NovelToon NovelToon
Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Akademi Sihir
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Benhard Ayub Simanjuntak

Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.

Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].

Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!

Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Istana Bayangan & Pertemuan Ayah

Angin kutub menggerogoti kulit seperti pisau.

Salju setinggi betis membuat setiap langkah terasa 3x lebih berat.

"7 hari lagi." Kata Serah sambil menutup peta yang sudah beku di ujungnya. "Kalau kita tidak buru-buru, 3 kota itu benar-benar akan dieksekusi."

Kael mengangguk. 8 pecahan di dadanya berdenyut pelan. Sejak menyatu, dia bisa merasakan "panggilan" dari pecahan ke-9.

"Guru." Tanya Kael pelan. "Kalau kita ketemu ayahku... apa yang harus kulakukan?"

Serah diam. "Aku tidak tahu, Kael. Tapi ingat 1 hal. Archmage sejati melindungi, bukan menghancurkan."

Luna menggenggam tangan Kael. Tangannya dingin tapi menguatkan.

"Apapun yang terjadi, kita di belakangmu."

Grom di belakang mengaum pelan. "Grom siap mati untuk Tuan."

Badai salju mulai turun. Hari pertama dari 14 hari neraka dimulai.

*Hari ke-3: Hutan Tulang Es*

Pohon-pohon mati. Cabangnya putih seperti tulang manusia.

Suhu -40 derajat. Napas jadi es sebelum keluar.

Tiba-tiba tanah bergetar.

_GREDER_

Dari bawah salju muncul ratusan tangan hitam. Monster Bayangan.

"Tidak bisa dibunuh dengan senjata biasa." Serah menghunus pedang. "Hanya api dan cahaya."

"Berarti tugasku." Kael maju.

[Skill: Kontrol Api Dasar Lv.3 AKTIF]

_FUSHHHH_

Gelombang api putih menyapu 50 meter ke depan. 200 monster bayangan menjerit dan jadi abu.

Tapi mereka tidak ada habisnya. 10 menit. 30 menit. 1 jam.

Luna kehabisan mana. Grom patah 1 tanduk. Serah kena cakaran di lengan.

Kael? Dia terus bertarung. Sampai lututnya gemetar.

"Kael cukup!" Teriak Luna.

"TIDAK!" Kael meraung. "Selama mereka masih datang, aku tidak boleh berhenti!"

_BOOOOM_

Ledakan terakhir. 800 monster lenyap seketika.

Kael jatuh berlutut. Napasnya tersengal.

[Notifikasi Sistem]

[Level: 18 -> 19]

[Prestasi: Pembasmi 1000 Monster Bayangan]

[Skill Baru: Ketahanan Jiwa - Tidak pingsan karena kelelahan]

[Segel: 20% Terbuka]

Malamnya di dalam gua. Kael demam tinggi.

Luna mengompres dahinya. "Bodoh. Kenapa memaksakan diri..."

Kael membuka mata. "Karena... kalau aku berhenti, siapa yang melindungi kalian?"

*Hari ke-7: Gurun Racun Merah*

Pasir merah. Langit merah. Udara beracun.

Belum 1 jam jalan, Luna tiba-tiba jatuh. Mulutnya berbusa. Kulitnya membiru.

"Racun Penidur Abadi!" Serah panik. "Tidak ada penawarnya di dunia ini!"

"Harus ada!" Kael berlutut. "LUNA BANGUN!!"

Ingatan melintas. Dulu waktu kecil dia pernah lihat ayahnya pakai darah untuk menyembuhkan.

Tanpa pikir panjang Kael menggigit pergelangan tangannya. Darah bercampur api keluar.

"Minum... minum ini..."

Dia meneteskan darahnya ke mulut Luna.

1 menit. 2 menit. 5 menit.

_BUK_

Luna batuk. Racun hitam keluar dari mulutnya.

Luna memeluk Kael erat. "Bodoh... kenapa korbankan dirimu..."

Kael tersenyum pucat. "Karena kau lebih penting dari nyawaku."

[Notifikasi Sistem]

[Level: 19 -> 20]

[Rank Naik: C -> B]

[Skill Baru: Darah Archmage - Bisa menetralkan racun & penyakit]

[HP Maksimal -10% Permanen]

Serah menatap Kael lama. "Kau benar-benar... mirip dia."

*Hari ke-10: Penyergapan Dewan 12*

Tengah malam. Semua tidur.

