Setelah kehilangan adik perempuannya dan hancur di dunia fana, Han Yu terbangun di tubuh sesosok makhluk dari Sekte Iblis yang terdampar di wilayah suci Lembah Lingshu, ras suci yang sedang berperang melawan umat manusia karena perbudakan asmara. Bukannya mati dieksekusi, Han Yu justru membangkitkan warisan langka yang tabu: Jalur Kaisar Pesona.
Berbekal ketampanan surgawi yang mutlak, stamina tiada tanding, dan teknik manipulasi sukma, Han Yu mengubah musuh-musuhnya menjadi pelayan yang patuh. Dari murid klan yang dingin, janda kultivator yang kesepian, hingga para tetua bijaksana dan Ratu Lembah, semuanya bertekuk lutut di bawah pesonanya. Di dunia kultivasi yang kejam ini, Han Yu tidak bertarung dengan pedang yang menghancurkan langit, melainkan menaklukkan dunia dari atas ranjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 - Pengadilan Penguasa Lembah Lingshu
Setengah jam telah berlalu sejak aksi pelarian yang sangat mendebarkan dan memompa adrenalin tersebut. Han Yu terus menerus berlari tanpa arah yang jelas di bawah naungan pohon-pohon raksasa purba yang menjulang tinggi ke langit. Keringat dingin mengucur deras membasahi dahi dan seluruh tubuhnya, sementara jantungnya berdegup sangat kencang berkejaran seperti genderang perang yang ditabuh bertubi-tubi. Rasa lelah yang teramat sangat mulai menggerogoti energi fisiknya yang terbatas. Namun, saat dia melangkah lebih jauh, dia merasakan ada sesuatu yang sangat aneh dengan aliran energi spiritual di sekitarnya. Hawa di sekelilingnya mendadak berubah menjadi sangat menekan, dan hutan lebat yang tadinya dipenuhi suara serangga malam kini mendadak menjadi terlalu sunyi, seolah-olah seluruh alam sedang menahan napasnya. Han Yu mendadak menghentikan langkah kakinya di atas gundukan tanah.
"Apakah aksi pelarianmu yang melelahkan itu sudah selesai, anak muda?"
Sebuah suara wanita yang sangat lembut, merdu, namun mengandung tekanan berwibawa yang luar biasa besar tiba-tiba bergema dari arah belakangnya. Han Yu tersentak kaget dan segera membalikkan badannya dengan siaga, memasang kuda-kuda bertarung seadanya. Di atas sebuah dahan pohon besar yang diselimuti daun-daun hijau berkilau, berdiri seorang wanita dewasa yang memancarkan keanggunan serta aura kesucian yang sangat luar biasa, membuat pemandangan di sekitarnya menjadi redup.
Wanita itu memiliki bentuk telinga panjang yang lancip, melambangkan bahwa dia adalah pemilik darah murni tertinggi dari ras suci Lembah Lingshu. Rambut pirang panjangnya yAng selembut sutra mengalir indah di atas bahu hingga mencapai pinggang, sangat kontras dengan jubah sutra putih ketat berhias sulaman benang perak yang membungkus tubuh matangnya dengan sangat sempurna. Lekuk tubuhnya yang sangat menawan dan proporsional, dipadukan dengan sepasang mata hijau yang tenang namun memikat, membuatnya tampak bagaikan seorang dewi alam semesta yang baru saja turun dari langit sembilan. Jantung Han Yu berdebar semakin kencang di dalam dadanya, mengingatkannya kembali pada masa-masa remaja yang naif ketika gejolak muda masih menguasai dirinya, di mana setiap kali melihat gadis cantik selalu meninggalkan kesan mendalam yang sulit dilupakan.
Namun, pesona keindahan itu segera berganti dengan kewaspadaan tingkat tinggi serta rasa ngeri. Sepasang mata hijau wanita itu tiba-tiba berkilat tajam, mengeluarkan tekanan spiritual tingkat tinggi yang sangat masif dan berat, membuat seluruh tulang di tubuh Han Yu berderit keras dan lututnya gemetar hebat menahan beban tekanan tersebut agar tidak jatuh berlutut. Partikel-partikel cahaya hijau berbentuk dedaunan kecil yang mengelilingi jari-jari lentik wanita itu memancarkan niat membunuh yang sangat dingin dan terselubung. Han Yu tahu persis, dengan tingkat kekuatannya yang sekarang, satu gerakan salah atau mencurigakan saja dari tubuhnya bisa membuat wanita itu menghancurkan fisiknya menjadi serpihan debu dalam sekejap mata.
