NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Aroma wangi mentega yang gurih bercampur dengan manisnya pandan asli semakin pekat memenuhi seluruh penjuru dapur kecil itu. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun hawa panas dari panci kukusan besar masih setia menemani kesibukan Alya. Dengan rambut yang diikat asal dan peluh yang mulai membasahi dahinya, jemari Alya masih tampak lincah menata barisan kue lumpur kentang yang baru matang ke atas tampah anyaman bambu agar cepat dingin.

*Klek.*

Suara pintu belakang yang menghubungkan dapur dengan ruang tengah berderit pelan. Sosok wanita paruh baya dengan kebaya lusuh dan kain jarik berjalan melangkah masuk. Ibu Alya baru saja selesai merapikan sisa-sisa kain tenunan di depan rumah. Namun, begitu kakinya menginjak lantai semen dapur, langkah wanita itu mendadak terhenti. Matanya membelalak menatap pemandangan di depannya.

Di atas meja kayu yang biasanya sepi, kini berjejer rapi empat kotak mika berukuran besar yang sudah terisi penuh oleh Bolu Gulung Cokelat dengan selai stroberi. Tidak hanya itu, di sudut meja yang lain, terdapat tumpukan wadah plastik berisi puluhan Kue Lumpur Kentang dan Brownies Kukus Cokelat Mini yang siap dikemas. Bahan-bahan kue seperti tepung, telur, dan gula yang baru dibeli sore tadi juga tampak mendominasi sudut lemari penyimpanan.

"Ya Allah, Alya..." suara ibu memecah keheningan, sarat akan rasa terkejut dan heran. Beliau berjalan mendekati meja, menyentuh salah satu kotak mika dengan jemari yang terasa agak kasar akibat kerja keras. "Ini... ini semua kue apa, Nak? Begitu banyak pesanan. Ibu perhatikan sejak kemarin sore kamu sibuk sekali di dapur, bahkan malam ini sampai selarut ini belum tidur."

Ibu menatap putrinya dengan dahi berkerut dalam, mencari jawaban di sepasang mata jernih Alya. "Kenapa tiba-tiba kamu berjualan kue seperti ini? Uang jajan kamu kurang? Atau ada keperluan sekolah yang mendesak yang belum kamu ceritakan sama Ibu?"

Alya menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu menatap ibunya dengan ulasan senyum yang sangat lembut. Ia tahu, saat seperti ini pasti akan tiba. Alya tidak bisa terus menyembunyikan alasan di balik kesibukan mendadaknya ini dari wanita yang paling dihormatinya.

Alya melangkah mendekat, lalu menuntun ibunya untuk duduk di salah satu kursi kayu panjang di dekat meja adonan.

"Ibu, jangan khawatir dulu ya," suara Alya terdengar sangat halus, menenangkan riak kecemasan di wajah sang ibu. Alya menarik napas pelan sebelum melanjutkan, "Jadi begini, Bu... Kemarin di sekolah, Bu Ani mengumumkan kalau minggu depan seluruh siswa kelas sebelas diwajibkan mengikuti kegiatan *study tour* ke museum arkeologi nasional dan situs sejarah luar kota. Kegiatan ini penting sekali untuk pendalaman materi dan pemenuhan nilai tugas akhir semester."

Mendengar kata *study tour*, detak jantung ibu seolah berhenti seketika. Sebagai orang tua yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, kata-kata seperti "kegiatan luar sekolah", "wajib", dan "luar kota" adalah momok yang paling ditakuti. Wajah hangat wanita paruh baya itu mendadak berubah mendung. Senyumnya surut, digantikan oleh gumpalan rasa bersalah yang teramat besar yang mendadak menghantam dadanya.

Ibu menundukkan kepala dalam-dalam. Air mata yang hangat perlahan mulai menggenang di sudut matanya yang sudah dihiasi kerutan-kerutan halus tanda usia dan beban hidup. Pundaknya yang ringkih tampak bergetar pelan.

"Ya Allah, Nduk..." bisik ibu, suaranya tercekat di tenggorokan, terdengar begitu serak dan penuh kepedihan. "Kenapa kamu gak bilang sama Ibu dari kemarin? Pasti... pasti biayanya tidak sedikit, kan? Ibu... Ibu merasa bersalah sekali sama kamu, Al. Harusnya... harusnya urusan mencari biaya sekolah, biaya kegiatan seperti ini, itu tugas dan tanggung jawab Ibu sama Ayah sebagai orang tua kamu."

Ibu menggenggam kedua tangan Alya dengan erat, air matanya kini luruh membasahi jemari putrinya. "Ibu sama Ayah kerja serabutan, hasilnya sering kali cuma cukup buat makan kita sehari-hari. Sampai-sampai anak Ibu yang harusnya fokus belajar buat mempertahankan beasiswa, sekarang malah harus ikut kepikiran, bangun subuh-subuh, dan capek-capek bikin kue buat nyari uang sendiri... Ibu minta maaf ya, Nak. Ibu bukan orang tua yang baik buat kamu."

