"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 11, Istri Itu Jangan Boros
Adzan magrib berkumandang ketika suara pintu apartemen kembali berbunyi.
klik...
Jeevan akhirnya pulang.
Kemeja navy yang sejak pagi dikenakannya kini tampak sedikit kusut di bagian lengan. Tas ranselnya masih bertengger di bahu.
Begitu masuk, ia langsung melihat ibunya.
"Ibu?" ucap Jeevan seraya mendekati lalu menyalami ibunya.
"Eh, akhirnya kamu pulang juga. Kamu pasti capek ya? Ibu udah masakin cumi asin buat kamu." Ujarnya tersenyum seraya mengelus lengan putranya.
"Kapan datang?" tanya Jeevan lagi.
"Tadi sore." Jawab Bu Ratih seraya menuangkan air minum lalu menyodorkan gelas itu kepada putranya.
"Sama siapa ke sini? Kok gak bilang Jeevan dulu?" tannya seraya meraih gelas dari ibunya.
"Kan biar kejutan." Jawab Bu Ratih ringan.
"Hm."
Tatapan Jeevan kemudian berpindah kepada Anna yang baru keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat segar, bahkan pakaian sudah berganti mengenakan dress rumahan.
"Sudah pulang Mas?" tanya Anna seraya mendekat lalu menyodorkan tangannya untuk salim.
"Iya." Jawab Jeevan pendek.
"Mau mandi dulu atau makan dulu?" tanya Anna menatap.
"Makan dulu! Jeevan, kamu makan dulu. Pasti kamu belum makan." Ucap Bu Ratih cepat.
Anna menoleh ke arah ibunya. "Biasanya..."
"Anna, suami kamu itu baru pulang. Harusnya kamu mengerti pasti Jeevan belum makan." Tegur Bu Ratih santai.
Anna tersenyum tipis.
"Mas makan dulu aja. kamu juga pasti belum makan, kan? Kita makan sama-sama ya." Ucap Jeevan.
Anna mengangguk. "Iya."
Tak lama kemudian meja makan sudah di penuhi hidangan.
Tumis cumi asin, tempe goreng, tahu goreng, mentimun dan fried chicken yang Jeevan janjikan tadi siang.
Mereka bertiga duduk mengelilingi meja.
"Padahal di rumah sudah ada tumis cumi asin, Van. Kenapa kamu beli fried chicken juga?" tanya Bu Ratih, lalu melirik Anna. "Kamu yang pesan, ya?"
Anna meletakkan piring milik suaminya yang sudah di isi nasi. "Itu..."
"Jeevan yang beli sendiri, Bu." Jawab Jeevan seraya meraih piring dari istrinya.
Bu Ratih kembali diam.
Jeevan mengambil sesendok tumis cumi asin tersebut, lalu mulai menikmati makan malam.
Beberapa detik kemudian, alisnya bergerak nyaris tak terlihat. Tatapannya beralih kepada Anna yang juga tengah menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Tak ingin banyak komentar, Jeevan kembali melanjutkan makannya.
...🌼🌼🌼...
Malam merambat perlahan, menyelimuti apartemen dengan keheningan yang sesekali dipatahkan suara kendaraan dari jalan raya di bawah sana. Aroma tumis cumi asin masih menggantung tipis di udara, bercampur wangi sabun pencuci piring yang mulai memenuhi dapur.
Selepas makan malam, Anna berdiri di depan bak cuci. Lengan bajunya di gulung hingga siku. Jemarinya yang ramping sibuk membilas piring, mangkuk, serta wajan yang beberapa saat lalu menjadi saksi makan malam sederhana mereka.
Sementara itu, di ruang keluarga, Jeevan duduk di sofa tunggal. Tubuhnya sedikit bersandar, wajahnya menyiratkan lelah setelah seharian bekerja. Di hadapannya, Bu Ratih menikmati secangkir teh hangat sambil memandangi putra sulungnya.
"Kamu capek?" tanya perempuan paruh baya itu.
Jeevan mengangguk pelan. "Iya."
Bu Ratih menghela napas panjang. "Ibu jadi kasihan liat kamu. Berangkat masih gelap, pulang sudah magrib."
Jeevan hanya tersenyum tipis.
Kesunyian singkat mengisi ruangan. Namun, seperti hujan yang selalu menemukan celah di sela awan, percakapan itu perlahan bergeser menuju topik yang hampir selalu hadir setiap hari mereka bertemu.
"Van..." panggil ibunya.
Jeevan menoleh, "Iya, Bu?"
"Kapan Ibu gendongin cucu?"
Jeevan mengusap tengkuknya. "Belum kepikiran."
"Belum kepikiran atau memang belum mau?" tanyanya ketus seraya menyilangkan kakinya.
