NovelToon NovelToon
Novel Mecha "GEAR TEARS"

Novel Mecha "GEAR TEARS"

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Kehidupan Tentara
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: KIRA

GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer

Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.

Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.

Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 "Janji Kecil"

Chapter 9

Pagi hari di markas Grey Wings Station 05 menyambut dengan sinar matahari yang menembus celah-celah jendela Garage. Di sudut Garage, Huah tampak melompat-lompat kecil dengan penuh semangat, membiarkan rambutnya bergerak seirama dengan energi tubuhnya yang meluap-luap. Sudah berminggu-minggu ia begadang bersama tim teknisi untuk mempersiapkan uji coba mode baru Phoenix, Neo Gear kesayangannya yang berbalut warna oranye menyala. Baginya, hari ini adalah pembuktian dari seluruh peluh yang ia tumpahkan.

Huah melirik jam digital di pergelangan tangannya, lalu dengan suara cemprengnya yang khas, ia berteriak ke arah koridor utama Garage. "Zhou! Jangan lupa ya! Jam empat sore di Garage! Tepat! Kurang satu menit pun awas kamu!" teriak Huah sambil mengacungkan kunci inggris berukuran sedang. Zhou, yang berjalan gontai dari arah kafetaria sambil memegang secangkir kopi panas, hanya menguap lebar. "Iya, iya. Aku datang. Tidak perlu berteriak seolah-olah markas kita sedang diserang Cataclysm, Huah," sahutnya malas.

"Beneran ya? Kamu harus berjanji!" Huah menyipitkan matanya penuh kecurigaan. Zhou memutar bola matanya, mencibir pelan. "Memangnya aku pernah berbohong padamu?" "Sering!" jawab Huah instan tanpa ragu sedikit pun. Zhou tersedak kopinya sendiri, lalu berdeham canggung sembari memalingkan wajah. "...Aku tarik pertanyaanku," gumamnya yang langsung disambut tawa cekikikan dari Huah.

Di dekat pintu masuk hangar, Lei dan Teiben yang baru saja kembali dari gudang logistik sambil membawa kotak perkakas berat menghentikan langkah mereka. Mereka memperhatikan interaksi kedua pilot muda itu dari kejauhan. "Mereka akur banget ya kalau lagi begitu. Seperti tidak punya beban hidup," ujar Lei sambil tersenyum tipis, meletakkan kotak perkakas di atas meja. Teiben, yang sedang membersihkan pelindung lengannya, menggelengkan kepala dengan ekspresi yang jauh lebih serius. "Justru yang modelan begitu, Lei... yang keliatannya selalu bercanda setiap hari. Kalau mereka sampai berantem karena suatu hal, biasanya efeknya bakal sangat mengerikan."

Sore hari tiba, dan atmosfer di dalam ruang simulator utama terasa begitu intens. Di dalam kapsul simulasi bertingkat, Zhou sedang melakukan latihan manuver udara tingkat tinggi bersama Lei. Zhou tengah terobsesi untuk meningkatkan kecepatan rotasi vertikal Feng Huang agar bisa mengimbangi pergerakan cepat musuh di udara. Karena ambisinya yang menggebu-gebu dan dorongan kompetitif dari Lei yang terus memberikan tekanan dalam simulasi, Zhou benar-benar tenggelam dalam kokpit virtualnya. Pikirannya terkunci pada angka-angka metrik dan grafik performa, hingga ia melupakan dunia nyata.

Sementara itu, waktu terus berjalan di Garage yang sunyi. Phoenix berdiri kokoh namun kesepian di tengah ruangan, memantulkan bayangan panjang Huah yang duduk termenung di atas kotak penyimpanan baterai cadangan. Tepat jam 4 sore, Huah masih bersenandung riang, sesekali berdiri untuk memeriksa ulang kestabilan kabel penembak tombak di bagian lengan Phoenix. Ia yakin Zhou hanya terlambat beberapa menit karena masalah sepele.

