Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar Sewaan & Perut Buncit
Motor Honda Supra Fit keluaran tahun 2006 milik Arya Prasetya menderu membelah kepadatan lalu lintas Jalan MH Thamrin dengan suara yang tidak sinkron antara penampilan luar dan performa mesinnya. Secara visual, motor itu adalah definisi dari kemiskinan yang bergerak. Knalpot standarnya yang sudah dilapisi karat tebal bergoyang setiap kali roda belakang melindas marka jalan, dan salah satu kaca spionnya sengaja diganjal menggunakan potongan kertas kardus agar tidak layu terkena embusan angin. Namun, di balik wujud ringseknya itu, getaran sisa energi sistem dari "misi terbang" kemarin masih terasa hangat di bawah jok. Setiap kali Arya memutar tuas gas, mesin tua tersebut melesat dengan akselerasi yang begitu responsif, meliuk-liuk lincah di antara barisan sedan mewah Eropa yang terjebak kemacetan Jakarta Pusat.
Di dalam kepalanya, Arya sedang mengalami krisis eksistensial yang luar biasa hebat. Tangan kirinya mencengkeram stang, sementara matanya sesekali melirik God-Phone 13 Pro Max gaib yang terpasang kokoh di holder spion. Hanya mata Arya yang bisa melihat layar holografis transparan itu berkedip-kedip, menampilkan hitungan mundur sisa waktu misi yang kian menipis.
“Karbo-Kinesis? Mengendalikan kandungan karbohidrat dan lemak makanan secara instan lewat tatapan mata?” Arya berteriak di dalam batinnya, meratapi hilangnya sisa-sisa logika kewarasan dunia. “Sistem gila! Lu kira gua ini ahli gizi dari dunia sihir? Apa gunanya kekuatan kayak begini di lobi mall megah sekelas Grand Indonesia? Apa gua disuruh bikin targetnya mendadak kena diabetes stadium akhir di tempat? Terus kalau gua gagal, lu mau ngilangin celana jins gua dan diganti rok mini macan tutul punya biduan dangdut? Sumpah, ini aplikasi bikinan dajjal tipe apa sih?!”
Meskipun monolog batinnya dipenuhi kepanikan yang membakar dada, Arya tidak punya pilihan selain pasrah demi mempertahankan rating bintang 5 dan—yang paling penting—demi menyelamatkan harga dirinya dari hukuman memakai rok mini di depan Bang Jay dan Dedi. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila.
Tepat pukul sepuluh lewat dua menit, Arya menarik rem depannya dengan tajam di area drop-off lobi eksekutif Menara BCA, Grand Indonesia Mall. Suara decitan rem tromolnya yang kering dan berbunyi CITAAAARRR! nyaring bergema di bawah langit-langit lobi yang dilapisi marmer mengkilap berkualitas impor. Kehadiran sebuah motor bebek tua yang mengeluarkan asap tipis di tempat yang biasanya hanya dipenuhi mobil Porsche, Alphard, dan BMW itu tentu saja langsung merusak pemandangan estetika kelas atas.
Dua orang petugas satpam bertubuh tegap dengan seragam safari hitam dan baret di kepala langsung melangkah tegap mendekati Arya. Wajah mereka mengeras, dipenuhi kewaspadaan mutlak.
"Maaf, Mas Ojol," ujar salah satu satpam yang memiliki kumis tebal, suaranya terdengar berat dan intimidatif. "Kalau mau menjemput atau mengantar penumpang reguler, silakan lewat jalur basement dua atau gang samping gedung. Ini area khusus lobi eksekutif untuk tamu penting dan jajaran direksi. Motor tidak boleh berhenti di sini."
Arya tidak langsung menjawab. Dia memutar engsel kaca helm INK bututnya yang sudah baret-baret parah, memperlihatkan separuh wajahnya ke arah kedua petugas keamanan tersebut. Begitu kaca helm terangkat, aura di sekitar tempat itu mendadak berubah secara drastis. Kontras visual tingkat tinggi langsung tercipta. Di balik jaket ojol hijau lumut yang warnanya sudah memudar dan aroma matahari jalanan yang melekat tipis di tubuhnya, terpampang struktur wajah Arya yang luar biasa menawan. Rahangnya yang tegas, hidung mancung yang proporsional, serta mata elangnya yang tajam dan berkilau jantan membuat kedua satpam itu tertegun diam. Rahang mereka seolah terkunci, mendadak merasa minder dengan ketampanan sang driver yang lebih mirip seorang pangeran konglomerat yang sedang menyamar.
