NovelToon NovelToon
BOBON PENDEKAR TERKUAT

BOBON PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.

Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Keberanian Bobon

Pagi hari di istana terasa lebih cerah dari biasanya. Bobon bangun dengan perasaan yang aneh. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya semalam. Bukan hanya kenangan tentang gurunya yang muncul, tapi juga rasa percaya diri yang baru.

Dia sarapan dengan lahap di ruang makan bersama keluarga kerajaan. Putri Laras duduk di sampingnya dan terus tersenyum melihat cara makannya yang rakus.

"Kau benar-benar tidak pernah kenyang, ya," canda Putri Laras.

"Aku selalu lapar," jawab Bobon sambil mengunyah kue. "Perutku seperti lubang tanpa dasar."

Putri Laras tertawa. "Aku suka caramu makan. Tidak ada kepalsuan. Kau benar-benar menikmati makananmu."

"Makanan itu anugerah, Putri. Nenek Mira selalu bilang begitu."

Mendengar nama Nenek Mira, senyum Bobon sedikit memudar. Tapi dia segera menguatkan dirinya. Dia tidak mau sedih di depan orang lain.

Setelah sarapan, Pangeran Bima mengajak Bobon berjalan-jalan di taman istana. Taman itu luas dan indah, dengan berbagai bunga yang bermekaran. Ada juga kolam ikan dengan air yang jernih.

"Bobon, aku ingin bertanya sesuatu," kata Pangeran Bima.

"Tanya saja, Pangeran."

"Kau benar-benar tidak ingat apa pun tentang masa lalumu? Tentang menjadi Pendekar Dewata?"

Bobon menggeleng. "Aku hanya ingat sepuluh tahun terakhir. Itupun kabur. Nenek Mira menemukanku di hutan. Aku tidak tahu dari mana asalku."

"Apa kau tidak penasaran?"

"Penasaran. Tapi aku juga takut. Nenek Mira bilang ketika aku mengingat semuanya, aku akan menangis."

Pangeran Bima menghela napas. "Itu pasti berat. Tapi aku yakin kau kuat. Kau sudah menunjukkan keberanianmu."

"Aku hanya melakukan apa yang benar, Pangeran. Aku tidak suka melihat orang tersakiti."

"Kau baik hati, Bobon. Itu adalah kualitas yang langka di dunia ini."

Mereka berjalan berdua menyusuri taman. Bobon memperhatikan bunga-bunga dan burung-burung yang terbang. Hidup di istana sangat berbeda dengan hidup di desa. Semuanya lebih mewah dan nyaman. Tapi Bobon merindukan kesederhanaan desanya. Merindukan Nenek Mira. Merindukan Tono.

Tiba-tiba, mereka mendengar keributan dari gerbang istana. Pangeran Bima mengerutkan kening.

"Apa itu?"

Mereka berjalan menuju gerbang. Di sana, beberapa penjaga sedang berhadapan dengan sekelompok orang. Mereka berpakaian compang-camping dan terlihat ketakutan. Ada anak-anak dan wanita di antara mereka.

"Pengungsi," kata Pangeran Bima. "Mereka pasti dari desa-desa yang diserang."

Bobon mendekat. Dia melihat seorang anak kecil menangis di pelukan ibunya. Anak itu kurus dan kotor. Matanya penuh ketakutan.

"Permisi," kata Bobon pada penjaga. "Biarkan mereka masuk."

Penjaga itu menatap Bobon dengan heran. "Mereka pengungsi, Tuan. Mereka tidak punya izin."

"Mereka butuh bantuan. Biarkan mereka masuk."

Pangeran Bima mengangguk pada penjaga itu. "Lakukan apa yang dikatakan Bobon. Bawa mereka ke dapur dan beri mereka makanan."

Penjaga itu membungkuk dan membuka gerbang. Para pengungsi masuk dengan rasa terima kasih. Mereka membungkuk pada Bobon dan Pangeran Bima.

"Terima kasih, Tuan. Terima kasih," kata seorang wanita tua sambil menangis.

Bobon mendekati anak kecil yang menangis tadi. Dia membungkuk dan tersenyum.

"Kau lapar?" tanya Bobon.

Anak itu mengangguk.

Bobon mengeluarkan kue yang disimpan di sakunya. "Ini untukmu. Makanlah."

Anak itu mengambil kue itu dengan tangan gemetar. Dia memakannya perlahan dan air matanya berhenti mengalir.

"Terima kasih, Mas," bisik anak itu.

Bobon tersenyum. "Sama-sama."

Pangeran Bima memperhatikan semua ini dengan kagum. "Kau benar-benar baik hati, Bobon. Tidak banyak orang yang peduli pada pengungsi seperti ini."

"Aku dulu juga pengungsi, Pangeran. Aku tahu rasanya kehilangan rumah dan keluarga."

