NovelToon NovelToon
ISTRI PENGGANTI

ISTRI PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Binar jingga08

ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Langit cerah tanpa awan mendung di kota Singapura seolah ikut menyambut hari bersejarah itu. Di aula utama Hotel Marina Bay Sands—salah satu hotel bintang lima paling megah dan ikonik di dunia—ribuan lampu kristal digantung berjejer tinggi di langit-langit berkubah kaca, memancarkan cahaya lembut yang bercampur dengan sinar matahari tropis. Seluruh ruangan yang luasnya menyaingi lapangan sepak bola itu dihiasi bunga mawar merah muda dan lili putih impor yang didatangkan khusus dari Eropa pagi itu, harumnya menyebar lembut ke setiap sudut ruangan.

Ini bukan sekadar acara pertunangan biasa. Ini adalah penyatuan dua kekuatan bisnis terbesar di Asia Tenggara: keluarga Raharja yang memegang kendali ribuan perusahaan properti dan teknologi, serta keluarga Yhosep yang namanya bersinar di dunia industri mode dan perdagangan internasional. Acara ini ditunggu-tunggu oleh seluruh kalangan elit dunia, pengusaha mancanegara, hingga media hiburan terkemuka. Ratusan awak media dari berbagai negara sudah berbaris rapi di area liputan khusus, kamera berkedip tak henti merekam setiap detail kemewahan yang jarang terlihat di dunia. Karpet sutra merah sepanjang ratusan meter membentang dari pintu masuk utama hingga panggung pelaminan yang dilapisi marmer putih dan emas murni.

Tepat pukul empat sore, suasana riuh tiba-tiba hening. Musik orkestra internasional mengalun lembut, dan Adelin Yhosep melangkah masuk di bawah hujan kelopak bunga mawar. Ia tampak bagai putri kerajaan dalam gaun rancangan perancang busana paling legendaris di dunia. Gaun berwarna gading itu disulam berlian asli dan mutiara langka di bagian kerah serta ekornya yang menjuntai panjang, menyempurnakan kulitnya yang putih bersih dan senyum manis yang memikat siapa pun yang melihatnya. Sebagai model papan atas, ia tahu persis bagaimana memancarkan pesona yang membuat semua mata terpaku padanya.

Di ujung karpet merah, Gyantara Raharja berdiri tegak menantinya. Pria yang biasanya dingin, tegas, dan jarang tersenyum di depan umum kini memancarkan kebahagiaan yang begitu nyata dan tulus. Matanya berbinar lembut, tak lepas menatap sosok yang berjalan mendekat itu. Selama bertahun-tahun mengenal Adelin, Gyantara memang selalu terpesona oleh sifat kakak yang tampak begitu lembut, penurut, dan suka memanjakannya. Di mata Gyantara, Adelin adalah wanita paling sempurna: selalu tahu cara menenangkannya saat lelah bekerja, selalu mendengarkan keluh kesahnya tanpa memotong, dan selalu ada dengan senyum manis yang menghapus semua beban pikirannya. Ia sungguh-sungguh mencintai sosok yang ia kenal ini, dan hari ini adalah hari di mana ia berjanji akan menjaganya seumur hidup.

Saat Adelin akhirnya berdiri di hadapannya, Gyantara meraih tangannya, lalu mengecup punggung telapak tangan itu dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang. "Kamu cantik sekali, cintaku," bisiknya pelan namun cukup terdengar oleh mikrofon yang terpasang di dekat mereka.

Wajah Adelin merona merah, ia menunduk malu-malu lalu menyandarkan kepalanya sebentar di dada bidang Gyantara—sikap manja yang selalu berhasil membuat hati pria itu luluh. "Terima kasih sudah menungguku sampai hari ini, Tantara."

Sorak sorai dan suara kamera kembali terdengar riuh. Di kursi kehormatan, Sofia Morens dan Rahendra Raharja tersenyum bahagia melihat putra tunggal mereka akhirnya menemukan wanita pilihannya. Di samping mereka, Adam Yhosep dan Belinda Yhosep tampak sangat puas, sesekali menyapa kerabat kerajaan, pengusaha besar, dan tokoh publik lain yang datang mengucapkan selamat.

Satu hal yang mereka pastikan mati-matian: nama Adelia tak pernah disebut, keberadaannya tak pernah diizinkan terlihat, dan hari ini hanya milik Adelin semata. Itulah alasan mengapa sejak kemarin Adelia sudah dilarang ikut terbang ke Singapura. Ia ditinggal sendirian di rumah besar yang kosong, pintu kamarnya dikunci dari luar dengan alasan "agar tidak merusak suasana dan tidak membuat media salah paham karena wajahnya yang mirip Adelin".