Tanpa mampu memberikan perlawanan sedikit pun karena seluruh tubuhnya telah dikunci oleh energi alam, Han Yu langsung dibawa pergi dari tempat itu menggunakan teknik sihir peringkas jarak yang sangat tinggi. Hanya dalam hitungan beberapa kedipan mata saja, kesadaran Han Yu sempat berputar sebelum akhirnya dia menyadari bahwa dirinya kini sudah berada di dalam sebuah aula megah yang sangat luas, di mana pilar-pilar penyangganya terbuat dari batu giok putih kuno yang memancarkan cahaya lembut.
Di atas sebuah singgasana tinggi yang terbuat dari kayu cendana hitam dan dihiasi oleh ukiran rumit tanaman merambat yang hidup, wanita dari hutan tadi sudah duduk dengan posisi yang sangat anggun dan santai. Dia adalah pemimpin tertinggi sekaligus penguasa mutlak dari tempat ini, Ratu Lin Xian, sang penguasa tertinggi ras suci Lembah Lingshu yang disegani oleh berbagai sekte besar. Dengan gerakan tangan yang sangat santai, elegan, namun penuh dengan wibawa tirani, Lin Xian memasukkan buah anggur spiritual berenergi murni ke dalam mulutnya satu per satu, menikmati rasa manisnya dengan acuh tak acuh. Sementara itu, Han Yu dipaksa berlutut dengan kedua lutut menempel di lantai batu giok yang dingin di bawah tangga singgasana, berusaha keras menahan rasa sakit di tubuhnya dan mengumpulkan sisa kesadarannya yang hampir hilang.
Setelah selesai memakan buah anggur terakhir yang ada di piring perak kecil di sampingnya, Lin Xian perlahan-lahan menyilangkan kakinya yang jenjang, membuat jubah putihnya sedikit tersingkap. Bibirnya yang merah merekah melengkung membentuk sebuah senyuman manis yang sangat memikat, seolah-olah dia sedang menyambut kedatangan seorang teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Namun, Han Yu sama sekali tidak terkecoh atau terbuai oleh keramahan palsu yang penuh dengan jebakan tersebut. Pemuda itu hanya bisa mendengus pelan dengan raut wajah masam, menolak untuk menundukkan kepalanya terlalu dalam di hadapan sang penguasa.
"Jadi, namamu adalah Han Yu," ucap Lin Xian, suaranya yang merdu mengalun indah memenuhi setiap sudut aula giok, terdengar seperti alunan alat musik petik yang menenangkan namun menghanyutkan. "Sungguh sebuah kejutan yang sangat besar bagi tempat terpencil kami ini untuk kedatangan seorang pengunjung misterius dari tempat yang sangat jauh. Katakan padaku, apakah kamu adalah sebilah bidak rahasia yang sengaja dikirim oleh Permaisuri Hua untuk mengacau di sini?"
Ada nada kekesalan yang sangat tipis dan tersamar dalam intonasi suaranya ketika Lin Xian menyebut nama Permaisuri Hua, pemimpin tertinggi dari sekte luar yang selama ratusan tahun ini menjadi rival bebuyutan bagi kelangsungan Lembah Lingshu.
"Bukan, aku bukan bidak siapa pun," jawab Han Yu sambil menggelengkan kepalanya yang terasa pening dengan lemah. Dia menghela napas panjang yang terasa sangat berat, mencoba sekuat tenaga untuk menstabilkan detak jantung dan aliran napasnya yang tidak beraturan. "Aku sudah mengatakan hal yang sama berkali-kali kepada kelima pengawal gadismu yang galak itu. Aku sendiri benar-benar tidak tahu bagaimana caranya aku bisa tiba-tiba terbangun dan terdampar di dalam hutan mistis milik wilayahmu ini."
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Han Yu, Lin Xian tampak sedikit terkejut, namun sedetik kemudian senyuman manisnya kembali melebar, menyembunyikan kilat ketidakpercayaan dan kecurigaan yang mendalam di dalam bola mata hijaunya. "Bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi di dunia ini? Apakah seorang kultivator yang memiliki energi iblis murni tingkat tinggi sepertimu bisa tersesat begitu saja tanpa membawa ingatan sedikit pun? Apakah kamu sedang mencoba meyakinkanku bahwa saat ini kamu sedang menderita penyakit amnesia yang parah, anak muda?"
Han Yu tidak langsung menjawab. Dia memilih untuk mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam sepasang mata hijau milik Ratu Lin Xian tanpa ada rasa takut sedikit pun. Rasa lelah yang teramat sangat atas seluruh jalan hidupnya yang hancur berantakan di dunia sebelumnya membuat mentalnya mati rasa, hingga dia tidak lagi mengkhawatirkan atau takut pada ancaman kematian yang ada di depan mata. Hubungannya dengan dunia kultivasi yang baru ini barulah dimulai dalam hitungan jam, dan dia sama sekali tidak memiliki ambisi, impian, atau keinginan apa pun lagi untuk dipertahankan setelah kehilangan adik perempuan yang teramat dicintainya. Bagi Han Yu, hidupnya sudah berakhir di hari kematian adiknya.
