NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 : MENYONGSONG BAHAGIA DI PAGI HARI

Matahari baru muncul sedikit dari balik bukit Babakan, cahayanya lembut menyentuh ujung daun padi yang masih basah embun. Udara pagi sejuk sekali, tercium bau tanah basah, tanaman kencur, dan air Sungai Citanduy yang mengalir tenang tak jauh dari situ. Ayam berkokok bersahut-sahutan, disusul suara orang mulai berjalan berangkat kerja. Semuanya terasa damai sekali, seolah takkan pernah ada yang mengganggu ketenangan ini.

Di pinggir ladang, Bayu sedang memperbaiki pagar bambu yang miring kena angin kemarin. Bajunya lusuh penuh noda tanah, lengan digulung sampai siku. Gerakannya pelan dan hati-hati, segan merusak suasana pagi yang tenang. Di hatinya senang sekali: sebulan lagi panen besar. Kalau bagus hasilnya, cukup untuk syukuran dan cukup juga untuk melamar Astri.

"Hei Bayu! Kerja pelan-pelan saja, nanti keriput duluan sebelum sempat bilang iya sama Bapaknya Astri!"

Suara serak sambil tertawa memecah hening. Bayu mendongak, melihat Karta meloncat turun dari batang pisang. Rambutnya acak-acakan, topi anyamannya terbalik, tangannya menggenggam sebutir jagung yang pasti diambil diam-diam.

"Dasar mulutmu tak pernah istirahat," ujar Bayu sambil tersenyum tipis, kembali mengikat tali rotan. "Pagar ini harus kuat. Kalau jebol, padi kita habis disambar babi hutan."

"Biarlah babi makan sedikit! Yang penting nanti kita makan enak di hari bahagiamu!" Karta melempar jagung ke udara lalu tangkap kembali satu tangan. "Kamu sudah siapkan apa? Cincin perak? Atau dua ekor kambing gemuk?"

"Siapkan cincin dari biji kacang tanah yang sudah kugosok sampai mengkilap," jawab Bayu santai, matanya melirik pelan ke arah rumah Astri yang atap ijuknya terlihat di ujung jalan.

"Sama nasi tumpeng buatan Ibu. Cukup itu saja. Kita bukan tuan tanah, Karta. Yang mereka butuh tahu adalah kita akan menjaga anaknya seumur hidup."

Karta berhenti bercanda sejenak, duduk di atas batu besar sambil menepuk-nepuk debu di celananya.

"Benar juga. Astri takkan menolak cuma karena tak ada emas. Begitu juga Ningsih. Yang penting kalau susah datang, kita tak lari ke mana-mana."

"Takkan pernah lari. Kita sudah tumbuh di sini bersama. Kalau ada bahaya, kita hadapi berdua. Kalau ada rezeki, kita bagi rata berdua," tegas Bayu sambil menarik ikatan tali sampai benar-benar kuat.

"Nah begitu baru sahabat sejati!" Karta berdiri, menepuk pundak Bayu lumayan keras.

"Ayo keliling ladang. Lihat tanaman cabai sudah berbuah belum. Kalau sudah, kita petik jual ke pasar. Siapa tahu dapat uang beli gula merah kesukaan mereka."

Mereka berjalan beriringan di atas pematang sawah. Di sekelilingnya padi menghijau luas bergoyang ditiup angin. Jauh di sana terlihat warga mulai sibuk: Mbah Kartareja membersihkan rumput di jalan kecil, Pak Somad menyalakan api di tempat menempa besi, Embek Gombloh membawa air dari sumur sambil bersenandung, Bu Siti menjemur beras, dan Aci Cemong lari ke sana kemari mengejar kupu-kupu.

"Eh Bayu, lihat itu!" Karta menunjuk sekumpulan ayam berkeliaran di dekat kebun sayur.

"Ayam Nyai Suminah berani sekali masuk sini! Kalau dibiarkan habis bibit kita!"

"Jangan dikejar, nanti malah injak tanaman," saran Bayu.

"Tenang, aku punya jurus ampuh!" Karta maju beberapa langkah lalu bertepuk tangan keras sambil berteriak, "Wuih! Pergi sana! Kalau tak pergi, nanti kuambil semua telurmu!"

Ayam-ayam itu kaget dan lari tunggang langgang. Karta tertawa puas sambil kembali ke sisi Bayu.

"Gimana? Cuma begitu saja sudah bubar."

"Kamu ini ya... sudah, terima kasih sudah ditolongin," kata Bayu sambil geleng-geleng kepala.

