Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.
Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.
Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalam Cengkeraman Sagara
Tak lama kemudian, beberapa pelayan datang membawa pesanan.
Satu per satu hidangan diletakkan di atas meja hingga aroma makanan memenuhi udara.
Ainun menatap piring di depannya. Seketika napasnya tertahan.
Di hadapannya tersaji makanan laut yang sejak kecil tidak pernah bisa ia makan.
Ia mengangkat pandangan sekilas ke arah Liona. Wanita itu hanya tersenyum tipis sebelum kembali berbincang dengan yang lain.
‘Apa Mbak lupa kalau aku alergi?’
Ainun menarik napas pelan. Lalu ia mengangkat tangan.
“Permisi,” panggilnya sopan kepada salah seorang pelayan.
Pelayan itu segera menghampiri.
“Iya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?”
Ainun tersenyum canggung.
“Maaf, saya tidak bisa makan menu ini karena alergi. Apa boleh diganti? Yang ini tetap saya bayar, jadi nanti dipisahkan saja.”
Pelayan itu mengangguk memahami.
“Oh, baik, Mbak. Kalau begitu Mbak ingin menggantinya dengan menu apa?”
Ainun baru saja membuka mulut.
“Saya mau pesan....”
“Makan.”
Suara datar itu memotong ucapannya.
Ainun menoleh.
Tatapannya bertemu dengan wajah Sagara yang sejak tadi masih duduk tenang tanpa menoleh kepadanya.
Kening Ainun mengerut.
“Tapi... aku alergi,” ucapnya lirih.
Tatapan Sagara tetap lurus ke depan.
“Apa itu bisa membuatmu mati?”
Kalimat itu menghantam dada Ainun begitu saja. Bibirnya terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar.
Jemarinya perlahan mengepal di bawah meja.
“Mas…”
Belum sempat Ainun mengatakan apa pun, Pak Faizan lebih dulu angkat bicara.
“Bu Ainun,” ujarnya lembut sambil mendorong piringnya ke depan. “Kalau begitu makan punya saya saja. Saya tukar dengan yang Ibu.”
Belum sempat Ainun menjawab, suara Sagara kembali terdengar.
“Tidak perlu, Pak Faizan,” ucap Sagara. Nada suaranya tenang, tetapi mengandung penekanan yang sulit diabaikan.
Pak Faizan menatap Sagara beberapa saat.
“Tidak masalah, Pak. Saya hanya ingin membantu.”
“Pak Sagara,” sela Laras dengan nada tak terima, “sahabat saya memang tidak bisa makan makanan itu. Jadi jangan dipaksa.”
Sagara akhirnya menoleh. Tatapannya jatuh tepat ke arah Laras.
“Diam,” ucapnya dingin. “Atau saya minta kepala sekolah memecat dan memasukkan nama Anda ke daftar hitam.”
Suasana meja makan mendadak sunyi.
Laras menggigit bibirnya, tetapi sorot matanya masih dipenuhi kekesalan.
Melihat keadaan semakin canggung, Bu Een buru-buru menyodorkan piring miliknya.
“Kalau begitu... ini saja makan punya saya, Ai.”
Ainun menatap piring yang disodorkan Bu Een.
“Tapi...”
“Enggak perlu dipedulikan pria egois ini,” sela Laras dengan nada kesal. “Yang penting kamu makan dulu, Ai.”
Ainun mengatupkan bibir.
Ia baru saja mengulurkan tangan untuk menerima piring itu ketika...
Pyar!
Suara piring pecah menggema di seluruh restoran.
Tubuh Ainun refleks tersentak. Napasnya tertahan saat melihat pecahan piring berserakan di lantai.
Suasana yang semula dipenuhi obrolan mendadak sunyi. Beberapa pengunjung menoleh ke arah meja mereka dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Jantung Ainun berdegup semakin cepat. Perlahan, ia mengangkat pandangan.
Tatapannya bertemu dengan wajah Sagara yang kini terlihat jauh lebih dingin dari sebelumnya.
“Mas, tenanglah,” ucap Liona buru-buru sambil berusaha meredakan suasana. “Ini salahku. Aku lupa kalau Ainun alergi seafood.”
Namun, seolah tidak mendengar penjelasan itu, Sagara berdiri dari kursinya.
Belum sempat Ainun bereaksi, sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.
“Astaghfirullah...”
Tubuh Ainun refleks berdiri karena tarikan itu.
“Mas Sagara...”
Cengkeraman di pergelangan tangannya semakin erat hingga membuat wajah Ainun meringis.
