Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pukul tiga pagi, langit masih pekat diselimuti kabut tipis.
Arka memacu motornya menuju pasar subuh dengan semangat yang meledak-ledak di dadanya.
Hari ini adalah hari besar, ia akan meninjau calon lokasi usaha di mal dan berencana memamerkan Sop Buntut Rempah Magis kepada Clara.
Sesampainya di sana, suasana pasar terasa lebih dingin dari biasanya, namun ia tidak terlalu memikirkannya.
Ia langsung memarkir motornya di depan kios langganannya, kios Bi Narti.
"Pagi Bi Narti, hari ini aku butuh persediaan sayuran ekstra banyak karena mau eksperimen menu baru." Sapa Arka dengan senyum cerah.
Bi Narti yang sedang menyusun kubis tiba-tiba terdiam, ia bahkan tidak berani menatap mata Arka.
"Maaf Arka, hari ini aku tidak bisa menjual sayuran kepadamu." Jawab Bi Narti dengan suara pelan dan tangan yang gemetar.
Arka tertawa kecil, mengira itu adalah lelucon pagi yang garing.
"Bibi jangan bercanda, kan kita sudah langganan, atau apa harganya naik?" Arka mengeluarkan dompetnya dengan santai.
"Bukan masalah harga, Arka!" Bi Narti akhirnya menatap Arka dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ada orang suruhan dari restoran seberang jalan yang melarang semua pedagang di sini untuk menjual apa pun kepadamu."
"Kalau mereka ketahuan menjual barang ke kamu, mereka akan dibayar mahal, tapi kalau mereka melanggar, kios mereka akan dibakar."
Arka tertegun, senyum di wajahnya lenyap seketika.
Ia berjalan ke kios daging milik Mang Ujang, berharap pedagang lain tidak semudah itu diintimidasi.
Namun hasilnya sama saja, Mang Ujang malah sengaja membalikkan papan tanda 'Stok Habis' tepat di depan hidung Arka.
"Sudah sana pergi, Arka! Jangan bawa masalah ke tempatku!" Bentak Mang Ujang dengan wajah ketakutan.
Arka berkeliling ke seluruh sudut pasar, namun satu per satu pedagang menutup kiosnya atau berpaling saat ia mendekat.
Pesan intimidasi dari pihak Kevin jelas sangat efektif dan mencakup seluruh area pasar induk.
"Licik sekali kau Kevin, kau pikir kau bisa mematikan usahaku hanya dengan cara kuno seperti ini?" Arka mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Jika ia tidak mendapatkan bahan baku, ia tidak bisa memasak, dan jika ia tidak memasak, warungnya akan mati.
[Ding!]
[Terdeteksi adanya upaya boikot rantai pasokan bahan baku oleh pihak eksternal.]
[Host dalam keadaan krisis bahan baku.]
"Sistem, apa ada cara untuk mendapatkan bahan baku tanpa harus bergantung pada pasar yang sudah dikuasai mereka?" Arka bertanya dengan nada penuh desakan.
[Host dapat mengakses fitur 'Toko Sistem' untuk membeli bahan makanan tingkat dewa yang tidak tersedia di pasar lokal.]
Layar biru muncul menampilkan daftar bahan makanan yang sangat premium namun harganya sedikit lebih mahal dari harga pasar.
[Daging Buntut Sapi Kualitas Premium: Rp. 100.000 per kg.]
[Sayuran Organik Segar: Rp. 50.000 per paket.]
"Harganya memang lebih mahal, tapi kualitasnya pasti jauh lebih baik daripada bahan yang dijual di pasar." Arka segera melakukan pemesanan melalui sistem.
[Pembelian berhasil! Bahan baku telah dikirimkan ke ruang penyimpanan rahasia di dalam gerobak Host.]
