Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 - Syarat dari Seorang Ayah
Arga membaca pesan Nadira berulang kali.
**"Ayahku ingin bertemu denganmu."**
Dadanya dipenuhi harapan.
Namun pesan berikutnya membuat jemarinya berhenti di atas layar.
> **"Tapi... ada syarat yang harus kamu dengar dulu."**
Arga segera membalas.
**"Aku siap mendengarnya."**
Balasan dari Nadira baru datang beberapa menit kemudian.
**"Besok sore, datang ke rumah."**
**"Aku jelaskan langsung."**
Arga menarik napas panjang.
Malam itu ia hampir tidak bisa tidur.
---
Keesokan harinya, Arga datang ke kantor lebih pagi.
Anehnya, justru Nadira yang sudah lebih dulu tiba.
Mereka saling menatap.
Biasanya Arga akan langsung melontarkan candaan.
Hari ini tidak.
Ia hanya berjalan mendekat.
"Pagi."
"Pagi."
"Kamu tidur?"
"Sedikit."
"Kamu?"
Arga tersenyum tipis.
"Hampir nggak."
Nadira terkekeh.
"Kenapa?"
"Deg-degan."
Mereka sama-sama tahu penyebabnya.
---
Rina datang sambil membawa map.
"Lho?"
"Kalian kok pagi-pagi udah saling tatap?"
Arga langsung berpura-pura sibuk membuka laptop.
"Nggak."
"Nggak apa?"
"Nggak ngapa-ngapain."
Rina memutar bola matanya.
"Kalau bohong jangan kompak."
Nadira menahan tawa.
---
Hari itu pekerjaan terasa lebih lambat.
Bukan karena banyak tugas.
Melainkan karena pikiran Arga terus melayang.
Beberapa kali ia salah mengetik angka.
Bahkan Pak Dimas sampai menghampirinya.
"Gar."
"Iya, Pak?"
"Kamu sakit?"
"Nggak."
"Kamu dari tadi salah input."
Arga baru menyadarinya.
"Maaf, Pak."
Pak Dimas tersenyum kecil.
"Kalau lagi ada urusan hati..."
"...jangan dibawa ke Excel."
Ruangan langsung dipenuhi tawa.
Arga hanya bisa mengusap tengkuknya malu.
---
Pukul lima sore.
Arga berdiri di depan rumah Nadira.
Ia mengenakan kemeja biru tua yang rapi.
Di tangannya ada sekotak buah dan beberapa kue sebagai buah tangan.
Tangannya terasa dingin.
Bukan karena cuaca.
Melainkan gugup.
Belum pernah ia segugup ini.
Pintu rumah terbuka.
Mama Nadira menyambutnya dengan senyum hangat.
"Arga?"
"Iya, Tante."
"Masuk."
"Terima kasih."
Begitu masuk ke ruang tamu, Nadira sudah duduk di sana.
Hari ini ia mengenakan blouse biru muda dan rok panjang krem.
Saat mata mereka bertemu, Nadira tersenyum tipis.
Senyum yang berhasil sedikit menenangkan Arga.
Tak lama kemudian, Ayah Nadira datang dari ruang kerja.
Arga langsung berdiri.
"Selamat sore, Pak."
"Sore."
Mereka berjabat tangan.
"Silakan duduk."
Suasana sempat hening.
Mama Nadira sengaja mengajak Nadira ke dapur untuk menyiapkan minuman.
Kini tinggal Arga dan Ayah Nadira di ruang tamu.
---
Ayah Nadira membuka pembicaraan.
"Arga."
"Iya, Pak."
"Kamu tahu kenapa saya mengundangmu?"
Arga mengangguk.
"Saya punya sedikit gambaran."
"Karena Nadira."
"Iya."
Ayah tersenyum tipis.
"Bagus."
"Berarti kamu datang dengan niat."
Arga mengangguk mantap.
"Saya memang datang karena niat."
---
Ayah Nadira menatapnya cukup lama.
"Lalu..."
"Apa tujuanmu mendekati anak saya?"
Arga tidak langsung menjawab.
Ia memilih mengatur napas.
"Saya menyukai Nadira."
"Itu saya tahu."
"Lalu?"
"Saya ingin mengenalnya lebih dalam."
"Kalau memang Tuhan mengizinkan..."
"...saya ingin menjadikannya istri saya."
Jawaban itu membuat Ayah Nadira sedikit terkejut.
Ia tidak menyangka Arga akan menjawab setegas itu.
"Bukan pacar?"
Arga menggeleng.
"Kalau boleh jujur..."
"...tujuan saya sejak awal memang ke sana."
Di balik pintu dapur, Mama Nadira dan Nadira saling berpandangan.
Nadira menggigit bibirnya, berusaha menahan senyum haru.
---
Ayah Nadira mengangguk pelan.
"Bagus."
"Lalu sekarang saya sampaikan syarat saya."
Arga duduk lebih tegak.
"Saya tidak meminta kamu kaya."
"Saya juga tidak meminta kamu punya rumah mewah."
"Tapi..."
Beliau menatap Arga dalam-dalam.
"Saya ingin memastikan anak saya akan bersama laki-laki yang bertanggung jawab."
Arga mengangguk.
"Saya mengerti, Pak."
"Syarat saya sederhana."
Arga menunggu.
"Selama enam bulan ke depan..."
"...jangan minta Nadira menjadi pacarmu."
Arga membeku.
"Hah?"
Ayah tersenyum tipis.
"Kalau cintamu memang serius..."
"...enam bulan bukan waktu yang lama."
Arga masih diam.
Ayah melanjutkan.
"Gunakan waktu itu untuk membuktikan."
"Buktikan bahwa perhatianmu bukan hanya karena sedang jatuh cinta."
"Tapi memang bagian dari karaktermu."
"Kalau setelah enam bulan..."
"...perasaan kalian tetap sama."
"Saya sendiri yang akan merestui hubungan kalian."
Ruangan kembali sunyi.
---
Tak lama kemudian, Nadira kembali membawa teh.
Ia melihat Arga masih terdiam.
"Ada apa?"
Ayah tersenyum.
"Saya baru memberi syarat."
Nadira langsung menatap Arga cemas.
"Kamu keberatan?"
Arga perlahan menggeleng.
Lalu ia tersenyum.
"Tidak."
Ia menatap Ayah Nadira dengan penuh keyakinan.
"Enam bulan..."
"...terdengar lama bagi orang yang ragu."
"Tapi bagi saya..."
"...itu kesempatan."
"Kesempatan untuk membuktikan bahwa saya memang pantas mendampingi Nadira."
Mata Ayah Nadira berbinar.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat kesungguhan di mata pemuda itu.
Beliau bangkit dari duduknya, lalu mengulurkan tangan.
"Kalau begitu..."
"...selamat berjuang."
Arga berdiri dan menyambut uluran tangan itu dengan mantap.
"Terima kasih, Pak."
Dari samping, Nadira menatap Arga dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Di dalam hatinya, ia berbisik pelan.
*"Enam bulan..."*
*"Kalau selama itu kamu tetap memilih bertahan..."*
*"Maka aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian lagi."*
Namun tak satu pun dari mereka tahu, ujian enam bulan itu ternyata tidak akan berjalan semudah yang dibayangkan.
Keesokan harinya, sebuah surat keputusan dari kantor datang membawa kabar yang bisa memisahkan Arga dan Nadira.
**Bersambung ke Episode 30...**