NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:829
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUCING GALAK

Keiko membungkukkan badan sekali lagi sebelum berbalik meninggalkan halaman kuil.

Sang pendeta terus mengayunkan sapu bambunya, membersihkan daun-daun kering yang berguguran di atas batu. Keiko sempat menoleh beberapa langkah kemudian, namun sosok pria tua itu masih terpaku pada aktivitasnya, seolah percakapan mereka tidak pernah benar-benar terjadi.

Kalimat terakhir lelaki tua itu terus berputar di kepala Keiko bagai kaset rusak. “Jangan langsung percaya pada apa yang kau lihat.”

Keiko mendengus, berusaha mengusir kegelisahannya. Ia menuruni anak tangga batu satu per satu. Semakin dipikirkan, semakin tidak logis situasi ini. Bagaimana mungkin pendeta itu tahu ada seseorang di dalam mimpinya, padahal Keiko tidak pernah mengucapkannya?

Ia menoleh ke arah gerbang torii merah yang kini kian menjauh. Pria berkimono hitam itu tidak muncul, dan rasa kecewa karena sudah naik capek-capek. Ia bahkan tidak tahu mengapa dirinya begitu ingin bertemu dengan orang asing tersebut.

Angin gunung membawa aroma tanah basah dan pinus yang menenangkan. Keiko mengeluarkan ponsel dari saku rok, ponselnya bergetar. Nama Ibu muncul di layar.

"Halo, Bu."

"Keiko, Kamu kapan pulang?" tanya ibunya beberapa saat kemudian.

"Belum tahu," jawab Keiko sambil menatap jalan desa yang mulai terlihat. "Mungkin dua atau tiga hari lagi, Aku masih ingin di sini, kenapa bu?"

"Emm baiklah, Bersantai lah dulu, Oh ya, jimatnya masih kamu pakai?"

Pertanyaan itu membuat Keiko refleks menyentuh tas kecil di bahunya. "Masih, Bu."

"Jangan dilepas," pesan ibunya tegas.

Pesan ibu sebelum Telepon berakhir. Keiko menyimpan ponselnya, namun baru beberapa langkah berjalan, gonggongan keras memecah kesunyian hutan.

“Guk! Guk! Guk!”

Keiko tersentak. Suara itu berasal dari tikungan jalan di depan, disusul bunyi ranting patah. Tak lama, seekor kucing abu-abu berlari kencang melintasi jalan setapak.

Mata Keiko membelalak. Ia mengenal kucing itu.

Namun, di belakangnya, tiga ekor anjing liar menyusul dengan taring yang menyeringai. Keiko membeku.. "Aku benci Anjing...."

Sempat terjadi perkelahian antara kucing dan anjing,

Suara mendesis kucing dan teriakan lengkingnya serta bulu bulu kedua binatang berterbangan.. Pemandangan itu—mendadak memicu trauma dari mimpi semalam. Bayangan mata keemasan, tubuh kucing yang membesar, dan dentang lonceng yang memekakkan telinga menyerbu ingatannya.

Tanpa sadar, ia melangkah mundur. "Lari..." bisiknya.

Sebelum pikirannya sempat memberi perintah, tubuhnya sudah bergerak. Keiko berbalik dan ikut berlari menuruni jalan setapak dengan jantung yang berdegup kencang. Ia terus memacu kakinya, meski bayangan mata keemasan dalam mimpinya semakin tajam menghantui.

Namun langkahnya perlahan melambat hingga akhirnya ia berhenti. Sebuah kesadaran menghantamnya: kucing abu-abu itu adalah kucing yang sama yang semalam duduk diam di depan rumah nenek—kucing yang tidak pernah mengganggunya.

Perasaan bersalah perlahan memadamkan rasa takutnya.

"Ah..." Keiko menggigit bibir bawahnya. Ia mengepalkan tangan, mengintip sebentar. Ia tidak bisa membiarkan kucing itu sendirian.

Tanpa pikir panjang, Keiko berbalik arah. Ia berlari kembali menuju asal suara gonggongan. Suara anjing-anjing itu terdengar semakin keras dan agresif. Keiko menelan ludah, namun kali ini, ia tidak berniat menghentikan langkahnya. Apa pun yang menanti di balik tikungan itu, ia sudah memutuskan untuk kembali.

Begitu melewati tikungan, langkah Keiko terhenti mendadak. Di sebuah tanah lapang yang tidak terlalu luas, tiga ekor anjing liar sedang mengurung kucing abu-abu itu dari tiga sisi. Gonggongan liar mereka memekakkan telinga, sementara taring-taring yang menyeringai tampak siap menerkam.

Kucing abu-abu itu tidak lari. Ia berdiri mematung dengan tubuh merendah, bulu di sepanjang punggungnya berdiri tegak hingga ekornya tampak dua kali lebih besar dari ukuran aslinya. Matanya yang tajam menatap ke depan tanpa gentar.

Jantung Keiko berdegup kencang. Pemandangan itu memicu ingatan akan mimpi semalam—tentang mata keemasan, makhluk mengerikan, dan lonceng yang berdentang. "Ini cuma kucing biasa," gumamnya, mencoba membohongi diri sendiri, meski kakinya terasa terpaku di tanah.

