NovelToon NovelToon
Love, Kisah Manis Anya

Love, Kisah Manis Anya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lilin Putih di Atas Reruntuhan

Aroma cat akrilik dan kertas linen yang baru dipotong menguar di udara studio DKV lantai dua sore itu. Sinar matahari barat yang mulai meredup menerobos masuk lewat dinding kaca, menyisakan bias jingga yang panjang di atas lantai semen ekspos yang estetik. Anya duduk di meja kerjanya yang berada di sudut ruangan, kedua matanya fokus menatap layar monitor komputer jinjingnya. Jari-jemari lentiknya bergerak lincah, menyunting beberapa detail elemen grafis terakhir untuk dipindahkan ke folder presentasi akhir.

Suasana yang awalnya tenang mendadak pecah ketika pintu kaca studio digeser dengan sentakan yang agak keras. Seorang petugas pengantar barang dari toko bunga terkenal di pusat kota masuk, membawa sebuah buket bunga yang ukurannya teramat besar. Buket itu dibungkus dengan kertas linen hitam eksklusif, menampilkan jajaran bunga lili putih yang mekar dengan sempurna, memancarkan wangi yang seketika mendominasi seluruh ruangan.

"Permisi, mencari tim mahasiswa proyek Baskoro Logistic. Ada kiriman apresiasi dari manajemen pusat," ujar petugas itu dengan ramah, meletakkan buket raksasa tersebut di atas meja hias komunal yang berada tepat di tengah studio.

Ririn dan beberapa mahasiswa yang sedang merapikan maket langsung menoleh. Mata mereka berbinar melihat kemewahan buket bunga tersebut.

"Wah, luar biasa sekali! Ini lili putih kualitas premium," seru Ririn, langsung mendekati meja tengah dan menghirup aroma bunga tersebut. Dia mencari-cari kartu ucapan yang biasanya terselip di antara tangkai bunga, namun nihil. "Eh, kok tidak ada kartu ucapannya ya? Cuma ada stempel logo resmi Baskoro Group di pitanya."

Anya menghentikan gerakan jemarinya di atas papan ketik. Wangi bunga lili yang memenuhi studio seketika memicu getaran aneh di dadanya. Itu adalah wangi parfum dewasanya—wangi yang sengaja dia pilih untuk menggantikan aroma stroberi masa remajanya. Dan kenyataan bahwa Edgard mengirimkan bunga yang sama dengan wangi identitas barunya saat ini membuktikan satu hal: pria itu memperhatikannya dengan sangat detail.

"Ini pasti dari Pak Edgard sebagai bonus kesuksesan survei lapangan kita kemarin," celetuk salah satu anggota tim dengan wajah berseri-seri. "Perusahaan besar memang beda ya kalau mengapresiasi kerja mahasiswa."

Ririn menoleh ke arah sudut ruangan, menatap Anya yang masih duduk diam di kursinya. "Nya, ini ditaruh di meja tengah saja ya buat hiasan studio? Biar ruangan kita makin segar."

Anya menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan melalui mulut. Dia menutup laptopnya dengan sentakan yang tenang namun tegas, lalu bangkit berdiri dari kursi kerjanya. Pakaian kuliahnya hari ini—blus rajut tanpa lengan berwarna hitam yang pas badan dipadukan dengan rok denim span di atas lutut—mempertegas siluet tubuhnya yang proporsional dengan berat 55 kg dan tinggi 165 cm. Kulit putih cerahnya tampak begitu kontras di bawah bias cahaya jingga sore.

Anya melangkah mendekati meja tengah dengan keanggunan yang dingin. Tatapan matanya yang indah menatap jajaran lili putih itu tanpa ada riak kebahagiaan atau kekaguman sedikit pun.

"Rin, tolong ambilkan tempat sampah besar di sudut pintu depan," ucap Anya, suaranya mengalun bariton, tenang, namun penuh penekanan yang mutlak.

Ririn tertegun, mengira dia salah mendengar. "Eh? Tempat sampah? Untuk apa, Nya?"

Tanpa menjawab pertanyaan Ririn, Anya mengulurkan kedua tangannya. Dia mengangkat buket bunga lili putih raksasa yang mewah itu dengan satu gerakan mantap. Langkah kakinya yang anggun membawa tubuhnya berjalan menuju pintu depan studio, tepat di mana sebuah tempat sampah plastik berwarna abu-abu besar berada.

Bruk.

Di depan mata kepala Ririn dan seluruh anggota tim yang terbelalak tidak percaya, Anya menjatuhkan buket bunga lili premium seharga jutaan rupiah itu ke dalam tempat sampah begitu saja, seolah-olah itu hanyalah tumpukan kertas bekas yang tidak berharga. Beberapa kelopak bunga lili yang putih bersih tampak patah dan terlipat di antara sisa kotoran serutan pensil dan plastik makanan.

"Anya! Kamu gila ya?!" pekik Ririn spontan, langsung berlari mendekati sahabatnya dengan wajah panik yang luar biasa. "Itu kiriman dari klien utama kita! Dari Pak Edgard! Bagaimana kalau ada staf mereka yang lewat atau mendengar tentang hal ini? Itu bisa merusak hubungan profesional kita!"

Anya membalikkan tubuhnya dengan perlahan, bersandarkan kusen pintu kayu studio dengan kedua tangan yang dilipat di dada. Perisai di hatinya tampak semakin mengeras, membungkus rapat seluruh kekacauan emosi yang sempat mengusik ketenangannya sejak membaca surel Joana dua hari lalu.

