NovelToon NovelToon
The Legend Of Hu Jin

The Legend Of Hu Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Wuxia / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.

​Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!

​Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Jembatan Pelangi Kuno

​Satu tahun berlalu bagaikan guratan pedang di atas permukaan air—cepat, tenang, namun meninggalkan bekas yang dalam di seluruh pelosok benua.

​Di bawah naungan musim gugur yang menaburkan dedaunan kemerahan, julukan "Pendekar Es Emas" perlahan berubah menjadi legenda urban di kalangan kultivator bebas dan rakyat kecil Benua Timur. Tanpa ada yang tahu pasti asal-usulnya, rumor tentang pemuda bertopi jerami berjubah abu-abu sederhana merebak luas bagai angin malam.

​Ia dikenal sebagai figur misterius yang selalu muncul saat rakyat kecil tertindas, melumpuhkan bandit tanpa pertumpahan darah serampangan, lalu menghilang tanpa meminta imbalan sepeser pun.

​Bagi Hu Jin, perjalanan satu tahun mengelana di dunia luar adalah kawah tempaan yang mendewasakan jiwanya. Di usianya yang genap lima belas tahun, fondasi kultivasi Ranah Inti Jiwa (Soul Core) miliknya telah mencapai tahap stabilitas yang sangat matang. Seni Pedang Sembilan Es Kuno dan potensi keagungan Tulang Kaisar menyatu makin padat di dalam Dantian-nya. Alih-alih memancarkan tekanan menakutkan, seluruh kekuatan raksasa itu kini tersimpan sangat rapat di balik ketenangan pembawaannya yang sederhana.

​Sore itu, langit barat terlukis indah oleh warna jingga keemasan. Hu Jin menjejakkan kaki di Kota Sungai Merah—kota pelabuhan raksasa yang menjadi batas wilayah terakhir sebelum memasuki Kota Besar Teratai Hitam.

​Kota ini dipenuhi ribuan manusia dari berbagai pelosok. Kapal dagang berukuran raksasa bersandar rapi di sepanjang dermaga, sementara aroma laut bercampur wangi rempah-rempah dan masakan kedai menusuk hidung. Riuh tawar-menawar pedagang dan dentang besi senjata bersahutan di sepanjang jalanan batu.

​Hu Jin melangkah santai. Jubah abu-abunya berkibar pelan diterpa angin laut. Topi jerami dimiringkan sedikit ke depan, menutupi separuh dahi. Di punggungnya, Pedang Hitam Kuno yang terbalut kain lusuh tetap terikat erat, memancarkan getaran energi yang tenang dan sulit ditebak.

​Saat menyusuri kawasan pasar utama, langkah kaki Hu Jin terhenti di depan kedai manisan tradisional. Asap tipis membumbung dari kukusan kayu, memancarkan aroma manis kue beras bersalut gula merah dan permen karamel hangat.

​"Paman, borong semua kue manisan dan permen karamel yang kau miliki hari ini," ujar Hu Jin halus seraya mengulurkan beberapa keping uang perak.

​Pedagang tua itu tersentak kaget, namun wajahnya langsung dipenuhi binar kegembiraan. "Baik, Pendekar Muda! Terima kasih banyak!"

​Begitu kantong-kantong kertas berisi manisan hangat berpindah ke tangan Hu Jin, belasan anak jalanan berpakaian lusuh yang bermain di sudut gang langsung mengerubunginya. Mata anak-anak itu berbinar menatap manisan di tangan Hu Jin.

​"Abang Pendekar! Bagi manisannya!" seru anak-anak bersahutan dengan wajah polos.

​Hu Jin menyunggingkan senyum tulus—senyuman hangat yang jarang ia perlihatkan di hadapan musuh yang ia tumbangkan. Ia berlutut sejenak di atas jalanan batu, membagikan kue beras dan permen karamel satu per satu ke tangan-tangan kecil anak-anak tersebut dengan penuh kesabaran.

​"Satu per satu, jangan berebut. Semua pasti dapat," bisik Hu Jin lembut sambil mengusap pelan kepala anak laki-laki kecil yang tertawa riang.

​Di saat bersamaan, kereta kuda spiritual yang sangat megah melintas pelan diiringi belasan pengawal berzirah emas. Kereta itu ditarik oleh dua ekor Kuda Angin Spiritual bertanduk satu. Tirai sutra tipis yang melapisi jendela terangkat sedikit, memperlihatkan sosok gadis muda yang duduk anggun di dalamnya.