Pria itu mengembuskan napas perlahan. "Bukan begitu."
Bu Ratih menoleh dan menatap putranya. "Loh, kalian sudah menikah hampir mau lima tahun. Masa iya belum kepikiran terus, temen-temen kamu hampir udah pada gendong anak loh, Van. Bahkan tetangga kita...teman SD kamu itu anaknya udah mau kuliah loh."
Evan mendecak pelan. "Dia kan hamil duluan, Bu. Jelas anaknya udah mau kuliah."
Bu Ratih terlihat kesal mendengar ucapan putranya. "Usia juga makin bertambah."
Pria itu menatap ibu sejenak. "Nanti kalau sudah waktunya."
"Waktu terus, nanti terus." Bu Ratih menggeleng pelan. "Ibu cuma ingin sebelum tua bisa dengar suara cucu lari-lari."
Tatapan Jeevan melembut. "Ibu jangan dipikirin terus. Kalau sudah waktunya, dan kami sudah siap, nanti juga kita kasih cucu buat Ibu."
"Justru Ibu tuh ngomong terus memikirkan kalian. Kamu tuh gak tahu, tetangga kita tuh terus-terusan ngomongin kamu. Katanya belum punya anak lah, kan ibu jadi malu."
Ucapan itu menggantung begitu saja.
Di dapur, Anna mendengar sebagian percakapan tersebut. Tangannya tidak berhenti mencuci, tetapi dadanya terasa sedikit sesak. Kalimat mengenai cucu selalu seperti duri kecil yang terselip di sela napas.
Ia memilih memusatkan perhatian pada tumpukan peralatan makan.
Anna perlahan kembali menuangkan sabun cuci piring, cairan itu berwarna kehijauan yang mengalir ke dalam wadah yang sudah di campur dengan air.
Belum sempat ia menggosok piring berikutnya, sebuah suara muncul tepat di samping telinganya.
"Anna."
Perempuan itu terkejut hingga hampir menjatuhkan botol sabun.
Ia menoleh.
Entah sejak kapan Bu Ratih sudah berdiri di sampingnya.
"Maaf, Bu....Anna tidak dengar ibu datang."
Bu Ratih melirik wadah yang berisi sabun cair pencuci piring yang sudah di campur air.
"Itu sabunnya kebanyakan." Tegurnya seraya meletakan cangkir teh.
Anna menunduk. "Oh...ya."
"Jangan boros. Sedikit aja udah cukup," Ucapnya lagi.
Anna buru-buru menghentikan menuangkan cairan kehijauan itu dan meletakkan kembali botol sabun.
"Kalau seperti itu cepat habis. Ibu juga kalau cuci piring sabunnya sedikit terus di kasih air keran biar hemat." Ucapnya menceritakan bagaimana dirinya.
Anna cuma bisa nyengir gagu. "Iya, Bu. Lain kali Anna akan mengikuti seperti ibu."
"Nah, gitu. Tahu sendiri kan kalau harga kebutuhan rumah tangga sekarang naik, jadi istri itu harus pintar-pintar menghemat." Ujarnya lagi.
Anna hanya bisa mengangguk, tak ada satu pun bantahan yang keluar dari bibirnya. Dari sofa tunggal ruang keluarga, Jeevan menoleh ke arah dapur terbuka.
"Bu," panggilnya.
Bu Ratih ikut menoleh.
"Biarkan saja. Sabunnya memang di pakai buat cuci piring. Kalau sedikit lebih banyak juga tidak masalah." Ujar Jeevan enteng.
Bu Ratih menggeleng. "Nah, itu dia."
"Apa, Bu?" tanya Jeevan lembut.
"Kamu itu terlalu santai, Jeevan. Kamu tahu sendiri kalau nyari uang itu susah. Kamu berangkat pagi pulang malam, kalau semuanya di pakai seenaknya, bagaimana nanti? Makannya di rumah seorang istri harus belajar hemat, ibu juga seperti itu kok." Jelasnya seraya berjalan menuju sofa.
Jeevan menghela napas. "Ibu..."
Bu Ratih menyerobot sembari duduk. "Pengeluaran setelah menikah itu jauh lebih besar daripada waktu masih sendiri."
Jeevan mengangguk kecil. "Aku paham..."
"Makanya harus belajar hemat." Cetusnya seraya meraih bantal sofa dan memeluknya.
Pria itu melirik Anna yang masih mencuci piring. "Anna gak boros kok, Bu."
Bu Ratih berdecak pelan, memutar bola matanya sedikit kesal. "Kamu tahu dari mana?"
"Jeevan suaminya, Bu. Aku tinggal bersamanya selama hampir lima tahun." Ucap Jeevan, namun kali ini perkataannya penuh penegasan.