Namun, ketika jam digital menunjukkan pukul 5 sore, langkah kaki Huah mulai gelisah. Langkahnya mondar-mandir di sekitar kaki raksasa Phoenix, dan senandungnya telah lama mati. Ia berulang kali memeriksa komunikatornya, tetapi tidak ada satu pun pesan masuk dari Zhou. Ketika waktu menyentuh pukul 6 sore, suhu di dalam hangar mulai mendingin seiring dengan sistem ventilasi yang beralih ke mode malam. Profesor Jing, yang sedari tadi menemani Huah sembari menganalisis data di meja kerjanya, akhirnya menghela napas panjang dan merapikan datapad miliknya.

"Sepertinya Zhou tidak akan datang, Huah. Lebih baik kita sudahi hari ini dan lanjutkan besok. Tubuhmu juga butuh istirahat," ujar Profesor Jing dengan nada suara yang lembut, mencoba menenangkan. Huah terdiam sesaat, menundukkan kepalanya dalam-dalam sebelum akhirnya mendongak dan memaksakan sebuah senyuman kecil yang terlihat sangat getir. "Ah... mungkin dia sedang sibuk dengan latihan barunya, Prof. Tidak apa-apa, saya bisa membereskan ini sendiri," ucapnya pelan. Namun, binar kekecewaan yang mendalam di matanya tidak bisa disembunyikan dari Profesor Jing.

Malam harinya, lampu-lampu utama markas sudah mulai redup ketika kapsul simulator udara akhirnya terbuka. Zhou melompat keluar dengan tubuh bersimbah keringat, merasa puas karena berhasil menaikkan efisiensi terbang Feng Huang sebesar lima persen. Namun, kegembiraan itu lenyap seketika saat ia melirik jam dinding ruang kontrol. Wajah Zhou mendadak pucat pasi. Ia panik, menepuk dahinya keras-keras, dan tanpa memedulikan rasa lelahnya, ia langsung berlari sekencang mungkin membelah koridor stasiun menuju Garage.

Di dalam hangar Garage yang remang-remang, ia menemukan Huah yang sedang sendirian membereskan alat-alat mekanik ke dalam lemari besi. Gerakan tangan Huah sangat pelan, seolah setiap engsel yang ia pasang terasa begitu berat. "Huah! Maaf! Aku benar-benar minta maaf! Aku... aku benar-benar lupa waktu di ruang simulator tadi!" seru Zhou dengan napas yang masih terengah-engah di ambang pintu. Huah tidak mengehentikan aktivitasnya. Tanpa menoleh sedikit pun, ia hanya menyahut dengan nada datar, "Oh."

"Aku benar-benar nggak sengaja, Huah. Tadi Lei memberikan modul latihan baru, dan sistem simulasi Feng Huang terus menunjukkan eror pada sayap, jadi aku harus—" "Aku tahu," potong Huah, suaranya masih sedingin es. Zhou berjalan mendekat, merasa semakin tidak nyaman dengan respons singkat tersebut. "Jangan marah dong, Huah. Kita bisa menjadwalkan ulangnya besok pagi, kan?"

"Aku nggak marah," jawab Huah sembari menutup pintu lemari besi dengan dentangan yang sedikit terlalu keras. Kalimat klasik yang disadari Zhou sebagai sinyal bahaya terbesar. "Kalau kamu nggak marah, kenapa kamu beres-beres dengan wajah seperti itu dan mau langsung pulang?" tanya Zhou, mulai merasa frustrasi karena usahanya meminta maaf tidak ditanggapi dengan baik.

Huah menghentikan seluruh gerakannya. Bahunya gemetar, dan ketika ia berbalik untuk menghadap Zhou, matanya memancarkan kemarahan yang sudah meluap. "Karena aku sudah menunggu di sini selama dua jam sendirian, Zhou! Dua jam!" Zhou terdiam, seribu bahasa mendadak terkunci di tenggorokannya melihat air muka Huah yang memerah.

"Dulu... di Birdcage, kamu nggak pernah sekalipun lupa sama janji kita, sekecil apa pun itu," ucap Huah, suaranya mulai bergetar emosional. "Situasinya sudah berbeda, Huah! Aku kan lagi latihan keras demi tim kita juga! Aku latihan menerbangkan Feng Huang agar kita tidak menjadi beban di pertempuran berikutnya!" bela Zhou, egonya mulai tersulut karena merasa niat baiknya disalahartikan.

