Intan adalah gadis yang lugu dan baik hati, dia selalu membantu ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah mewah. Intan bersama ibunya hanya orang biasa yang tidak memiliki keluarga dan beruntung mereka bertemu dengan bu Ratna yang membawa mereka kerumah nya dan bekerja di sana.
Ratna yang berusia 18 tahun itu nampak cekatan membantu ibunya. Sikap sopan dan paruhnya membantu Ratna dan suami Agung begitu menyukai Intan, 5 tahun sudah berlalu kini intan sudah beranjak menjadi gadis dewasa.
Di mana kisah yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi, kisah pencinta dan tanpa restu akan terlibat dalam kehidupan nya.
Saat pertemuan nya dengan anak tunggal keluarga Wicana yang sudah menampung nya dan ibunya selamat bertahun-tahun lama nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lembayung Senjaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cepat Menikah
Hari ini Intan berniat untuk pergi untuk melihat keadaan rumah yang hendak ia beli besok. Pagi pagi sekali gadis itu sudah membereskan semua pekerjaan nya, hari ini ibunya sedang sakit jadi Intan melakukan nya sendiri.
Gadis itu menatap pantulan dirinya di depan cermin. Baju hitam dengan celana putih yang baru dia beli beberapa minggu lalu dia kenakan sekarang, nampak sederhana seperti biasanya namun bisa membuat orang lain jatuh hati melihat nya.
" Udah siap, sebaiknya aku cari taksi aja di depan komplek untuk nganter ke sana. Mumpung masih pagi ibu juga lagi gak enak badan kasihan kalau di tinggal sendiri. " Ucap Intan merapikan rambut nya yang dia ikat ke atas dengan cantik.
Gadis itu berjalan keluar dari kamar nya mencari ibu nya yang belum terlihat.
" Mau kemana kamu?. " Ucap Mahendra membuat gadis itu terkejut.
" Iss kak Mahen, ngagetin aja aku kira siapa tadi. " Mahendra tertawa melihat tingkah Intan yang mungkin belum terbiasa dengan kehadiran dirinya di rumah itu.
" Yaaa maaf, tadi aku jalan jalan kebelakang liat liat eh ketemu kamu di sini. Kamu mau kemana kok udah cantik aja?. " Ucapan Mahendra langsung membuat pipi Intan memerah membuat gadis itu langsung berbalik merasa malu jika Mahendra melihat semburan pink di wajah nya.
" Lucu sekali gadis ini. " Batin Mahendra.
" Intan mau izin keluar kak, Intan mau.. "
" Mau apa?. " Gadis itu nampak gugup berhadapan dengan Mahendra. Intan mengatur nafas nya kemudian berbalik menatap Mahendra.
" Mau lihat rumah di desa B, rencana aku sama ibu mau berhenti kerja di sini dan nyonya Ratna sudah mengizinkan jadi aku mau lihat lihat di sana dulu kak. "
" Kenapa harus pindah?. "
" Haaaa.., yaaa karena udah waktu nya kak. Aku sama ibu udah cukup lama di sini dan gaji kamu udah lebih dari cukup untuk memulai hidup baru di sana. " Mahendra terdiam mencerna ucapan gadis itu yang membuat nya sedikit ada rasa tidak rela.
" Kenapa?. "
" Aku anterin yah aku juga gak ada kerjaan, minggu depan aku dah sibuk jadi gak sempet jalan jalan lagi. " Intan mengangguk patuh dan mengizinkan Mahendra ikut bersama nya.
" Tunggu di depan aku mau ambil jaket dulu. "
" Iya. " Intan berjalan sembari mencari keberadaan ibunya.
Taman Bunga Cendana
Ami nampak diam sembari menyirami bunga bunga mawar di sana. Tidak terasa sudah hampir 6 tahun dia menanam bunga itu hingga sebesar dan sesubur itu sekarang. Dia berfikir bagaimana jika dia dan Intan pergi apa mawar mawar itu akan tetap tumbuh subur seperti itu.
" Ibu.. " Ami berbalik menatap putri semata wayang nya yang belari pelan menghampiri dirinya.
Senyum lebar terlukis indah di wajah cantik nya yang ceria, terkadang wanita itu itu berfikir bagaimana kehidupan gadis cantik itu saat dia harusnya pergi jauh meninggalkan nya. Dia akan sendiri tanpa sokongan kehidupan dan semangat lagi darinya.
