NovelToon NovelToon
Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: raya Abc

Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.

Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.

Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan Ella Yang Menarik Perhatian.

Pukul delapan malam.

kediaman Alexander kembali sunyi.

Emma baru selesai mandi.

Rambut pirang pendeknya masih sedikit basah ketika ia keluar dari kamar mandi sambil membawa handuk.

Ia melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja.

Layar menyala.

Ella Calling...

Emma segera mengangkatnya.

Wajah Ella muncul di layar video.

Di belakangnya tampak lampu-lampu gedung Manhattan yang mulai diterangi cahaya senja.

Ia masih berada di ruang kerjanya.

"Akhirnya diangkat juga."

Emma duduk di sofa.

"Aku baru selesai mandi."

Ella tersenyum kecil.

"Bagaimana jamuan tadi?"

Emma langsung menyandarkan tubuhnya.

"Melelahkan."

Ella tertawa pelan.

"Separah itu?"

"Lebih parah dan sangat membosankan bagi ku."

Emma mulai menceritakan semua yang terjadi.

Tentang para bangsawan yang senang berbasa-basi.

Tentang Lusiana yang beberapa kali mencoba mengajaknya berbicara.

Tentang Lord Ashcroft yang ternyata tidak mempermasalahkan perubahan penampilannya.

Ella mendengarkan dengan saksama.

"Syukurlah."

Emma menatap layar.

"Ayah tirimu..."

"Hm?"

"...berbeda dari bayanganku."

Ella tersenyum tipis.

"Ia memang seperti itu."

"Pendiam."

"Tidak pandai menunjukkan perhatian."

"Tapi pria itu sangat menyayangiku."

Emma mengangguk pelan.

"Aku mulai menyadarinya."

Untuk beberapa saat keduanya sama-sama terdiam.

Lalu Emma kembali berbicara.

"Tentang Andrea."

Ella langsung mengangkat wajahnya.

"Dia sudah muncul?"

"Belum."

"Tapi namanya sudah disebut."

Emma menceritakan bagaimana Mr. Howard menyampaikan undangan makan malam dari keluarga Anderson, lalu Ralph langsung menolaknya tanpa berpikir lama.

Ella tampak sedikit terkejut.

"Ditolak?"

"Iya."

"Langsung."

Ella mengernyit.

"Biasanya Ralph tetap datang kalau tidak ada urusan penting."

"Itu juga yang kupikirkan karna kau menceritakan semua nya kepadaku tentang gadis itu."

Emma menyilangkan kedua tangan.

"Setidaknya untuk sementara aku tidak melihat tanda-tanda kalau dia memberi harapan pada Andrea."

Ella terdiam.

"Itu... agak melegakan."

Emma mendengus pelan.

"Aku tetap tidak menyukainya."

"Aku juga bahkan sejak awal."

"Keluarga Anderson juga tidak."

Ella hanya mengangguk.

Ia tahu Emma memang tidak suka melihat orang yang memanfaatkan masa lalu untuk kepentingan sendiri.

Kini giliran Emma bertanya.

"Bagaimana kantormu?"

Ella langsung mengembuskan napas.

"Masih berusaha menyesuaikan diri dan pekerjaan mu sangat rumit dan syukurnya kau terus mengajari ku."

"Bagaimana Roman?"

Ella tersenyum kecil tanpa sadar.

"Masih dingin tapi beberapa kali membantu ku."

Emma langsung menyeringai tipis.

"Aku sudah bilang."

"Tapi..."

Ella menggigit bibir bawahnya.

"Dia ternyata tidak seburuk yang kau ceritakan."

Emma mendengus.

"Itu karena sekarang yang dia hadapi kamu."

Ella tertawa pelan.

"Sudah kubilang kalau ia beberapa kali membantuku."

"Membawa dokumen."

"Menjelaskan beberapa proyek."

"Dan hari ini kami menangani rapat bersama."

Emma mengangkat sebelah alis.

"Dia tidak memancingmu bertengkar seperti biasa?"

"Sepertinya dia mencoba."

"Lalu?"

"Aku tidak menanggapinya."

Emma terkekeh pelan.

"Bisa kubayangkan wajah kesalnya."

"Justru dia terlihat bingung melihat perubahan sikapku."

Emma mengangguk puas.

"Itu memang Roman."

"Kalau tidak ada lawan debat, dia sendiri yang kebingungan. Pria itu punya kesempatan karna bos perusahaan itu adalah pamannya sendiri."

Ella menatap saudari kembarnya.

"Emma."

"Apa?"

"Roman sebenarnya sangat menghargaimu."

Emma mendengus pelan.

"Itu bukan menghargai."

"Itu persaingan ketat antara kami, ia sangat ingin menyingkirkan ku dari sisi bos."

"Mungkin."

"Tapi entah kenapa aku bisa melihatnya. Tidak seperah yang kau ceritakan."

Emma menggeleng.

"Terserah. Kau mulai terpengaruh oleh nya jadi berhati-hatilah."

Baginya, hubungan dengan Roman tidak pernah lebih dari rival di tempat kerja.

Percakapan kemudian beralih pada hal-hal kecil.

Emma menanyakan letak beberapa ruangan di rumah Alexander yang mungkin suatu saat dibutuhkan.

Ella menjelaskan kebiasaan para pelayan, jadwal keluarga, hingga siapa saja kerabat yang sering berkunjung.

Sebaliknya, Emma juga mengingatkan Ella tentang beberapa pegawai senior di kantor New York yang sebaiknya lebih diperhatikan.

"Kalau William memanggilmu sendirian..."

Emma berkata serius.

"Jangan panik."

"Ia suka menguji cara berpikir."

Ella mengangguk sambil mencatat di buku kecilnya.

"Dan Roman?"

