Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Sang Pangeran
Kabar bahwa jenis kelamin calon pangeran kecil Elvano telah terungkap sebagai laki-laki membawa gelombang kesibukan baru di penthouse lantai lima puluh lima. Jika sebelumnya Devan Elvano protektif terhadap kesehatan Mentari, kini tingkat keposesifan dan detailitas sang kaisar bisnis merambah ke segala lini persiapan menyambut kelahiran Arka Elvano.
Pagi itu, salah satu sayap kamar di penthouse yang tadinya merupakan ruang perpustakaan pribadi seluas seratus meter persegi telah dikosongkan total. Tiga tim desainer interior ternama dari Italia berdiri rapi mengelilingi meja panjang, membentangkan cetak biru dan sampel bahan di hadapan Devan dan Mentari.
Mentari duduk di sofa empuk seraya mengelus perutnya yang kian membuncit di usia kehamilan enam bulan. Ia hanya bisa menggelengkan kepala melihat skala renovasi yang disiapkan suaminya.
"Devan... ini kamar bayi, bukan pembangunan gedung kantor cabang baru," bisik Mentari dengan nada gemas seraya menepuk pelan lengan kemeja Devan.
Devan yang sedang memeriksa sampel kayu oak tanpa bahan kimia berbahaya menoleh pada istrinya. Tatapan elangnya seketika melunak, diiringi senyuman tipis yang amat memikat.
"Ini bukan sekadar kamar bayi, Mentari," sahut Devan santai, mengusap punggung tangan Mentari dengan lembut. "Ini adalah ruang tinggal pertama untuk Arka Elvano. Semuanya harus memiliki standar keamanan tertinggi. Cat dinding tanpa emisi, filter udara bertingkat medis, hingga sistem sterilisasi otomatis."
"Bahkan box bayinya terbuat dari kayu jati pilihan yang diukir khusus di Jepara lalu dilapisi busa ortopedi dari Jerman, Bu Mentari," pangkas desainer utama dengan nada kagum sekaligus tegang menatap Devan. "Pak Devan juga meminta kami memasang kaca kedap suara ganda agar tidur Baby Arka tidak terganggu sama sekali."
Mentari mendesah pasrah, namun bibirnya tak bisa menahan senyuman hangat. Di balik sifat protektif Devan yang terkadang terkesan berlebihan, ia tahu betapa besarnya rasa cinta dan kerinduan pria itu untuk menjadi seorang ayah yang sempurna—sesuatu yang dulu tak pernah dirasakan Devan dalam masa kecilnya yang dingin dan keras.
Sementara itu, di kantor pusat Elvano Group, suasana tak kalah sibuknya. Sekretaris Siska masuk ke ruang kerja Devan dengan membawa tumpukan berkas yang tidak biasa. Bukan berkas akuisisi saham atau laporan keuangan bulanan, melainkan katalog dari produsen perlengkapan bayi kelas dunia, berkas pendaftaran asuransi investasi masa depan, serta daftar riwayat hidup puluhan suster bayi profesional berlisensi internasional.
"Pak Devan," ujar Siska seraya meletakkan berkas-berkas tersebut di meja kerja Devan yang megah. "Seluruh rekomendasi dokter anak spesialis terbaik di Jakarta sudah dirangkum. Tim hukum kita juga telah menyelesaikan penyusunan dokumen dana hibah atas nama Arka Elvano."
Devan menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran, menyilangkan jarinya di atas meja. "Bagaimana dengan kepemilikan saham lima persen Elvano Group yang kuinstruksikan untuk dialihkan ke atas nama Arka?"
"Proses legalitasnya sudah rampung lima puluh persen, Pak. Begitu surat kelahiran resmi terbit nanti, sertifikat saham tersebut akan langsung terkunci atas nama Arka Elvano di bawah pengawasan Anda dan Bu Mentari sebagai wali," jawab Siska tegas.
Devan mengangguk puas. Lima persen saham Elvano Group bukan sekadar angka di atas kertas; nilainya mencapai puluhan triliun rupiah. Arka Elvano bahkan belum menginjakkan kakinya di dunia, namun masa depannya sudah dibentengi oleh fondasi finansial yang tak tergoyahkan.
"Satu hal lagi, Siska," pangkas Devan dengan nada suara yang mendadak serius. "Pastikan pengamanan rumah sakit tempat Mentari akan bersalin nanti sudah dikoordinasikan dengan tim keamanan utama. Seluruh lantai VIP harus disewa penuh dua minggu sebelum perkiraan hari lahir."