"Aku juga latihan di sini! Aku menyiapkan Phoenix agar bisa menyokongmu! Tapi aku melakukannya sendirian!" balas Huah dengan teriakan yang menggema di langit-langit hangar. Suasana mendadak hening dan mencekam, hanya menyisakan deru napas mereka berdua. Huah menarik napas dalam-dalam, menatap Zhou dengan pandangan yang mendadak terasa sangat asing, sebelum mengeluarkan kalimat yang menusuk tepat ke pusat ego Zhou.

"Ternyata sekarang... latihan dan terbang bersama Lei jauh lebih penting ya buat kamu, sampai-sampai janjimu padaku tidak ada artinya lagi." Zhou tersentak, matanya melebar karena emosi yang tersulut hebat. "Kok jadi nyalahin aku dan bawa-bawa Lei?! Ini urusan kita berdua, jangan sangkut pautkan dia!" bela Zhou. "Karena memang ini semua salahmu! Kamu yang mengabaikan janji ini!" balas Huah yang nadanya semakin tinggi. "Aku kan udah minta maaf berulang kali! Kamu mau aku harus bagaimana lagi?!" Zhou mulai frustasi."Kadang minta maaf aja itu nggak cukup kalau kamu nggak pernah mengerti rasanya diabaikan!" Huah membanting kunci inggris di tangannya ke atas meja kerja logam hingga menimbulkan suara hantaman yang memekakkan telinga, lalu berjalan cepat pergi meninggalkan Zhou yang termangu sendirian dalam kemarahan dan kebingungan.

Zhou duduk dengan gusar di tepi ranjangnya, memutar-mutar bola latihan anti-stres di tangannya dengan ritme yang cepat dan berantakan. Di sudut ruangan, Lei sedang membaca laporan taktis, sementara Teiben bersandar di dekat loker.

"Aku cuma lupa sekali. Cuma sekali karena keasyikan latihan. Kenapa dia harus semarah itu sampai membawa-bawa namamu, Lei? Benar-benar tidak masuk akal," gerutu Zhou, melemparkan bola tersebut ke dinding hingga memantul keras.

Lei menurunkan datapad-nya, menatap Zhou dengan tatapan tenang namun tegas. "Zhou, masalahnya itu bukan soal kamunya yang lupa atau soal aku." "Terus apa lagi kalau bukan itu?" tanya Zhou defensif. "Masalahnya adalah... dia menunggu. Menunggu di tempat sepi tanpa kepastian itu melelahkan, Zhou," jawab Lei pendek, membuat Zhou tertegun.

Teiben menambahkan dari sudut ruangan, suaranya berat dan penuh pengalaman. "Kalau seseorang rela meluangkan waktunya yang berharga dan memilih menunggu berjam-jam hanya untukmu, itu artinya hal yang mau dia tunjukkan atau lakukan bersamamu adalah sesuatu yang sangat, sangat penting bagi dirinya. Kamu tidak hanya menjatuhkan janjimu, tapi juga meremehkan antusiasmenya."

Zhou perlahan menundukkan kepalanya. Bola latihan yang memantul kembali ke dekat kakinya dibiarkan begitu saja, seiring dengan rasa bersalah yang mulai merayapi hatinya.

Di sisi lain markas, Huah duduk meringkuk di atas kasurnya, memeluk lututnya erat-erat sembari menyembunyikan wajahnya. Mei duduk di sisi ranjang sambil mengusap punggung Huah dengan lembut, sedangkan Elas berdiri di dekat jendela, memperhatikan mereka dengan tenang.

"Aku... aku benar-benar nggak marah pada Zhou. Aku hanya kesal sedikit," cicit Huah dari balik lututnya, mencoba menyangkal perasaannya sendiri. Mei tersenyum lembut, menggeleng pelan. "Kamu marah, Huah. Kelihatan jelas dari caramu meremas bantal itu. Dan tidak apa-apa untuk merasa marah."

"Aku cuma... merasa sangat kecewa," bisik Huah, suaranya meredam. Elas mendorong kacamata yang bertengger di hidungnya, memberikan analisis tajamnya. "Secara psikologis dan emosional, rasa kecewa itu berada di tingkatan yang jauh lebih parah dan sulit disembuhkan daripada kemarahan biasa. Kemarahan bisa meledak lalu hilang, tetapi kekecewaan mengikis fondasi kepercayaan."