“S-sakit.”
Ia berusaha menarik tangannya dari cengkeraman tangan Sagara, tetapi tenaga pria itu jauh lebih kuat.
“S-sakit, Mas,” lirihnya dengan suara bergetar.
Jemarinya gemetar saat mencoba melepaskan cengkeraman itu, tetapi sia-sia.
Tatapan orang-orang di dalam restoran kini masih tertuju kepada mereka. Ainun dapat merasakan pandangan itu menusuk dari segala arah.
Panas menjalar ke wajahnya, sementara dadanya dipenuhi rasa malu yang begitu menyesakkan.
“Mas, tolong lepasin… tanganku sakit.”
Pria itu seakan begitu tuli. Hingga saat keluar dari restoran.
Langkah Ainun nyaris terseret. Pergelangan tangannya masih berada dalam cengkeraman Sagara yang tak juga mengendur.
Begitu tiba di depan mobil, Sagara langsung membuka pintu penumpang.
“Masuk!”
Ainun menatapnya dengan napas yang belum beraturan.
“Tapi...”
“MASUK!”
Suara itu menggelegar, membuat tubuh Ainun refleks bergeming.
Dadanya berdebar semakin kencang.
Tanpa memberinya kesempatan berbicara, Sagara mendorong pelan, tetapi tegas, hingga tubuh Ainun terdorong masuk ke dalam mobil.
Brak!
Pintu mobil tertutup keras.
Ainun terduduk kaku di kursi penumpang.
Jemarinya tanpa sadar meremas ujung gamis yang dikenakannya.
Melalui kaca samping, ia masih bisa melihat beberapa orang berdiri di depan restoran sambil memandangi mobil mereka.
Rasa malu perlahan memenuhi dadanya.
‘Kenapa harus seperti ini....’
Tak lama kemudian, pintu di sisi pengemudi terbuka.
Sagara berjalan memutari bagian depan mobil, lalu masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi.
Hanya suara napas mereka yang terdengar samar.
Beberapa detik kemudian, deru mesin memecah keheningan.
Sagara menggenggam kemudi, lalu menginjak pedal gas.
Mobil itu melaju meninggalkan pelataran restoran, sementara Ainun hanya mampu menatap lurus ke depan dengan dada yang masih dipenuhi kegelisahan.
.
Kini mobil melaju membelah jalan raya yang mulai dipadati kendaraan. Deru mesin terdengar semakin keras, berpadu dengan suara klakson yang saling bersahutan. Pepohonan, ruko, dan kendaraan di sisi jalan berlalu begitu cepat di balik jendela, membuat pandangan Ainun terasa berputar.
Jemarinya mencengkeram ujung bajunya hingga buku-buku jarinya memucat.
Sesekali tubuhnya terdorong ke depan setiap kali Sagara menginjak pedal gas lebih dalam atau menyalip kendaraan lain tanpa mengurangi kecepatan.
Ainun melirik ke arah pria di sampingnya.
Wajah Sagara tetap datar. Tatapannya lurus menembus kaca depan, sementara kedua tangannya menggenggam kemudi dengan erat.
Tak sedikit pun ia menoleh.
Jantung Ainun berdegup semakin kencang. Napasnya terasa memburu.
“Mas...” panggilnya lirih dengan suara bergetar. “Aku takut.”
Tak ada jawaban.
Ainun menelan ludah yang terasa pahit.
“Mas, pelankan mobilnya,” pintanya lagi. “Tolong...”
Namun, seperti sebelumnya, permohonannya seolah menguap begitu saja.
Bukannya mengurangi kecepatan, Sagara justru kembali menginjak pedal gas. Mesin mobil meraung semakin keras.
Tubuh Ainun refleks menempel pada sandaran kursi. Jemarinya berpindah mencengkeram sabuk pengaman hingga terasa nyeri.
Matanya mulai memanas. Tak lama kemudian, air mata mengalir tanpa mampu lagi ia bendung.
Rasa takut perlahan menguasai seluruh tubuhnya.
‘Ya Allah... lindungilah hamba. Hamba belum ingin mati.’
Bibir Ainun bergetar pelan.
“Astagfirullah... astaghfirullah... astaghfirullah....”
Kalimat istigfar itu terus berulang lirih dari bibirnya, mengiringi laju mobil yang masih melesat di bawah terik matahari. Di tengah rasa takut yang mencengkeram dadanya, hanya doa yang mampu ia genggam agar perjalanan itu segera berakhir dengan selamat.
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