Pangeran Bima menepuk pundak Bobon. "Kau adalah orang yang istimewa, Bobon. Aku yakin itu."

Sore harinya, Bobon diajak Raja Arya ke ruang perpustakaan istana. Ruangan itu penuh dengan buku-buku kuno dan gulungan-gulungan naskah. Aroma kertas tua memenuhi udara.

"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," kata Raja Arya.

Raja membawa Bobon ke sudut ruangan, di mana ada sebuah lukisan besar tergantung di dinding. Lukisan itu menggambarkan seorang pendekar gagah dengan pedang berkilau. Di sekeliling tubuhnya, ada tujuh lingkaran cahaya. Tujuh segel.

Bobon terkesiap. "Itu... itu aku?"

"Aku yakin itu kau," kata Raja Arya. "Lukisan ini sudah ada sejak seratus tahun lalu. Itu adalah lukisan Pendekar Dewata yang legendaris."

"Tapi bagaimana bisa lukisan ini ada di sini?"

"Karena Pendekar Dewata pernah menyelamatkan kerajaan ini dari kehancuran. Seratus tahun lalu, ada invasi dari Sekte Iblis. Pendekar Dewata datang dan mengalahkan mereka. Dia menyelamatkan Kerajaan Kencana."

Bobon diam. Dia menatap lukisan itu dengan mata penuh pertanyaan. Pria di lukisan itu tampak kuat dan percaya diri. Sangat berbeda dengan dirinya yang gemuk dan bodoh.

"Aku tidak percaya aku adalah orang itu," kata Bobon pelan.

"Kau tidak perlu percaya sekarang. Tapi suatu hari nanti, ketika segelmu terbuka, kau akan mengingatnya."

Malam harinya, Bobon duduk sendirian di kamarnya. Dia memandangi lukisan kecil yang diberikan Raja Arya padanya. Lukisan itu adalah salinan dari lukisan di perpustakaan.

Dia menyentuh wajah pendekar di lukisan itu. "Siapa kau sebenarnya?" bisiknya.

Tidak ada jawaban. Tapi di dadanya, segel keempat berdenyut pelan. Seperti ada sesuatu yang mencoba keluar.

Bobon memejamkan mata dan mencoba mengingat. Dia berkonsentrasi pada segel di dadanya. Tiba-tiba, dia melihat kilasan lagi.

Kali ini, dia melihat seorang wanita cantik dengan selendang biru. Wanita itu menangis dan berkata, "Kau harus pergi, Bobon. Kau harus menyelamatkan mereka."

"Tapi aku tidak mau meninggalkanmu!" teriak Bobon dalam kilasan itu.

"Kau harus. Aku akan menunggumu. Aku akan selalu menunggumu."

Wanita itu tersenyum sedih. Lalu kilasan itu menghilang.

Bobon terbangun dengan napas terengah-engah. Air mata mengalir di pipinya. Dia tidak tahu siapa wanita itu, tapi dia merasakan kehilangan yang begitu besar.

"Wanita dengan selendang biru," gumum Bobon. "Siapa kau?"

Dia memegang kain biru di sakunya. Kain itu terasa hangat, seperti merespon pertanyaannya.

Bobon berjalan ke balkon dan menatap langit malam. Bintang-bintang berkelip-kelip di atasnya. Di kejauhan, dia melihat bayangan gunung yang gelap.

"Aku akan mencari tahu," bisik Bobon. "Aku akan mencari tahu siapa aku sebenarnya. Dan aku akan menemukan wanita itu."

Di dalam hatinya, ada tekad baru. Tekad yang lebih kuat dari rasa takut dan kesedihan. Tekad untuk mengingat semuanya. Tekad untuk menjadi kuat. Tekad untuk melindungi orang-orang yang dicintainya.

Dan di bawah sinar bulan, segel keempat di dadanya mulai retak. Retakan kecil, tapi cukup untuk membiarkan sedikit kenangan masuk.

Kenangan tentang cinta. Kenangan tentang kehilangan. Dan kenangan tentang janji yang harus ditepati.

Bobon menutup matanya dan membiarkan air mata mengalir. Tapi di balik air mata itu, ada senyuman kecil di bibirnya.

"Aku akan kembali padamu," bisiknya pada angin malam. "Tunggu aku."

Di kejauhan, di lembah yang tertutup kabut, seorang wanita dengan selendang biru mendongak ke langit. Dia tersenyum dan air mata mengalir di pipinya.

"Aku menunggumu," bisiknya. "Aku selalu menunggumu, kekasihku."

Dan dunia persilatan mulai bergerak. Pasukan Sekte Iblis mulai berkumpul. 10 Jenderal Iblis bersiap untuk invasi besar.

Tapi di istana Kerajaan Kencana, seorang bocah gendut dengan hati yang murni mulai bangkit.

Perang besar akan segera dimulai.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Tak kira judulnya Babon, jebule Bobon🗿👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!