" Ibu ngapain sih, kan lagi sakit biar Intan aja yang nerusin ibu sekarang masuk kekamar yah istirahat biar cepet sembuh. " Cerca Intan mengambil alih selang dari tangan Ami yang sudah keriput itu.
" Intan kan mau pergi, nanti kamu telat nak kasihan pemilik rumah itu pasti nunggu kamu lama loh. " Gumam Ami pelan.
" Gak papa, lagian kak Mahendra mau anter Intan buk tadi kebetulan aku ketemu di rumah belakang. " Ami menatap anaknya dengan lembut dan tersenyum.
Wanita tua itu duduk di kursi taman sembari memperhatikan Intan yang berceloteh saat nanti mereka memiliki rumah dan menanam banyak sekali bunga di sana, menikmati segelas teh hangat di depan rumah sendiri.
" Intan.. " Gadis itu menatap ibunya dengan lembut.
" Iya ibu... "
" Setelah kita punya rumah kamu punya usaha sendiri mulai lah cari laki-laki yang menerima kamu apa ada nya nak, ibu gak mau kamu tetap sendiri dan memilih merawat ibu. Ibu pengen kamu cepat menikah memiliki keluarga yang bahagia. " Gumam Ami membuat Intan terdiam meresapi kata kata lembut ibunya itu.
" Iyaa Intan usahain untuk segera punya sseorang dalam hidup Intan ya buk, ibu jangan khawatir tentang jodoh Intan itu semua ada yang atur kita cuman bisa nunggu setiap proses itu. " Ucapan Intan di dengar oleh Mahendra membuat nya menatap ibu dan anak yang sedang mengobrol serius itu.
" Cari lah seseorang yang setara dengan kita Intan, ibu gak mau nanti kamu akan di anggap beban dan hanya memanfaatkan harta mereka. " Intan terkekeh pelan dia tahu betul ucapan ibunya itu tertuju pada siapa dan untuk siapa mengingat kedekatan nya dengan anak majikan ibunya itu.
" Ekhem... " Mahendra menghampiri mereka dengan berdehem sedikit keras.
" Tuan muda, ada yang bisa bibik bantu?. " Gumam Ami langsung berdiri dari duduk nya.
" Gak usah bik, aku kesini mau manggil Intan tadi katanya dia mau pergi kebetulan Mahendra lagi gak ada kerjaan jadi boleh kan kalau Intan pergi nya sama Mahen?. "
Ami menatap Intan yang tersenyum tipis.
" Boleh, silakan tapi jangan pulang sampai larut jika semua sudah selesai langsung pulang. " Pesan Ami pada mereka berdua.
Akirnya mereka pergi berdua dengan motor merah kesayangan Mahendra seperti hari kemari, menikmati udara dan panas matahari pagi yang menyabut mereka. Mahendra mengendarai motor dengan santai sambil sesekali bercanda gurau dengan Intan.
Jalanan pagi itu nampak ramai setiap mata memandang mereka selayaknya sepasang kekasih yang sedang beradu asmara, serasi mesti mereka tidak lah bersama.
" Jadi kamu mau punya suami seperti apa?. " Ucapan Mahendra tiba-tiba.
" Maksut nya?. "
" Iya tadi bik Ami bilang nyuruh kamu cepat cepat nikah kan?. Aku nanya laki-laki seperti apa yang akan kamu pilih?. " Intan terdiam sejenak dia sendiri tidak pernah mengenal deket seorang laki-laki selaian Mahendra dan ayahnya Agung.
" Malah bengong kamu nie?. "
" Aku bingung sih kak, tipe laki-laki seperti apa yang nantinya aku pilih. Intan sendiri gak pernah berinteraksi sedekat ini dengan laki-laki selain kam Mahendra dan pak Agung tentu nya. " Seketika ucapan Intan membuat Mahendra tercengang.
" Sama sekali?. "
" Hemzz, iyaa sama sekali. Tapi yang pasti dia harus setara dengan Intan sama seperti kata ibu tadi, dia juga gak boleh seperti bapak.. " Ucap Intan sedikit pelan.
" Emang kenapa bapak kamu?. " Intan diam tidak menjawab ucapan Mahendra membuat pemuda itu merasa tidak enak hati telah bertanya sejauh itu.
" Maaf, aku gak bermaksud bertanya hal se pribadi itu sama kamu Intan. " Gumam Mahendra pelan.
Mereka melanjutkan perjalanan yang lumayan jauh dari kota sebuah desa di mana masih banyak rumah rumah dulu yang tidak semewah di kota, gedung gedung juga belum banyak di sana. Dan tentu nya masih sangat asri untuk di tempat.