baru?" Ara mendekati mobil gagah merk salah satu mobil mewah yang tentunya berharga Miliyaran.
"Ini salah satu fasilitas yang Tuan Dilan berikan pada asisten pribadi. Karena kamu mulai hari ini akan membawa Lano kemana-mana, jadi ini adalah mobil milik kamu mulai sekarang."
"Serius, Pap?" Ara melotot tak percaya.
"Baru jadi asisten saja kamu sudah di hadiahi mobil mewah, bagaimana kalau jadi menantu Tuan Dilan." Bella menggoda putrinya.
"Mama iih, matre." Ara mencibir.
"Ayo kita pergi, kamu menyetir mulai sekarang. Papa akan ajarkan," kata Boy sembari membuka pintu mobil dan masuk setelah pamit pada sang istri.
"Ara pandai menyetir mobil Pap," jawab Ara.
"Ini bukan mobil biasa Ara."
"Jangan meremehkan Ara, Pap! apa yang tidak bisa dilakukan putri Papa ini?" Ara memasang kacamata hitam yang ia ambil dari dalam saku blazernya.
"Ayo Pap, kita beraksi!" Ara menaikan sudut bibirnya. Pertama kali ia mengemudikan mobil mahal dan itu sukses membuat adrenalin gadis itu terpacu.
.
.
.
.
Suara deru mobil memecahkan kesunyian halaman rumah keluarga Danuarta pagi itu. Mobil itu berhenti tepat di depan teras rumah besar dengan tiang besar yang menjulang tinggi.
Boy turun dari mobil bersama putrinya. Stelan hitam begitu gagah melekat pada tubuh ayah dan anak itu.
Keduanya tersenyum tipis menyapa beberapa pelayan dan penjaga yang sudah siaga. Menunduk hormat saat mereka melewatinya.
"Wah ... luar biasa Pap, Ara suka sekali. Apa pekerjaan Papa begitu dihargai di keluarga ini?" Ara terus mengoceh sembari masuk ke dalam rumah besar.
Boy hanya diam mendengar ocehan sang anak. Seperti biasa. Ia harus tetap fokus dan berwibawa selama bekerja.
"Selamat pagi, Tuan, Nyonya," sapa Boy pada majikannya yang berada di meja makan.
"Pagi Boy," jawab Dilan. "Daddy senang kamu tidak menolak pekerjaan ini Ara." Dilan melirik perempuan muda yang selalu cantik mengenakan pakaian apapun.
"Dan kamu sangat cocok memakai pakaian itu, bahkan lebih cocok daripada memakai gaun." Sofia tersenyum tulus.
Ara yang terlihat canggung langsung berubah senang. Ternyata majikan ayahnya itu sangat baik, mereka tidak pernah keberatan dengan pakaian apapun yang Ara kenakan. Dia pikir keluarga itu suka dengan perempuan feminim dan elegan, tapi buktinya mereka biasa saja saat melihat Ara tanpa make up dan gaun.
Namun semua pandangan teralihkan saat seorang pria turun dari tangga. Dilano turun dengan langkah tenang menuju meja makan. Rambut yang tertata rapi, stelan jas warna abu di padukan dengan celana warna senada. Kemeja putih dan dasi bergaris yang berpadu sempurna dengan warna jasnya.
Kaki jenjangnya telah lengkap dengan sepatu hitam mengkilap. Alis tebal yang rapi, hidung mancung dengan bibir merah alami. Aroma lembut dan maskulin memenuhi ruangan tersebut membuat Ara tak bisa bernapas dengan benar.
Aroma yang tidak pernah ia hirup sebelumnya. Sungguh penampilan di hari pertama bekerja di perusahaan keluarganya pagi ini membuat semua orang begitu terlihat kagum pada penampilan tanpa celah pria matang itu.
Dia benar-benar luar biasa. Tanpa sadar Ara memuji penampilan pria yang selalu ia remehkan karena kulitnya begitu mulus dan halus tersebut.
Bersambung....
~Dukung terus ya!!
~Like n vote kalian sangat berarti^^