Mendengar kalimat rapuh yang keluar dari bibir ibunya, hati Alya rasanya seperti diiris sembilu. Namun, ia tidak membiarkan dirinya ikut larut dalam kesedihan yang melemahkan. Alya segera berlutut di depan ibunya, menggenggam balik tangan wanita itu dengan kehangatan yang kokoh. Ia menatap lurus ke dalam mata ibunya yang basah, memancarkan binar keteguhan yang luar biasa.

"Ibu, dengarkan Alya," bantah Alya dengan sangat lembut namun penuh penekanan, memotong segala pikiran negatif sang ibu. "Tolong jangan pernah bicara seperti itu lagi. Ibu dan Ayah adalah orang tua terbaik yang pernah Alya miliki di dunia ini. Ibu gak salah sama sekali."

Alya mengusap air mata di pipi ibunya dengan jemarinya yang halus. "Jualan kue ini, semua ini murni keinginan Alya sendiri, Bu. Bukan karena Alya merasa terbebani. Alya tahu kondisi kita, dan Alya gak mau cuma diam berpangku tangan menunggu keajaiban. Tuhan sudah ngasih Alya kesehatan dan bakat memasak yang diturunkan langsung dari Ibu. Jadi, kenapa gak Alya gunain bakat itu buat bantu diri Alya sendiri?"

Alya tersenyum lebih lebar, sebuah senyuman yang begitu meneduhkan. "Ibu harus bangga, lho. Berkat resep rahasia bolu dan kue lumpur yang Ibu ajarkan, sore tadi kuenya langsung habis terjual. Bahkan malam ini, teman-teman sekelas Alya, guru-guru, sampai... ada teman sekolah yang pesan dalam jumlah sangat besar sampai empat kotak ini. Hasil untungnya besok sudah lebih dari cukup buat bayar lunas biaya *study tour* ke Bu Ani."

Mendengar penjelasan tulus dan kedewasaan yang memancar dari setiap untaian kata Alya, rasa haru yang teramat dalam seketika menyelimuti atmosfer dapur tua di bawah rumah sederhana itu. Ibu menatap putrinya dengan pandangan yang takjub sekaligus tersentuh. Kesedihan dan rasa bersalah yang tadinya meremukkan jiwa sang ibu perlahan mencair, berganti menjadi rasa bangga yang luar biasa memiliki seorang anak perempuan berhati baja dan berotak encer seperti Alya.

Ibu menarik Alya ke dalam pelukannya, mendekap tubuh ramping putrinya itu dengan sangat erat di bawah temaram lampu bolam dapur. Di luar, suara rintik hujan yang membasahi atap seng seolah menjadi saksi bisu kehangatan ikatan batin antara ibu dan anak yang sedang berjuang melawan kerasnya takdir tersebut.

"Terima kasih ya, Nduk... Terima kasih sudah tumbuh jadi anak yang sangat pengertian dan kuat," bisik ibu lirih di telinga Alya, air matanya kembali menetes, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan dan rasa syukur.

Setelah beberapa saat saling mendekap dalam keheningan yang sarat akan kasih sayang, ibu perlahan melepaskan pelukannya. Ia menghapus sisa air matanya, lalu berdiri dengan semangat baru yang terpancar di wajahnya.

"Ya sudah, kalau begitu Ibu gak boleh tinggal diam," ujar ibu dengan nada suara yang kembali ceria, mencoba mencairkan suasana. "Pesanan sebanyak ini gak akan selesai kalau kamu kerjakan sendirian sampai subuh. Malam ini, Ibu yang bakal temani kamu di dapur. Biar Ibu bagian yang memotong bolu gulung dan mengemasnya ke dalam kotak, kamu fokus saja menyelesaikan sisa adonan brownies di kompor."

Alya tertegun sejenak, lalu matanya berbinar bahagia. "Beneran, Bu? Ibu gak capek setelah seharian menenun?"

"Capek Ibu langsung hilang begitu liat anak Ibu yang pintar ini punya semangat sebesar ini," sahut ibu sambil tersenyum hangat, langsung mengambil pisau dan alas pemotong untuk mulai bekerja.

Di bawah naungan rumah sederhana berdinding papan kayu itu, malam yang kian larut tidak lagi terasa dingin dan menakutkan bagi Alya. Kehadiran ibunya yang mendampingi di sisi meja adonan, gelak tawa kecil yang sesekali tercipta di sela-sela kesibukan membungkus kue, serta aroma adonan yang kian matang, menjadi sebuah melodi perjuangan yang indah. Kebingungan dan badai kecemasan yang sempat mencengkeram Alya sejak hari pertama pengumuman kini telah sepenuhnya sirna, digantikan oleh kesiapan penuh untuk menyongsong esok hari dengan kepala tegak.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!