"Kalau dia mengkritik pekerjaanmu..."

Emma tersenyum tipis.

"...balas dengan data."

"Dia tidak bisa membantah fakta. Jadi kita harus selalu berkomunikasi agar kau bisa terus mengerjakan pekerjaan ku disana."

Ella kembali mengangguk.

"Baik. Aku akan selalu menanyakan mu."

Melihat itu, Emma menggeleng pelan.

"Kau benar-benar mencatat semuanya."

"Aku takut lupa akan hal-hal yang tidak kuketahui.."

"Itu memang sifatmu, kau sangat perduli pada apapun."

Emma memejamkan mata sejenak.

Berbeda dengan dirinya yang lebih mengandalkan ingatan.

Ella selalu terbiasa menulis segala sesuatu.

Waktu terus berjalan.

Jam di Inggris menunjukkan hampir pukul sembilan malam.

Sedangkan di New York, hari kerja hampir berakhir.

Ella melirik jam di dinding kantornya.

"Aku harus pulang sekarang."

Emma mengangguk.

"Aku juga ingin istirahat."

Sebelum panggilan berakhir, Emma kembali mengingatkan,

"Kalau Roman mulai curiga, jangan terlalu banyak menjelaskan."

"Aku mengerti."

"Dan kalau Andrea menghubungimu..."

Emma tersenyum tipis.

"...biar aku yang menghadapinya."

Ella hanya bisa menghela napas.

"Jangan terlalu kejam nanti orang-orang curiga."

"Aku memang kejam karna tidak suka dengan kemunafikan."

"Itulah yang kutakutkan dari mu sejak awal karna sifat kita sangat jauh berbeda."

Untuk pertama kalinya malam itu...

Emma tertawa pelan.

Tawa singkat yang membuat Ella ikut tersenyum.

Mereka saling melambaikan tangan.

Panggilan pun berakhir.

Emma meletakkan ponselnya di atas meja.

Tatapannya mengarah ke jendela yang memperlihatkan langit malam Inggris.

Esok hari...

Ia merasa kehidupannya sebagai Lady Alexander tidak akan lebih mudah.

Justru sebaliknya.

Semakin banyak orang yang harus ia hadapi.

Dan semakin besar risiko rahasia pertukaran mereka terbongkar.

Emma mematikan layar ponselnya.

Kamar kembali sunyi.

Ia berdiri di depan jendela besar, memandangi taman kediaman mewah ini yang diterangi cahaya lampu-lampu taman.

Angin malam mengibaskan tirai tipis di sampingnya.

Perlahan, pikirannya kembali mengingat percakapannya dengan Ella.

Lord Ashcroft.

Lusiana Roosevelt.

Andrea Anderson.

Satu per satu nama mulai memenuhi kepalanya.

Emma menyilangkan kedua tangan.

"Aku baru beberapa hari di sini..."

"...dan sudah terlalu banyak orang yang harus kuhadapi."

Ia bukan tipe wanita yang takut menghadapi orang.

Namun ia membenci satu hal.

Kepura-puraan.

Sedangkan dunia bangsawan yang kini ia pijak justru dipenuhi senyum sopan, kalimat berlapis makna, dan aturan yang menurutnya terlalu rumit.

Ketukan pelan terdengar dari balik pintu.

Tok.

Tok.

"Nyonya."

Suara Hannah terdengar hati-hati.

"Ada apa?"

"Apakah ada yang Anda butuhkan sebelum beristirahat?"

Emma memejamkan mata sesaat.

"Kalau ada, aku akan memanggil."

"Baik, Nyonya."

Langkah kaki Hannah perlahan menjauh.

Emma mengembuskan napas pelan.

Setidaknya...

Para pelayan mulai memahami satu hal.

Lady Alexander yang sekarang tidak suka diperlakukan seperti boneka porselen.

Ia lebih suka melakukan semuanya sendiri.

Emma mematikan lampu kamar.

Sebelum berbaring, matanya tanpa sengaja tertuju ke pintu kamar di seberang lorong.

Kamar Ralph.

Masih tertutup rapat.

Seperti hubungan mereka.

Dingin.

Penuh jarak.

Namun Emma tidak menyadari...

Di balik pintu itu, Ralph juga belum tidur.

Ia berdiri di depan jendela sambil memegang segelas air putih.

Pikirannya kembali mengulang setiap percakapan mereka hari itu.

Setiap bantahan.

Setiap tatapan.

Setiap kalimat singkat yang selalu berhasil membuatnya kehabisan jawaban.

Sudut bibir Ralph nyaris terangkat.

Sangat tipis.

"Hidupku..."

gumamnya pelan.

"...akhirnya tidak lagi membosankan.Ternyata Istriku punya sisi yang menarik."

Ia mematikan lampu kamarnya.

Sementara di balik dinding yang hanya dipisahkan lorong sempit, Emma telah lebih dulu memejamkan mata.

Tak satu pun dari mereka menyadari...

Bahwa benturan-benturan kecil yang terus terjadi setiap hari perlahan mulai mengubah sesuatu yang selama lima tahun tak pernah berubah.

Bukan cinta.

Belum.

Namun rasa ingin tahu di hati Ralph tumbuh semakin besar.

Dan terkadang...

Perasaan terbesar memang selalu berawal dari sebuah rasa penasaran.

1
Sriza Juniarti
lanjut kk..terus berkaeya..bagus banget
Sriza Juniarti
lanjut kk
mulai ngikuti sepertinya menarik
putmelyana
omg seharian nyari cerita bagus akhirnya ketemu jga aku bakalan masukin daftar cerita favorit aku. gak sia² secrol cari cerita bagus akhirnya ketemu jga. next Thor ceritanya aku tungguin🥰
rhien90
lanjuuuutt kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!