Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Rasa ingin tahu yang terlalu jauh kadang kala melukai diri sendiri.
Hawa menikmati istirahatnya dikamar ternyamannya, walaupun ia penasaran dengan laki-laki yang datang bertamu tadi. Terlihat akrab dan hangat tapi Hasby terlihat biasa-biasa saja.
Hawa memainkan gawainya dan berselancar di dunia maya. Sesekali ia membuka media sosial miliknya, tak banyak yang dilihat karena ia bukan orang yang suka mengupload foto atau memperlihatkan kehidupannya.
Ia lebih suka memfoto makanan atau pemandangan alam sekitar.
Lebih menarik dan memberi ketenangan bagi sebagian orang. Mengagumi keindahan ciptaan Allah.
Di ruang tamu...
"Hey, apa yang kamu rahasiakan bro?" tanya laki-laki yang ternyata adik Papanya, yang bernama Damar Adrianto. Damar menggoda Hasby menaik-turunkan alisnya, tersenyum tengil, begitu menyebalkan di mata Hasby.
"Pasti Om sudah tahu. Jadi jangan ganggu dia!" tegas Hasby kepada Om nya itu.
"Apakah dia Tiar Azani yang dulu kamu ceritakan pada Om?" selidik Om Damar melihat Hasby lekat.
Tatapan Hasby menajam "Om, jangan pernah bicara tentang dia lagi!" ucapnya dingin.
"Kenapa?"
"Om, aku mohon, dia sudah jadi masalalu yang perlu kulupakan. Jadi jangan di bicarakan lagi. Aku takut akan memunculkan kesalah pahaman di kemudian hari," jelas Hasby merasa lelah.
"Apa ada yang Om tidak tahu bro?" selidik Om Damar penasaran.
"Om, dia kembali dan aku khawatir akan membuat masalah. Padahal semuanya sudah jelas dan telah selesai, aku bingung menghadapinya," Hasby memijit keningnya.
"Apa yang terjadi, ceritakan semuanya!" titah Om Damar serius "Lalu dia? Dia siapa?" Om Damar semakin mendesak Hasby.
Awalnya Hasby tidak ingin menceritakannya, tapi dirinya juga lelah memendamnya sendiri. Akhirny ia menceritakan awal mulanya menikah dengan Hawa dan tentang masalalu yang terkabar telah kembali lagi.
Masa lalu yang ia ceritakan tidak mendetail. Hanya cerita sekilas. Entah apa yang akan ia lakukan ke depannya. Om Damar mendengarkan tanpa menyelanya. Berusaha memahami cerita keponakannya itu. Rumit.
"Jadi gadis cantik tadi istri mu?! Bolehlah kenalan bentar," Om Damar gemar menggoda keponakannya itu.
"Jangan macam-macam Om!" peringatan keras Hasby layangkan kepada adik Papanya itu.
Om Damar tertawa keras karena gemar menggoda keponakannya itu. Mereka lanjut ngobrol tentang kerjaan kantor dan hal-hal random lainnya. Ditengah-tengah bercengkrama dengan Om nya, gawainya bergetar lama. Panggilan telpon dari nomor baru. Menatapnya sebentar lalu mengangkatnya.
"Hai By, apa kabarmu?" suara riang lembut dari seberang sana. Terdengar bahagia.
Hasby sangat mengenali suara itu, ia mendengarkannya, raut wajahnya menjadi dingin serta rahangnya mengeras.
"Ada apa menghubungiku lagi?" katanya datar.
"Aku telah kembali lagi dan merindukanmu By,,, apa kamu tidak rindu padaku?" tanyanya senang. Seolah sangat senang mendengarkan suara Hasby.
"Tidak,,, cukup Tiar Azani, jangan hubungi aku lagi!" Hasby mematikan sambungan telpon itu. Memegang erat gawainya.
Om Damar memandang Hasby tenang. Keponakannya itu terlihat kusut setelah menerima telpon, seperti ada bara api yang tertiup angin. Semakin menyala membara.
"Tenangkan dirimu. Bereskan dia dengan baik-baik, ingat kamu sekarang punya seseorang yang harus kamu jaga dan lindungi!" nasihat Om Damar "Om siap membantu apabila dibutuhkan, ok bro" Om Damar menepuk bahu Hasby pelan.
"Terimakasih Om," Hasby mengangguk singkat "Oiya Om, istirahat saja dulu dikamar tamu, nanti akan aku kenalkan dengannya," Hasby menambahkan sembari berdiri. Beranjak untuk pergi ke kamarnya.
"Ok, sampai jumpa nanti," Om Damar melangkahkan kaki ke kamar tamu yang biasa ia tempati ketika berkunjung atau menginap dirumah kakaknya[Darman].
Hasby membuka pintu kamarnya pelan. Menghela napas berat lalu ia melangkah masuk ke kamar dan menutup rapat pintunya. Segera ia mengambil baju dan celana ganti, ia mandi kilat. Karena badannya ingin segera diistirahatkan.
Baru memejamkan mata sejenak handphonenya menyala putih dengan bunyi ting pelan yang menggema di kamar yang sunyi itu.
[Kak, boleh aku turun sekarang? Mau bantu Bibik menyiapkan makan malam]
Ternyata Hawa yang mengiriminya pesan singkat. Hasby tersenyum tipis.
[iya boleh,, nanti tolong bangunin aku ya Wa, aku ngantuk]
[makasih kak, siaaap bos]
Hasby meletakkan gawainya di atas meja samping ranjangnya. Matanya mulai terpejam, betapa lelah ia hari ini. Kepalanya terasa pusing dan suhu badannya lebih panas dari biasanya.
Berbagai kejadian terjadi dalam satu hari. Menguras emosi, hati dan pikirannya.
Pikirannya berkelana pada saat Hawa menubruk Dika tadi di sekolah, ada rasa marah dan tidak terima, apalagi saat Hawa di gertak Disti dan temannya.
Ada rasa yang sulit di jelaskan, entah marah atau tersinggung. Ia tidak tahu, kenapa dirinya jadi seperti ini.
Seolah tak terima dengan perlakuan mereka kepada Hawa, istri kecilnya. Mengusik Hawa sama saja mengusik dirinya.
"Bik, mau masak apa?" tanya Hawa mendekati Bibik yang sedang memotong sayur.
"Tumis kangkung kesukaan Den Hasby dan Tuan Damar aja Neng, sama nanti goreng tempe tahu dan ayam. Oiya lupa sambel terasinya," papar Bik Im sembari terkekeh mengingat dirinya sudah menua dan sering lupa.
"Waaah,,, mantap Bik," Hawa tersenyum lebar sembari mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Alhamdulillah, yuk, Neng yang goreng atau masak tumis kangkungnya?"
Bibik melihat gorengannya sebelum di baliknya.
"Goreng aja Bik," dengan cekatan Hawa mengambil alih penggorengan itu. Segera ia menyelesaikan tugasnya.
Bibik berkutat dengan tumis kangkung dan sambel terasinya. Mereka berdua sibuk dengan tugas masinh-masing.
Waktu makan malam sudah tiba, diruang makan sudah tersaji menu sederhana tapi favorit majikannya.
Hawa bergegas naik menuju kamar suaminya itu. Ia mengetuk pintu kamar Hasby dengan tidak sabaran.
Hasby yang sempat tertidur langsung menegakkan badannya. Mengerjapkan matanya segera ia membasuh wajahnya dengan air.
Air yang dingin mengenai kulit wajahnya, membuatnya segar kembali, kantuk pun pergi.
Dirasa suaminya sudah bangun dari tidurnya. Hawa segera ke kamarnya mandi secepat kilat.