Terus berjalan, Karta mulai bercerita hal-hal konyol masa lalu. "Ingat ga waktu kita coba panjat pohon kelapa Pak Lurah? Katanya mau ambil satu saja buat dibagi berdua. Eh malah terpeleset jatuh ke tumpukan jerami basah, sampai dua hari baju kita tak hilang baunya!"

"Masih ingat sekali. Sampai sekarang kalau lewat pohon itu aku masih teringat betapa sakitnya pantat kena jerami tajam," timpal Bayu ikut tertawa.

"Terus ingat ga kita mau jadi penyanyi hebat? Bikin gitar dari batang pisang, senarnya pakai tali serutan rotan. Suaranya ga keluar melainkan putus kena tarikan!" tambah Karta makin tertawa.

"Ya makanya sekarang kamu lebih pandai cari jagung tetangga daripada memetik senar," canda Bayu.

"Dasar jahat! Itu kan dulu! Sekarang kalau diminta mainkan gitar bambu buatan Embek Gombloh, aku pasti sudah bisa!" elak Karta sambil memukul pelan lengan Bayu.

Tak lama kemudian terlihat Ningsih dan Astri berjalan mendekat membawa bekal di atas kepala. Wajah Astri langsung bersinar melihat Bayu. Bayu sendiri rasanya jantungnya berdegup agak kencang, lalu tersenyum menyambut kedatangannya.

"Sudah lama bekerja dari pagi? Istirahatlah sebentar," kata Astri sambil menurunkan nampan di bawah pohon nangka yang rindang.

"Terima kasih sudah dibawakan bekal," ucap Bayu sambil mencuci tangan di selokan kecil. Airnya sejuk sekali.

Karta langsung membuka tutup beseknya. "Wah wangi sekali! Pasti masakan Ningsih ya?"

"Kamu mah cuma tahu makan saja. Ini Astri yang bangun jam empat pagi mengolahnya. Aku cuma bantu kupas bawang," kata Ningsih sambil mencubit lengan Karta pelan.

Mereka makan berempat dengan lahap sekali. Nasi hangat, ikan asin, sambal terasi, dan sayuran segar dari kebun sendiri. Sambil makan terus saja mengobrol.

"Kalau nanti sudah jadi suami istri, kita bangun rumah tak jauh dari sini ya, Bayu? Di pinggir aliran kecil air sungai. Pasti sejuk sekali," kata Astri pelan.

"Pasti. Akan kubuatkan teras luas supaya kamu bisa duduk-duduk sambil menjahit atau menenun. Dan halamannya kutanami pohon jambu kesukaanmu," janji Bayu mantap.

"Nah kalau aku mau bangun rumah di dekat tempat mancingku! Supaya setiap pagi cukup melangkah tiga langkah sudah sampai tepian air," timpal Karta.

"Dasar malas jalan," ejek Ningsih sambil tertawa.

"Eh bukan begitu maksudnya! Biar kalau dapat ikan besar langsung dibawa masuk ke dapur tak sempat lari ke mana-mana!" bantah Karta membuat mereka semua makin tertawa.

Sore pun tiba, matahari condong ke barat memancarkan warna jingga indah sekali. Orang-orang perlahan pulang ke rumah masing-masing. Bayu berdiri sebentar di pinggir sawah, memegang segenggam tanah hangat, berdoa semoga hasil panen benar-benar melimpah.

Sesampainya di rumah, suasana sudah hangat. Ibu sedang di dapur menyiapkan makan malam, Bapak sedang duduk melinting tembakau.

"Besok kita bawa sebagian gabah ke pasar ya. Sisanya disimpan buat benih musim depan," kata Bapak.

"Siap, Pak. Aku akan bantu mengangkut semuanya," jawab Bayu.

Setelah makan malam, Bayu duduk di teras melihat langit malam yang mulai bertabur bintang. Dari arah rumah Karta terdengar petikan nada sederhana dari gitar bambu. Hati Bayu tenang sekali, membayangkan hari-hari indah yang akan datang.

Namun jauh di langit sebelah barat, ada titik-titik gelap bergerak beriringan makin lama makin dekat. Terdengar dengung halus yang perlahan makin keras, segerombol pesawat terbang yang tak pernah dilihat orang Rancagaok sebelumnya. Udara tenang itu perlahan mulai bergetar.

Tapi malam itu tak ada satu pun yang menyadarinya. Semua masih tenang bermimpi indah: tentang panen, tentang pernikahan, tentang hidup damai selamanya di tanah sendiri.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!