Arka tersenyum lega, Kevin tidak tahu bahwa Arka memiliki akses ke pemasok yang tidak akan pernah bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Ia kembali ke warungnya dan melihat bahan-bahan itu sudah tersusun rapi di dalam laci pendingin gerobaknya yang kini berteknologi canggih.
Setelah menyiapkan semua bahan untuk Sop Buntut, Arka pun bersiap menuju Grand Malika City.
Pukul sepuluh pagi, ia sudah berdiri di lobi utama mal mewah yang interiornya sangat megah dan berlantai marmer.
Seorang wanita muda berpenampilan profesional dengan setelan blazer hitam menghampirinya.
"Anda Arka ya? Saya asisten Nona Clara, silakan ikut saya ke lantai atas." Ucap wanita itu ramah.
Mereka naik lift menuju lantai tiga, di mana area pujasera eksklusif sedang dalam tahap penyelesaian akhir.
Tempatnya sangat luas, bersih, dan memiliki pemandangan langsung ke arah taman kota yang indah.
"Nona Clara sudah menunggu di sana, silakan." Asisten itu menunjuk ke sebuah meja bundar di tengah area pujasera.
Clara duduk di sana sambil menatap dokumen di tabletnya, ia terlihat sangat cantik dalam balutan gaun santai.
"Selamat datang Arka, silakan duduk." Clara menyambutnya dengan ramah.
"Terima kasih Nona Clara, tempat ini sangat luar biasa, sangat jauh berbeda dengan warung tendaku." Arka mengagumi arsitektur tempat itu.
"Aku punya tawaran khusus untukmu." Clara menatap Arka dengan serius.
"Karena aku yakin masakanmu akan menjadi magnet utama pujasera ini, aku akan memberikan potongan harga sewa untuk bulan pertama."
"Tapi dengan satu syarat, kau harus memberikan aku hak eksklusif untuk mencoba semua menu baru yang kau ciptakan sebelum orang lain."
Arka tertawa mendengar syarat yang sangat menguntungkan itu.
"Tentu saja, itu adalah kehormatan bagi saya untuk melayani lidah seorang CEO seperti Anda."
"Bagus, sekarang tunjukkan padaku apa yang kau bawa di dalam tas pendingin itu." Clara menunjuk tas yang dibawa Arka.
Arka mengeluarkan panci kecil berisi Sop Buntut Rempah Magis yang ia masak tadi pagi di warung.
Saat ia membuka tutup pancinya, aroma kuah kaldu yang jernih dengan perpaduan rempah yang memikat langsung memenuhi area pujasera.
Clara tertegun, ia tidak menyangka Arka akan membawa masakan yang baunya jauh lebih harum daripada restoran manapun.
Ia segera mencicipi sesendok kuah sop itu, dan matanya langsung terpejam menikmati kelezatannya.
"Ini... rasa ini mengingatkanku pada masa kecilku saat nenekku masih memasak untukku." Clara berbisik dengan mata yang masih terpejam.
"Sop buntut ini sangat lembut, bumbunya meresap hingga ke serat daging yang paling dalam."
"Arka, kau bukan hanya sekadar pedagang, kau adalah seorang seniman kuliner." Clara menatap Arka dengan tatapan yang mulai berubah.
Di sisi lain, Kevin yang sedang memantau dari kejauhan melalui mata-mata yang disewanya, merasa sangat geram.
Ia melihat Clara dan Arka sedang berbincang akrab di area pujasera mal paling bergengsi di kota itu.
"Sial, mereka bahkan sudah menjalin kerja sama secara resmi!" Kevin membanting ponselnya hingga layarnya retak.
"Jangan pikir kau bisa lolos semudah itu, Arka." Kevin mengambil ponsel cadangannya dan menghubungi seseorang.
"Lakukan rencana B, hancurkan reputasi koki dari mal itu sebelum dia sempat membuka kios pertamanya!"
Rencana licik Kevin semakin menggila, namun Arka kini telah memiliki pelindung dan kekuatan sistem yang akan membuatnya semakin tidak terkalahkan.