Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.
"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"
"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"
Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.
Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Kanvas Digital Dan Layar Virtual
Memasuki dunia perkuliahan sebagai mahasiswi Desain Komunikasi Visual (DKV) ternyata jauh lebih brutal dari yang dibayangkan Naomy. Jika saat SMA ia berpikir tugas-tugas sekolah sudah cukup menyita waktu, maka dunia perkuliahan adalah level kesulitan yang sama sekali baru. Hari-harinya kini diwarnai dengan tumpukan kertas gambar, tenggat waktu pembuatan aset digital yang tidak manusiawi, serta revisi tiada akhir dari dosen yang perfeksionis.
Namun, di tengah hiruk-pikuk studio gambar yang berbau cat akrilik dan kopi instan, satu hal yang tidak pernah berubah dari hidup Naomy: ikon Arena of Fate yang masih setia bertengger di halaman utama ponselnya.
Bagi Naomy, game itu telah bertransisi dari sekadar pelarian menjadi sebuah ritual bertahan hidup. Teman-teman kuliahnya sering kali heran melihat Naomy yang masih sempat membuka game di sela-sela waktu menunggu giliran asistensi tugas akhir.
"Naom, serius lo masih sempat main game ginian?" tanya sekelasnya, melirik layar ponsel Naomy yang menampilkan grafik pertempuran yang intens. "Gue boro-boro mau main game, tidur tiga jam sehari aja udah syukur banget."
Naomy hanya terkekeh kecil tanpa melepaskan fokusnya dari layar. "Justru karena kurang tidur, otak gue butuh dialihkan, biar gak gila mikirin konsep branding yang ditolak melulu."
Karakter Lunaria milik Naomy kini bukan lagi sekadar karakter biasa. Akun @Nao_mii miliknya telah mencapai peringkat tinggi yang disegani di server lokal. Kemampuan mekanik jarinya yang terlatih sejak kelas 10 SMA membuatnya menjadi salah satu pemain penembak jitu (marksman) yang sangat diperhitungkan. Di dunia virtual itu, ia bukan lagi mahasiswi DKV yang kantung matanya menghitam karena begadang mengerjakan rendering animasi; ia adalah sang pemburu bayangan yang ditakuti lawan.
Tahun-tahun kuliah berlalu seperti putaran roda yang cepat. Lembar demi lembar tugas berganti menjadi draf skripsi. Naomy melewati malam-malam panjang menjelang sidang akhir dengan ditemani segelas kopi hitam di tangan kiri dan ponsel di tangan kanan. Saat rasa jenuh menyerang di tengah malam ketika menulis bab pembahasan, ia akan memainkan satu atau dua pertandingan cepat untuk menyegarkan pikirannya yang buntu.
Hingga akhirnya, hari yang dinantikan itu tiba.
Gedung serbaguna universitas dipenuhi oleh lautan toga berwarna hitam dengan samir kuning keemasan. Naomy berdiri di barisan para wisudawan, memegang map ijazah dengan senyum merekah di wajahnya. Kedua orang tuanya menatapnya dengan binar bangga dari kursi undangan. Di bawah jubah toganya yang longgar, tangan kanan Naomy diam-diam meraba saku roknya, merasakan sudut tajam ponselnya. Ia berhasil membuktikan bahwa hobi bermain gamenya tidak membuatnya hancur; ia lulus tepat waktu, dengan nilai yang sangat memuaskan.
"Selamat ya, Naom! Akhirnya kita bebas dari penderitaan ini!" beberapa temannya memeluknya erat, berfoto bersama di bawah taburan kertas konfeti.
Namun, kebebasan dunia kuliah ternyata hanyalah ilusi sebelum memasuki gerbang penderitaan yang sesungguhnya: dunia kerja.
Beberapa bulan setelah wisuda, lewat portofolio desainnya yang dinilai sangat estetis dan modern, Naomy berhasil diterima bekerja di sebuah perusahaan desain agensi ternama di ibu kota. Namanya adalah Apex Creative, sebuah agensi yang dikenal menangani proyek-proyek besar dari berbagai perusahaan konglomerat.
Awalnya, Naomy merasa sangat bersemangat. Ia merasa impian masa kecilnya untuk menjadi seorang desainer profesional akhirnya terwujud. Namun, realita dunia kerja segera menghantamnya tanpa ampun.
Sebagai staf desainer junior, Naomy berada di dasar rantai makanan kreatif. Hari-harinya kini diisi dengan duduk di depan monitor komputer selama sembilan hingga sepuluh jam sehari. Desain yang ia buat dengan sepenuh hati sering kali dikembalikan dengan catatan revisi yang absurd dari klien: "Tolong warnanya dibuat lebih cerah tapi tetap terlihat gelap," atau "Tolong buat desain yang lebih mewah tapi minimalis."
"Suntuk banget..." gumam Naomy suatu malam.
Jam dinding di ruang kubikelnya sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kantor sudah mulai sepi, menyisakan beberapa staf yang juga sedang mengejar deadline. Selama hampir enam bulan pertama bekerja, Naomy benar-benar berhenti menyentuh Arena of Fate. Energi fisiknya sudah terkuras habis untuk komuter menggunakan transportasi umum yang padat, dan energi mentalnya telah habis diperas oleh revisi desain. Ponselnya kini hanya berisi aplikasi kerja, surat elektronik, dan obrolan grup kantor yang menegangkan.
Malam itu, setelah draf desain logonya ditolak untuk kelima kalinya oleh supervisor melalui pesan singkat, Naomy menyandarkan kepalanya di meja kerja yang dingin. Matanya terasa perih. Ada rasa hampa yang sangat besar di dadanya. Rasa jenuh yang menumpuk selama berbulan-bulan tanpa adanya pelampiasan akhirnya mencapai titik jenuh.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping papan ketik. Matanya tertuju pada folder 'Lainnya' yang sudah lama tidak ia buka. Di sudut dalam folder itu, ikon Arena of Fate tampak seperti sahabat lama yang terlupakan, berdebu namun tetap setia menunggu.
Naomy menekan ikon tersebut.
Layar ponselnya berkedip, meminta pembaruan aplikasi karena ia sudah terlalu lama absen. Sembari menunggu bilah unduhan berjalan, Naomy merasakan debaran jantung yang aneh di dadanya—sebuah debaran yang sudah lama hilang sejak ia disibukkan oleh rutinitas kerja yang monoton. Musik latar legendaris game itu kembali terdengar di telinganya, menyapu bersih semua kepenatan dan rasa suntuk yang menumpuk di kepalanya.
"Halo lagi, dunia piksel," bisik Naomy, senyum tipis akhirnya kembali terukir di wajahnya setelah berbulan-bulan yang suram.
Ia masuk ke dalam lobi permainan dengan akun lamanya, @Nao_mii. Semuanya terasa sangat familier sekaligus baru. Ia tidak tahu bahwa keputusan sederhana untuk kembali menekan tombol 'Mulai' malam itu akan membawanya ke dalam sebuah takdir baru yang tidak pernah ia duga sebelumnya—takdir yang menghubungkan dunia virtualnya dengan sosok dingin yang paling ia segani di dunia nyata.