Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taman Kaca
Udara di dalam taman kaca terasa begitu berat, sarat oleh aroma melati yang menguar terlalu pekat hingga menusuk rongga napas. Aria berdiri tegak di tengah bentangan lantai marmer yang dingin, membiarkan bias cahaya sore menyusup melalui bilah-bilah kaca patri di langit-langit kubah. Pendar warna-warni—merah tua, biru safir, dan kuning tembaga—jatuh bertebaran di atas permukaan lantai, menciptakan ilusi seolah ia sedang berpijak di atas kepingan permata yang retak. Di hadapannya, Evelyn Roselia berdiri dengan keanggunan yang tampak begitu alami, seolah seluruh taman ini diciptakan hanya untuk menjadi latar belakang dirinya. Gaun sutra berwarna lavendel yang dikenakannya menyapu lantai dengan halus, bergoyang mengikuti ayunan langkah yang sangat terukur.
“Aku tidak menyangka kau akan benar-benar datang, Aria,” ucap Evelyn lembut. Suaranya mengalun bagai denting lonceng perak di sore hari, begitu merdu dan menenangkan. Namun, bagi rungu Aria, nada itu tak lebih dari desis ular yang bersiap meluncurkan taringnya.
Aria menatap lekat sepasang manik mata Evelyn, meredam gejolak di dalam dadanya yang mendesak untuk segera membalikkan badan dan pergi dari tempat menyesakkan ini. Ia menolak untuk terlihat gentar. Di balik lipatan gaun hijaunya yang tebal, jemari Aria bergerak perlahan, meraba permukaan dingin sebotol kaca kecil yang tersimpan aman di saku tersembunyi. Ramuan penawar racun itu adalah jaminan keselamatannya. Aria menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang sempat bertalu cepat. Ia harus membiarkan sandiwara ini bergulir sedikit lebih lama, membiarkan Evelyn merasa berada di atas angin hingga gadis itu sendiri yang menyingkap celah di balik topeng kesempurnaannya.
“Sebuah kehormatan besar bisa memenuhi undangan darimu, Evelyn. Lagi pula, keindahan taman kaca yang legendaris ini tentu terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja,” sahut Aria. Nada suaranya terdengar santai, diselingi senyum tipis yang tersaji dengan sangat apik di wajahnya.
Dari sudut matanya, Aria menangkap gemerisik halus di balik rimbunnya semak mawar putih yang memagari sudut ruangan. Gerakan itu begitu samar, hampir tidak terdengar jika bukan karena kepekaan indranya yang sedang menajam. Aria tahu, di balik dedaunan itu, salah satu mata-mata terbaik kiriman Adrian Frost sedang mengawasi, bersiap bertindak jika situasi memburuk. Kehadiran sosok tak terlihat itu memberikan embusan angin segar yang meringankan beban di pundaknya.
Tiba-tiba, sunyinya taman kaca itu terpecah oleh ketukan langkah kaki yang mantap dan berat. Suara sol sepatu bot kulit yang beradu dengan marmer tebal menggema di sepanjang koridor menuju taman. Duke Lucien Veritas melangkah masuk dengan pembawaan yang begitu tenang, namun aura dominan yang dipancarkannya seketika merenggut seluruh sirkulasi udara di ruangan itu. Netra kelamnya yang tajam langsung mengunci sosok Aria, seakan-akan keberadaan orang lain di tempat itu tidak lebih dari sekadar dekorasi dinding.
“Rupanya menebak keberadaanmu sore ini bukanlah hal yang sulit, Lady Aria,” sapa Lucien. Suaranya berat, bergaung rendah dengan intonasi yang sulit dibaca. Pria itu menganggukkan kepalanya sedikit ke arah Evelyn sebagai bentuk kesopanan formalitas, namun sepasang matanya tetap tertuju pada Aria, memancarkan binar ketertarikan yang dingin sekaligus menyelidik.
Evelyn tampak terkesiap sejenak. Senyum manis yang sejak tadi terpatri di bibirnya sempat membeku selama sepersekian detik sebelum akhirnya ia berhasil menguasai diri kembali. “Duke Veritas? Sungguh sebuah kejutan yang sangat menyenangkan. Kami baru saja hendak membicarakan beberapa rumor hangat yang sedang beredar di istana belakangan ini.”
“Benarkah?” Lucien melangkah mendekat. Jarak di antara mereka terkikis hingga Aria dapat menghirup aroma maskulin khas kayu cendana bercampur dinginnya salju yang menguar dari jubah beludru hitam milik sang Duke. “Jika demikian, izinkan aku untuk ikut serta dalam percakapan ini. Topik mengenai intrik istana selalu menjadi hiburan yang sangat menarik di kala senggang.”
Aria merasakan atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat pekat, seolah ada benang tak kasat mata yang ditarik kencang hingga nyaris putus. Kehadiran Lucien di tempat ini jelas bukan suatu kebetulan belaka. Pria misterius itu selalu tahu kapan harus muncul—tepat ketika bidak-bidak catur di atas papan mulai saling berhadapan, seakan ia sangat menikmati posisinya sebagai penonton sekaligus dalang yang mengamati jalannya takdir.
“Tentu saja, Duke,” jawab Aria, berjuang keras menjaga agar suaranya tidak bergetar. Ia mengepalkan tangan di balik gaunnya untuk mengusir rasa gugup yang tiba-tiba merayapi tengkuknya. “Lady Evelyn baru saja hendak menunjukkan beberapa koleksi tanaman langka di taman ini kepada saya. Beliau mengatakan bahwa beberapa di antaranya memiliki karakteristik yang sangat... istimewa.”