"Bunga itu dikirim atas nama perusahaan tanpa kartu ucapan personal, Rin," jawab Anya dengan nada suara yang teramat datar, sedingin es yang tidak akan pernah bisa dicairkan oleh apa pun. "Artinya, itu adalah barang inventaris formal yang hak pengelolaannya ada di tangan tim kita. Dan sebagai ketua tim, aku memutuskan bahwa aroma bunga ini terlalu menyengat dan mengganggu fokus kerja anggota yang lain di dalam studio yang tertutup. Jika Pak Edgard atau stafnya keberatan, biarkan mereka menyampaikannya langsung kepadaku di ruang rapat rektorat."

Anya memberikan satu anggukan formal yang tegas, lalu berjalan kembali menuju meja kerjanya tanpa memedulikan keheningan mencekam yang kini menyelimuti seluruh isi studio. Teman-teman seangkatannya hanya bisa saling berpandangan dengan wajah cemas, semakin menyadari bahwa ada sebuah dinding raksasa yang tak kasatmata yang memisahkan hubungan masa lalu antara ketua tim mereka dan sang CEO tampan asal Jakarta tersebut.

Sementara itu, di koridor lantai dua gedung rektorat lama, Edgard Baskoro sedang melangkah perlahan didampingi oleh dua orang asisten lapangannya. Lengan kirinya masih terbalut perban putih tebal di balik kemeja rajut hitamnya yang sengaja ditarik hingga sikut, memperlihatkan jam tangan perak mewahnya. Struktur wajahnya yang tampan dengan garis rahang tegas khas keturunan oriental-modern mirip Daniel Henney tampak sedikit kuyu akibat sisa rasa nyeri fisik yang belum sepenuhnya hilang.

"Pak Edgard, semua berkas izin operasional untuk pemasangan baliho di jalur protokol Surabaya sudah selesai ditandatangan dinas terkait," lapor salah satu asistennya dengan sikap hormat.

"Bagus. Pastikan tim mahasiswa mendapatkan salinannya sore ini," jawab Edgard dengan suara baritonnya yang berat namun terdengar sangat lirih.

Langkah kaki Edgard mendadak terhenti ketika dia melewati belokan koridor dekat tangga darurat yang mengarah langsung ke selasar depan studio DKV. Dari jarak sekitar sepuluh meter, melalui celah pintu kaca studio yang terbuka setengah, mata elangnya menyaksikan seluruh adegan pembuangan bunga lili putih yang baru saja dilakukan oleh Anya.

Edgard terpaku di tempatnya berdiri. Jantungnya berdenyut dengan rasa sakit yang begitu hebat, jauh lebih perih ketimbang goresan aspal dermaga di lengannya kemarin sore. Dia melihat bagaimana lili putih yang dia pilih sendiri dengan harapan bisa memberikan sedikit kehangatan di hari Anya, kini tergeletak mengenaskan di dalam tempat sampah plastik abu-abu.

Pria yang biasanya selalu mengendalikan jalannya roda bisnis raksasa di ibu kota itu kini merasakan seluruh sisa harga diri dan keangkuhannya runtuh tak bersisa di atas lantai semen selasar kampus ini. Dia menyadari, tindakan Anya bukan sekadar bentuk penolakan terhadap sebuah buket bunga, melainkan sebuah pesan yang sangat jelas bahwa seluruh usaha, penyesalan, dan kehadiran dirinya saat ini di Surabaya tidak lebih berharga dari seonggok sampah di mata wanita tersebut.

"Pak Edgard... apakah kita perlu menegur pihak fakultas mengenai tindakan mahasiswa tersebut?" bisik asistennya yang ikut menyaksikan kejadian itu dengan wajah tegang, merasa cemas akan kemarahan sang bos besar.

Edgard menahan napas sejenak, mengencangkan cengkeraman tangan kanannya pada tali jam peraknya hingga jemarinya memutih. Dia memejamkan mata tajamnya selama beberapa detik, mencoba menghalau rasa sunyi yang semakin mencekam di dalam dadanya. Ketika dia membuka matanya kembali, sorot mata elang itu tidak lagi memancarkan kemarahan, melainkan kepasrahan yang teramat dalam dari seorang pria dewasa yang sedang menjalani hukumannya.

"Tidak perlu," jawab Edgard dengan nada suara yang teramat tenang namun bergetar tulus. "Jangan lakukan apa pun. Tindakan Nona Anya sepenuhnya adalah hak beliau sebagai ketua tim. Mari kembali ke ruang rapat."

Edgard membalikkan tubuh tegapnya, berjalan menjauh dari koridor studio dengan langkah kaki yang terasa begitu berat. Di dalam keheningan hatinya yang membeku, sebuah ketetapan hati yang baru justru semakin mengakar kuat. Jika sebuah buket bunga lili harus berakhir di tempat sampah untuk meredakan sebagian kecil dari amarah dan luka lama di hati Anya, maka Edgard rela mengirimkannya setiap hari. Perjalanan panjang untuk meruntuhkan perisai di dada mantan pengagum rahasianya ini masih teramat panjang, berliku, dan dia bersumpah tidak akan pernah melangkah mundur dari kota ini sampai binar kebahagiaan itu kembali ke sepasang mata indah Anya.

1
Adinda
visualnya bule thor
Alia Chans
Jadi ingat lirik sebuah lagu nih thor🤭🤭
Irene: 😍🤭🤭 judulnya apa ya?
total 1 replies
Skyline Scribe
mampir kak
semangat nulisnya 💪
Irene: Terimakasih kak 😍
total 1 replies
Irene
😍😍😍
Irene
Semangat Anya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!