_SWISH_

Panah bayangan menembus tenda dan menancap 1 cm dari kepala Kael.

"PENYERGAPAN!!" Teriak Grom.

5 orang bertopeng muncul. Jubah hitam. Lencana Mata 12 di dada.

"Target: Kael. Perintah: Hidup atau mati."

Pertarungan 20 detik.

Serah membunuh 2. Grom 2.

Yang terakhir mengarahkan belati ke leher Kael.

Kael menangkap pergelangan tangannya.

_KRAK_

"Siapa yang nyuruh?" Tanya Kael dingin.

Orang itu tertawa. "Jenderal Kuro. Dia bilang... bawa kepalamu."

Lalu dia gigit racun dan mati.

Dari mayatnya jatuh surat.

`Kepada Jenderal Kuro,

Target sudah dekat Istana. Eksekusi saat tiba.

- Ketua Dewan 12`

Kael membakar surat itu. Matanya merah.

"Aku tidak akan lari lagi."

*Hari ke-14: Gunung Tengkorak*

Di depan mereka, pemandangan mustahil.

Sebuah istana hitam raksasa melayang di atas awan.

Tingginya 1000 meter. Ditopang 4 rantai sebesar gunung yang menancap ke langit.

Di sekelilingnya badai petir tidak pernah berhenti selama 10 tahun.

"Selamat datang di Istana Bayangan." Bisik Serah. "Markas Dewan 12."

Di gerbang ada 4 orang berdiri.

*Ragna - Jenderal Api*. Tubuh 3 meter. Seluruh tubuhnya terbakar. Rank S

*Vexa - Jenderal Racun*. Cantik tapi bibirnya hitam. Uap racun keluar dari tubuhnya. Rank S

*Volt - Jenderal Petir*. Setengah tubuh mekanik. Percikan listrik di sekelilingnya. Rank S

*Kuro - Jenderal Bayangan*. Tubuhnya seperti asap. Tidak punya wajah. Rank S

"Selamat datang, Archmage." Kata Ragna. Suaranya seperti 100 guntur. "Kami sudah menunggu 10 tahun untuk hari ini."

Kael maju selangkah. "Kembalikan pecahan terakhir. Dan bebaskan 3 kota itu."

Kuro tertawa. Suaranya melengking seperti kaca pecah. "Atau apa? Kau mau minta baik-baik?"

_DUAR_

Tanah meledak. Pertarungan 4 vs 4 dimulai.

*Pertarungan 4 Penjuru*

Serah vs Ragna.

Dua api bertabrakan. Langit sisi timur jadi merah darah. Pedang vs Tinju.

Luna vs Vexa.

Es vs Racun. Setiap serangan Vexa meninggalkan luka hitam yang tidak bisa sembuh. Luna harus bergerak cepat.

Grom vs Volt.

Grom dihajar petir 10.000 volt sampai bulunya gosong. Tapi dia tetap berdiri. "Grom... tidak... akan... jatuh!"

Kael vs Kuro.

Ini yang paling berbahaya.

Kuro menghilang. Muncul di belakang Kael.

"Kael, kau terlalu lambat." Bisiknya.

_SWISH_

Belati bayangan menusuk punggung Kael.

Tapi berhenti.

_TING_

[Skill Aktif: Tubuh Archmage - Imun 50% serangan elemen gelap]

Kael berbalik dengan cepat. "Sekarang giliranku."

_BOOM_

Tinju Kael dilapisi api matahari. Menghantam perut Kuro.

Kuro terpental menabrak tembok istana dan membuat lubang besar.

"Mustahil... anak level 20..." Kuro batuk darah hitam.

Kael tidak berhenti. Dia ingat Luna diracun. Ingat warga di Kota Es dibekukan.

"MATI KAU!"

[Skill Terlarang: Ledakan Jantung Matahari]

Api putih sebesar rumah keluar dari dada Kael.

_LEDDAAKAN_

Sayap kiri istana hancur. Kuro tidak sempat teriak. Langsung jadi abu.

Semua orang terdiam 3 detik.

Kael jatuh berlutut. Darah keluar dari hidung, telinga, dan mulut.

"Kael!!" Luna berlari meningalkan lawannya.

*Di Dalam Ruang Tahta*

Kael pingsan 3 hari.

Ketika bangun, langit-langitnya putih. Tidak ada jendela. Tidak ada pintu.

Hanya ada tahta hitam di depannya.

Di tahta duduk seorang pria. Jubah hitam panjang. Topeng perak menutupi seluruh wajah.