Di sisi lain area tamu, duduklah keluarga sahabat Adelia. Wira Leonard dan Gita Leonard berbincang akrab dengan ibunda Tama, Adinda, yang kebetulan adalah perancang busana ternama yang juga diundang ke acara ini. Di bangku belakang, Julian Leonard dan Tama Alvaro duduk dengan gelisah. Mata mereka terus bergerak menyapu setiap sudut aula megah itu, mencari sosok yang biasanya selalu ada di hati mereka—namun tak kunjung terlihat.

"Kamu lihat Adelia di mana?" tanya Tama pelan, mendekatkan mulutnya ke telinga Julian. "Dari tadi aku tanya ke kerabat dekat, ke staf keluarga Yhosep, bahkan ke pelayan pribadi Adelin, tidak ada satu pun yang tahu keberadaannya. Semua hanya menjawab singkat bahwa dia tidak ikut ke sini."

Julian menggeleng kencang, rahangnya mengeras menahan amarah. "Aku juga baru dapat info dari supir pribadi keluarga Yhosep. Katanya Adelia sengaja ditinggal di rumah, dikunci di kamar. Mereka takut kalau dia ikut, wajahnya yang mirip Adelin akan jadi bahan pembicaraan media internasional, dan itu bisa merusak citra sempurna pertunangan ini."

"Keterlaluan!" desis Tama, menahan suaranya agar tidak terdengar orang lain. "Acara sebesar ini, yang disiarkan langsung ke seluruh dunia, semua orang diundang—bahkan kami yang bukan kerabat dekat pun ada—tapi adik kandung pengantin wanita justru dikurung sendirian di rumah seperti barang terlarang?"

Hati Julian mencelos memikirkan kondisi Adelia. Pasti gadis itu menangis sendirian di kamar kecilnya, atau mungkin serangan asma-nya kambuh lagi karena kesepian dan sedih. Ia segera merogoh ponsel dari saku jasnya, lalu mengetik pesan di grup percakapan yang hanya berisi mereka bertiga: nama grupnya sederhana saja, "Tiga Sekawan Sejati".

📱 Julian → Grup:

Del, kamu di rumah? Kenapa tidak ikut ke acara? Kami sudah cari tadi tapi tidak ada kabar sama sekali. Tolong balas ya, kami sangat khawatir.

Beberapa menit berlalu tanpa balasan. Tama semakin cemas, ia pun ikut mengetik dengan cepat:

📱 Tama → Grup:

Del, ini Tama. Kalau kamu tidak bisa ikut, tolong kabari kami lewat pesan saja. Jangan diam saja. Apakah kamu terkunci di kamar? Apakah obatmu ada di dekatmu?

Di rumah yang sunyi sepi di Indonesia, Adelia sedang duduk di lantai dekat jendela kamarnya yang terkunci. Ponselnya yang lama tak berbunyi kini bergetar terus di lantai. Ia meraihnya dengan tangan gemetar, membaca pesan demi pesan, dan air matanya yang sudah kering kembali menetes deras. Ia ingin menjawab, ingin berteriak bahwa ia sendirian, bahwa ia takut, bahwa ia ingin sekali bertemu sahabat-sahabatnya. Tapi ia ingat ancaman terakhir ibunya sebelum berangkat: "Kalau kamu berani menghubungi siapa pun atau minta dijemput, kami akan pastikan kamu tidak pernah bisa kuliah dan tidak akan pernah keluar dari rumah ini lagi."

Ia ragu cukup lama, menatap layar ponsel yang menyala-nyala. Akhirnya, dengan sisa keberanian yang ada, ia mengetik pesan singkat yang sebisa mungkin menyembunyikan kesedihannya namun memberi kabar bahwa ia selamat:

📱 Adelia → Grup:

Maaf... aku tidak bisa ikut. Ibu menyuruhku beristirahat di rumah karena tubuhku sedang kurang sehat. Kalian nikmati acaranya ya. Sampaikan selamatku untuk kakak dan Gyantara.

Tak butuh waktu lama bagi Julian dan Tama untuk menyadari ada yang salah. Gaya tulisan Adelia selalu lembut dan penuh tanda baca yang hati-hati, tapi kali ini pesannya terasa kaku, terburu-buru, dan menyembunyikan ketakutan yang mendalam.

📱 Julian → Grup:

Kamu kurang sehat? Serangan asma lagi? Apakah ada pelayan yang diperbolehkan membantumu? Jangan bohong pada kami, Del.

📱 Tama → Grup:

Kalau kamu dalam bahaya atau kesulitan, cukup kirim satu titik saja. Kami akan minta bantuan orang tua kami untuk segera pulang menjemputmu. Kami tidak akan membiarkanmu sendirian di sana.

