NovelToon NovelToon
Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.

Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.

Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.

Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.

Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.

Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6: Kemarahan Visha Tak Terkendali

Sepulang dari kantor, Azka melangkah masuk ke dalam rumah dan seketika hidungnya disambut aroma masakan, terasa familiar. Wangi yang selalu membuatnya ingin pulang, rindu suasana rumah.

Visha muncul dari dapur dengan senyum lembut menenangkan. Tanpa berkata apa pun, ia meraih tangan Azka dan mencium lembut jemarinya, sentuhan kecil begitu intim, penuh kasih.

Kemudian ia berjalan menuju teras, perlahan menyingkirkan sepatu Azka yang tadi dilepas sembarangan, merapikannya dengan penuh perhatian. Dalam setiap gerakan, terlihat bentuk cinta tak perlu diucapkan, namun hadir, nyata dan terasa hangat di setiap sudut rumah.

Azka menatapnya sejenak, hati tergerak oleh keseharian sederhana justru tampak begitu romantis. Ini bukan hanya rumah, tidak juga soal masakan atau teras rapi, melainkan sebuah tempat dimana kisah mereka seharusnya berjalan.

Memperhatikan apa yang dilakukan Visha, pikiran Azka kembali teringat kebiasaan lama mereka.

Biasanya, ketika Azka pulang, istrinya selalu menyambut dengan pelukan dan ciuman bibir. Tapi sekarang itu tidak terjadi.

“Kenapa? Kok bengong?,” tanya Visha sambil membawa kaos kaki kotor.

Menyadari hal sama dengan yang Azka pikirkan, Visha mengingatkan, “Kita sudah sepakat, tidak melakukan kebiasaan hubungan suami istri, sebelum kamu mengingat aku”.

“Iya, aku ingat,” ujar Azka.

“Sini tasnya. Sekarang kamu cuci kaki, cuci tangan, terus makan. Kalau sudah makan, langsung mandi,” ucap Visha.

Azka setengah melamun mendengar banyak perintah dari Visha yang memang biasa dilakukan istrinya.

***

Waktu berlalu cepat.

Begitu kondisi kantor mulai kembali kondusif, Azka menghubungi asistennya lagi, Noval, untuk datang ke ruangan.

Noval melangkah masuk dengan langkah mantap, menyadari bahwa setiap kata Azka di telepon tadi membawa suasana gembira.

Setelah menutup pintu, Azka melihat Noval dengan penuh harap. Azka memberitahu Noval kalau ia ingin mengadakan rapat dengan tim dari divisi quality control.

“Tapi kan belum ada kepentingan apapun, pak?” tanya Noval heran.

Azka menegakkan punggung, menatap mata Noval tajam seakan mengintimidasi. Ia kemudian mengatakan ingin melakukan evaluasi atas apa yang telah dikerjakan oleh mereka.

Permintaan itu bukan sekadar kata-kata, tapi sebuah perintah tegas terselip keinginan terselubung, tidak bisa dibantah lagi.

“Atur jadwalnya untuk besok ya,” pinta Azka.

“Baik pak,” jawab Noval.

***

Keesokan pagi, suasana kantor terasa berbeda. Cahaya matahari menembus jendela besar, menyinari meja-meja sudah tertata rapi, sementara langkah-langkah pegawai menggema di koridor yang lapang.

Di ruang rapat, kursi-kursi telah menunggu, berbaris rapi seperti pasukan siap mendengarkan komando. Tak lama setelahnya, diskusi dimulai relatif santai.

Azka mengawali dengan dalih ingin mendapatkan laporan hasil penerapan rencana dan kegiatan dari tim quality control.

Merespon permintaan itu, Sesilia langsung memberikan pemaparan sesuai dengan apa yang timnya sudah kerjakan.

Ketika penjelasan diberikan, Azka kembali tidak fokus. Ia justru memperhatikan wajah Sesilia. Ia tak bisa berhentik mempertanyakan, siapa dia sebenarnya?

“Baiklah, kira-kira seperti itu yang bisa saya sampaikan,” tutup Sesilia mengakhiri pemaparan.

