Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sembari menunggu Rayden keluar, Queen membuka peramban di ponselnya. Ia mengetikkan dua kata kunci: Ceo Percy Group.
Hanya butuh 0,3 detik bagi mesin pencari untuk memunculkan ribuan hasil. Queen menggeser layarnya dengan cepat.
Nial Percy (32). CEO Percy Group. Pengusaha Muda Paling Berpengaruh Tahun Ini.
Dikenal sebagai "The Ice King" di dunia korporat karena metodenya yang tanpa kompromi dan kehidupan pribadinya yang tertutup rapat. Kekayaan bersih diperkirakan mencapai miliaran dolar.
Queen menekan bagian gambar. Sederet foto Nial dalam balutan jas custom-made muncul. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas, tulang pipi tinggi, dan mata yang menatap kamera dengan intensitas yang hampir bisa dirasakan melalui layar.
Pria itu tampan, tapi dengan cara yang berbahaya—seperti predator yang sedang mengamati mangsanya.
"Jadi, ini pria yang butuh bantuan asistennya hanya untuk mencari teman tidur?" gumam Queen sinis.
Drrtt!
Ponsel di tangannya bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar: “Mom”.
Queen menarik napas kecil sebelum menjawab.
“Halo, Mom.”
Suara wanita paruh baya di ujung sana terdengar lembut—namun cukup tegas.
"Queen, kau di mana sekarang?"
“Masih di luar.”
“Jangan pulang terlalu malam.”
Queen tidak menjawab langsung. Ia sudah tahu arah pembicaraan ini akan ke mana.
Benar saja.
“Kau ingat besok malam ada makan malam keluarga?”
Queen memejamkan mata sebentar. “Yang mana?”
“Jangan pura-pura lupa.”
Nada suara ibunya berubah sedikit lebih serius. “Makan malam dengan keluarga Tuan Armand.”
Queen menahan napas. Nama itu lagi.
Seorang pengusaha kaya raya yang usianya hampir dua puluh tahun lebih tua darinya. Pria yang ingin dijadikan suaminya.
“Mom…”
“Ini bukan hal yang bisa kau hindari terus,” potong ibunya, tegas. “Keluarga kita sudah membicarakan ini sejak lama.”
Queen menatap kosong layar ponselnya. “Aku bahkan belum melihatnya sama sekali.”
“Justru itu tujuan makan malam besok.”
Queen menghela napas pelan. Ia memandangi foto Nial Percy yang masih terbuka di layar ponselnya.
Seorang CEO muda, dingin, dominan. Sudah pasti berbeda jauh dari pria yang ingin dijodohkan dengannya.
“Queen?” suara ibunya terdengar lagi.
“Iya, Mom.”
“Datanglah besok malam. Jangan mempermalukan keluarga.”
Panggilan itu berakhir beberapa detik kemudian.
Queen tetap berdiri di tempatnya, menatap layar ponselnya dalam diam. Rasa kesal perlahan naik di dadanya.
Perjodohan.
Rencana keluarga.
Pria yang bahkan tidak ia inginkan.
Ia terkekeh pelan pada dirinya sendiri. “Pantas saja aku ingin melakukan hal gila malam ini.”
Ia melirik lagi foto Nial Percy di layar. Tatapan dingin pria itu terlihat menantang bahkan dari gambar.
Queen segera mengunci layar ponselnya. Matanya kembali tenang.
Jika ia memang harus menghadapi kehidupan yang sudah diatur orang lain…
Malam ini setidaknya ia ingin melakukan sesuatu atas keputusannya sendiri.
Tepat saat itu, pintu ruang kerja terbuka kembali.
Rayden muncul di ambang pintu.
“Silakan masuk, Nona. Bos saya ingin menemui Anda.”
Queen memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu ia tersenyum tipis. “Baik.”
***
Queen melangkah masuk ke ruang kerja itu dengan tenang. Begitu pintu tertutup di belakangnya, suasana ruangan langsung terasa berbeda.
Lampu hangat dari langit - langit memantul di permukaan meja marmer hitam yang besar di tengah ruangan. Dan di balik meja itu—
Nial Percy berdiri.
Bukan duduk seperti sebelumnya. Seolah ia sengaja ingin melihat wanita yang baru saja masuk itu dengan lebih jelas.
Tatapan mereka langsung bertemu. Untuk sesaat, Queen merasa sedikit aneh.
Baru beberapa menit yang lalu ia melihat foto pria ini di layar ponselnya, dan sekarang ia berdiri tepat di depannya. Harus ia akui … pria ini bahkan terlihat lebih mengintimidasi secara langsung.
