Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.
Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.
Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan besar
"Irish... ini kesempatan," bisik Mike di kupingku.
Secepat kilat aku mengubah raut wajahku yang tegang menjadi lembut setelah ucapan Mike barusan. Aku menyambut tangan Aldrik dengan gemulai. Hacker itu lalu membawaku ke lantai atas untuk menonton dari ruang vip. Kami berjalan cepat tanpa ada pertanyaan lanjut.
Aku semakin melebarkan senyum saat melihat ruangan berukuran 6 meter persegi itu telah di huni oleh ke dua saudaranya yang lain. Marcus dan Zane ada di sana. Aku menyunggingkan alis, lalu duduk di sofa tengah tanpa kata. Aku pura-pura dingin dan menatap tajam ke arah arena boxing di lantai bawah.
Aku tak mengedipkan mata, seolah keberadaanku di sana memang untuk menyaksikan pertandingan ilegal dunia bawah. Aldrik menuangkan wine ke gelas dan menawarkan minum bersama.
Aku menyambut dan langsung meneguknya sambil sesekali aku melirik kanan kiri.
Zane mengenakan celana loreng dan kaos tengtop putih, dia berdiri tegap menyamping sambil melihat pertarungan di bawah. Aku melirik sesekali ke tubuhnya yang kekar. Terdapat bekas sayatan panjang di lengan kirinya. Sementara Marcus, penampilannya casual biasa saja, pertemuan kedua ini dia masih mengenakan jaket putih khas dokter nya itu.
"Bagaimana kau bisa masuk?" Tanya sinis Zane yang tiba-tiba mengagetkanku.
Tanpa kata-kata, aku mengeluarkan kartu vip hitam dengan lambang mawar emas dari saku. Itu adalah kartu pelanggan vip khusus dunia bawah. Aku meletakkan kartu itu di meja. Untung saja pak Jojo mengirimkan kartu itu tadi sore tepat waktu.
"Wow ... bahkan kau punya kartu vip?" ucap Aldrik girang.
"Vip? Kau sudah sering kesini? tapi aku baru pertama melihatmu," sela Zane.
"Biasanya aku hanya melihat dari jauh, tapi kali ini aku ingin menonton lebih dekat." Jawabku cepat.
"Kau ingin taruhan? Malam ini ada petarung baru yang akan menantang kuda hitam andalan kami," sambung Aldrik.
Sepenglihatanku, Aldrik tampak seperti seorang pria muda yang penuh semangat. Dari luar dia selalu riang, manja, tapi siapa sangka dia adalah Hacker yang di perebutkan negara, karena kemampuannya itu dia sudah berkali-kali meretas sistem keamanan militer. Tapi tak pernah ada bukti kuat, sehingga dia selalu lolos.
Kata-katanya membuatku penasaran, siapa kuda hitam dan petarung baru itu. Rasanya ini semakin menarik perhatianku.
Zane lalu mengubah posisinya, dia berpindah duduk tepat disampingku sementara Caspian menyendiri di pojok. Aldrik hanya berdiri di depan balkon dan Markus terus menatapku dari bawah hingga ke atas. Entahlah, kecurigaan seperti apa yang dimiliki oleh dokter bedah itu, tampaknya dia sangat curiga sekali kepadaku. Tatapannya seperti menyelidiki sesuatu.
Aku tidak peduli, selama aku berhati-hati, tidak akan ada yang tahu tentang identitas diriku yang sebenarnya.
"Serang ... serang .. pukul dia ... jangan sampai kalah!!"
"Ayo ... habisi dia ... !"
Sorakan penonton membuat area menjadi bising. Suara riuh menyoraki seseorang di bawah sana semakin sering terdengar. Aku penasaran dan mendekat ke balkon di ikuti Zane dan Marcus. Aku menyipitkan mata. Tampak seorang pemuda berkulit gelap bertubuh kekar melawan seorang pemuda putih lusuh di bawah. Mereka beradu tinju dengan dasyat. Saling sikut dan beradu tekhnik. Aku melihat ke arah pria hitam itu.
Tubuh besarnya mendominasi pertandingan. Setiap pukulannya berat dan mematikan. Hantaman nya pada lawan tak bisa di pungkiri, dia kuat. Jika orang awam melawannya pasti akan tumbang hanya dengan sekali pukulan. Tapi tampak ada yang aneh pada pria hitam itu.
"Malam ini dia pasti menang lagi ... aku akan menggandakan taruhan!" Ujar Aldrik di sebelahku.
"Sepertinya dia akan kalah melawan pria lusuh itu,," selaku singkat.
