"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALIANSI BARU DAN PERMUSUHAN DI BALIK KACA
Ruang keluarga kediaman utama klan Alveric masih dipenuhi oleh para tetua dan jajaran direksi keluarga saat Alexander menyelesaikan laporannya di hadapan sang Kakek, pimpinan tertinggi klan. Namun, ada satu pengumuman tambahan yang membuat seluruh ruangan, termasuk Nayla dan kedua abangnya, menajamkan pendengaran.
"Konsorsium dengan Mahendra Group memang prioritas utama," ujar Alexander dengan suara berat yang menggema, matanya menyapu seluruh anggota keluarga yang duduk melingkar di ruangan bergaya Eropa klasik itu. "Namun, untuk memonopoli sektor infrastruktur hijau di kawasan timur, Alveric tidak bisa bergantung sepenuhnya pada dana Mahendra. Kita butuh manuver mandiri."
Adrian Kenzie Alveric menyandarkan punggungnya, menatap sang Ayah dengan sorot mata penuh kalkulasi. "Apakah Ayah sudah menemukan pihak ketiga yang siap menutup selisih asetnya tanpa menuntut kursi dewan terlalu banyak?"
"Barito Group," jawab Alexander singkat namun tegas. "Gatan Aldous Rain telah menyetujui draf awal kerja sama. Barito memiliki jaringan logistik yang tidak dimiliki Mahendra. Dengan menarik Barito masuk, posisi tawar Alveric di hadapan Mahendra akan makin kuat."
Julian mengusap dagunya pelan, sebuah kebiasaan saat otaknya sedang menganalisis situasi. "Gatan Aldous Rain. Sosok yang licin dan ambisius. Menariknya masuk berarti kita harus berurusan juga dengan intrik internal Barito."
Nayla, yang sejak tadi duduk diam di sudut sofa berdekatan dengan Bundanya, mendadak merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya saat mendengar nama belakang Rain.
Nayla tahu persis siapa Gatan Aldous Rain. Ia adalah ayah dari Gadrian Rain seorang bintang lapangan basket sekolah yang arogan dan Salmania Rain, gadis pimpinan cheerleader yang secara terbuka mendeklarasikan ketidaksukaannya pada Nayla sejak hari pertama masuk kelas sebelas.
"Pesta peresmian kerja sama dengan Barito Group akan diadakan akhir bulan ini," lanjut Alexander, kali ini menatap langsung ke arah Nayla. "Gatan Rain dan keluarganya akan hadir. Nayla, pastikan kau menjaga sikap yang baik dengan putra-putrinya. Gadrian dan Salmania adalah bagian dari rencana jangka panjang aliansi ini."
Nayla mengangguk pelan, menyembunyikan keterkejutannya. "Baik, Ayah."
Di balik anggukan patuh itu, benak Nayla berkecamuk. Berurusan dengan Zavier dan ekspektasi Mahendra saja sudah cukup menguras tenaganya, dan kini ia harus bersikap manis pada Salma gadis yang menganggap Nayla sebagai saingan nomor satu hanya karena masalah kepopuleran di sekolah.
👉🌞🌞👈
Keesokan harinya, suasana jam istirahat di kantin SMA Garuda Bangsa terasa lebih bising dari biasanya. Berita tentang kerja sama besar antara Alveric dan Barito Group rupanya bocor lebih cepat di kalangan murid-murid elite sekolah itu.
Nayla duduk di salah satu sudut meja panjang bersama Vanya, mencoba menikmati salad buahnya dalam ketenangan yang mustahil. Dari arah pintu masuk kantin, Salmania Rain melangkah masuk dengan gaya angkuhnya yang khas. Gadis berambut highlight blonde itu dikelilingi oleh geng-nya, menatap sinis ke arah meja Nayla sebelum melangkah mendekat.
Salma berhenti tepat di depan meja Nayla, melipat tangannya di dada dengan senyuman merendahkan. "Kudengar keluarga kita akan sering bertemu sekarang, Nayla Alveric."
Nayla mendongak pelan, meletakkan garpunya. Ekspresinya dijaga sedatar mungkin. "Kabar bisnis menyebar sangat cepat, rupanya."
