Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.
Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.
Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.
Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Kamar utama di sayap utara Istana Buckingham diselimuti temaram yang hening. Suara angin malam yang membelai tirai beludru berat tidak mampu mengikis ketegangan yang menggantung di udara.
Di tepi tempat tidur berkanopi emas, Baxeena duduk dengan dada yang berombak naik turun. Air mata jernih menetes dari sudut matanya yang indah, melintasi pipinya yang merona, lalu jatuh membasahi gaun sutra kelam yang dikenakannya.
Dua belas jam lalu, dekrit kerajaan resmi dikeluarkan. Surat perintah tugas bersampul segel lilin merah darah telah diletakkan di atas meja kerja Alistair.
"Hanya enam bulan, Amore..."
Suara Alistair terdengar lembut namun bergetar hebat saat berusaha menjelaskan keputusan tersebut pada sang istri.
Baxeena tidak mampu menahan tangisnya lagi. Empat Belas tahun perpisahan yang dipenuhi kesalahpahaman baru saja mencair dalam kurun waktu dua minggu, dan kini, takdir dinasti kembali mengayunkan pedangnya.
Seminggu lagi, Pangeran Alistair Blackwood harus pergi memimpin Royal Duty Tour di wilayah konflik Timur Tengah—sebuah pembuktian kesetiaan kuno yang dipaksakan kerajaan atas pernikahan mereka dengan wanita non-bangsawan.
Alistair berlutut di lantai karpet tebal tepat di hadapan Baxeena. Jemari tegapnya mengusap lembut sisa air mata di wajah istrinya, lalu perlahan menundukkan kepala.
Pangeran tegap yang ditakuti di medan tempur itu menempelkan dahinya pada perut rata Baxeena. Dengan kehangatan yang amat dalam, Alistair mencium perut Baxeena bertubi-tubi, menghantarkan seluruh harapan dan kerinduannya di sana.
"Aku harap... dia sudah ada di sini setelah kepergianku..." bisik Alistair parau, jemarinya membelai pinggang Baxeena dengan ketulusan yang telanjang.
Baxeena meremas bahu tegap suaminya, menyusupkan jemarinya di antara rambut lebat Alistair. "Berjanjilah padaku... kau pergi untuk kembali, Alistair."
Air mata Baxeena makin deras membasahi tangannya. Tiba-tiba suaranya pecah, diiringi isak tangis yang begitu menyayat hati.
"Apa takdir sekejam ini, Alistair?! Kita baru saja bersama... kita baru saja saling menemukan kembali! Dan sekarang kau harus meninggalkanku ke zona perang?! Aku ingin ikut saja bersamamu... Kumohon, bawa aku bersamamu!"
Alistair mendongak, menatap iris mata Baxeena yang dibasahi keputusasaan.
Hatinya serasa diiris melihat wanita paling tangguh dihatinya itu meruntuhkan seluruh pertahanannya demi dirinya. Alistair berdiri, merengkuh tubuh Baxeena ke dalam pelukannya yang hangat dan posesif.
"Bagaimana dengan putri kita, Amore?" bisik Alistair di samping telinga Baxeena, mengusap punggung istrinya dengan lembut. "Kau ingin membiarkannya kesepian di istana ini tanpamu, hm? Violet membutuhkanmu di sini. Hanya enam bulan... Kumohon, bersabarlah sedikit lagi untukku."
Baxeena menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alistair, menghirup aroma kayu cendana yang akan segera dirindukannya selama berbulan-bulan ke depan. Perlahan, dengan kepasrahan yang amat berat, Baxeena mengangguk pelan di dalam pelukan suaminya.
Baxeena menarik tubuhnya sedikit, menatap Alistair dengan binar mata galak yang dipaksakan di balik sisa air matanya. "Jangan pernah menatap wanita lain di sana... Kalau tidak, aku sendiri yang akan terbang ke sana dan menembakmu tepat di dada."
Alistair terkekeh pelan—sebuah senyuman hangat yang mengikis pekatnya kesedihan di antara mereka. Ia mengecup ujung hidung Baxeena dengan kelembutan yang melumpuhkan.
Sebab pada akhirnya, cinta di lingkungan kerajaan bukan sekadar tentang kemewahan atau tahta.