"Baik, Pak Devan. Semuanya sudah dalam penanganan tim keamanan," tanggap Siska patuh sebelum berpamitan undur diri.
Devan beralih menatap bingkai foto di mejanya. Di sana, tampak fotonya bersama Mentari yang sedang tersenyum manis di tepi pantai Maladewa. Jemari Devan usap lembut permukaan kaca foto tersebut. Dulu, ia berjuang meruntuhkan musuh-musuhnya demi mempertahankan Mentari. Kini, ia siap membangun benteng terkuat di dunia demi melindungi wanita itu dan pangeran kecil mereka.
Sore harinya, Devan mengajak Mentari melakukan perjalanan singkat. Mobil Rolls-Royce Phantom mereka melaju tenang menuju kawasan pinggiran Jakarta yang asri dan hijau.
Mentari menatap ke luar jendela dengan penasaran ketika mobil mewahnya memasuki gerbang besi tempa raksasa yang dihiasi ukiran lambang keluarga Elvano. Di balik gerbang tersebut, terbentang halaman rumput hijau yang luas dengan deretan pohon pinus dan sebuah rumah megah berarsitektur klasik modern bercat putih bersih.
"Devan... ini rumah siapa?" tanya Mentari heran saat mobil berhenti di depan teras utama yang megah.
Devan keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Mentari dengan sigap. Pria itu mengulurkan tangannya, membantu istrinya melangkah turun dengan penuh kehati-hatian.
"Ini rumah kita, Mentari," bisik Devan lembut tepat di telinga Mentari.
Mentari membelalakkan matanya terkejut. "Rumah kita? Tapi bukankah kita tinggal di penthouse?"
Devan tersenyum, merangkul pinggang Mentari dan membimbingnya melangkah menyusuri teras berlantai marmer.
" Penthouse sangat nyaman untuk kita berdua," jelas Devan seraya mendorong pintu kayu raksasa menuju ruang dalam yang luas dan megah. "Tapi untuk tumbuh kembang Arka... dia membutuhkan halaman rumput yang luas untuk berlari, udara segar, taman bermain pribadi, dan kolam renang yang aman. Aku membeli lanskap tanah ini enam bulan lalu dan mempercepat renovasinya khusus untuk menyambut keluarga kecil kita."
Mentari melangkah masuk ke dalam rumah. Cahaya matahari sore menerobos melalui jendela-jendela besar, menyinari ruang keluarga bertingkat tinggi dengan pemandangan langsung ke halaman belakang yang ditumbuhi bunga-bunga berwarna-warni. Di sudut halaman, tampak sebuah rumah pohon mungil dan area bermain anak yang dibangun sangat kokoh dan aman.
Air mata haru mendadak menggenang di sudut mata Mentari. Ia menoleh menatap suaminya yang berdiri di sampingnya dengan pandangan hangat.
"Kamu menyiapkan semua ini sendiri?" bisik Mentari dengan suara bergetar.
Devan merengkuh tubuh Mentari dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di perut membuncit sang istri dan menyandarkan dagunya di bahu Mentari.
"Sembilan tahun lalu, kamu kehilangan rumah masa kecilmu karena kejahatan orang lain," tutur Devan dengan suara bariton yang dalam dan sarat akan emosi yang tulus. "Hari ini, aku ingin memastikan bahwa kamu dan anak kita tidak akan pernah kekurangan tempat untuk merasa aman dan dicintai. Ini adalah rumah masa depan kita, Mentari."
Mentari memegang erat lengan Devan yang melingkar di perutnya, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Rasa hangat yang begitu sempurna mengalir memenuhi dadanya.
"Terima kasih, Devan..." bisik Mentari tulus. "Arka sangat beruntung memiliki ayah sepertimu."
Tiba-tiba, dari dalam kandungan Mentari, si kecil Arka memberikan gerakan tendangan yang cukup kuat, seolah menyetujui ucapan ibunya. Devan tertawa rendah, mengusap lembut titik tendangan itu melalui kain gaun Mentari.
"Dengar? Dia tidak sabar untuk segera pindah ke sini," goda Devan seraya mengecup pelipis Mentari dengan lembut.
Di bawah naungan kehangatan rumah baru mereka dan senja yang memerah indah di ufuk barat, Devan dan Mentari berdiri bersama, menatap masa depan yang kini tak lagi diintai bayang-bayang ketakutan. Persiapan menyambut Arka Elvano bukan sekadar tentang kemewahan, melainkan bukti nyata dari keabadian cinta yang telah menang melewati segala ujian kehidupan.