"Tentu saja. Papaku bilang Alveric butuh bantuan logistik dari Barito Group untuk proyek terbaru kalian," ucap Salma dengan nada sengaja dikeraskan agar meja-meja di sekitar mereka bisa mendengar. "Lucu sekali, ya? Kalian yang terkenal sok sempurna dan mandiri ternyata butuh klan Rain juga akhirnya."
Vanya, yang tidak suka melihat sahabatnya disudutkan, mendengus pelan. "Itu namanya kerja sama bisnis, Salma. Bukan soal siapa yang butuh siapa. Kamu belajar ekonomi dasar tidak sih?"
Salma menatap tajam Vanya sebelum kembali menajamkan fokusnya pada Nayla. Rasa tidak suka Salma pada Nayla bukan semata-mata soal bisnis. Di mata Salma, Nayla adalah pencuri tak kasat mata. Meski Nayla bersikap dingin dan jarang bergaul, banyak anak laki-laki populer di sekolah termasuk Gadrian, kakak Salma sendiri yang diam-diam menaruh perhatian lebih pada putri Alveric itu. Dan yang paling membuat Salma murka adalah kenyataan bahwa Zavier Mahendra, pangeran es yang selama ini diincarnya, hanya pernah tertangkap menatap Nayla dengan pandangan yang berbeda.
"Aku cuma mau mengingatkanmu, Nayla," desis Salma dengan senyum miring yang meremehkan. "Mentang-mentang banyak cowok di sekolah ini yang caper sama kamu, bukan berarti kamu bisa bersikap sok paling penting. Jangan harap status kerja sama perusahaan ayahku bikin aku sudi pura-pura baik sama kamu di sekolah."
Nayla membalas tatapan Salma tanpa berkedip. Ia sudah terlalu lelah menghadapi tekanan Kakeknya semalam, dan gertakan murahan Salma di kantin sekolah bukanlah sesuatu yang akan membuatnya gentar.
"Aku juga tidak pernah berharap kita harus pura-pura berteman, Salma," jawab Nayla tenang, suaranya halus namun menembus tepat ke ego gadis itu. "Apa yang terjadi di meja rapat para orang tua kita, biarkan tetap di sana. Di sekolah, aku tidak punya urusan apa pun denganmu."
Raut wajah Salma memerah menahan marah, namun sebelum ia sempat membalas ucapan Nayla yang menohok itu, sebuah suara berat dan dingin memotong dari arah belakangnya.
"Menghalangi jalan."
Salma dan teman-temannya refleks menoleh dan buru-buru menyisih. Di sana, Zavier Mahendra berdiri dengan tatapan mata yang sangat tajam. Zavier tidak menatap Salma sama sekali, matanya hanya tertuju pada gelas air mineral yang berdiri di sudut meja Nayla.
Zavier melangkah maju melewati Salma tanpa mempedulikan aura kemarahan gadis itu. Ia meletakkan sebuah kotak susu cokelat kecil tepat di sebelah buku catatan Nayla yang terbuka.
"Tugas fisika kelompok kita," ujar Zavier datar, meski matanya menatap lekat pada Nayla, memberikan isyarat tersembunyi bahwa ia menyadari apa yang baru saja terjadi. "Jangan lupa dikerjakan."
Salma menatap adegan itu dengan napas tertahan. Zavier, pangeran Mahendra yang nyaris tidak pernah bicara pada siapa pun di kantin, justru mendatangi meja Nayla hanya untuk menyerahkan sekotak susu cokelat yang dibungkus alibi 'tugas fisika'.
Rasa iri dan benci Salma pada Nayla seketika berlipat ganda. Gadis itu mendengus kasar, lalu membalikkan tubuh dan beranjak pergi tanpa mengucap sepatah kata pun, diikuti oleh teman-temannya yang kebingungan.
Setelah geng Salma menjauh, Vanya menatap Nayla dan Zavier bergantian dengan raut wajah penuh tanya. "Sejak kapan... tugas fisika bentuknya berubah jadi susu cokelat?" guman Vanya polos.
Nayla tak kuasa menahan rona merah tipis di pipinya. Ia menatap kotak susu cokelat itu, lalu menatap punggung Zavier yang perlahan menjauh meninggalkan kantin. Di tengah himpitan aliansi bisnis Alveric, persaingan dengan klan Rain, dan ancaman dari Mahendra Group, Zavier tetap hadir membawa rasa hangat yang diam-diam menyelinap di antara celah pertahanannya.
