Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMAINAN TAKDIR | SEASON 2 | Pertemuan Yang Terasa Tak Asing
Langit sore dihiasi semburat jingga ketika Niel keluar dari gedung perusahaan dengan langkah tenang. Jas hitam yang melekat di tubuhnya membuat wibawanya semakin terpancar. Para karyawan menundukkan kepala memberi salam, sementara ia hanya membalas dengan anggukan singkat.
Mobil hitam mewah telah menunggu di depan lobi.
"Pak Niel, langsung pulang?" tanya sopirnya.
Niel tidak segera menjawab. Tatapannya justru terpaku ke arah trotoar di seberang jalan. Di sana, seorang gadis sedang berdiri sambil memeluk beberapa buku. Rambut panjangnya tertiup angin sore. Wajahnya tampak tenang, namun entah mengapa begitu menarik perhatian.
Dadanya berdebar pelan.
Perasaan aneh itu kembali muncul.
"Aneh..." gumamnya lirih.
Ia yakin belum pernah mengenal gadis itu. Namun setiap kali melihatnya, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Seolah ada bagian dari dirinya yang berusaha mengingat sesuatu yang telah lama hilang.
Gadis itu kemudian menaiki bus kota dan menghilang dari pandangannya.
Niel masih berdiri mematung.
"Pak?" panggil sopir sekali lagi.
"Ikuti bus itu."
Sopir sedikit terkejut, tetapi tidak berani bertanya lebih jauh.
Mobil melaju perlahan mengikuti bus hingga berhenti di sebuah halte kecil. Gadis itu turun, lalu berjalan menuju sebuah toko buku yang tidak terlalu ramai.
Niel memperhatikannya dari kejauhan.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis.
"Aku ini sebenarnya sedang apa?"
__________________________________________
Di sisi lain.
Aluna baru saja menyusun buku-buku di rak ketika pikirannya kembali melayang.
Wajah pria yang tadi dilihatnya di depan gedung perusahaan terus terbayang.
Tatapan matanya.
Cara ia berdiri.
Sorot matanya yang dingin, tetapi entah mengapa terasa begitu familiar.
"Aku kenal dia?" gumam Aluna pelan.
Temannya, Siska, menoleh.
"Kenal siapa?"
Aluna menggeleng cepat.
"Nggak... cuma merasa pernah lihat seseorang."
Siska terkekeh.
"Jangan-jangan cinta pada pandangan pertama."
Aluna langsung memukul pelan lengan sahabatnya.
"Ih, apaan sih."
Namun setelah itu, ia kembali diam.
Entah mengapa, ada rasa sesak setiap kali membayangkan pria tersebut.
Bahkan tanpa sadar, matanya mulai berkaca-kaca.
Ia buru-buru mengusapnya.
"Kenapa aku mau nangis...?"
__________________________________________
Malam harinya.
Niel terbangun dengan napas memburu.
Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ia baru saja bermimpi.
Dalam mimpinya, ada seorang gadis yang menangis sambil memanggil namanya.
"Niel..."
Suara itu terdengar begitu jelas.
Ia bahkan bisa merasakan hangatnya pelukan gadis tersebut.
Namun ketika hendak melihat wajahnya...
Semuanya berubah menjadi putih.
Kosong.
Niel memijat pelipisnya.
"Mimpi apa itu..."
Sudah beberapa minggu terakhir mimpi yang sama terus datang.
Selalu gadis yang sama.
Selalu suara yang sama.
Namun wajahnya tidak pernah terlihat jelas.
Anehnya, malam ini suara itu terasa jauh lebih nyata.
_________________________________________
Di tempat lain.
Aluna juga terbangun secara bersamaan.
Napasnya tidak kalah memburu.
Air mata mengalir tanpa ia sadari.
Dalam mimpinya, ia melihat seorang pria berdiri membelakanginya.
Pria itu perlahan menoleh.
Namun sebelum wajahnya terlihat...
Mimpi itu kembali terputus.
Yang tersisa hanya satu kata.
"Aluna..."
Ia memegang dadanya.
"Kenapa... rasanya sakit sekali?"
Padahal ia bahkan tidak tahu siapa pria itu.
__________________________________________
Keesokan harinya.
Takdir kembali mempertemukan mereka.
Aluna sedang berjalan keluar dari toko buku sambil membawa sekotak novel baru.
Tanpa sengaja, seseorang menabraknya.
Bruk!
Kotak itu terjatuh.
Buku-buku berserakan di trotoar.
"Aduh..."
Aluna segera berjongkok untuk memungut buku-bukunya.
Namun ada sepasang tangan lain yang lebih dulu mengambil salah satunya.
Saat tangan mereka menyentuh buku yang sama..
Keduanya membeku.
Untuk sesaat...
Sebuah kilasan aneh melintas di kepala mereka.
Tawa.
Pelukan.
Tangisan.
Janji.
Dan sebuah kalimat yang terdengar begitu jauh.
"Kalau suatu hari nanti kita lupa satu sama lain... berjanjilah, kita akan saling menemukan lagi."
Kilasan itu menghilang secepat datangnya.
Niel dan Aluna sama-sama memegang kepala mereka.
"Ah..."
Rasa nyeri itu hanya berlangsung beberapa detik.
Ketika keduanya kembali menatap satu sama lain, mereka sama-sama kebingungan.
"Apa kita... pernah bertemu?" tanya Niel pelan.
Aluna menggeleng pelan.
"Kurasa... belum."
Hening sesaat.
Lalu Niel tersenyum tipis, senyum yang bahkan jarang ia tunjukkan kepada siapa pun.
"Kalau begitu... izinkan aku memperkenalkan diri."
Ia mengulurkan tangan.
"Aku Niel."
Aluna menatap tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menyambutnya.
"Aluna."
Tak ada satu pun dari mereka yang menyadari...
Di gedung tinggi tepat di seberang jalan, seseorang sedang mengawasi melalui layar monitor.
Pria bertopeng hitam itu menyilangkan tangan sambil tersenyum tipis.
"Selamat datang di fase kedua..."
"Permainan takdir... baru saja dimulai."
— Bersambung ke Episode 2 —