Huah diam mematung mendengar ucapan Elas. Bahunya perlahan merosot saat ia berbisik dengan nada yang sangat rapuh, "Aku tidak bermaksud egois... Aku cuma pengen dia lihat hasil kerja kerasku dengan Phoenix. Aku ingin dia tahu kalau aku juga berkembang agar bisa terus terbang di sisinya..."

Sirene darurat station berbunyi dengan lengkingan merah memecah keheningan malam, membuat seluruh lampu koridor berkedip dalam ritme bahaya. Layar holo otomatis terbuka di setiap sudut ruangan, menampilkan visualisasi sensor seismik permukaan bawah tanah. Seekor Cataclysm Snake kelas Throne, monster ular raksasa dengan sisik sekeras baja dan dilapisi energi korosif—telah menembus perimeter pertahanan luar Station sebelah utara "Seluruh pilot, segera menuju kokpit! Ini bukan latihan!" suara Ace menggema. Tim 05 segera meluncur ke lapangan melalui jalur peluncuran cepat. Namun, ketegangan yang belum tuntas antara Zhou dan Huah terbawa hingga ke dalam tautan saraf kokpit Neo Gear mereka.

Di area lembah berbatu yang menjadi titik kemunculan musuh, Gear mendarat dengan dentuman keras. Eagle yang dipiloti Belial mengambil posisi komando di udara bersama Pigeon milik Mei, sementara Raven yang dikendalikan Shin mengamankan lini belakang bersama Elas dengan Cassowary. Di garis depan, Feng Huang dan Phoenix berdiri berdampingan, namun frekuensi komunikasi mereka terasa sangat kacau.

Cataclysm Snake raksasa itu muncul dari balik bebatuan, mendesis ngeri dengan taring yang meneteskan cairan asam. "Huah! Ambil posisi sayap kiri! Dia mau berbelok ke arah celah tebing!" perintah Zhou melalui radio. "Aku tahu apa yang harus kulakukan! Jangan terus-menerus berteriak seolah aku tidak becus membaca radar!" balas Huah dari dalam kokpit Phoenix, suaranya ketus.

"Bukan ke situ arah manuvermu! Kamu terlalu melebar, Huah! Jalur tembakmu salah!" teriak Zhou lagi saat melihat Phoenix melompat ke arah yang berbeda dari strateginya. "Jangan atur aku! Aku tahu cara mengendalikan Gear-ku sendiri tanpa bantuanmu!"

Akibat ego dan emosi yang saling bertabrakan, koordinasi taktis yang biasanya menjadi senjata terkuat mereka hancur total. Feng Huang yang terlalu terburu-buru maju ke depan gagal melakukan pergerakan umpan untuk mengalihkan perhatian musuh, sementara Phoenix yang dilanda keraguan terlambat menembakkan kabel tombak pengunci karena kehilangan momen berharga.

Melihat kekacauan di lini depan, Belial mencoba melakukan intervensi dengan Eagle. "Zhou, Huah! Mundur! Formasi kalian terbuka lebar!" teriak Belial sembari menembakkan rentetan rudal plasma dari Eagle untuk menghalau pergerakan ular raksasa itu. Mei dengan Pigeon-nya melesat cepat, menembakkan laser presisi tinggi ke arah mata sang monster untuk membutakannya sementara, sedangkan Shin dengan Raven menerkam dan menyeret untuk menekan musuh agar tidak meremukkan Feng Huang yang salah posisi.

Namun, celah koordinasi antara Zhou dan Huah sudah terlalu besar. Memanfaatkan momentum dari keraguan Phoenix, Cataclysm Snake raksasa itu meliuk dengan kecepatan luar biasa, menghempaskan ekornya hingga menciptakan badai debu, lalu melesat kembali ke bawah tanah dalam hitungan detik. Tanah bergetar hebat sebelum akhirnya kembali sunyi. Misi gagal.

Suasana di ruang briefing pasca-misi terasa sangat panas dan menyesakkan. Begitu pintu otomatis tertutup, amarah yang tertahan semenjak di lapangan akhirnya meledak sepenuhnya di depan anggota tim lainnya.

