NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penting

Pukul 10.20. Area taman belakang kampus Eastbridge. Matahari pagi tidak terlalu terik, angin sepoi-sepoi menggerakkan daun pohon angsana.

Cheyrin duduk di kursi taman beton yang dingin. Di tangannya tergenggam cup es teh lemon. Kondensasi air menetes di sisi cup. Ia menyesap pelan, lalu menatap kosong ke lapangan hijau di depannya.

Di sebelahnya, Lisa duduk sambil mengayun-ayunkan kaki. Rambutnya dikuncir rendah, wajahnya cerah seperti biasa. Di hadapannya ada dua cup boba rasa taro yang masih setengah penuh.

"Hari ini tugas numpuk banget, Chey," keluh Lisa sambil menusuk boba dengan sedotan. "Gue semaleman begadang, tapi kayak nya tulisan gue gak kebaca deh, saking ngantuknya."

Cheyrin menoleh sebentar. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Tulisan lo masih lebih rapi dari tulisan gue pas semester satu."

Lisa langsung tertawa. "Iya ya? Dulu lo tuh anak baru yang diem banget. Ditanya dosen cuma ngangguk doang. Sekarang udah lumayan nyaut walau cuma dua kata."

Cheyrin tidak menjawab. Ia hanya menyeruput es tehnya lagi. Hening yang ia ciptakan bukan canggung. Lisa sudah hafal.

"Ngomong-ngomong," Lisa tiba-tiba mencondongkan badan, suaranya diturunkan seolah ingin berbagi rahasia. "Kemarin gue liat Steven latihan basket sampe malem. Kaosnya basah semua. Gila sih, cowok kalo keringetan tuh..."

Kalimat Lisa terhenti karena Cheyrin mengangkat alis tipis. Bukan protes. Hanya kode "lanjut".

Lisa terkekeh. "Eh tapi beneran, chey. Steven tuh tipikal cowok yang diem tapi ngerti. Cowok kayak gitu tuh langka."

Cheyrin mengaduk es di cupnya dengan sedotan. Ia tidak menyela. Tapi dari sudut matanya, ia bisa melihat pipi Lisa sedikit memerah tiap kali menyebut nama "Steven".

Cheyrin tidak bodoh soal perasaan orang. Ia pendiam, bukan buta. Dari cara Lisa nyebut nama Steven lebih lembut, dari cara matanya berbinar tiap cerita tentang latihan basket, dari cara Lisa selalu kebetulan lewat lapangan sore.

Cheyrin sudah menebak sejak lama.

"Lo suka sama dia," ucap Cheyrin pelan. Bukan pertanyaan. Pernyataan datar seperti biasa.

Lisa tersedak boba. "Hah?! Siapa?! Gue?! Nggak lah, chey. Temen doang. Gue cuma kagum doang."

Cheyrin hanya menatap Lisa tanpa berkedip. Tatapan datarnya itu lebih jujur dari seribu kata.

Lisa batuk kecil, mengalihkan wajahnya. "Udah deh, nggak usah bahas gue. Lo sendiri gimana sama Jayden? Tiap sore dijemput pake Ninja item. Helmnya dipasangin segala. Itu mah bukan temen biasa, chey."

Kali ini giliran Cheyrin yang diam. Ia memutar cup di tangannya. Tidak menyangkal. Tidak membenarkan.

Dari ujung jalan setapak, langkah kaki berat terdengar mendekat. Steven lewat membawa tas gym di bahu dan handuk melingkar di leher. Keringat masih membasahi pelipisnya. Ia tidak menoleh ke arah taman, fokus ke depan.

Begitu melihat Steven, Lisa langsung duduk lebih tegak. Rambutnya dirapikan diam-diam. Suaranya dibuat lebih cerah saat melanjutkan, "Tuh kan, dia. Liat deh, kalo jalan tuh tegap banget. Kayak patung Yunani."

Cheyrin tidak menanggapi. Tapi ia mencatat semuanya. Cara Lisa duduk lebih rapi. Cara napas Lisa sedikit tertahan. Cara senyum Lisa yang dipaksa santai.

Cheyrin menyesap es tehnya lagi. Di dalam hatinya ia berpikir: Jadi begini rasanya, naksir seseorang diam-diam.

Ia tidak pernah merasakan itu untuk dirinya sendiri. Tapi melihat Lisa, ia jadi mengerti sedikit. Rasanya pasti lelah. Tapi juga hangat.

Steven sudah menghilang di tikungan gedung. Lisa menghela napas panjang, lalu kembali mode cerewet seperti biasa. Seolah 5 detik barusan tidak pernah terjadi.

Cheyrin hanya mendengarkan. Sesekali mengangguk. Untuk sekali ini, ia senang jadi pendengar yang baik.

Pukul 15.30.

Parkiran kampus mulai ramai mahasiswa yang pulang. Matahari sore miring, cahayanya memantul di body motor.

Jayden, Juno, dan Steven duduk di motor masing-masing. Mereka bersandar santai, ngobrol sambil melepas lelah setelah latihan.

"Besok latihan jam berapa?" tanya Juno sambil memutar-muter kunci motornya. "Jangan pagi-pagi ya. Gue masih mau tidur."