"Pria hitam itu bernama Rebo ... dia adalah kuda hitam ring ini. Tak terkalahkan!" Ucap Zane.
"Benarkah? Tapi aku lihat dia sama sekali tidak kuat. Kakinya goyah, kuda-kudanya tidak tegap. Dia hanya mengalihkan perhatian agar lawan tak menyerang kelemahan di kakinya. Dan sepertinya dia sedang tidak sehat, gerakannya selalu melindungi dada."
"Hanya dengan melihat kau bisa tau kelemahan lawan, kau menarik sekali Irish..." ujar Marcus.
Sangat wajar jika Marcus mencurigai aku, dia adalah dokter bedah ternama yang mempelajari berbagai tubuh manusia. Pasti dia juga mengetahui sesuatu tentang Rebo.
"Tidak mungkin ... Rebo sudah menang belasan kali ... tak ada yang bisa mengalahkannya ... " pekik Zane tak terima.
"Mungkin karena terlalu sering bertarung... jadi tubuhnya mulai melemah."
"Kau seyakin itu kalau dia akan kalah?" Tambah Zane.
"Irish ... kau mau bertaruh...?" Tanya Marcus.
"Oke ... aku bertaruh sepuluh juta dolar ... jika kuda hitammu itu akan kalah sebentar lagi ... "
"Pasang taruhannya!!!"
Teriak Zane ke seluruh arena. Pria itupun mengumumkan jumlah taruhanku kepada pengunjung. Tentu saja aku malah di tertawakan, karena setiap pengunjung yang hadir memasang taruhan besar terhadap Rebo, tapi aku malah sebaliknya.
"Jika kau kalah, maka apa yang akan kau berikan?" tantang Zane.
"Tidak ada ... aku sudah bertaruh 10juta dolar ... apalagi yang kau inginkan?"
"Jadilah wanitaku... "
Aku terkekeh mendengar ucapan Zane. Aldrik tertawa keras sementara Caspian dan Marcus hanya tersenyum.
"Aku menolak tuan Zane ... kita hanya bertaruh uang. Bukan perasaan."
"Aku menginginkan lebih dari uang!"
"Zane ... ingat taruhan kita ... !!!" sela Caspian dingin.
Kata-kata itu membuatku mengernyitkan dahi. Sepertinya terjadi kesepakatan rahasia di antara mereka. Zane mundur lalu berteriak lagi.
"Rebo ... jika kau menang lagi malam ini ... kau akan mendapatkan hadiah lima puluh juta dolar dariku."
Rebo yang mendengar pun bersemangat. 50 juta itu bukanlah uang yang sedikit. Tentu saja itu membuat orang-orang bersorak bahkan semua pengunjung pun ikut menaikkan taruhan mereka, aku hanya tersenyum sambil terus menyaksikan.
*****
Hantaman pukulan saling membentur membuat keduanya babak belur. Pertarungan di bawah bukan lagi seperti boxing, melainkan pertarungan hidup dan mati. Kedua petarung bagai ayam jago di Indonesia yang di adu demi taruhan tuannya.
Rebo menggila, pukulannya terus bertubi-tubi mengenai pria putih itu. Kulihat Rebo melayangkan pukulan ke arah dada pria putih itu dan langsung membuatnya terpental. Pria itu memuntahkan darah, aku mengepalkan tangan ke balkon.
"Dasar tidak berguna! Kenapa dia tidak menyerang titik lemahnya ... apa pria itu bertarung tanpa otak?" Gumamku kesal.
"Kenapa Nona? Kau menyesal sekarang?" Ejek Zane.
Hatiku sedikit bimbang. Bagaimana jika dugaanku salah? Jika malam ini aku kalah, maka uang 10 juta dollar yang aku janjikan akan terkuras di rekeningku. Ya, walaupun itu bukan uang pribadiku, namun itu adalah uang dari asosiasi sebagai limit tanpa batas untuk perbekalan misi.
Jika pak menteri sampai mengetahuinya, tentu saja itu akan jadi masalah besar. Mike berbisik di kupingku, dia benar-benar bagai hantu, tak kasat mata, tapi terus memantau dan mendengar apapun.
"Irish... jika kau kalah, kau akan mempertanggungjawabkan taruhan 10 juta dollar itu."
"Diamlah Mike!"
"Sepuluh juta dolar Irish... kau bekerja lima tahun belum tentu sanggup melunasi nya... "
"Aku bilang diam!!, aku sedang berfikir."
"Diam bagaimana? Kekalahanmu di depan mata Irish."
"Dasar ... kau laknat! Diam lah!"