"Maaf merepotkan, Pak," kata Arya, suaranya yang berat dan penuh wibawa terdengar begitu sopan, buah dari didikan moral bapaknya yang selalu menekankan pentingnya menghargai orang lain di jalanan. "Saya mendapatkan orderan premium di aplikasi atas nama Nona Citra Kirana. Titik penjemputannya tertulis jelas tepat di lobi utama menara ini."
Mendengar nama "Citra Kirana", kedua satpam itu langsung saling pandang dengan mata terbelalak. Siapa di kawasan Sudirman-Thamrin yang tidak mengenal wanita itu? Citra Kirana adalah CEO muda jenius yang memimpin perusahaan modal ventura raksasa yang berkantor di lantai teratas menara ini. Dia terkenal dingin, tak tersentuh, dan memiliki standar gengsi yang setinggi langit. Bagaimana mungkin seorang raksasa bisnis seperti dia memesan sebuah ojek online berwujud Supra Fit berkarat?
Namun, sebelum salah satu satpam sempat mengeluarkan suara untuk memprotes, perhatian seluruh orang di lobi mewah itu mendadak teralihkan oleh suara langkah sepatu hak tinggi yang berketukan cepat dan tergesa-gesa dari arah pintu kaca otomatis.
TAK! TAK! TAK!
Seorang wanita muda dengan kecantikan yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun melangkah keluar ke area drop-off. Citra Kirana tampak sangat memukau dengan setelan blazer formal berwarna biru navy yang melekat ketat di tubuhnya, menonjolkan lekuk dada yang penuh, pinggang yang sangat ramping, serta pinggulnya yang berisi dan jenjang. Rambut hitam bergelombangnya dibiarkan terurai bebas, berayun lembut ditiup angin lobi, membingkai wajah ovalnya yang sempurna dengan riasan kosmetik kelas atas yang elegan namun tidak berlebihan. Begitu dia mendekat, aroma tubuhnya yang mewah—perpaduan antara wangi vanilla premium, kayu cendana, dan ekstrak mawar prancis—langsung menyeruak ke udara terbuka, mengalahkan bau asap knalpot dan debu jalanan dengan mutlak.
Namun, ekspresi wajah cantiknya saat ini sedang dipenuhi oleh mendung kemarahan. Di belakang Citra, melangkah seorang pria klimis dengan rambut yang ditata rapi menggunakan pomade mahal. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu rancangan desainer ternama Italia yang harganya setara dengan harga sepuluh unit motor Supra milik Arya. Wajah pria itu dihiasi oleh senyuman sinis yang merendahkan. Dia adalah Dewa Pratama, mantan tunangan Citra yang terkenal sombong karena kekayaan tujuh turunan keluarganya yang tak habis-habis.
"Citra, sudahlah! Jangan kekanak-kanakan dengan memesan ojek online murahan di depan mataku seperti ini!" seru Dewa dengan suara lantang, sengaja membesarkan volumenya agar didengar oleh para staf dan orang-orang kaya yang sedang mengantre di lobi. "Kalau kamu memang ingin menolak tawaranku untuk makan siang bersama dan membahas kelanjutan investasi konsorsium kita, jangan pakai alasan sekonyol ini. Lihat siapa yang datang menjemputmu? Driver dengan motor bebek rongsokan yang bahkan tidak layak masuk scrap besi tua? Apa kamu sudah kehilangan akal sehat dan standarmu sebagai seorang CEO?!"
Citra menghentikan langkahnya tepat dua meter di samping motor Arya. Napasnya naik turun dengan cepat, dadanya yang molek membusung tegang menahan amarah yang membakar harga dirinya. Dia merasa terpojok. Dewa sengaja menggunakan kekuasaan bisnisnya untuk mengintimidasi dan merendahkannya di depan publik.
Citra kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Arya. Sesaat, mata indahnya yang dilapisi eyeliner tipis itu tertegun diam. Dia mengharapkan seorang driver ojol tua yang kuyu, namun yang dia lihat adalah seorang pemuda dengan struktur wajah yang begitu sempurna, mata yang memancarkan ketenangan mistis, dan bahu yang sangat lebar di balik jaket hijaunya. Ketampanan Arya begitu menonjol hingga membuat Dewa yang memakai jas desainer di sebelahnya mendadak terlihat seperti figuran biasa.
Mengingat sisa waktu misi di layar ponsel gaibnya tinggal dua menit lagi, Arya tahu dia tidak boleh menjadi penonton yang pasif. Ini adalah saat di mana sistem menuntut profesionalisme mutlak demi ulasan bintang 5.