"Kalau dari awal kamu fokus dan dengerin aba-abaku untuk menutup jalur kiri, Cataclysm itu nggak bakal punya celah buat meloloskan diri ke bawah tanah!" seru Huah sambil menggebrak meja holo. "Kalau kamu tidak ragu-ragu saat menembak, kita udah bisa mengunci lehernya dari tadi, Huah! Kamu terlalu lambat memicu peluncur tombak!" balas Zhou tidak kalah sengit, melangkah maju hingga mereka saling berhadapan.

"Aku ragu karena sekarang aku nggak bisa percaya lagi sama kamu, Zhou! Bagaimana aku bisa yakin kamu akan melindungiku kalau fokusmu saja entah ada di mana?!" "Apa?! Cuma karena masalah sepele waktu sore itu kamu bawa-bawa sampai ke medan tempur dan mempertanyakan profesionalismeku sebagai pilot?!"

"Cukup." Satu kata bernada berat dan dingin dari Komandan Ace memecah pertengkaran tersebut. Suasana mendadak hening seketika, bahkan desah napas kemarahan Zhou dan Huah tertahan di udara. Ace berdiri dari kursi utamanya, menatap kedua pilot muda itu satu per satu dengan sorot mata yang tajam, dalam, namun sangat tenang.

"Di medan perang yang sesungguhnya, partner terbaik bukanlah orang yang selalu sepakat dalam segala hal atau orang yang tidak pernah bertengkar," ucap Ace, suaranya berwibawa memantul di dinding ruangan. Zhou dan Huah perlahan menundukkan kepala mereka, tidak berani menatap mata sang komandan. "Partner terbaik... adalah orang yang tetap memilih bertarung mati-matian untuk melindungi punggungmu di garis depan... bahkan saat hatinya sedang sangat marah dan benci kepadamu," lanjut Ace dengan nada rendah namun sarat akan penekanan.

Ace membalikkan badannya dan berjalan keluar dari ruang briefing tanpa sepatah kata lagi, meninggalkan kalimat terakhirnya yang menghantam keras dan meruntuhkan ego di dalam hati Zhou dan Huah.

Malam itu, Home kembali tenggelam dalam kesunyian yang mencekam. Di kamar masing-masing, kemarahan yang tadinya membakar hebat perlahan mulai surut, digantikan oleh rasa sesak dan kenangan masa lalu yang menolak untuk pergi.

Zhou duduk diam di meja belajarnya yang remang-remang, hanya diterangi lampu meja kecil. Tangannya memegang sebuah foto fisik usang dengan sudut-sudut yang mulai mengelupas—sebuah foto dari masa-masa kecil mereka saat masih berada di Birdcage dulu. Di dalam foto itu, Huah kecil sedang tersenyum lebar tanpa beban sambil merangkul pundak Zhou yang tampak canggung.

Teiben berjalan melintas di belakangnya, lalu menepuk bahu pelan sebelum bersandar di samping jendela. "Kalau memang kamu masih sekesal itu padanya, kenapa kamu dari tadi cuma diam mematung sambil melihat foto lama itu, Zhou?" tanya Teiben tenang.

Zhou tidak menjawab. Ia hanya mengusap permukaan foto tersebut dengan ibu jarinya, merasai setiap goresan masa lalu yang kini terasa begitu jauh.

Di sisi lain koridor, Huah duduk diam di tepi kasurnya dengan kaki terlipat. Di telapak tangannya yang terbuka, terbaring sebuah gantungan kunci logam berbentuk sayap burung yang sudah agak pudar warnanya, pemberian dari Zhou saat mereka berdua pertama kali lulus kualifikasi pilot pemula.

Mei yang baru saja membawakannya segelas susu hangat melihat pemandangan itu dengan tatapan penuh prihatin. "Kalau memang kamu begitu membencinya atas kejadian tadi, kenapa kamu masih menyimpan dan menggenggam barang itu dengan sangat baik, Huah?" tanya Mei lembut.

Huah memalingkan wajahnya ke arah jendela yang menampilkan kegelapan malam, matanya berkaca-kaca menahan air mata yang siap tumpah. Ia tidak bisa memberikan jawaban, karena hatinya tahu bahwa ia tidak pernah bisa benar-benar membenci Zhou.