Di tangan kanannya, pecahan ke-9 berdenyut seperti jantung.

"Selamat datang, anakku." Suara pria itu serak dan berat.

Kael langsung berdiri. Walaupun tubuhnya masih sakit. "Siapa kau?"

Pria itu tertawa pelan. Lalu mengangkat tangan. Melepas topengnya perlahan.

Rambut hitam. Mata merah. Bekas luka memanjang di pipi kiri.

Wajah yang sama persis dengan Kael. Tapi versi umur 35 tahun. Lebih dewasa. Lebih dingin.

Dunia Kael berhenti.

"Ayah?" Bisiknya. Suaranya pecah.

"Benar." Pria itu berdiri. "Namaku Azel. Archmage pertama. Dan ayah kandungmu."

Kael mundur 2 langkah. "Bohong. Ayahku mati 10 tahun lalu waktu menyelamatkan desa."

"Tidak." Azel berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat lantai bergetar. "Akulah yang membakar desa itu 10 tahun lalu. Akulah yang menusuk dadamu. Akulah yang menyegel ingatanmu."

_DUG_

Jantung Kael seperti ditusuk.

"Kenapa..." Air mata Kael jatuh. "Kenapa melakukan itu..."

"Karena dunia ini busuk, Kael." Kata Azel dingin. "Dewan 12 menguasai segalanya. Raja, guild, gereja. Semua korup. Aku mau membuat dunia baru. Dunia tanpa orang lemah. Dunia tanpa air mata."

Dia mengangkat pecahan ke-9. "Dengan 9 pecahan ini, aku bisa membangkitkan Menara Hitam. Dengan Menara Hitam, aku bisa menghapus 90% manusia dan memulai lagi."

Kael mengepal. "Kau gila. Itu pembantaian."

"Mungkin." Azel tersenyum. Senyum yang sama dengan Kael. "Tapi kau mirip aku. Berhenti pura-pura jadi pahlawan. Ikut aku. Kita selesaikan bersama."

_CLAP_

Sebuah layar kristal besar muncul di udara.

Di dalamnya: Luna, Serah, dan Grom diikat rantai hitam. Dikelilingi 7 Jenderal lainnya.

"Kalau kau tidak serahkan 8 pecahanmu sekarang..." Azel berbisik di telinga Kael. "Mereka mati. Sekarang juga."

Kael menatap layar. Menatap pecahan di dadanya. Menatap ayahnya.

Tangannya gemetar hebat.

[Notifikasi Sistem DARURAT]

[Pilihan Akhir Bab:

Serahkan 8 Pecahan \= Azel bangkitkan Menara. 5 Miliar orang mati. Luna dkk hidup.

Tolak \= 3 orang terdekatmu dieksekusi. Kau bisa selamatkan dunia.

Lawan \= Peluang menang 0.1%. Semua bisa mati.]

Hening. Hanya suara detak pecahan ke-9.

5 detik berlalu.

Kael mengangkat kepalanya. Air matanya sudah berhenti.

Dia menatap Azel. Lalu menatap layar.

"Aku..." Suaranya bergetar. "Aku pilih nomor 3."

_BOOOOM_

Api putih meledak dari seluruh tubuh Kael.

"Aku tidak akan jadi kau! Aku Kael! Archmage yang melindungi!!"

Dinding ruangan tahta hancur berkeping.

Pertarungan ayah vs anak dimulai.

*Penutup Bab*

Di luar, 7 Jenderal menoleh ke arah ledakan.

Di dalam, Azel tertawa. "Bagus! Ini baru anakku!"

Kael berdiri. 8 pecahan di dadanya bersinar terang menyilaukan.

"Aku bukan kau!" Raung Kael. "Aku akan menyelamatkan semua orang!"

Langit di atas Istana Bayangan menghitam. Petir menyambar.

[Notifikasi Sistem]

[Quest Update: Pertarungan Final vs Azel - Fase 1]

[Peringatan: Jika Kael mati, Menara Hitam akan bangkit otomatis]

[Skill Baru: Tekad Archmage - Kekuatan x10 saat HP sekutu di bawah 20%OHHH PANTES BANG 😭😭

Salju turun 3 hari 3 malam tanpa henti.

"Jarak ke Gunung Tengkorak: 7 hari lagi." Kata Serah sambil menunjuk peta yang sudah basah. "Kalau kita dipaksa bertarung di jalan, bisa 10 hari."