Dengan gerakan yang sangat tenang, anggun, namun penuh karisma jantan, Arya menurunkan standar samping motornya lalu turun dari jok. Postur tubuhnya yang tegap dengan tinggi seratus delapan puluh sentimeter membuat jaket ojol yang memudar warnanya itu mendadak terlihat seperti pakaian high-fashion yang dipamerkan di panggung Paris Fashion Week.
"Maaf membuat Anda menunggu terlalu lama, Sayang," ujar Arya dengan nada suara yang berat, rendah, dan sangat maskulin, langsung memotong rentetan makian Dewa dengan telak.
Citra Kirana terbelalak mendengar kata "Sayang" yang keluar dari bibir Arya. Jantungnya mendadak berdegup kencang dengan frekuensi yang tidak wajar. Belum sempat otak cerdas sang CEO mencerna apa yang terjadi, Arya sudah melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Citra bisa merasakan kehangatan tubuh Arya yang tegap.
Tanpa ragu-ragu, Arya menjangkalkan lengan kanannya yang kekar dengan lembut namun sangat protektif ke pinggang ramping Citra. Dengan satu tarikan halus yang penuh wibawa, Arya menarik tubuh molek sang CEO hingga menempel tanpa celah ke dada bidangnya. Kontak fisik yang begitu dekat, intens, dan mendadak ini memberikan sensasi kejutan listrik yang berdesir di seluruh kulit tubuh Citra. Aroma maskulin yang alami bercampur wangi matahari yang anehnya sangat menenangkan dari tubuh Arya langsung menyerang indra penciuman Citra, membuatnya mendadak lemas dan tak berdaya di dalam pelukan pria asing ini. Semburat merah merona yang sangat panas langsung menjalar dari leher hingga ke pipi mulus Citra.
"Kamu... apa yang kamu lakukan..." bisik Citra dengan suara yang mendadak parau, bergetar, dan dipenuhi oleh gejolak baper yang belum pernah dia rasakan dari pria mana pun seumur hidupnya.
Arya memberikan tatapan mata yang dalam dan sebuah kedipan menenangkan kepada Citra, seolah berbisik, “Tenang, serahkan semuanya pada driver pribadimu.” Setelah itu, Arya memalingkan wajahnya dan menatap tajam ke arah Dewa yang wajahnya kini sudah berubah menjadi merah padam karena cemburu, syok, dan tidak percaya dengan pemandangan di depannya.
"Siapa bajingan kotor berpakaian sampah ini, Citra?!" bentak Dewa, menunjuk wajah Arya dengan jarinya yang gemetar hebat karena murka. "Kamu berani menolak makan siang di restoran bintang lima bersamaku hanya demi pelukan seorang driver miskin yang baunya seperti asap knalpot ini?! Apa kamu sudah gila?!"
Arya tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh penghinaan elegan yang membuat Dewa makin naik pitam. Di saat yang sama, layar God-Phone gaib di stang motor Arya mendadak menyala terang benderang dengan notifikasi sistem baru yang berkedip dengan warna emas.
[PANDUAN AKTIVASI SKILL: KARBO-KINESIS (LEVEL 1)]
Target Terdeteksi: Pria Sombong Berjas Abu-abu di Depan Anda.
Catatan Sistem: Kunci tatapan mata pada target! Deteksi sisa makanan di lambungnya (1 porsi Spageti Carbonara Ekstra Keju dan 3 buah Donat Gula Premium yang baru dimakan 15 menit lalu di kafe lobi). Pindahkan seluruh nilai kalori dan karbohidrat tersebut secara instan untuk menumpuk di jaringan adiposa perutnya!
Arya menarik napas panjang, melakukan monolog batin yang dipenuhi tawa geli sekaligus ngeri, “Ya ampun sistem... ini beneran gua bakal bikin dia buncit seketika? Maaf banget ya, Mas Jas Abu-abu, lu gak beruntung hari ini karena harus berurusan sama khodam aplikasi ojol yang salah sasaran.”
Arya memantapkan pandangannya, mengunci kornea mata Dewa dengan tatapan mata elangnya yang mematikan. "Mas... kalau bicara tolong dijaga mulutnya. Saya memang cuma seorang driver ojol, tapi saya adalah pria yang menjamin kebahagiaan, kehormatan, dan keselamatan Citra. Dan satu lagi... sepertinya jas mahal yang Anda pamerkan itu sudah mulai kekecilan dan tidak muat lagi dengan tubuh Anda."
Dewa mengkerutkan keningnya, bersiap menyemburkan makian kasar, namun tepat pada detik itu juga, keajaiban absurd dari sistem Godjek bekerja tanpa ampun.
BZZZZT!