Evelyn menegang. Sudut matanya melirik sekilas ke arah sebuah vas porselen putih yang terletak di sudut meja marmer di dekat mereka. Di dalam vas itu, tumbuh seikat bunga berkelopak biru tua pekat yang tampak menawan. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, kelopak bunga itu melepaskan uap tipis yang nyaris transparan ke udara. Sebagai seorang mantan mahasiswi kedokteran, Aria langsung mengenali jenis tanaman tersebut. Itu adalah Frostbloom, sejenis tanaman hias langka yang jika diletakkan di ruang tertutup dengan sirkulasi udara buruk, uapnya dapat merusak sistem saraf manusia secara perlahan hingga menyebabkan kelumpuhan.
“Ah, itu hanya tanaman hias biasa untuk mempercantik ruangan, Aria,” potong Evelyn cepat, diiringi tawa kecil yang terdengar dipaksakan guna mengusir kecurigaan yang mulai mengambang di udara. “Kau terlalu berlebihan. Tidak ada yang istimewa dari sekadar bunga liar yang dikeringkan.”
Lucien melayangkan pandangannya ke arah bunga biru tua tersebut, menyipitkan mata dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. Sesaat kemudian, ia kembali menatap Aria. Ada kilatan pemahaman yang melintas cepat di bola mata gelapnya. Pria itu tahu persis bahaya apa yang sedang mengintai di ruangan ini, namun alih-alih bertindak sebagai penyelamat, ia justru menampilkan senyum tipis yang penuh teka-teki—menantang Aria untuk menyelesaikan masalah ini dengan kekuatannya sendiri.
“Tanaman memang memiliki pesonanya sendiri,” gumam Lucien sembari menyentuh ujung kelopak bunga lain yang berada di dekatnya dengan ujung sarung tangan hitamnya. “Namun, racun yang kerap kali disembunyikan di balik kelopak yang indah biasanya menjadi senjata terakhir bagi mereka yang mulai merasa terdesak dan ketakutan.”
Kalimat yang dilontarkan Lucien bagaikan hantaman godam yang tak kasat mata. Ketegangan di dalam taman kaca itu kini berada di titik kulminasi tertinggi. Aria menolak untuk mengalihkan pandangannya dari Evelyn. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan rasa cemas yang sempat menyelimuti dirinya menguap, digantikan oleh tekad yang sedingin es.
“Anda sangat benar, Duke. Namun, bagi mereka yang memiliki pengetahuan cukup untuk membedakan mana keindahan yang tulus dan mana jebakan yang mematikan, tidak ada satu hal pun yang perlu dikhawatirkan,” ujar Aria dengan nada suara yang tajam dan penuh penekanan. Ia mengambil satu langkah maju, mempersempit jaraknya dengan Evelyn hingga ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di dalam pupil mata sang antagonis.
Evelyn membisu. Rahangnya mengencang, dan tangannya yang memegang kipas renda bergetar halus karena amarah yang tertahan. Ia menyadari sepenuhnya bahwa gadis di hadapannya ini bukan lagi Aria Evander yang lemah, bukan lagi pion tidak berharga yang bisa ia singkirkan dengan fitnah sederhana. Sesuatu di dalam diri Aria telah berubah drastis—sebuah variabel tidak dikenal yang tidak pernah ada dalam rencana matang yang telah ia susun.
“Saya rasa udara di sini sudah mulai membuat kepala saya sedikit pening. Jika Anda berdua tidak keberatan, saya mohon pamit terlebih dahulu,” ucap Aria dengan nada yang teramat tenang, memotong kesempatan Evelyn untuk membalas ucapannya. Ia memberikan penghormatan singkat yang sempurna tanpa cela, lalu berbalik pergi.
Saat ia melangkah keluar menembus pintu taman kaca, Aria dapat merasakan tatapan intens dari Lucien yang terus mengiringi punggungnya hingga ia menghilang di balik tikungan koridor istana. Aria tidak menoleh sedikit pun. Ia tahu bahwa hari ini ia telah berhasil memenangkan satu pertempuran kecil dari perang besar yang sesungguhnya. Namun, ia juga sadar bahwa naskah takdir dunia ini kini telah benar-benar melenceng dari jalur aslinya.
Begitu ia tiba di koridor sunyi yang jauh dari jangkauan mata para bangsawan, sebuah cahaya keemasan redup mulai berpendar di bahu Aria. Sosok mungil Lumi muncul, duduk dengan anggun di atas pundaknya sembari mengepakkan sayap transparannya yang berkilau.
“Kau melakukannya dengan sangat luar biasa, Aria. Plot yang tertulis di dalam naskah asli kini mulai bergeser secara signifikan,” bisik roh kecil itu dengan suara yang terdengar seperti gemerincing pasir emas.
Aria hanya memberikan anggukan tipis sebagai tanggapan. Ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya, membiarkan ketegangan yang membuat otot-otot bahunya kaku perlahan-lahan mereda. Jalur yang ia pilih ini sangat berbahaya, terutama dengan keberadaan Duke Lucien Veritas yang tampaknya menyimpan rahasia yang jauh lebih besar dari apa yang bisa ia bayangkan.
Ia mempercepat langkah kakinya menyusuri lorong-lorong batu yang dingin menuju gerbang luar istana. Di luar sana, langit sore telah berselimut warna jingga kemerahan yang pekat, seolah menggambarkan bentangan darah yang siap menanti di masa depan. Namun bagi Aria, kegelapan malam yang akan datang bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru di mana ia sendiri yang memegang pena untuk menuliskan takdirnya.