NovelToon NovelToon
Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Komedi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaicha

Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Utang Nyawa Kedua

Lampu SUV menyorot gerbang besi yang perlahan terbuka. Begitu mobil menembus halaman vila kayu yang sepi, Bara langsung mematikan mesin.

"Kita sampai. Nona, buruan turun!" seru Bara sambil membuka pintu belakang.

Rara gelagapan. Ia melompat turun dengan tangan gemetar dan lengket oleh darah Arka. "Terus gue harus apa, Bar? Bantuin angkat?"

"Nggak usah, ini berat. Nona lari ke depan, buka pintu utamanya sekarang!"

Rara langsung lari, sempat tersandung batu sedikit saking paniknya, lalu mendorong pintu ganda vila tersebut. Bara menyusul masuk di belakangnya, memapah tubuh besar Arka dengan napas ngos-ngosan.

"Ke kamar bawah, Nona! Cepat ambil kotak P3K sama gunting di laci nakas!" perintah Bara sambil membaringkan Arka ke atas kasur.

Rara mengacak-acak laci panik. "Ini, Bar! Bar, itu darahnya keluar lagi! Jahitannya jebol semua!" pekik Rara ngeri, refleks mundur selangkah.

Bara langsung merobek sisa kemeja Arka tanpa ampun. "Saya tahu. Nona, jangan bengong. Ambilkan botol alkohol sama perban di kotak itu!"

"Gue mual, Bar... sumpah," cicit Rara pucat, tapi tangannya tetap gemetar menyodorkan botol yang diminta.

"Tahan sebentar, Nona." Bara mulai membersihkan darah dan menekan lukanya. "Saya harus bius lokal dan jahit ulang. Jangan lihat kalau Nona tidak kuat."

Rara beneran membuang muka, memejamkan mata rapat-rapat sambil bersandar ke tembok. Di ruangan itu, cuma terdengar suara napas Bara yang berat dan bunyi alat medis yang beradu ngeri.

Belasan menit yang terasa seperti neraka itu akhirnya selesai. Bara membuang sarung tangannya yang penuh darah ke tempat sampah.

"Dia... nggak bakal mati kan, Bar?" tanya Rara pelan, masih takut-takut menoleh.

Bara menghela napas panjang, bersandar lelah di meja. "Pendarahannya sudah berhenti. Tapi suhunya naik drastis. Kalau sampai besok pagi demamnya nggak turun, kita repot."

Laki-laki berjas kusut itu menoleh, menatap Rara. "Terima kasih, Nona. Tadi Nona menekan lukanya kuat banget di mobil. Kalau nggak, Bos mungkin udah kehabisan darah dari tadi."

Rara menelan ludah, menatap tangannya yang kotor dan berbau anyir. "Gue cuma nggak mau lihat orang mati di depan muka gue, Bar. Gue takut."

"Bisa tetap waras malam ini aja udah ngebuktiin Nona nggak lemah." Bara merapikan jasnya sekilas. "Bos jarang mau ditolong orang lain. Kelihatan lemah di dunia kami itu sama aja nyerahin nyawa."

Rara menatap Bara lemas. "Sekarang gue harus ngapain?"

"Mandilah. Ada baju bersih di lemari. Saya mau cek CCTV luar dulu. Jangan keluar dari kamar ini sampai saya balik."

Bara keluar, dan kamar itu langsung sepi.

Rara menyeret kakinya ke kursi di sebelah kasur, lalu menjatuhkan diri dengan lemas. Ia memandangi wajah Arka yang pucat pasi dan tak sadarkan diri. Nggak ada tampang bos mafia yang menakutkan sama sekali.

"Lo itu... sebenarnya siapa sih?" bisik Rara.

Saking capeknya, Rara menyandarkan kepalanya ke pinggir kasur, dekat banget sama lengan Arka. "Wisuda gue udah di depan mata... tapi malah keseret urusan ginian. Kenapa sih hidup lo kacau balau begini?"