Di Garage hangar utama yang sunyi dan kosong, Profesor Jing berdiri di atas jembatan, menatap lurus ke arah dada raksasa Neo Gear Feng Huang dan Phoenix yang terparkir berdampingan. Langkah kaki yang teratur terdengar mendekat, dan Komandan Ace muncul di sampingnya, ikut memperhatikan kedua robot raksasa tersebut.

"Tahukah kau, Ace... kenapa sejak awal cetak biru rancangan mereka dibuat, kedua Gear ini selalu ditempatkan bersama dalam satu skuadron?" tanya Profesor Jing tanpa mengalihkan pandangannya.

"Karena mereka dibuat untuk saling melengkapi? Feng Huang sebagai tombak udara, dan Phoenix sebagai jangkar darat?" tebak Ace.

"Lebih dari sekadar taktik operasional, Ace. Teknologi inti inti energi yang tertanam di dalam dada Feng Huang dan Phoenix berada jauh di atas standar Gear reguler kita. Bisa dikatakan... mereka adalah satu langkah tepat di bawah Exceed Gear. Mereka sangat istimewa, dirancang untuk beresonansi satu sama lain." Profesor Jing menghela napas panjang, menatap pantulan cahaya pada kokpit Phoenix yang retak akibat pertempuran sebelumnya.

"Tapi sehebat apa pun mesin raksasa yang kuciptakan dengan teknologi tercanggih ini, mereka tetaplah benda mati yang terbuat dari logam. Mereka membutuhkan dua pilot yang jiwanya terikat, yang mau saling percaya tanpa ada keraguan sedikit pun di dalam hati mereka. Tanpa kepercayaan mutlak itu, Feng Huang dan Phoenix tak lebih dari sekadar tumpukan besi tua yang mahal."

Prediksi Profesor Jing terbukti keesokan siangnya. Bumi kembali berguncang hebat ketika sensor seismik mendeteksi kemunculan mendadak Cataclysm Snake kelas Throne yang sama, kali ini muncul di area ngarai berbatu yang lebih sempit dengan agresivitas dan energi korosif yang berlipat ganda.

Seluruh Tim 05 langsung diterjunkan kembali ke medan tempur. Pertempuran kedua pecah dengan sangat sengit. "Raven, sterilisasikan daerah barat, pindai dataran barat!" perintah Sua dari kokpit Swan sembari melesat melakukan manuver di udara, menghindari semburan asam raksasa yang ditembakkan monster tersebut. Sparrow melepaskan rentetan meriam mesin yang menghantam sisik keras sang ular, menciptakan percikan api besar.

Mei dengan Pigeon menembakkan jaring energi magma dari udara untuk membatasi ruang gerak ekor monster, sementara Teiben mengendalikan Red Kite dengan presisi tinggi, menembakkan jangkar-jangkar berat ke tanah untuk menahan getaran tektonik yang dipicu oleh musuh.

Namun, koordinasi di garis depan antara Feng Huang dan Phoenix yang belum sepenuhnya pulih membuat celah fatal kembali terbuka. Phoenix yang mencoba mengambil posisi ofensif justru terisolasi dari sisa tim akibat runtuhnya dinding ngarai. Monster raksasa itu menyadari kelemahan tersebut dengan gerakan secepat kilat, ia melakukan serangan kejutan dari bawah tanah tepat di bawah kaki Phoenix. BUMM!!

Phoenix dihantam dengan kekuatan luar biasa hingga terlempar keras ke dinding batu tebing. Sistem hidrolik kakinya rusak, dan pelindung kokpit depannya retak parah akibat benturan. Monster ular itu mendesis menangang, mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, bersiap untuk menghujamkan taring beracunnya langsung untuk menghancurkan inti energi di dada Phoenix.

"Huah!!" Melihat Phoenix yang berada di ambang kehancuran total, waktu di dalam pandangan Zhou seolah-olah melambat secara drastis. Detak jantungnya bergemuruh hebat di dalam dadanya, memicu gelombang kejut pada tautan sarafnya yang mendadak menarik kesadarannya masuk ke dalam sebuah kilas balik ingatan masa kecil yang terkubur dalam di Birdcage.