Di sisi lain, Nial menatap Queen dari ujung kepala hingga kaki, tanpa berusaha menyembunyikan penilaiannya.
Gaun hitam bertali tipis yang dikenakan Queen membingkai tubuhnya dengan elegan. Rambut panjangnya jatuh lembut di bahunya, sementara ekspresinya tetap tenang—seolah ia benar-benar tidak merasa terintimidasi berada di ruangan seorang CEO yang terkenal dingin itu.
Beberapa detik berlalu tanpa kata.
Rayden berdiri di samping pintu, memperhatikan keduanya dengan hati - hati.
Akhirnya Nial berbicara.
“Jadi kau wanita yang tadi dimaksud Rayden.”
Queen sedikit mengangkat alis. “Dan Anda Nial Percy.” Nada suaranya terdengar santai. Seolah ia tidak sedang berbicara dengan salah satu pria paling berpengaruh di kota ini.
Sudut bibir Nial bergerak sedikit. Bukan senyum. Lebih seperti ketertarikan kecil.
Queen menyilangkan lengannya santai. “Aku disini untuk menjawab permintaan Anda.”
Tatapan Nial menjadi lebih tajam. “Aku tidak pernah meminta wanita datang sendiri ke kantorku.”
“Benarkah?” Queen memiringkan kepalanya sedikit. “Tapi Anda memang sedang mencarinya.”
Rayden menahan napas kecil di belakang mereka.
Nial melangkah keluar dari balik meja.
Satu langkah.
Dua langkah.
Hingga akhirnya ia berhenti hanya beberapa langkah dari Queen.
Perbedaan tinggi mereka cukup terasa sekarang.
Nial lebih tinggi hampir satu kepala. Dan aura dominan pria itu terasa jauh lebih kuat dari jarak sedekat ini.
“Rayden bilang kau penasaran, dan ingin mencoba,” katanya pelan.
“Ya.”
“Penasaran tentang apa?”
Queen menatapnya tanpa ragu. “Pria seperti apa yang harus menyuruh asistennya mencarikan teman tidur untuknya.”
“Hey!” Rayden tersentak.
Selama tujuh tahun bekerja untuk Nial Percy, ia telah menghadapi berbagai macam orang—mulai dari kolega bisnis yang licik hingga wanita yang mencoba merayu bosnya—tapi belum pernah ada yang seberani ini. Kalimat Queen bukan sekadar pertanyaan; itu adalah sebuah ejekan terang-terangan yang menghantam harga diri Nial.
“Jaga ucapan Anda, Nona! Anda tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Lancang sekali—”
“Rayden.”
Suara Nial tidak keras, namun sanggup memotong kalimat Asistennya itu seketika.
“Biarkan dia!” ucap Nial pelan, matanya tidak sekalipun beralih dari Queen. “Aku lebih suka kejujuran yang tajam daripada kepura-puraan yang manis.”
Queen hanya diam. Sementara Nial kembali ke meja kerjanya, menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya. Tatapannya yang sedingin es kini terkunci pada Queen, seolah sedang membedah isi kepala wanita itu.
“Apa alasan sebenarnya?” tanya Nial tiba-tiba.
Queen mengerutkan alis kecil. “Alasan?”
“Kau tidak terlihat seperti wanita yang melakukan hal impulsif tanpa alasan.”
Queen terdiam sebentar. Ia teringat panggilan telepon ibunya beberapa menit lalu.
Perjodohan.
Makan malam keluarga.
Ia tersenyum tipis. “Mungkin karena aku sedang kesal.”
“Kesal? pada siapa?”
“Itu ... privasi.”
Jawaban itu membuat Rayden mengangkat alis.
Namun Nial menatap Queen lebih dalam.
“Kesal sampai menawarkan diri kepada pria asing?”
Queen menatapnya lurus. “Anda bukan pria asing lagi. Aku sudah mencari tahu tentang Anda di internet.”
"Oh ya ampun." Rayden hampir tersedak.
“Dan?” tanya Nial.
Queen mengangkat bahu. “Anda terkenal.”
“Semua orang tahu itu.”
“Dan juga cukup tampan untuk membuat keputusan gilaku malam ini tidak terlalu buruk.”
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Rayden benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Namun Nial justru tertawa kecil. Tawa yang sangat jarang terdengar darinya.
“Rayden.”
“Ya, Tuan.”
“Pulanglah.”
Rayden berkedip. “Tuan?”
“Aku tidak membutuhkanmu lagi malam ini.”
Rayden menatap Queen sebentar, lalu kembali ke Nial. Ia mengerti maksud perintah itu.
“Baik, Tuan.”
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