Kael menarik jubah Rank B nya rapat-rapat. 8 pecahan di dadanya berdenyut. Semakin dekat ke pecahan ke-9, semakin sakit.

"Guru." Bisik Kael. "Kalau aku ketemu ayahku... haruskah aku membunuhnya?"

Serah diam lama. "Aku tidak tahu. Tapi Archmage sejati tidak membunuh kalau masih ada cara lain."

Luna menggenggam tangan Kael. "Apapun keputusanmu, kita ikut."

Grom menepuk dada. "Grom lindungi Tuan."

*Hari ke-3: Lembah Jeritan*

Kabut tebal. Dari dalam kabut terdengar suara jeritan anak kecil.

"Jebakan." Kata Serah.

Tiba-tiba 300 monster keluar. Tubuhnya setengah manusia setengah bayangan.

Pertarungan 2 jam.

Kael yang paling depan. Dia tidak pakai sihir besar. Hanya tinju dilapis api.

"Kenapa tidak pakai ledakan?" Tanya Luna.

"Karena di belakang monster ada warga yang disandera." Jawab Kael.

Dia menyelamatkan 12 warga. 1 anak kecil memeluk kakinya. "Kakak penyihir... terima kasih..."

Kael tersenyum. "Panggil aku Kael."

[Notifikasi Sistem]

[Level: 20 -> 21]

[Prestasi: Penyelamat 12 Jiwa]

[Segel: 21% Terbuka]

*Hari ke-6: Jembatan Gantung*

Jembatan setinggi 500 meter. Di bawahnya jurang tanpa dasar.

Tengah jalan, jembatan dipotong.

"Jenderal Volt." Kata Serah. "Dia di atas."

Pria mekanik turun. "Archmage. Menyerahlah."

Pertarungan 30 menit.

Volt terlalu cepat. Petirnya membuat Kael tidak bisa bergerak.

Saat petir terakhir mau menghantam kepala Kael...

_BRAK_

Grom menahan dengan tubuhnya. "TUAN... LARI..."

"GROM!!" Kael meraung.

Amarah. Kesedihan. Semua jadi satu.

_BOOOOM_

Api putih menghancurkan setengah jembatan + Volt.

Kael menggendong Grom yang sekarat. "Bertahan! Jangan mati!"

Luna nangis sambil menyembuhkan. "Dia... dia selamat. Tapi butuh 1 minggu istirahat."

Kael menggendong Grom di punggungnya. "Maaf merepotkan."

*Hari ke-10: Kota Hantu*

Kota kosong. Semua orang dibekukan jadi patung es.

Di alun-alun ada tulisan darah: `SAMPAI BERTEMU DI ISTANA - AZEL`

Tangan Kael gemetar. "Ayah..."

Malamnya dia mimpi buruk. Mimpi ayahnya menusuk dia.

*Hari ke-14: Gunung Tengkorak*

Istana hitam melayang. 1000 meter. 4 rantai. Badai petir.

Di gerbang: Ragna, Vexa, Volt, Kuro.

"Selamat datang Archmage." Kata Ragna.

Perang 4 vs 3 dimulai. Grom jaga di belakang.

Pertarungan paling brutal.

Serah vs Ragna \= imbang.

Luna vs Vexa \= Luna keracunan.

Kael vs Kuro \= Kuro hampir menang.

Saat belati Kuro mau menusuk jantung Kael...

[Skill Bangkit: Tekad Pelindung]

_BOOM_

Kael membalik keadaan. Ledakan Jantung Matahari membunuh Kuro + menghancurkan sayap istana.

Kael muntah darah. Pingsan.

*Ruangan Tahta*

3 hari kemudian.

Kael bangun. Di depannya tahta hitam.

Pria bertopeng duduk. "Anakku."

Topeng dilepas.

Wajah Azel. Mirip Kael 100%.

"Ayah..."

"Akulah yang membakar desamu. Akulah yang menyegelmu. Akulah yang menciptakan Dewan 12."

"Kenapa?"

"Untuk dunia baru. Tanpa orang lemah."

Dia tunjuk layar: Luna, Serah, Grom disandera.

"Pilih. Serahkan 8 pecahan atau mereka mati."

Kael diam 10 detik.

Lalu dia berdiri. "Aku pilih... melawanmu."

_BOOOOM_

Api putih meledak.

[Notifikasi Sistem]

[Quest: Pertarungan Final vs Azel Dimulai]

[Level: 21 -> 22]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!