NovelToon NovelToon
Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: BumbleBee

Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan Pollux

"Terima kasih, Meg." ucap Paula tulus. Dari restoran, Megan mengantarkannya langsung pulang ke rumah. Meminta Paula agar beristirahat.

"Berhenti mengucapkan terima kasih, kau membuatku seperti orang lain," Megan memasang wajah cemberut. Paula tersenyum.

"Tapi sungguh aku beruntung mempunyai sahabat sepertimu," Paula mengusap lembut tangan Megan. "Tetaplah di sini. Jangan pergi lagi. Apa yang kau cari di negara lain, saat negaramu bisa memberikanmu segalanya,"

"Pria," jawab Megan dengan tatapan genit.

"Hais, kau terlihat sangat berpengalaman. Apa yang membedakan pria di sana dengan di sini?"

"Pria di luar sana lebih peka dari pria lokal yang ada di sini," jawab Megan asal. Tapi Paula tahu ke mana arah kalimat itu tertuju.

"Istirahatlah. Aku akan menghubungimu nanti," Megan segera berdiri.

"Kita terlihat seperti sepasang kekasih," Paula bergidik ngeri mendengar ucapannya sendiri, lalu keduanya kompak tertawa.

"Aku tidak keberatan sama sekali mempunyai kekasih seorang wanita jika itu dirimu," Megan menimpali dengan tidak kalah menjijikkan. "Haruskah aku menciummu sebelum aku pergi?"

"Oh, Meg! Hentikan, itu menjijikkan!"

"Kau yang memulai," sahut Megan. "Aku harus pergi, aku ada pertemuan," Paula mengangguk sembari melayangkan senyum manis.

"Perhatikan jalanmu."

Megan yang sudah di ambang pintu berbalik, "Tentu saja. Tidur lah." Ia kembali menghadap ke depan bertepatan dengan pintu yang di dorong dari luar, membuat wajahnya terbentur dengan daun pintu.

"Astaga, kau tidak apa-apa," pekik Paula yang melihat Megan meringis memegang hidung dan jidatnya.

"Maaf," suara bariton itu membuat Megan menoleh ke balik pintu. Pollux berdiri di sana dengan pakaian santai. Wajah itu masih terlihat datar, minim ekspresi.

Megan mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan penglihatannya. Saat terakhir kali ia melihat Pollux, tubuh pria itu penuh perban, dan sekarang perban itu sudah tidak melekat lagi di sana, wajah memar Pollux juga sudah tidak terlihat. Untuk sesaat Megan mengira itu adalah Pax. Tapi melihat ekspresinya, ia bisa mengetahuinya dengan mudah. Ya, banyak yang terkecoh, tidak bisa membedakan Pollux dan Pax, tapi Megan dengan mudah bisa membedakannya.

Pollux menatap wanita yang ada di hadapannya tanpa minat, "Menyingkirlah, kau menghalangi jalanku," Megan meneguk ludahnya, ia pun segera beringsut, memberi jalan pada yang mulia Pollux.

"Lux!" tegur Paula dengan tatapan penuh peringatan.

"Aku baru dari rumah sakit melepas perbanku, jadi kuputuskan untuk berkunjung kemari. Tidur siang bukanlah kebiasaanmu, kau sakit?" Pollux memegang kening adiknya. "Normal."

"Aku baik-baik saja," Paula menepis tangan Pollux.

"Hm, Paula. Aku pergi," pamit Megan yang masih berdiri di sana. Paula menatapnya dari balik tubuh besar Pollux, sedangkan pria itu tidak menoleh sama sekali.

"Ya, segera hubungi aku." Paula melembaikan sebelah tangannya.

"Kau keterlaluan, kau..."

"Kau menangis?" Pollux menyela dengan segera.

"Tidak." Paula memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Pollux. Pollux memang pria yang kurang peka terhadap sekitarnya. Tapi jika berhubungan dengan Paula, ia lebih peka dibandingkan Pax.

"Kau tidak bisa membohongiku."

"Aku tidak ingin bercerita," rengek Paula yang langsung memeluk Pollux.

"Baiklah. Aku tidak melihat Mom dan Dad, ke mana pasangan yang selalu dimabuk cinta itu?" Pollux pun segera mengganti topik.

"Mungkin mereka pergi, makan siang di luar," sahut Paula seadanya.

Kedua orang tuanya memang sering menghabiskan waktu tanpa pemberitahuan. Dan bahkan berhari-hari tidak pulang. Bisa saja mereka menginap di hotel, atau bahkan mereka sudah mendarat di negara lain. Ck, Lucas-Daddy mereka sungguh luar biasa.

"Aku ingin pria seperti Daddy," gumam Paula sembari melepas pelukan mereka.

"Aku bisa mengenalkannya padamu. Kolegaku banyak yang sudah berumur."