"Kamu selalu membela istrimu. Ibu tahu kamu cinta sama istrimu, tapi kalau salah ya harus di tegur." Ucapnya melirik ke arah Anna.
"Bukan membela," sela Jeevan.
"Lalu?" tanya Bu Ratih.
"Aku hanya menjelaskan." Ujarnya seraya meraih remot televisi di atas meja kaca.
"Sabun tetap saja harus dihemat. Harusnya istrimu lebih pengertian, kamu suaminya. Kalian sudah tinggal bersama, harusnya Anna tahu bagaimana kamu kerja."
Jeevan menarik napas perlahan. "Iya, Bu. Tapi tidak perlu sampai di permasalahkan."
Anna yang sejak tadi berdiri di depan wastafel akhirnya membalikkan badannya dan menatap suami serta ibu mertuanya yang mulai bersitegang hanya karena sabun cuci piring.
"Mas," panggil Anna seraya menatap suaminya. "Yang di bilang ibu benar, kok. Kamu kan capek kerja. Harusnya aku lebih bisa memanage semua kebutuhan rumah tangga. Untuk masalah sabun cuci, aku juga setuju kok."
Jeevan menoleh dan menatap istrinya yang berdiri di sana. Ia tahu sebab Anna mengatakan hal itu, wanita itu selalu saja seperti itu agar menghindari perdebatan.
Bu Ratih menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Tuh, istri kamu aja paham sama yang barusan ibu ajarkan." Celetuknya. "Kalian itu tinggal di apartemen, cicilan masih jalan. Belum lagi biaya listrik, air, iuran, dan berbagai bayaran selama kalian tinggal di sini."
Perkataan ibunya memang benar, mereka memang tinggal di apartemen dengan cicilan yang masih beberapa bulan lagi. Jeevan akhirnya tertunduk, dirinya tak bisa berkutik kalau sang ibu membahas hal seperti ini.
"Kalau keuangan kalian benar-benar cukup, ya silahkan mau bebas pakai kebutuhan rumah tangga tanpa menghemat. Tapi kenyataannya kan belum?" nada tajam itu membuat Jeevan diam seribu bahasa.
"Rumah tangga itu bukan soal gengsi." Ujarnya lagi.
Jeevan tetap menjaga bicaranya. "Kami tidak sedang gengsi, Bu."
"Kalau begitu kenapa dulu kamu lebih membeli apartemen?" tanya ibunya.
Jeevan tersenyum tipis. "Itu kan keputusan aku, Bu. Lagian Jeevan milih beli apartemen karena jarak tempuh dari kantor dekat."
"Harusnya kamu dulu beli rumah dekat komplek ibu saja. Dulu kan ibu sudah bilang, bahkan ayahmu sendiri akan membantumu dalam pembayarannya. Kalau kamu beli rumah di dekat keluarga, mungkin kamu bisa ke beli mobil biar berangkat kerja gak pake MRT atau bus." Ucapnya.
Jeevan mengusap tengkuknya. "Bu..."
Bu Ratih menyela lagi. "Beli apartemen aja masih di cicil kok."
"Aku tahu, Bu." Jawab Jeevan pelan.
"Makanya harus pintar mengatur." Ucapnya keukeuh.
"Kami juga berusaha hemat, Bu." Kali ini Jeevan mulai jengah.
Bu Ratih masih ingin bicara, namun Jeevan mengangkat tangannya pelan.
"Bu..."
perempuan itu berhenti.
"Jeevan mengerti maksud ibu, tapi tolong jangan buat Anna merasa semua yang di lakukan selalu salah. " Pinta Jeevan.
Keheningan memenuhi apartemen sejenak sebelum pada akhirnya Bu Ratih berdiri dari sofa lalu hendak beranjak menuju kamar tamu.
Sebelum pergi Bu Ratih menoleh dan menatap bergantian kepada Jeevan dan menantunya.
"Nanti kalau kalian sudah mau tidur, lampu matikan. Belajar hemat, biar cicilan apartemen kalian cepat selesai." Titahnya, lalu menoleh kepada Anna dan menatap menantunya. "Anna..."
Anna menoleh. "Iya, Bu."
"Istri itu harus pandai mengatur rumah." Tegasnya.
Anna menunduk. "I-iya Bu..."
"Dari mulai hal kecil, jangan biasakan boros. Cari uang itu susah." Serunya lagi.
"Baik, Bu." Jawab Anna.
"Ya sudah, ibu mau tidur duluan. Capek, menjemput ibu saja gak bisa." Celetuknya seraya menggeloyor ke arah kamar tamu.
Jeevan hendak angkat bicara, namun Anna lebih dulu memberi isyarat agar Jeevan tetap diam.
...🌼🌼🌼...
Jangan lupa follow, komen, like, vote, dan subscribe 🫶
...BERSAMBUNG ...