Zavier melangkah keluar dari area kantin yang riuh, menyusuri koridor samping yang rindang menuju area perpustakaan. Walau gerakannya terlihat santai, benaknya tak henti merangkai potongan-potongan informasi yang baru saja ia cerna. Hadirnya Barito Group di dalam peta permainan Alveric dan Mahendra jelas bukan sekadar kebetulan. Gatan Aldous Rain dikenal sebagai figur oportunis yang pandai memanfaatkan celah persaingan demi mengeruk keuntungan maksimal, dan kehadiran dua anaknya Gadrian dan Salmania di sekolah ini dipastikan akan memercikkan benih konflik baru yang kian merumitkan situasi.
Saat Zavier baru saja melewati pintu kaca perpustakaan yang sepi, sebuah bayangan tinggi melangkah menyegat jalurnya dari balik rak buku terdepan.
"Rupanya Pangeran Mahendra masih sempat-sempatnya bertingkah romantis di kantin," sebuah suara bernada mengejek dan terkesan arogan menyapa telinganya.
Zavier menghentikan langkahnya, menatap tenang pada sosok laki-laki berjaket varsity olahraga yang berdiri bersedekap dada di depannya. Gadrian Rain. Kakak dari Salmania itu menyunggingkan senyum miring yang penuh nada tantangan, memperlihatkan aura percaya diri yang kelewat batas.
"Ada yang bisa kubantu, Gadrian?" tanya Zavier datar, tanpa ada sedikit pun riak emosi di matanya.
Gadrian terkekeh pelan, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya terpisah satu meter. "Gaya bicaramu selalu seperti Papi Kael, sok berkuasa. Tapi aku cuma mau mengingatkanmu satu hal, Zavier. Ayahku dan Alexander Alveric baru saja menandatangani draf awal aliansi bisnis. Itu artinya... pengaruh keluarga Rain di sekolah ini dan di dunia korporat tidak bisa lagi kamu pandang sebelah mata."
"Lalu?" balas Zavier singkat, merapikan tali ranselnya tanpa rasa gentar.
"Lalu..." Gadrian memiringkan kepalanya, memperdalam tatapannya yang provokatif, "...aku sarankan kamu mundur selangkah dari Nayla Alveric. Salma mungkin tidak suka padanya karena urusan kepopuleran cewek, tapi bagiku... Nayla itu menarik. Dan sekarang, dengan masuknya Barito Group ke dalam lingkaran Alveric, aku punya alasan yang jauh lebih sah untuk berada di dekatnya dibanding kamu."
Atmosfer di lorong perpustakaan yang hening itu mendadak menjadi begitu membeku. Manik mata Zavier menyempit tajam. Aura dingin yang biasanya ia tekan dalam-dalam kini terpancar kuat, memusnahkan keheningan santai di antara mereka. Kehadiran Zavier yang intimidatif seketika membuat senyum di wajah Gadrian sedikit tertahan.
"Nayla bukan komoditas bisnis keluarga Rain, Gadrian," kata Zavier dengan suara yang amat rendah, namun tiap katanya menghantam telinga Gadrian bagaikan ancaman nyata. "Dan jangan pernah berpikir kalau kerja sama ayahmu dengan Alveric bisa memberimu hak untuk mengatur siapa yang boleh berada di dekatnya."
Gadrian menahan napasnya sejenak, terkejut oleh respons tajam Zavier yang selama ini dikenal sebagai sosok murid paling pendiam dan acuh di sekolah. "Kamu menantangku, Mahendra?"
"Aku tidak menantang," sahut Zavier tenang sembari melangkah maju, melewati bahu Gadrian tanpa menoleh lagi. "Aku hanya memperingatkan."
Zavier terus melangkah meninggalkan perpustakaan, meninggalkan Gadrian yang berdiri membisu dengan rahang mengepal menahan amarah. Namun, jauh di dalam hatinya, Zavier tahu betul bahwa ancaman ini baru saja dimulai. Masuknya klan Rain bukan hanya menambah saingan baru dalam dinamika sekolah, melainkan menjadi pemicu yang bisa membakar kestabilan hubungan rahasianya dengan Nayla jika ia tak bertindak cepat.
Sore harinya, saat bel pulang sekolah membubarkan sisa-sisa riuh para siswa, Nayla melangkah pelan menuju sudut taman belakang sekolah yang rindang. Kotak susu cokelat pemberian Zavier tadi siang masih tersimpan rapi di dalam tasnya, sebuah simbol kecil dari perhatian Zavier yang membuatnya tetap merasa aman di tengah kepungan permusuhan Salma.