Nggak ada sahutan. Tapi tiba-tiba, jemari Arka yang dingin bergerak sedikit. Ujung jarinya menyentuh pelipis Rara.

Rara kaget, napasnya tercekat sebentar. Tapi karena capeknya sudah kelewatan, matanya terasa sangat berat. Diiringi suara napas Arka yang naik-turun, Rara akhirnya memejamkan mata dan ketiduran di situ.

Sinar matahari pagi yang masuk lewat celah tirai membuat Rara mengerjap silau. Lehernya terasa kaku minta ampun gara-gara tidur sambil duduk. Saat mencoba merenggangkan badan, ia baru sadar kalau tangannya masih berada di dekat jangkauan jemari Arka.

Rara buru-buru menarik tangannya, lalu mengusap wajahnya yang kusut. Ia melirik pria di atas kasur itu. Dada Arka bergerak naik-turun dengan teratur. Wajahnya masih pucat, tapi keringat dingin yang semalam membanjiri dahinya sudah jauh berkurang.

Rara memberanikan diri menempelkan punggung tangannya ke dahi Arka. "Udah nggak terlalu panas," gumamnya lega.

Tiba-tiba, sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat kuat.

Rara memekik tertahan. Mata Arka terbuka. Tatapan pria itu memang masih sayu, tapi insting membunuhnya langsung siaga penuh. Cengkeramannya di pergelangan Rara terasa menyakitkan.

"Aw! Arka, ini gue! Lepasin!" ringis Rara sambil memukul punggung tangan pria itu.

Butuh beberapa detik bagi Arka untuk memproses situasi. Tatapannya berangsur fokus, mengenali wajah panik di depannya, lalu menyadari aroma obat antiseptik di ruangan itu. Perlahan, ia mengendurkan cengkeramannya dan melepaskan tangan Rara.

"Kita... di mana?" Suara Arka terdengar sangat parau dan serak.

"Di vila atas gunung. Safe house lo atau apalah itu namanya. Semalam Bara yang bawa kita ke sini," cerocos Rara sambil mengusap pergelangan tangannya yang memerah. "Lo jangan banyak gerak dulu. Jahitan lo semalam jebol pas kita dikejar, Bara sampai harus jahit ulang. Gue panggilin dia sebentar—"

"Air," potong Arka pelan namun tegas.

"Hah?"

"Saya butuh minum," ucapnya datar.

Rara mendengus pelan, tapi tetap berbalik mengambilkan segelas air dari teko di nakas. Ia menyodorkannya ke depan mulut Arka. "Nih. Pelan-pelan, lo masih lemah banget."

Arka meneguk air itu perlahan. Setelah tenggorokannya tak lagi terasa seperti diamplas, matanya turun menatap penampilan gadis itu. Rambut Rara berantakan parah, dan piyamanya penuh dengan noda darah kecokelatan yang mengerikan.

"Kenapa kau masih memakai baju kotor itu?" tegur Arka dingin. "Kau terlihat sangat berantakan."

Mata Rara seketika melotot tidak percaya. "Sumpah ya, lo baru aja lolos dari maut dan hal pertama yang lo komentarin adalah baju gue?! Gue ketiduran nungguin lo semalaman! Boro-boro mikir mandi, gue takut bangun-bangun lo udah mati kaku!"

Arka terdiam mendengarnya. Matanya menatap wajah Rara lekat-lekat. Ia mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanya raut kelelahan.

"Kenapa kau tidak kabur?" tanya Arka tiba-tiba.

"Maksud lo?"

"Kau bisa saja kabur saat Bara sibuk semalam. Vila ini terpencil, tapi bukan berarti tak ada jalan keluar. Kenapa kau memilih tetap di sini?"

Rara berkacak pinggang, menatap bos mafia itu dengan kesal. "Pertama, di luar sana hutan dan gelap gulita, mending gue di dalam. Kedua, di luar ada CCTV dan Bara yang lagi jaga, lo pikir gue bisa kabur lewat atap? Ketiga... gue udah telanjur terseret sejauh ini. Daripada gue kabur dan mati konyol di jalan, mending gue di sini nungguin lo melek biar lo tahu kalau lo ngutang nyawa sama gue!"