Adelia tersenyum getir membaca pesan itu. Betapa ia ingin sekali mereka datang menjemputnya, membawanya lari dari rumah yang dingin ini. Tapi ia tak sanggup membiarkan sahabatnya berkonflik dengan keluarga Yhosep demi dirinya. Ia membalas pelan, tangannya gemetar hebat:

📱 Adelia → Grup:

Aku benar-benar baik-baik saja. Terima kasih sudah peduli. Jangan khawatirkan aku, nikmati momen bahagia mereka ya. Aku menyayangi kalian berdua.

Setelah mengirim pesan itu, Adelia segera mematikan layar ponsel dan meletakkannya jauh di atas lemari. Ia tak sanggup membalas pesan selanjutnya—takut isak tangisnya terdengar, takut ketakutannya terbaca jelas di setiap kata yang ia tulis.

Sementara itu di pesta, Julian menatap layar ponselnya dengan wajah tak tenang. "Dia menyembunyikan ketakutan besar. Aku tahu itu. Dia tidak pernah berani meminta bantuan kami saat ada ancaman dari orang tuanya."

"Kita tidak bisa berbuat banyak sekarang karena di luar negeri," ujar Tama pelan, meski tangannya juga mengepal kuat. "Tapi begitu acara selesai, kita akan pulang secepatnya. Kita tidak akan membiarkannya menanggung semuanya sendirian lebih lama lagi."

Mereka berdua kembali menatap panggung utama. Di sana, kebahagiaan tampak begitu utuh dan sempurna. Adelin tersenyum manis saat Gyantara memasangkan cincin berlian terbesar di dunia di jari manisnya. Tepuk tangan riuh membelah udara, media memuji kecantikan pengantin wanita dan kesetiaan pria yang mencintainya selama ini. Namun di balik kemegahan itu, di balik senyum bahagia Gyantara yang tulus, ada satu kenyataan pahit yang tak diketahui siapa pun: ada gadis lain yang sama-sama berdarah daging dengan wanita yang berdiri di sana, yang hari ini harus merayakan momen bahagia itu sendirian dalam kegelapan kamar yang terkunci.

Dan di sudut hati Gyantara yang paling dalam, sesaat sebelum ia mencium punggung tangan Adelin untuk kedua kalinya, muncul pertanyaan samar yang tak bisa ia jelaskan: Mengapa rasanya ada satu ruang kosong yang tak terisi di hari seindah ini? Mengapa di tengah keramaian yang penuh cinta ini, hatinya sempat teringat pada sepasang mata sedih yang pernah ia lihat sekilas?

Pertanyaan itu hilang seketika saat Adelin memeluk lengannya erat. Namun bagi Julian dan Tama, ketidakhadiran Adelia di hari ini adalah bukti nyata bahwa keadilan masih tertutup rapat oleh kemewahan dan kebohongan. Dan mereka berjanji dalam hati: tak akan ada lagi hari di mana Adelia harus bersembunyi sendirian.

1
alunanfiksimalam
Jangan bersedih Adelia /Sob//Sob/
alunanfiksimalam
Makanya, kerjakan sendiri /Panic/
Tere Rere
aku greget Ama Adelia kenapa diam ajah saat di tindas😡
Adi sudiro Dero
ini Adelia bukan anak TK atau anak SD terlalu menjijikan menurut aku dia udah biasa hidup yg keras tapi kayak nggak punya otak /Awkward//Awkward//Doubt//Doubt/
Tere Rere
watak Adelin menurun dari kedua orang tuanya yg otaknya cuman separuh 😡
Tere Rere
bersyukur masih ada Tama dan Julian di saat Adelia terpuruk🥹
Tere Rere
GYANTARA bangke😡
Tere Rere
Adelin jahat banget😡😭
Tere Rere
Adelin sialan😡
Tere Rere
ao ao😍🤭
Binar Jingga
Huhuhu 🥹
Tere Rere
yg pengen nangis cuslah baca ISTRI PENGGANTI karya Binar jingga. nyesek banget jadi Adelia🥹
Binar Jingga: Wah terimakasih kak atas supportnya🥹🤗
total 1 replies
Tere Rere
Adelia🥹
Hasbia n Hasbia nn
pusing bcanya😮‍💨
Binar Jingga: Pusing kenapa kak?🙏🏻
total 1 replies
Tere Rere
ada orang tua yang sangat jahat seperti si Belinda dan YHOSEP ini/Sleep/
Binar Jingga: Huhuhu jahat yah…. Semoga ini terjadi cuman d dalam novel saajaa
total 1 replies
tia
jangan banyak omong suami durhaka 😁
Binar Jingga: Mohon bersabar😂🤣🤣🤣
total 1 replies
tia
jgn mao kembali dulu Adelia ,,,biarkan di hukum penyelan 😁
tia
kapok suami durhaka 😁
tia
keluar gila banget
tia: siap thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!