Saat ia berbelok di balik pilar aula, ia melihat Zavier sudah menunggu di sana. Pria itu berdiri menyandarkan punggungnya pada batang pohon mahoni tua, memandangi dedaunan gugur di tanah dengan pandangan yang dalam.
"Zav," panggil Nayla pelan, melangkah mendekat dengan senyum tipis.
Zavier menegakkan posisinya, menatap wajah anggun Nayla yang selalu berhasil meredakan badai pikiran di kepalanya. "Salma tidak mengganggumu lagi setelah di kantin tadi?"
Nayla menggeleng pelan, duduk di bangku kayu taman di bawah rindangnya pepohonan. "Tidak. Vanya membantuku menyindirnya balik, dan kedatanganmu tadi membuat dia tidak punya alasan untuk bertahan lebih lama." Nayla menghela napas halus, menatap Zavier cemas. "Tapi... aku mendengarkan percakapan Ayah semalam, Zav. Barito Group resmi masuk ke proyek infrastruktur Alveric. Itu artinya Salma dan kakaknya, Gadrian, akan punya akses lebih luas ke lingkungan kita."
Zavier melangkah mendekati bangku kayu tersebut, lalu mendudukkan dirinya di sebelah Nayla dengan jarak yang hangat. "Aku sudah bicara dengan Gadrian tadi di perpustakaan."
Nayla menoleh kaget, matanya membulat jernih. "Kamu bertemu Gadrian? Apa yang dia katakan padamu, Zav?"
Zavier menatap lurus ke depan, ke arah lapangan sekolah yang mulai mengosong. "Dia mencoba menggunakan aliansi Barito dan Alveric sebagai alasan untuk mendekatimu. Dia pikir, dengan masuknya keluarga Rain, posisi Mahendra bisa ditekan."
Nayla meremas jemarinya di atas pangkuan, merasakan gelombang ketakutan baru yang merayap di dadanya. "Gadrian itu orang yang sangat licik, Zavier. Di kelas sebelas IPA 2, dia selalu menggunakan pengaruh ayahnya untuk menekan murid lain. Aku takut kalau dia dan Salma sengaja mencari-cari celah untuk melaporkan interaksi kita pada Ayahku atau Om Kael."
Melihat kekhawatiran yang terpancar jelas di wajah gadis di sampingnya, Zavier mengulurkan tangannya secara perlahan. Tanpa ragu, ia menggenggam jemari Nayla yang dingin, memberikan kehangatan dan rasa tenang yang seketika meresap ke dalam dada gadis itu.
"Biarkan mereka mencoba, Nayla," ujar Zavier dengan nada suara yang begitu tenang dan mantap, menatap penuh ke dalam manik mata Nayla. "Barito Group boleh saja masuk ke dalam panggung bisnis Alveric, dan Gadrian boleh saja berakting seolah dia memegang kendali. Tapi mereka tidak tahu apa pun tentang kita. Mereka tidak tahu seberapa kuat kita bertahan sejauh ini di bawah bayang-bayang Mahendra dan Alveric."
Nayla menatap genggaman tangan Zavier yang kokoh melingkari jemarinya. Di tengah ancaman dari klan Rain, tekanan berat dari Papi Kael, serta intrik dingin dari keluarga besar Alveric, rasa percaya di dalam diri Nayla kembali menyala terang.
"Aku percaya padamu, Zavier," bisik Nayla jujur, menyandarkan jemarinya lebih erat ke dalam genggaman pria itu. "Tapi kita harus lebih berhati-hati. Permainan ini makin ramai, dan salah satu langkah saja bisa membuat semuanya hancur."
Zavier mengangguk pelan, mempererat remasan tangannya sebelum perlahan melepaskannya saat mendengar suara langkah kaki petugas kebersihan yang mendekat dari balik koridor. Walau tangan mereka kembali terpisah oleh realita yang menuntut kehati-hatian, satu hal terasa kian pasti di antara mereka: tak peduli seberapa banyak klan baru yang mencoba merusak takdir mereka, ikatan rahasia ini sudah terpatri terlalu dalam untuk bisa dihancurkan oleh gertakan siapa pun.
kekny zavier ini tipe aku 🤭