Secara gaib dan instan, kandungan karbohidrat, molekul lemak, dan kalori tinggi dari spageti dan donat gula yang sedang dicerna di dalam lambung Dewa mendadak berlipat ganda secara abnormal dan berpindah massal ke arah perut bagian depannya. Hukum fisika dan biologi tubuh manusia seolah dihancurkan berkeping-keping dalam sekejap.
Perut Dewa yang awalnya rata dan atletis hasil dari perawatan spa dan olahraga mahal, tiba-tiba membusung ke depan dengan kecepatan yang mengerikan seolah-olah ditiup oleh pompa angin raksasa!
KREEEEK... DUAARR!
Kancing kemeja sutra putih merek Hugo Boss di balik jas Dewa mendadak terlepas satu per satu karena tekanan yang terlalu kuat. Kancing-kancing besi itu memantul di atas lantai marmer lobi dengan bunyi TANG! TING! TUNG! yang sangat nyaring. Perut Dewa mendadak buncit besar, bulat, dan keras seperti seorang wanita yang sedang hamil tua sembilan bulan dan siap melahirkan! Jas abu-abu mahalnya robek di bagian jahitan punggung belakang dengan bunyi SOBEEK! yang tragis karena tidak mampu menahan tekanan lingkar pinggang yang melebar drastis dalam waktu tiga detik.
"Hah?! Perutku?! Apa yang terjadi dengan perutku?!" teriak Dewa histeris dengan suara yang mendadak melengking panik seperti suara perempuan terjepit. Dia mencoba menarik napas dalam-dalam untuk mengempiskan perutnya, namun tindakan itu justru membuat celana bahan mahalnya ikut robek di bagian resleting depan dengan bunyi KREEEET!, memperlihatkan dengan sangat jelas celana dalam bermerek Calvin Klein motif garis-garis merah muda miliknya.
Pemandangan itu begitu konyol, begitu slapstick, dan begitu menghancurkan martabat. Dua orang satpam yang awalnya tegap langsung membalikkan badan, menutup mulut mereka dengan kedua tangan sambil bahu mereka berguncang hebat menahan tawa yang siap meledak. Para karyawan menara, sekretaris, dan sosialita yang berada di lobi langsung berbisik-bisik riuh sebelum akhirnya suara tawa kolektif yang renyah pecah di seluruh penjuru lobi Grand Indonesia.
Citra Kirana yang masih berada di dalam rangkulan hangat lengan kokoh Arya ikut terperangah dengan mata bulat sempurna. Dia menatap Dewa yang sedang panik berputar-putar seperti gasing sambil memegangi resleting celananya yang robek dan perut buncitnya yang bergoyang-goyang seperti jeli, lalu mendongak menatap rahang tegas Arya. Wajah Arya tetap datar, tenang, dan berwibawa seolah-olah dia baru saja menjentikkan jari untuk melakukan mukjizat kecil yang tidak berarti.
“Pria ini... dia tidak hanya tampan, gagah, dan berani melindungiku, tapi dia punya semacam kekuatan mistis misterius yang bisa mempermalukan seorang konglomerat tanpa perlu menyentuhnya sedikit pun?” batin Citra dengan jantung yang kian berdebar kencang sampai dadanya terasa sesak. Pandangannya yang awalnya dipenuhi keputusasaan kini berubah total menjadi rasa kagum yang mendalam, dicampur dengan benih-benih asmara yang mulai tumbuh subur di hatinya. Dia merasa Arya adalah sosok pria yang sempurna, seorang pelindung sejati yang dikirim oleh takdir untuknya.
Arya dengan santai melepaskan rangkulannya di pinggang ramping Citra, memastikan sang CEO sudah bisa berdiri tegak dengan kakinya sendiri. Dia kemudian berbalik, mengambil helm cadangan berwarna merah muda dari spion motor bebeknya.
"Ayo naik, Nona Citra," ujar Arya sambil menyodorkan helm tersebut dengan senyuman tipis yang sangat menawan. "Kita tinggalkan Om-Om buncit ini sebelum dia mendadak melahirkan prematur di atas lantai marmer ini."
Citra tidak bisa lagi menahan senyum manisnya yang memikat, sebuah senyuman yang sanggup meruntuhkan ego pebisnis mana pun di Jakarta. Tanpa ragu-ragu sedikit pun, sang CEO muda yang biasanya dikenal sangat menjaga gengsi dan geng kekuasaannya itu mengangguk patuh seperti seorang gadis remaja yang sedang kasmaran. Dia menerima helm merah muda itu, memakainya dengan rapi, lalu bersiap menaiki jok belakang motor Supra Fit tua milik Arya demi melarikan diri bersama sang penyelamat misteriusnya membelah jalanan ibu kota.