NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Atmosfer di dalam kelas 11 IPA 1 seketika membeku. Kehadiran Devan Narendra di ambang pintu dengan tatapan mata yang tajam bagaikan kilatan pedang membuat seisi ruangan tak berani mengembuskan napas keras. Aura intimidasi yang memancar dari tubuh tinggi tegap itu begitu kuat, membungkam riuh tawa geng Clara dalam hitungan detik.

Clara terpaku, tangannya yang tadinya menunjuk Alya tergantung kaku di udara. Senyum kemenangan yang baru saja menghiasi wajahnya meluntur seketika, berganti dengan binar terkejut dan sedikit kebingungan. "Devan? Kamu... kamu ngapain di sini?"

Devan tidak menjawab pertanyaan itu. Langkah kakinya yang mantap menghentak lantai kelas, berjalan perlahan namun pasti membelah barisan meja hingga berhenti tepat di sebelah Alya. Ia berdiri melindunginya, membelakangi Alya yang masih menatapnya dengan pandangan tak percaya, lalu memancarkan tatapan dingin yang menghunus langsung ke manik mata Clara.

"Gua tanya sekali lagi, Clara," suara Devan terdengar sangat rendah, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya sarat akan ancaman terselubung yang amat berbahaya. "Puas lo nge hina orang?"

Clara mencoba menguasai dirinya, membusungkan dada dan memasang kembali raut wajah angkuhnya walau matanya sedikit bergetar. "Dev, kamu gak usah ikut campur deh. Cewek miskin ini emang pantes dapet pelajaran. Dia udah bikin malu sekolah, bolos jam pelajaran Pak Joko gara-gara jualan kue murahan yang gak laku!"

"Siapa yang lo sebut murahan?" potong Devan tajam, melangkah satu tapak maju yang membuat Clara refleks mundur setengah langkah.

Devan menyilangkan tangan di depan dada, menatap Clara dengan pandangan meremehkan yang jauh lebih menyengat daripada yang pernah dikeluarkan Clara kepada siapa pun. "Lo pikir gua gak tahu siapa di balik akun bodong yang mesen dua ratus kue fiktif tadi pagi?"

Seketika wajah Clara memucat pasi. Darahnya seolah berhenti mengalir, dan jantungnya berdegup kencang seperti dihantam palu besar. "M-maksud kamu apa, Dev? Aku gak paham!" gagap Clara, usahanya untuk mengelak justru memperjelas rasa bersalah di wajahnya.

Devan tersenyum miring—sebuah senyuman dingin tanpa kehangatan sedikit pun. "Anak-anak IT geng gua gak bodoh, Clara. Alamat IP dari akun jualan palsu itu terlacak langsung ke jaringan Wi-Fi rumah mewah keluarga lo. Lo yang bikin rencana licik ini cuma gara-gara iri, kan? Iri karena lo gak punya kemampuan apa-apa selain menghabiskan uang orang tua lo, sementara Alya punya bakat dan harga diri yang gak akan pernah bisa lo beli?"

Seluruh murid IPA 1 bersorak menahan napas, terkejut luar biasa mendengar fakta keji di balik penipuan kue Alya. Adel dan Jesica menatap Clara dengan kilatan benci yang semakin membara, sementara Siska dan teman-teman geng Clara mulai bergeser mundur, takut terbawa imbas dari amarah Devan.

Clara mengepalkan tangannya, mukanya merah padam antara malu, marah, dan panik karena kejahatannya dibongkar secara telak di depan umum. "Terus kalau emang aku yang bikin, kenapa?! Kamu mau belain cewek kampung ini?! Inget ya Dev, papa aku itu pemegang saham di yayasan sekolah ini! Aku bisa aja bikin dia dikeluarkan dari sekolah!"

Mendengar gertakan Clara, Devan justru terkekeh pelan. Sebuah tawa renyah yang sarat akan dominasi mutlak. Devan merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya, lalu menatap Clara dengan mata yang mendingin hingga ke titik beku.

"Coba aja kalau lo berani, Clara," ancam Devan tanpa ragu sedikit pun. "Tolong kasih tahu papa lo... mulai detik ini, kalau lo masih berani mengganggu Alya, sejengkal aja, atau berani menyentuh status sekolahnya, gua bakal pastikan Narendra Corp mencabut seluruh investasi dan membatalkan proyek kerja sama senilai puluhan miliar dengan perusahaan keluarga lo."

Kata-kata Devan bagaikan petir di siang bolong yang menghantam kepala Clara. Wajah gadis itu seketika berubah menjadi pucat pasi seperti mayat.