Detik berikutnya, salah satu anjing menerjang.

"Hei!" teriak Keiko. Suaranya menggema, memecah ketegangan.

Ketiga anjing itu menoleh serempak, mengalihkan perhatian dari kucing ke arah Keiko. Sadar bahwa ia kini menjadi sasaran, Keiko panik. Ia menyambar sebatang ranting kering di dekat kakinya dan mengayunkannya ke udara sekuat tenaga. "Pergi! Pergi kalian!"

Anjing-anjing itu sempat mundur, memberi celah bagi Keiko. Tanpa membuang waktu, ia berlari menghampiri kucing itu dan membungkuk, lalu mengangkat tubuhnya dalam sekali angkat.

*Berat sekali,* batin Keiko. Kucing itu terasa jauh lebih berat dan hangat daripada yang ia bayangkan.

"Guk! Guk! Guk!"

Gonggongan kembali pecah tepat di belakangnya. Ketiga anjing itu kini justru mengejar Keiko.

"Wah, kenapa malah aku yang dikejar?!" pekik Keiko. Ia memacu langkahnya menyusuri jalan setapak, memeluk kucing itu erat-erat agar tidak jatuh. Kucing abu-abu itu tetap diam dalam pelukannya—tidak memberontak, tidak mengeong, hanya sepasang mata keemasannya yang menatap wajah Keiko dengan tatapan yang sulit diartikan.

Di depan, sebuah rumah tua dengan pagar kayu tampak berdiri kokoh. Keiko langsung melesat ke sana. "Maaf, permisi!" serunya panik. Ia meraih bagian atas pagar dan memanjat sekuat tenaga dengan satu tangan. Kakinya sempat terpeleset, namun ia berhasil menopang tubuhnya tepat sebelum terjatuh ke tanah.

Begitu ia berhasil duduk di atas pagar, anjing-anjing itu sudah berkumpul di bawah, melompat-lompat dengan liar. Keiko memejamkan mata rapat-rapat. "Jangan naik... tolong jangan naik..."

Keributan itu menarik perhatian warga sekitar. Pintu-pintu rumah terbuka, dan tak lama kemudian, beberapa orang keluar dengan sapu bambu, ember, dan bambu panjang.

"Hei! Pergi kalian!"

"Hus!"

Setelah perlawanan sengit dari warga, anjing-anjing itu akhirnya lari tunggang-langgang menuju hutan. Keiko baru bisa bernapas lega. Ia terduduk di atas pagar dengan napas yang memburu hingga paru-parunya terasa perih.

Dengan bantuan warga, Keiko akhirnya turun dari pagar. "Terima kasih banyak," ujarnya tulus pada kakek dan nenek yang menolongnya.

Setelah suasana benar-benar tenang, Keiko menunduk melihat kucing dalam pelukannya. "Nah... sudah aman. Kamu boleh turun sekarang."

Ia perlahan melonggarkan pelukan. Namun, tepat saat ia hendak menurunkan kucing itu—

Hsss! Ck!

Kucing itu mendesis keras, dan dalam sekejap, cakar tajamnya menyambar punggung tangan Keiko.

"Aduh!" Keiko refleks menarik tangan. Tiga garis merah muncul di kulitnya, terasa perih meski tidak terlalu dalam. Kucing itu melompat turun dengan lincah, lalu berjalan menjauh begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.

Keiko melongo, menatap punggung tangannya yang memerah. "Lah... aku tadi nyaris mati digigit anjing gara-gara kamu, ya!"

Salah seorang warga terkekeh melihat wajah kesal Keiko. "Kucing memang begitu, Nak. Kalau sudah ketakutan, siapa pun bisa dicakar."

Keiko mengembuskan napas panjang, menatap punggung kucing yang perlahan menghilang di balik tikungan. "Dasar kucing galak," gumamnya. Meski mulutnya menggerutu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

Keiko mengembuskan napas panjang sambil memandangi punggung kucing abu-abu yang perlahan menghilang di balik tikungan jalan.

Ia melihat tiga garis tipis di punggung tangannya. Masih terasa perih. "Dasar kucing galak," gerutunya pelan.

"Sudah diselamatkan, malah nyakar."

Keiko menggeleng kecil. Entah harus kesal atau lega. Yang jelas, setidaknya kucing itu berhasil lolos dari kejaran anjing.

Ia mengembuskan napas sekali lagi, lalu membungkukkan badan kepada warga yang tadi membantunya.

"Terima kasih banyak. Maaf sudah merepotkan."

Salah seorang nenek tersenyum ramah. Keiko membalas senyum itu sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah nenek.

Namun, sepanjang jalan, pikirannya tidak benar-benar tenang. Bayangan kucing raksasa dalam mimpinya kembali terlintas. Lalu berganti dengan sosok kucing abu-abu yang baru saja ia selamatkan.

"Jangan-jangan..." Ia langsung menggeleng pelan. "Ah, tidak mungkin, itu cuma kebetulan."

Meski terus berusaha meyakinkan dirinya sendiri, untuk pertama kalinya sejak tiba di Tsukimori, Keiko mulai bertanya-tanya...

Berapa banyak hal di desa ini yang sebenarnya belum ia ketahui?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!