Belum sempat Arka membalas, pintu kamar terbuka. Bara masuk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung sebatas siku. Pria itu langsung membeku melihat bosnya sudah membuka mata.

"Bos," panggil Bara lega. Ia bergegas mendekat. "Syukurlah Anda sudah sadar. Demamnya sudah turun?"

"Saya tidak apa-apa," jawab Arka kaku, meski rahangnya mengeras menahan sakit saat mencoba bersandar di kepala ranjang. "Bagaimana situasi di luar?"

"Aman. Naga Hitam kehilangan jejak di hutan semalam. Saya sudah menyalakan sistem keamanan maksimal dan memblokir sinyal keluar-masuk agar lokasi kita tidak bocor."

Arka mengangguk pelan. "Kerja bagus." Ia lalu melirik ke arah Rara yang masih berdiri canggung sambil melipat tangan di dada. "Bara, tunjukkan kamar mandi dan berikan pakaian bersih untuknya. Mata saya sakit melihatnya kotor begitu."

Rara melongo. "Wah, asli ya lo. Minimal bilang makasih kek, ini malah ngatain!" Rara mengentakkan kakinya kesal, lalu berjalan melewati Bara begitu saja menuju pintu. "Gue mandi! Awas kalau lo berdua ngomongin gue di belakang!"

Begitu Rara keluar dengan bantingan pintu yang lumayan keras, kamar itu kembali hening. Bara menatap pintu yang tertutup, lalu menoleh pada bosnya.

"Dia menjaga Anda semalaman, Bos. Dia ketakutan, tapi tidak mau beranjak dari kursi itu," lapor Bara pelan.

Arka menunduk, menatap telapak tangannya sendiri dalam diam. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, tapi untuk pertama kalinya, raut dingin bos mafia itu tidak sekeras batu. Ada sesuatu yang tak kasatmata mulai bergeser di sana.

1
beybi T.Halim
ya Allah gak ada tenang nya 1 hr pun ,neng rara apa gak tauma berat itu waduh..,mana mau sidang lagi kudu konsentrasi🙈laa ini malah tembak2an ,kejar2an haih saket dadaku
nischa: Hahaha maafkan Rara ya kak, Ujian hidupnya emang paket komplit, urusan skripsi bonus kejar-kejaran mafia 😭 Makasih banyak ya udah ikutan gregetan sama ceritanya
total 1 replies
beybi T.Halim
🤣🤣🤣🤣kocak ini
beybi T.Halim
kita mampir.,suka karakter ceweknya di awal sedikit penakut tapii bar bar👍kita lanjutkan
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
lanjut Thor pengen baca bab selanjutnya
Yuyum Yunengsih
mulai seru nih, interaksi antar tokohnya dapet banget
Yuyum Yunengsih
wah, awal cerita yang langsung bikin penasaran sama karakternya😍
Yuyum Yunengsih
keren banget ceritanya, nggak nyesel ikutan baca dari awal. pertahankan terus kualitas tulisannya author
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
semangat💪cerita nya seru😍
Winna Yun
wah wahh seru ni ka, lanjut ka
nischa: siap,ka😍
total 1 replies
Erni Saputri
lama kali upnya Thor🥺
Erni Saputri: ok semangat💪💪💪
total 2 replies
Suzie
💪 mangatt
nischa: siap,makasih🤩
total 1 replies
Cilia
Ceritanya enteng banget! Enak buat dibaca pas lagi ngisi waktu kosong. Vibesnya berasa lagi baca AU yang target audience nya emang nyari bacaan pas lagi penat😆
nischa: Makasih banyak ya! Senang banget kalau ceritanya bisa jadi teman pas lagi santai atau penat. Enjoy terus ya bacanya! ✨
total 1 replies
partini
lucu banget ini mahasiswi
nischa: terimakasih kak sudah mampir😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!