Semua orang di sekolah tahu betapa gurita bisnis keluarga Narendra menjadi penopang utama dari banyak perusahaan di kota ini, termasuk bisnis milik orang tua Clara. Satu keputusan singkat dari Devan—yang merupakan putra tunggal sekaligus pewaris utama Narendra Corp—bisa dengan mudah menghancurkan kerajaan bisnis keluarganya dalam semalam jika sang ayah mengetahui bahwa Clara telah memicu kemarahan Devan.

"D-Devan... kamu gak bercanda, kan?" suara Clara bergetar hebat, kepanikan yang luar biasa kini sepenuhnya menguasai dirinya. Kesombongannya runtuh tanpa sisa.

"Gua pernah bercanda sama lo?" balas Devan dingin, menusuk langsung ke dalam ulu hati Clara. "Satu kata saja keluar dari mulut lo yang merendahkan Alya lagi, atau lo berani nyentuh Dapur Saras lagi, detik itu juga papa lo bakal dapet telepon pemutusan hubungan kerja sama dari kantor pusat ayah gua. Paham?"

Clara mematung di tempatnya. Bibirnya gemetar hebat, air mata bening yang kali ini berasal dari rasa takut dan malu yang teramat sangat mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa aksinya mendzalimi Alya akan berbalik menjadi ancaman fatal yang mempertaruhkan nasib bisnis keluarganya sendiri.

Siska dan dua teman gengnya yang ketakutan setengah mati langsung menarik-narik lengan seragam Clara. "Cla... udah Cla, ayo kita balik ke kelas... ayo Cla..." bisik Siska panik.

Tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas, Clara akhirnya memutar tubuhnya dengan gemetar. Dengan kepala menunduk dalam dan napas yang tersengal-sengal menahan tangis kekalahan, Clara berlari meninggalkan kelas 11 IPA 1 diikuti oleh gengnya yang terbirit-birit. Drama kesombongan sang ratu sekolah berakhir tragis dengan kekalahan yang amat memalukan.

Suasana kelas IPA 1 mendadak riuh oleh helaan napas lega dan bisik-bisik takjub dari para murid. Pembelaan berkelas dari Devan benar-benar membungkam keangkuhan Clara hingga tak tersisa.

Devan perlahan membalikkan tubuhnya, berhadapan kembali dengan Alya. Tatapan matanya yang tadi begitu tajam dan mematikan seketika melunak halus saat melihat Alya yang masih berdiri terpaku di samping mejanya.

Alya menatap Devan dengan perasaan yang sangat berkecamuk. Di satu sisi, ia terkejut karena Devan bertindak sejauh itu untuk melindunginya dan membongkar kejahatan Clara. Namun di sisi lain, Alya yang memiliki harga diri tinggi merasa sedikit canggung karena harus dibela menggunakan kekuasaan dan kekayaan yang selama ini sangat dihindarinya.

"Kamu... kamu gak perlu bertindak sejauh itu, Devan," ujar Alya pelan namun jujur, matanya yang masih sembap menatap Devan lekat-lekat. "Urusan bisnis keluarga kamu terlalu besar cuma buat dipakai membalas masalah sekolah seperti ini."

Devan menatap Alya, lalu menyunggingkan senyum tipis—senyuman tulus yang sangat langka yang hanya pernah ia perlihatkan di depan gadis di hadapannya ini.

"Urusan bisnis keluarga gua itu cuma alat, Al," sahut Devan dengan nada suara yang sangat tenang dan mantap. "Gua gak bakal biarin orang kayak Clara merusak usaha keras orang yang jujur kayak lo. Lagian, kue lo terlalu enak buat dihancurkan sama rencana licik orang iri."

Adel dan Jesica yang berdiri di belakang Alya langsung saling berpegangan tangan, menahan jeritan heboh dan godaan yang hampir meledak dari mulut mereka melihat bagaimana Devan memperlakukan sahabat mereka.

Devan kemudian melirik ke arah empat kotak karton besar berisi dua ratus kue yang tergeletak di sudut meja Alya. Tanpa ragu sedikit pun, Devan mengambil salah satu kotak besar tersebut dan menjinjingnya dengan santai.

"Soal larangan Pak Joko dan dua ratus kue ini... lo gak usah khawatir," lanjut Devan santai, tatapannya mengunci mata Alya. "Gua yang bakal urus semuanya. Kuenya gak bakal ada yang terbuang sia-sia."

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!