Paula mendelik, memukul lengan Lux dengan kesal. "Bukan pria dengan usia yang sudah bau tanah, Lux! Pria yang penuh cinta, hingga tak ada waktu untuk menoleh kepada wanita lain."

Lux tertawa, ia memang sengaja untuk menggoda adiknya itu. "Aku tahu. Kau pasti mendapatkanya. Kau tinggal membuka hatimu," Lux mengusap kepala Paula penuh sayang.

"Aku harap kau juga mendapatkan pasangan yang tulus mencintaimu, Kakak." pungkas Paula. Lux tergelak mendengar Paula menyebutnya kakak. Itu terjadi jika suasana hati adiknya itu sedang tidak baik.

"Sepertinya harimu memang sedang tidak menyenangkan."

"Hm, begitu lah," aku Paula dengan tarikan napas panjang.

Sementara di luar pintu kamar, Megan masih berdiri di sana. Menatap punggung Pollux. "Dia tidak mengenaliku," gumamnya sebelum benar-benar pergi melangkahkan kakinya meninggalkan rumah keluarga Willson.

"Di mana Pax? aku tadi mampir ke kantornya dan tidak menemukannya di sana?" tanya Pollux.

"Entahlah. Dia juga tidak pernah berkunjung kemari. Kau sudah pergi ke rumahnya?" tanya Paula sembari mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Pax. "Nomornya juga tidak bisa dihubungi,"

"Lupakan, sebaiknya kau istirahat," Lux segera berdiri.

"Jika Mom dan Daddy menghilang, mereka pasti sedang berbulan madu untuk kesekian kalinya. Tapi jika Pax menghilang, ia akan muncul dengan wujud yang mengerikan penuh luka. Aku bertanya-tanya apa yang ia lakukan di luar sana."

"Tentu saja mencari keributan. Kau mengenal saudaramu itu, Pax pengacau. Pengacau rumah tangga orang lain," Pollux dan Paula kompak tertawa. Ingatan mereka melayang pada kejadian lucu beberapa bulan lalu.

Pax membuat Pollux kehilangan tender dan mengalami kerugian dalam jumlah besar. Pria pengacau itu mengencani istri dari partner bisnisnya. Keduanya ditemukan di dalam sebuah kamar hotel. Pax benar-benar tidak pandang bulu dalam mencari mangsa.

Setelah tertangkap basah, bukannya meminta maaf. Pax justru dengan lempengnya mengatakan bahwa ia tidak mengetahui wanita itu itu sudah bersuami. Dan itu memang benar adanya. Kolega bisnis Pollux, berusia 50 tahun saat itu, sedangkan wanita itu baru memasuki usia 20 tahun. Ck! Wanita itu haus belaian, dan Pax si casanova dengan senang hati memberikan apa yang dibutuhkan wanita itu.

"Aku penasaran wanita seperti apa yang akan membuatnya takluk," tukas Paula.

"Entahlah. Wanita memang tidak bisa dipercaya."

"Apa kau lupa adikmu juga seorang perempuan?" Paula mendelik ke arahnya. Ia tidak ingin hanya karena pengalaman yang kurang baik bersama Maria, Lux menutup pintu hatinya. Ayolah, itu sungguh tidak adil! Banyak wanita di luar sana yang menggilai wajah tampan kedua saudaranya itu, dan tentu saja Paula tidak ingin ketampanan yang menjadi berkat Tuhan itu terbuang sia-sia. Dan yang paling penting dari semua itu, Lux berhak mendapatkan yang terbaik.

"Kau tentu saja berbeda dari wanita di luar sana. Untuk itu buka lah hatimu, berikan sedikit ruang untuk orang lain. Kau berhak mendapat yang terbaik," Lux mencubit hidungnya. "Walau aku yakin dia pasti mempunyai alasan untuk semua ini,"

Tanpa harus bertanya, Paula tahu siapa yang dimaksud dengan dia oleh saudaranya itu. Sudah dikatakan tidak ada yang bisa disembunyikan diantara mereka, selama itu menyangkut perasaan.

1
lyani
jodoh tapi tak bersatu
lyani
ciyeeeee yg perhatian
lyani
🤣
lyani
iy bnr
iis nuriyah
lanjut kak seru🥰🥰🥰
BumbleBee: siap kakak😍
total 1 replies
lyani
wihhhh
lyani
🤣
lyani
kamu jahat Alena..kesian ntu megan😄
lyani
sampai release lagi pun saya masih penasaran....berusaha mengingat kejadian yg menimpa ayah Alena bang iky
lyani
tujuan jelas utk menjauhkan Luna dari paula
lyani
hentikan mulut beracunmu Luna
lyani
kagak ada yg sanggup
lyani
bodyguard gratisan
lyani
🤣
lyani
CK
lyani
kabur dari tugas y🤣
lyani
jangan tutupi rasamu Ar
lyani
Pau yg malang
lyani
fokus Meg... jadilah yg terbaik dari versi dirimu sendiri
lyani
ada yg nukar suratnya nggak si?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!