Suara tepuk tangan menyadarkan Azka dari lamunan. Ia langsung menyadari presentasi telah selesai.

“Terima kasih, Kayla,” ucap Azka refleks yang kemudian mengetahui kalau ia salah menyebutkan nama panggilan.

Noval beserta peserta rapat lainnya diam sejenak.

“Maksud saya, Sesilia, terima kasih. Kita akhiri rapat sampai di sini, pertahankan performa terbaik kalian,” ralat Azka.

Sambil merapikan dokumen-dokumen yang dibawa, Sesilia menatap heran ke arah Azka.

Azka sempat hampir salah tingkah, ia melirik Sesilia tapi sesaat kemudian membuang pandangan ke sudut lain. Ia berusaha untuk menutupi perasaannya.

***

Pada malam hari di ruang tengah. Visha baru saja selesai merapikan sofa untuk Azka tidur. Meskipun berat dalam hati, Visha tetap berusaha menghargai keputusan yang sudah diambil oleh Azka. Ia enggan tidur satu ranjang selama ingatannya masih belum kembali.

Ia melapisi sofa menggunakan selimut, lengkap dengan bantal dan guling di atasnya. Suasana hati berkecamuk, ia seperti ingin mengutarakan apa yang dirasakan saat ini.

Setelah selesai, Visha tidak langsung masuk ke dalam kamar. Ia justru duduk di atas sofa tersebut, menunggu Azka keluar dari kamar mandi.

“Lho, kamu belum mau tidur?” tanya Azka yang melihat Visha sedang mengganti channel di televisi.

“Aku mau bicara sebentar sama kamu,” jawab Visha sambil menekan tombol power dari remot.

Azka melangkah pelan, duduk di sofa yang sama dengan Visha, menempati sisi tepat di sebelahnya. Ruangan yang tenang seketika terasa berat, seperti setiap benda di sekitar ikut menunggu percakapan yang akan datang.

Memantapkan hati, Visha menarik nafas dalam lalu menoleh dengan mata yang menahan campuran rasa lelah dan kecewa. Suaranya pelan ketika ia mulai berbicara. Kata-kata yang disusun rapi tampak menyimpan beribu kesedihan.

“Kamu sebenarnya paham tidak ya, kondisi yang terjadi saat ini, terutama tentang hubungan pernikahan kita,” ucap Visha mengawali obrolan dengan pertanyaan sulit.

Sontak saja, Azka tidak mengerti maksud dari pertanyaan itu, “Maksud kamu gimana?”.

“Ya tentang kita sebagai dua manusia yang sedang menjalani sebuah hubungan rumah tangga dan kondisi kamu,” ujar Visha.

Mulai memahami arah pertanyaan, tapi Azka terlihat masih berpikir. Ia merasa tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menjawab.

Mata Visha kini mulai sembab. Dengan sekuat tenaga, ia menahan air matanya.

“Jujur...” ucap Azka terbata.

Beberapa detik berlalu, tapi kata-kata itu tak juga keluar dari mulut Azka. Diamnya begitu panjang, menelan setiap kemungkinan.

Visha menatapnya dengan perasaan bergejolak. Diam Azka tidak bisa membuat ia tenang karena hal yang diinginkan adalah jawaban. Sikap Azka membuat ia semakin membara, merasa seperti berbicara kepada seseorang tak memiliki pendirian, yang hanya menunda tanpa berani mengambil keputusan.

Emosi Visha meledak, tak bisa dibendung lagi. Tangan yang semula terlipat di pangkuan kini mengepal, bibirnya bergetar.

Keheningan berubah menjadi medan ketegangan, dimana rasa kecewa dan frustasi menumpuk, menunggu kata yang mungkin bisa meredakannya.

“Biar aku deh yang jelaskan, kamu dengar baik-baik,” ucap Visha.

Air mata tak terasa menetes di pipinya. Meskipun berat, ia tetap berusaha untuk memberi penjelasan kepada Azka.