​Gadis itu mengenakan jubah sutra berwarna putih-keemasan yang teramat mewah. Wajahnya begitu jelita, dengan kulit seputih pualam dan mata berbinar bagaikan permata. Ia adalah Su Qing'er—jenius nomor satu dari Sekte Awan, pemegang bakat langka Meridian Cahaya Kuno. Kehadiran dan kecantikannya membuat hampir seluruh kultivator muda di sepanjang jalan menahan napas kagum.

​Namun saat mata indah Su Qing'er menatap keluar jendela kereta, pandangannya mendadak terhenti di sebuah sudut keramaian jalan.

​Di saat semua orang di jalanan terpaku memandang ke arah keretanya, seorang pemuda bertopi jerami di sudut jalan justru sama sekali tidak memiringkan kepala. Pemuda itu sibuk menikmati momennya sendiri, tertawa kecil bersama anak-anak jalanan sambil membagikan kue manisan.

​Su Qing'er menyipitkan mata indahnya. Ada rasa penasaran ganjil yang muncul di hatinya.

​Pemuda itu... aura ketenangannya sungguh aneh, batin Su Qing'er heran. Mengapa keberadaannya terasa begitu menyatu dengan alam sekitarnya, namun dari tubuhnya sama sekali tidak terpancar getaran Qi yang menonjol? Apakah dia hanya orang biasa, atau... dia menyembunyikan sesuatu?

​Kereta kuda spiritual itu terus berlalu perlahan menembus kerumunan, memisahkan pandangan mereka di tengah hiruk-pikuk sore Kota Sungai Merah.

​Malam pun tiba menyelimuti kota pelabuhan. Langit gelap dihiasi ribuan bintang dan rembulan terang. Di sepanjang sungai utama, ratusan lentera kertas berwarna-warni dihanyutkan oleh warga, menciptakan lautan cahaya yang memantul indah di atas permukaan air.

​Hu Jin berjalan santai menuju Jembatan Pelangi Kuno—jembatan batu tua berukir naga yang terletak di bagian kota yang sepi. Suasana di atas jembatan terasa tenang, diiringi gemercik air sungai dan hembusan angin malam yang dingin. Hu Jin melepaskan topi jeraminya sebentar, menyandarkan kedua tangan di atas pagar batu jembatan seraya membiarkan helai-helai rambut hitam panjangnya bertiup halus.

​Saat ia menikmati kedamaian malam itu, suara langkah kaki yang teramat ringan mendadak mendekat dari ujung jembatan.

​Seorang gadis cantik berjubah putih-keemasan melangkah berdiri di samping Hu Jin. Tanpa diiringi belasan pengawal berzirah dan tanpa membawa aura keagungan sektenya, gadis itu tampil sederhana seperti pengembara muda. Itu adalah Su Qing'er.

​Ia ikut menyandarkan lengannya di atas pagar batu jembatan, menatap pantulan cahaya bulan di atas permukaan air sungai yang tenang.

​"Malam yang sangat indah, bukan?" sapa Su Qing'er halus. Suaranya terdengar merdu bagaikan dentang lonceng perak di tengah keheningan malam.

​Hu Jin menoleh tipis dari balik topi jerami yang kembali ia kenakan perlahan, lalu mengukir senyum sopan. "Ya. Sangat tenang dan damai."

​Su Qing'er mengamati profil samping wajah Hu Jin dari jarak dekat. Di bawah terpaan sinar rembulan, ia melihat garis wajah pemuda itu yang tegas, tampan, dan memancarkan kombinasi sempurna antara keanggunan seorang bangsawan dan ketajaman ahli pedang sejati. Namun, yang paling menarik perhatian Su Qing'er adalah tatapan mata hitam Hu Jin yang begitu jernih dan dalam.

​"Sore tadi aku tak sengaja melihatmu di pasar jalanan," ujar Su Qing'er pelan, ada nada ketertarikan jujur dalam bicaranya. "Banyak pemuda di benua ini yang bertarung mati-matian hanya untuk menarik perhatian atau mendapatkan sepatah kata dariku. Tapi kau... kau justru terlihat lebih bahagia membagikan kue manisan kepada anak-anak jalanan."

​Hu Jin terkekeh pelan, suaranya hangat. "Kue manisan membuat anak-anak itu tersenyum tulus dari dalam hati mereka, Nona. Sementara perhatian manusia di dunia persilatan ini... sering kali hanyalah bentuk kepalsuan dan kebanggaan kosong yang melelahkan."

​Jawaban sederhana namun sarat makna itu membuat Su Qing'er tersentak kecil. Bola mata indahnya berbinar takjub. Sebagai jenius utama sekte raksasa yang sejak kecil selalu dikelilingi sanjungan dan intrik politik, kata-kata Hu Jin meresap sangat dalam menyentuh jiwanya.