"Jika Ratu yang agung tetap tidak mau mempercayai kata-kataku, maka silakan bunuh saja aku di tempat ini sekarang juga. Tebas kepalaku, aku sama sekali tidak peduli lagi dengan kelanjutan hidup yang tidak berguna ini," tantang Han Yu dengan nada suara yang sangat datar, dingin, dan penuh dengan kepasrahan yang tulus dari lubuk hatinya.
Bagi seorang Han Yu, mati dieksekusi di aula giok mewah ini atau mati merana karena kelaparan dan kedinginan di dunia lamanya sama sekali tidak memiliki perbedaan yang berarti. Dia tidak merasa beruntung atau bahagia bisa berpindah tempat ke dunia kultivasi bela diri yang dipenuhi keajaiban ini jika pada kenyatannya jiwanya sendiri tetap terasa kosong, mati, dan hancur. Kenangan-kenangan manis akan tawa renyah Han Li saat mereka masih bersama kembali terbayang dengan jelas di benaknya, semakin memperkuat rasa kepasrahan dan keteguhan hatinya untuk melepas nyawa. Dia benar-benar sudah tidak memiliki alasan atau satu pun hal berharga di dunia ini untuk dipertahankan secara gigih.
Han Yu kemudian mendongakkan kepalanya ke atas, menatap langit-langit aula megah yang dihiasi oleh formasi permata malam yang bersinar terang, lalu perlahan-lahan memejamkan kedua matanya dengan rapat. Posisi tubuh dan lehernya saat ini terekspos dengan sangat sempurna, memberikan kemudahan bagi siapa saja yang ingin melayangkan pedang untuk memenggal kepalanya dalam satu kali tebasan bersih. Namun, setelah lima menit berlalu dalam keheningan yang sangat mencekam dan sunyi di dalam aula tersebut, rasa sakit yang sangat dia tunggu-tunggu itu tidak kunjung datang menerpa lehernya.
Ketika Han Yu kembali membuka kedua matanya karena merasa heran, dia mendapati Ratu Lin Xian sedang duduk menopang dagu sambil menatap ke arahnya dengan sepasang mata hijau yang memancarkan pandangan menyelidik yang sangat mendalam dan penuh arti. Mata mereka saling bertemu dan mengunci satu sama lain untuk beberapa saat yang terasa sangat lama, sebelum akhirnya Lin Xian memecah kesunyian yang tegang itu dengan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat renyah dan menghibur.
"Menarik. Aku bisa melihat pantulan kejujuran yang sangat murni di dalam matamu yang biru itu, anak muda. Kamu tampaknya memang bukanlah seorang mata-mata licik yang dikirim oleh musuhku untuk menghancurkan formasi segel kuno lembah ini," ucap Lin Xian sambil perlahan menyandarkan kembali tubuh matangnya ke sandaran singgasana kayu cendana dengan santai. "Namun, terlepas dari kejujuranmu itu, demi menjaga keamanan dan keselamatan seluruh rakyat serta ras suci yang kupimpin, aku tetap tidak bisa membiarkan sesosok makhluk asing yang memiliki aliran energi iblis murni berkeliaran dengan bebas di wilayahku. Oleh karena itu, aku harus menahanmu di dalam penjara bawah tanah untuk sementara waktu sampai asal-usul tubuh iblismu menjadi jelas. Kuharap kamu bisa memaklumi kebijakan tegas yang kuambil ini."
Han Yu hanya bisa memutar kedua bola matanya dengan malas dan mengembuskan napas pendek, tidak berniat untuk melakukan protes yang sia-sia. Detik berikutnya, dua orang prajurit pengawal bertubuh tegap dan kekar yang mengenakan zirah perak lengkap maju ke depan atas perintah isyarat mata sang Ratu. Mereka langsung mencengkeram kedua lengan Han Yu dengan pegangan yang sangat kuat namun anehnya tidak kasar atau menyakiti. Kedua prajurit itu kemudian menuntun Han Yu berjalan keluar dari aula giok, menyusuri koridor-koridor bawah tanah yang sangat panjang, gelap, dan bersuhu dingin, hingga akhirnya mereka menurunkan dan memasukkan pemuda itu ke dalam sebuah sel penjara bawah tanah yang untungnya berukuran cukup bersih, luas, dan memiliki ranjang batu yang nyaman. Pintu besi tebal nan berat itu kemudian ditutup dengan dentangan keras yang bergema, menandai sebuah awal baru dari lembaran kehidupan Han Yu yang penuh misteri di dalam dunia kultivator bela diri yang kejam ini.