“Kamu dan aku, sudah menikah. Sah sejak tiga tahun lalu. Aku istrimu dan kamu suamiku,” lanjutnya.

“Sekali lagi aku katakan, aku istrimu, kamu suamiku, sampai sini jelas?” Visha mengulangi kalimat.

Azka masih diam, tidak merespon. Visha meninggikan nada suara, “Sampai sini jelas?!”

Terkejut dengan penegasan istrinya, Azka mengangguk, “I-iya, sudah.”

“Oke aku lanjutkan.”

“Lalu tiba-tiba kamu kecelakaan di tempat kerja, masuk rumah sakit, seketika itu juga kamu mengalami koma hampir satu bulan. Dan aku sangat bersyukur, alhamdulillah-nya kamu sadar, sembuh dan sehat seperti sekarang,” ujar Visha.

“Tapi ada satu hal”.

Tak kuasa menahan tangis, ia berhenti sejenak. Menghapus air mata yang menetes, berusaha untuk bicara dengan normal.

“Entah bagaimana ceritanya, dengan polos kamu bilang, kalau istrimu berubah nama jadi Sesilia,” sambungnya disertai tangis yang akhirnya pecah.

Tensi mendadak berubah. Meski terlihat cemas, Azka hanya diam menyaksikan Visha menangis di sebelahnya.

Ia kemudian kembali mengucapkan kalimat yang selama ini menjadi andalan, “Aku tidak tahu, Visha”.

Merasa tak sanggup menahan diri, Visha langsung berdiri. Ia berjalan cepat masuk ke dalam kamar, sedangkan Azka masih mematung.

“Brakkkhhh!”

Terdengar suara pintu yang setengah dibanting oleh Visha.

Dalam posisi duduk, Azka meletakkan kedua telapak tangan di pinggir dahi. Sesekali ia menggerakkan jari untuk memijat kepala.

Sesaat setelahnya, pintu kamar terbuka lagi. Visha berjalan ke arah Azka.

Ia kemudian memberikan pesan dengan nada tegas. Ia tidak pernah semarah ini. Visha kehilangan kendali pasca sekian lama menahan perasaan.

“Yang kamu harus paham. Terlepas dari ingatan anehmu. Aku! Visha Aurelia, istrimu. Aku sudah kasih bukti-buktinya ke kamu. Bahkan orang tuamu juga tidak membantah kalau aku istrimu, kan? Jadi seharusnya, kamu sadar, kamu harus perlakukan aku sebagaimana mestinya, paham!” ungkapnya.

“Sekarang, menurutku begini saja. Kalau memang kamu tidak ada keinginan untuk melanjutkan hidup sama aku. Lebih baik kita sudahi saja hubungan ini. Aku juga tidak mau kalau harus hidup terus-terusan dibayangi sosok wanita lain yang bahkan aku juga tidak kenal,” tegasnya lagi.

Menyadari Visha telah mengambil keputusan serius, Azka pun akhirnya berbicara. “Bukan, bukan seperti itu.”

Visha diam seperti ingin mengetahui apa yang akan diucapkan oleh Azka kali ini. Tapi lagi-lagi jawaban Azka tidak sesuai harapan.

“Aku juga bingung. Aku masih belum tahu harus bagaimana,” jawab Azka.

Dengan sorot mata yang tajam, Visha menatap Azka begitu geram. Ia tidak habis pikir dengan sikap Azka sekarang. Tidak seperti Azka yang ia kenal.

Merasa tidak mendapatkan yang diinginkan, Visha kembali masuk ke dalam kamar. Kini ia tidak lagi membanting pintu, tapi juga tidak menutup pelan. Sedangkan Azka masih diam berpikir. Ia merasa buntu, apa yang harus dilakukan.

Terbutakan oleh perasaan atas nama Sesilia. Ia menjadi tidak bisa berpikir jernih. Padahal jika Azka bersedia membuka hati sedikit saja, mungkin ia akan bisa memahami perasaan Visha.

1
Nanda Jambi
kenangan terindah pasti ada dalam setiap ingatan terdalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!