​Su Qing'er melangkah satu jinjit mendekati Hu Jin, menatap lurus ke dalam mata hitam pemuda itu dari balik bayang-bayang topi jerami.

​"Belakangan ini... di kalangan kultivator bebas dan rakyat perbatasan, ada kabar burung yang sangat ramai dibicarakan," gumam Su Qing'er halus. "Mereka menceritakan sosok pengembara muda bertopi jerami dengan pedang hitam yang melumpuhkan para penindas tanpa membunuh... Mereka menjulukinya Pendekar Es Emas..."

​Su Qing'er menggantungkan kalimatnya sejenak, tatapannya beralih menatap pedang hitam kuno yang terikat di punggung Hu Jin. "...apakah pendekar misterius yang sedang gencar dibicarakan orang-orang itu... adalah kau?"

​Hu Jin tidak mengiyakan ucapan tersebut, juga tidak membantahnya. Ia hanya mengukir senyum tipis yang tenang dan misterius.

​"Dunia luar terlalu suka memberi julukan yang berlebihan, Nona," jawab Hu Jin santai. "Aku hanyalah seorang pengembara biasa yang sedang berjalan menyusuri takdirku."

​Su Qing'er menatap senyuman itu selama beberapa detik, lalu tertawa kecil—suara tawa renyah dan lepas yang jarang sekali ia perlihatkan di depan publik. Ia paham betul pemuda di hadapannya bukanlah sosok yang suka memamerkan kehebatan.

​"Baiklah, Pendekar Misterius," ucap Su Qing'er anggun, menyatukan kedua tangannya dan membungkuk hormat khas murid sekte besar. "Namaku Su Qing'er dari Sekte Awan. Sampai jumpa di panggung Kota Besar Teratai Hitam."

​Hu Jin menganggukkan kepala sopan. "Namaku Hu Jin. Sampai jumpa."

​Gadis cantik berjubah putih-keemasan itu berbalik, melangkah pergi menembus remang malam dengan langkah anggun. Aroma harum teratai putih yang samar-samar tertinggal di udara menambah kesan mendalam dari perpisahan singkat mereka di atas jembatan batu tersebut.

​Setelah perpisahan dengan Su Qing'er, Hu Jin menyarungkan kembali topinya dengan rapi dan melangkah menuruni jembatan batu menuju kawasan pasar malam di sisi barat kota.

​Jalanan di bagian ini masih tampak ramai oleh para kultivator bebas dan pedagang barang antik yang menggelar lapak di bawah naungan cahaya lampion merah. Saat Hu Jin melangkah melewati lorong gang yang diapit bangunan berarsitektur kuno yang megah, telinganya menangkap percakapan beberapa kultivator bebas di depan sebuah toko pusaka raksasa.

​"Hei, kau sudah mendengar kabar terbaru belum? Paviliun Seribu Pusaka di pusat kota baru saja mendatangkan suplai barang-barang langka dari ibu kota!" ujar salah seorang kultivator dengan nada penuh semangat.

​"Benarkah? Apakah ada Cincin Ruang?" sahut temannya penasaran.

​"Tentu saja ada! Cincin Ruang penyimpan energi tingkat menengah dan tinggi dijual di sana! Bukan cuma itu, mereka juga menjual kitab-kitab bela diri, senjata bertekstur mutu tinggi, hingga berbagai herbal ramuan pemurni meridian yang sangat langka!"

​"Ah, sayang sekali batu spiritual di kantongku tidak cukup untuk membeli barang mewah seperti itu..." keluh kultivator itu sambil menggelengkan kepala.

​Hu Jin menghentikan langkah kaki sejenak di tepi gang, mendengarkan obrolan tersebut.

​Ia memandangi cincin penyimpanan di jarinya—cincin sederhana yang sudah kusam yang digunakannya sejak pertama kali keluar mengelana dari Sekte Teratai. Mengingat Ujian Tiga Sekte yang akan digelar sebentar lagi dan pertempuran besar yang pasti dihadapi nanti, Hu Jin sadar membutuhkan ruang penyimpanan yang lebih besar serta suplai bahan herbal berkualitas tinggi untuk persiapan diri.

​Cincin Ruang tingkat tinggi dan herbal ramuan pemurni... batin Hu Jin dengan senyum tipis di bibirnya. Sepertinya mampir ke Paviliun Seribu Pusaka sebelum pergi ke Kota Teratai Hitam adalah keputusan yang tepat.

​Dengan langkah tenang dan pasti, sang pangeran terbuang melangkah menembus keremangan malam menuju bangunan megah Paviliun Seribu Pusaka yang bercahaya di ujung jalan.

1
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!