"Jam 10," jawab Jayden singkat. Matanya sesekali melirik ke arah gerbang. "Gue yang bangunin lo."

Steven hanya tersenyum tipis sambil mengutak-atik spion motornya. Ia tidak banyak bicara, hanya mendengarkan.

Langkah kaki pelan terdengar dari belakang. Cheyrin muncul membawa tas selempang. Ia berjalan lurus ke arah parkiran motornya yang ada di deretan belakang.

Mata Jayden langsung berubah. Tanpa basa-basi ia mematikan mesin motornya dan berdiri.

"Gue pulang dulu," ucap Jayden cepat ke Juno dan Steven. Nadanya datar, tapi buru-buru.

Juno langsung bersiul panjang. "Wuih, pamit? Tadi bilangnya jam 10 besok. Ini baru jam 3 sore, Jay."

Pipi Jayden langsung merah. Ia berdeham sambil menggaruk belakang lehernya. "Ya gue ada urusan. Banyak bacot lo."

Cheyrin berhenti tepat di sebelah motor Jayden. Jayden langsung bergerak, mengambil helm untuk Cheyrin.

Tanpa kata, Jayden membuka helm itu dan memakaikannya ke kepala Cheyrin. Jarinya hati-hati membetulkan kunciran rambut Cheyrin yang kejepit. Gerakannya pelan, fokus, seolah dunia cuma mereka berdua.

Juno menutup mulutnya pakai tangan, nahan tawa. "Tuh kan, salting parah kalo ada putri es."

Steven dari awal hanya diam. Ia tidak menggoda. Ia hanya memperhatikan Jayden yang menunduk, sabuk helm Cheyrin ia kunci sendiri dengan teliti. Ada sorot paham di matanya. Sorot orang yang akhirnya ngerti kenapa Jayden berubah sepersekian detik.

Cheyrin mendongak, menatap Jayden sekilas. "Makasih," katanya pelan.

Jayden mengangguk kaku. "Udah. Pegang gue. Gue anterin."

Pukul 16.05.

Motor Ninja hitam berhenti di depan gerbang hitam kos Cheyrin.

Cheyrin melepas helm dan menurunkannya ke tangan Jayden. Rambutnya agak berantakan karena helm. Ia mengangguk kecil sebagai ucapan terima kasih.

Belum sempat Jayden bicara, ponsel Cheyrin bergetar di tas. Layarnya menyala. Nama yang muncul: "Papa".

Jari Cheyrin berhenti di atas layar. Ia menatap nama itu lama. Lalu ia menolak panggilan itu tanpa suara. Ponsel langsung gelap lagi.

Jayden memperhatikan semua itu. Alisnya sedikit bertaut. "Kenapa nggak lo angkat?"

Cheyrin mendongak dan tersenyum. Senyum tipisnya seperti biasa, datar tapi hangat. Ia menggeleng pelan. Tidak menjelaskan. Tidak perlu.

Jayden menghela napas. Ia meletakkan helm di jok motornya, lalu menatap Cheyrin. "Jam 5 gue jemput lagi ya. Gue anterin ke Luna Bloom."

"Jangan," tolak Cheyrin cepat. Suaranya tetap tenang. "Kenapa lo peduli sama gue, Jay? Kenapa lo harus repot-repot nganter gue tiap hari?"

Pertanyaannya sederhana, tapi langsung. Tidak berbelit. Mata Cheyrin menatap Jayden lurus, menunggu jawaban yang jujur.

Jayden terdiam beberapa detik. Lalu ia tertawa kecil. Napasnya dihembuskan pelan, seperti orang yang sudah lama menahan sesuatu.

"Memangnya ini semua belum jelas?" jawab Jayden balik bertanya. Suaranya pelan, tapi tegas. Matanya tidak mengalihkan pandangan dari Cheyrin. "Gue nggak pinter ngomong, chey. Tapi kalo gue harus repot buat lo tiap hari... ya berarti lo penting."

Cheyrin tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tali tasnya lebih erat. Angin sore menerpa rambutnya yang tergerai.

Keheningan turun setelah kalimat Jayden. Suara jangkrik sore dan mesin motor yang masih panas jadi satu-satunya yang terdengar.

Cheyrin menunduk. Jemarinya meremas tali tas lebih erat, seolah menahan detak jantung yang tiba-tiba tidak karuan. Kalimat "lo penting" dari Jayden itu... terlalu jujur untuk diabaikan.

"Gue... masuk dulu," ucap Cheyrin akhirnya. Suaranya pelan, nyaris tenggelam angin. Ia tidak berani menatap mata Jayden lebih lama.

Jayden mengangguk. Ia mundur selangkah, memberi ruang. "Iya. Istirahat yang cukup."

Cheyrin berbalik dan masuk ke gerbang kos. Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Sebelum pintu tertutup, ia berhenti sepersekian detik dan berbisik tanpa menoleh.

"Jam 5... nggak usah jemput."

Pintu kos tertutup pelan. Meninggalkan Jayden yang masih berdiri di luar dengan helm di tangan.

Jayden menghela napas panjang. Ia nyender ke motor Ninja-nya, senyum miringnya muncul lagi. "Nggak usah jemput katanya. Kita lihat aja nanti."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!