14 Tahun lalu Huah kecil yang selalu hiperaktif, bermulut blak-blakan, dan memiliki energi meledak-ledak sering kali dijauhi oleh anak-anak lain di birdcage. Mereka menganggapnya terlalu aneh, berisik, dan mengganggu. Di sebuah sore yang mendung, Huah kecil duduk meringkuk menangis sendirian di bawah struktur perosotan besi yang sepi.

"Huah itu berisik banget, aku malas bermain dengannya." "Iya, dia anak yang aneh. Jangan ditemani, nanti kita ikut ketularan aneh," samar-samar suara bisikan anak-anak lain terngiang di telinganya.

Langkah kaki kecil terdengar mendekat. Zhou kecil berjalan menghampirinya, lalu tanpa memedulikan air muka Huah yang berantakan, ia duduk di sebelah Huah sambil menyodorkan sekotak susu cokelat. "Kenapa... kenapa kamu mau datang dan temenan sama aku? Semua orang bilang aku ini aneh dan berisik..." tanya Huah kecil sambil sesenggukan, mengusap air matanya dengan lengan baju.

Zhou kecil tersenyum lebar, menepuk dadanya sendiri. "Karena menurutku kamu itu sangat seru kalau diajak main! Tidak membosankan seperti anak-anak lain!" ucap Zhou Blak blakan. "Tapi... tapi kata mereka aku ini aneh..." Huah menunduk lagi. "Bagus dong!" seru Zhou kecil bersemangat. "Hah? Bagus?" Huah kecil mendongak bingung.

"Iya! Kalau kita sama-sama menjadi anak yang aneh, berarti kita berdua adalah pasangan yang sangat cocok untuk jadi sahabat!" Zhou kecil tersenyum sangat lebar, lalu mengulurkan tangan kecilnya yang terbuka tepat di depan wajah Huah.

"Aku berjanji padamu, Huah. Sampai kapan pun kita tumbuh besar nanti, aku bakal tetap menemani kamu. Aku bakal jadi sahabat terbaikmu yang selalu ada di sebelahmu, ke mana pun kamu pergi!" ucap Zhou kecil dengan mata yang berbinar penuh ketulusan.

kembali kemasa kini. Mata Zhou terbuka lebar di dalam kokpit Feng Huang, binar energinya mendadak berubah menjadi emas menyala. Tautan sarafnya bergetar dalam frekuensi yang belum pernah tercapai sebelumnya. "Aku benar-benar bodoh... Bagaimana bisa aku hampir melanggar janjiku sendiri hanya karena ego sialan ini?!" seru Zhou pada dirinya sendiri.

Dengan kecepatan penuh yang melampaui seluruh batas aman simulator dan spesifikasi resmi Grey Wings, Feng Huang melesat bagikan badai petir yang membelah ngarai. Menggunakan sepasang pedang ganda sisi miliknya, Feng Huang menghantam taring raksasa Cataclysm Snake dengan presisi mutlak, menahan hantaman mematikan monster itu tepat beberapa sentimeter di atas kaca kokpit Phoenix yang retak! Percikan energi murni meledak di antara benturan logam dan taring.

"Huah! Angkat kepalamu sekarang juga!" teriah Zhou melalui saluran komunikasi yang mendadak bersih dari gangguan. Huah terkejut, menatap layar monitornya yang berkedip menampilkan tanda vital Feng Huang yang berada di zona merah demi melindunginya. "Zhou...?" bisiknya. "Percaya padaku, Huah! Sekali ini saja, serahkan punggungmu padaku!" seru Zhou sembari menahan tekanan berat dari monster itu.

Huah menghapus sisa air mata di pipinya di dalam kokpit, dan senyuman khasnya yang penuh energi spiritual perlahan kembali menghiasi wajahnya. "Aku... selalu percaya padamu, Zhou!"

Dalam sekejap, tingkat sinkronisasi energi antara kedua Gear melonjak drastis hingga menyentuh angka ekstrem 120%. Pendaran cahaya berwarna oranye menyala dari Phoenix dan abu-abu keemasan dari Feng Huang menyatu, menciptakan aura energi berbentuk burung mitologi yang membubung tinggi.

