Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Mata dan Telinga
Dua hari setelah bertemu Wira, Sekar mulai memahami arti menjadi mata dan telinga seseorang.
Itu bukan hanya mendengar.
Itu berarti menahan diri untuk tidak menoleh terlalu cepat ketika nama penting disebut. Berpura-pura memilih bunga di taman ketika dua pelayan berbisik di belakang pilar. Menunduk pada cangkir teh saat kepala pelayan menyebut jadwal Engkong. Mengingat setiap detail kecil, lalu menyimpannya di tempat yang tidak bisa disentuh siapa pun.
Ponsel baru dari Renard terasa semakin berat di laci meja.
Setelah pesan "Tadi siapa?", Sekar hanya membalas satu kalimat.
Urusan keluarga Tan.
Renard tidak menjawab.
Diamnya lebih mengganggu daripada pertanyaan.
Pagi itu, Sekar berjalan di taman dengan gunting kecil di tangan. Kepala pelayan berkata beberapa bunga di dekat Paviliun Mei boleh dipotong untuk vas kamar. Mungkin ia hanya memberi tugas agar calon menantu yang tidak dicintai Kevin tampak punya kegiatan. Mungkin juga ia sedang mengawasinya. Di Kediaman Liem, dua kemungkinan itu tidak pernah saling meniadakan.
Saat melewati sisi perpustakaan, Sekar mendengar suara Engkong dari balik jendela yang terbuka sedikit.
"Kamu meminta terlalu banyak, Darren."
Langkah Sekar berhenti.
Ia segera menunduk, pura-pura memeriksa bunga kamboja yang jatuh di jalan batu.
Suara Darren terdengar lebih halus. "Saya hanya meminta apa yang seharusnya menjadi bagian cabang pertama. Liem Group tidak bisa terus dibiarkan berada di bawah bayangan Renard."
"Renard membawa hasil."
"Hasil yang tidak bisa dijelaskan di rapat resmi."
Sunyi.
Sekar menahan napas. Dari sela jendela, ia tidak bisa melihat mereka, tetapi bisa membayangkan Darren di kursi roda, tersenyum dengan wajah sakit-sakitan, sementara kata-katanya bergerak seperti benang yang mencoba mengikat leher orang lain.
Engkong berkata, "Orang yang terlalu sibuk menghitung bagian kadang lupa siapa yang masih memegang pisau."
Darren tertawa pelan. "Saya hanya takut Engkong lupa bahwa pisau juga bisa tumpul."
Gunting kecil di tangan Sekar hampir terlepas.
Ia memaksa dirinya berjalan pergi sebelum seseorang melihatnya terlalu lama di sana. Baru setelah kembali ke Paviliun Mei, ia mengunci pintu dan mengambil ponsel baru.
Pesan kepada R ia ketik dengan jari yang masih dingin.
Darren bicara dengan Engkong di perpustakaan. Ia meminta bagian cabang pertama dan menyinggung hasil Renard yang tidak bisa dijelaskan resmi.
Ia membaca ulang pesan itu tiga kali sebelum mengirim.
Balasan datang kurang dari satu menit.
Bagus. Terus pantau.
Hanya itu.
Tidak ada terima kasih. Tidak ada penjelasan. Tetapi anehnya, dada Sekar terasa sedikit lebih longgar. Bukan karena ia senang membantu Renard. Ia belum cukup bodoh untuk menyebut ini kesetiaan. Namun untuk pertama kalinya, informasi yang ia dengar tidak hanya membuatnya takut. Informasi itu bisa ia gunakan.
Sore harinya, hujan turun tipis.
Sekar duduk di meja tulis dan membuka kotak Lukisan Mei Dingin. Pelayan sudah memasang gulungan itu pada dudukan khusus agar tidak rusak. Ia tidak berani terlalu sering menyentuhnya, tetapi matanya terus kembali ke cabang plum yang tampak rapuh namun keras kepala.
Ia dulu menari balet sebelum hidupnya berubah menjadi serangkaian larangan. Dalam tarian, tubuh diajari membaca keseimbangan, tekanan, jeda sebelum jatuh. Mungkin karena itu ia bisa merasakan garis lukisan itu. Cabang yang tampak kosong justru menahan seluruh dingin. Bunga kecil yang terlihat lemah justru menjadi alasan mata bertahan.
"Cantik, ya, Nona?"
Sekar menoleh. Seorang pelayan muda berdiri di dekat pintu dengan nampan teh.
"Ya," jawab Sekar.
Pelayan itu meletakkan nampan, lalu matanya bergerak ke lukisan. "Katanya mahal sekali. Engkong baik sekali pada Nona."
Nada suaranya sopan, tetapi ada sesuatu di ujung kalimat itu. Seolah hadiah mahal tidak cocok berada di tangan perempuan yang bahkan tidak bisa membuat Kevin tinggal di rumah.
Sekar menutup kotak lukisan perlahan. "Engkong yang memutuskan."
Pelayan itu tersenyum kaku. "Tentu, Nona."
Saat pelayan pergi, Sekar mendengar bisikan kecil dari lorong.
"Kasihan juga. Tuan Muda Kevin lebih sering keluar."
"Hadiah mahal pun tidak membuat orang jadi disayang."
Langkah mereka menjauh.
Sekar duduk diam, tangan berada di atas kotak Lukisan Mei Dingin. Dulu hinaan membuatnya ingin membuktikan diri. Sekarang ia hanya mencatat siapa yang berbicara, kapan, dan tentang apa. Mungkin itu yang dimaksud Renard. Di rumah ini, bahkan penghinaan bisa menjadi data.
Malamnya, udara setelah hujan terasa bersih.
Sekar keluar sebentar untuk menenangkan dada. Di taman belakang, cahaya bulan jatuh di atas batu-batu basah. Ia hampir berbalik ketika melihat seseorang berdiri di bawah pohon besar dekat jalur menuju Sayap Utara.
Renard.
Pria itu tidak memegang ponsel, tidak merokok, tidak memberi perintah. Ia hanya berdiri dengan kepala sedikit terangkat, menatap langit yang tertutup sisa awan. Dari samping, wajahnya tidak terlihat dingin seperti biasanya.
Ia terlihat lelah.
Bukan lelah karena kurang tidur. Lebih dalam dari itu. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama berdiri di tempat yang penuh suara orang mati.
Sekar berhenti di balik bayangan.
Untuk pertama kalinya, ia melihat pria yang selalu tampak mengendalikan segalanya itu seperti seseorang yang juga sedang menahan sesuatu agar tidak runtuh.
Ia tidak memanggil.
Renard pun tidak menoleh.
Namun malam itu, Sekar membawa satu pertanyaan baru kembali ke Paviliun Mei.
Jika Renard Liem punya semua kekuatan di rumah ini, kenapa wajahnya di bawah pohon itu tampak seperti orang yang kehilangan tempat pulang?