Pengorbanan adalah harga yang harus dibayar untuk menjaga tempat yang kita cintai, perpisahan adalah ujian sejauh mana jiwa tetap terikat meski raga terpisah ribuan mil, dan kepercayaan adalah satu-satunya jangkar yang menahan dua hati agar tidak karam di dalam badai konspirasi.
"Masih ada waktu seminggu, Sayang," ujar Alistair, menatap Baxeena dengan pendar mata hazel-nya yang perlahan menggelap oleh gairah yang akrab. "Kita bisa melepaskan seluruh rasa rindu yang harus kutabung untuk enam bulan ke depan."
Tak lama, ia terkekeh nakal. Mempermainkan alisnya dengan raut wajah yang amat tengil saat tangannya meluncur memeluk pinggang Baxeena lebih rapat. "Aku juga harus punya stok yang banyak di atas ranjang sebelum pergi..."
Baxeena membelalakkan matanya, menyikut perut Alistair pelan walau tak sanggup menahan senyuman tipis di bibirnya. "Kau benar-benar tidak bisa diajak serius kalau sudah berada di dalam kamar, Pangeran mesum!"
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pelan di pintu tebal kamar utama mendadak menghentikan godaan Alistair.
Keduanya menoleh ke arah pintu. Alistair merapikan posisi gaun tidur Baxeena sebelum melangkah mendekat dan membuka pintu kayu ek tersebut.
Di balik celah pintu, berdiri Violet. Gadis tiga belas tahun itu masih mengenakan piyama katun bergambar beruang, memeluk sebuah boneka kelinci kecil di dadanya. Wajah cantiknya menunjukkan raut cemas dan mata yang sedikit sembab—tanda bahwa ia juga telah mendengar kabar kepindahan ayahnya ke garis depan.
"Violet?" panggil Alistair lembut, merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi putrinya. "Kenapa belum tidur, Honey?"
Violet tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Matanya menerobos masuk ke dalam kamar, menatap Baxeena yang sedang berdiri di dekat tempat tidur, menyapu sisa air mata di pipinya.
Violet melangkah masuk tanpa ragu, mengabaikan Alistair sejenak, lalu berjalan cepat dan memeluk pinggang Baxeena erat-erat. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya pada Baxeena.
"Mommy..." suara Violet terdengar parau dan tercekik. "Apakah Ayah benar-benar harus pergi jauh minggu depan?"
Baxeena tertegun sejenak sebelum merendahkan tubuhnya, merengkuh bahu Violet dan mengecup puncak kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Ya, Sayang... Ayah harus menjalankan tugasnya," bisik Baxeena lembut, jemarinya mengusap punggung Violet. "Tapi Ayah berjanji akan kembali dengan selamat untuk kita berdua."
Alistair menyusul berlutut di samping mereka, melingkarkan lengan kokohnya memeluk istri dan putrinya sekaligus. Kehangatan keluarga kecil itu mengalir begitu kuat di tengah dinginnya dinding-dinding batu istana.
"Dengar, Violet..." kata Alistair, suaranya mengalun serak namun sarat akan ketegasan seorang pelindung. "Rumah bukanlah tempat di mana dinding batu ini berdiri, melainkan di mana kita saling menggenggam hati. Selama Ayah pergi, Ayah titipkan Mommy padamu, dan Ayah titipkan dirimu pada Mommy. Kalian adalah kekuatan Ayah untuk kembali pulang."
Violet mendongak, menatap mata ayahnya lalu beralih menatap wajah Baxeena yang tersenyum hangat padanya.
"Aku akan menjaga Mommy, Ayah," ujar Violet mantap, mengusap air mata di pipinya sendiri. "Dan aku akan memastikan Mommy tidak merindukan Ayah terlalu banyak sampai membuat Mommy sedih."
Baxeena terkekeh pelan di antara harunya, mencium pipi Violet dengan gemas. "Terima kasih, Putri Cantikku. Kau adalah pelindung terbaik yang bisa Mommy miliki."
Violet menyandarkan kepalanya di dada Baxeena, sementara Alistair mengecup kening mereka berdua bergantian.
Di kamar yang megah itu, perpisahan yang membayang tidak lagi terasa sebagai ancaman kehancuran, melainkan sebagai awal dari pembuktian betapa tak tergoyahkannya ikatan cinta yang telah berhasil mereka satukan kembali.
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