Zhou memacu Feng Huang untuk melaju secara horizontal melewati ngarai, melepaskan tebasan-tebasan energi provokatif yang memotong kulit terluar Cataclysm Snake, memancing perhatian penuh dan amarah monster itu agar beralih sepenuhnya kepadanya.

Di saat monster ular raksasa itu mendongak tinggi untuk mengejar dan menerkam Feng Huang di udara, Phoenix memanfaatkan momentum tersebut untuk bangkit. Dari posisi darat, Huah memicu mode barunya dan menembakkan kabel tombak panjangnya dengan kecepatan penuh. Kabel logam bermuatan energi tinggi itu meluncur cepat, melilit leher raksasa Cataclysm Snake dengan sangat erat, mengunci pergerakannya secara mutlak di tanah.

Dengan posisi leher musuh yang tak bisa bergerak dan kepala mendongak lurus ke atas langit, Feng Huang yang berada di titik tertinggi tebing membalikkan posisinya. Zhou melakukan terjun bebas vertikal dari langit, mengarahkan dan memusatkan seluruh sisa energi inti mekaniknya pada ujung tajam pedang tersebut. STABB!!!

Pedang Feng Huang menusuk tepat di tengah-tengah core berwarna biru bercahaya yang ada di kepala atas Cataclysm Snake. Energi murni meledak dari titik tusukan, meretakkan seluruh tubuh monster itu sebelum akhirnya BOOM!!! Ular raksasa kelas Throne itu meledak hancur menjadi serpihan abu partikel yang lenyap ditiup angin ngarai.

Beberapa jam setelah pertempuran usai, Garage kembali ke dalam atmosfernya yang tenang. Phoenix dan Feng Huang telah terparkir rapi di dudukan perawatan mereka, dengan tim mekanik yang mulai bekerja melakukan perbaikan minor. Zhou berdiri diam di dekat meja kerja logam, menatap lantai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaketnya.

Mendengar langkah kaki kecil yang familier, Zhou menarik napas panjang dan berbalik, mendapati Huah yang berjalan mendekat dengan handuk kecil di lehernya. "Huah... Maafkan aku," ucap Zhou, suaranya terdengar sangat tulus tanpa ada lagi sisa ego di dalamnya. "Aku benar-benar melupakan janjiku sore itu."

Huah menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Zhou, terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. "Dan yang lebih buruk... aku sempat melupakan apa artinya menjadi sahabat terbaikmu yang seharusnya selalu ada untukmu," lanjut Zhou, menatap langsung ke mata Huah dengan penyesalan yang mendalam.

Mendengar kalimat itu, pertahanan Huah runtuh seketika. Matanya berkaca-kaca, dan tanpa peringatan apa pun, ia langsung melompat maju dan memeluk Zhou dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada jaket Zhou.

"Bodoh! Zhou bodoh!" tangis Huah pecah, suaranya teredam namun terdengar sangat emosional. "Aku kira... aku kira kamu sudah berubah setelah kita jadi pilot resmi! Aku kira kamu udah nggak mau lagi jadi temanku!"

Zhou sempat tersentak kaget dan panik, tangannya menggantung di udara sebelum akhirnya ia tersenyum tipis dan membalas pelukan itu, menepuk punggung Huah dengan lembut. "Mana mungkin hal seperti itu terjadi, Huah. Kita sudah berjanji, kan?"

Huah melepaskan pelukannya perlahan, menyeka air matanya dengan kasar lalu tertawa kecil di sela-sela tangisnya, sebuah pemandangan emosional yang khas dari dirinya. "Kalau begitu... berjanji padaku, jangan pernah melupakannya lagi! Sering-seringlah melihat hasil kerja kerasku!"

"Iya, aku janji. Tidak akan lupa lagi," balas Zhou sambil tersenyum hangat, mengacak-acak rambut Huah pelan. Di atas meja kerja di samping mereka, lembaran foto fisik usang dari masa kecil mereka di Birdcage tergelak rapi di bawah sorotan lampu hangar, menampilkan dua anak kecil yang saling merangkul dengan janji yang kini telah kembali hidup, mengunci bab pengisi ini dengan ikatan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

1
Noir
Gokill
KIRA: makasihh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!