NovelToon NovelToon
The Lecturer'S Secret Wife

The Lecturer'S Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."




​Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.

​"Yuna Anindya."

​Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.

​"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.

​Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesona Di Kantin Fakultas

​Setelah menghabiskan cumi saus telur asin buatan Labib sampai bersih, suasana hati Yuna benar-benar pulih. Ia kembali ke kamar atas dengan langkah ringan. Di depan cermin, ia mengemas beberapa lembar kertas kalkir, buku referensi struktur, dan laptop ke dalam ransel imutnya. Hari ini ada diskusi tugas kelompok yang cukup krusial sebelum kelas Studio Gambar dimulai.

​Yuna mandi dengan terburu-buru, lalu memilih pakaian terbaiknya untuk menutupi memar di lengan kirinya. Ia mengenakan celana jeans berpotongan pas yang dipadukan dengan blouse longgar berwarna pastel yang cantik—khas gaya mahasiswi muda yang modis namun tetap sopan. Setelah memoles lip balm tipis di bibirnya, Yuna berangkat membelah jalanan kota menuju kampus.

​Tepat pukul 12.15 siang, mobil City Car putih Yuna sudah terparkir rapi. Begitu turun dan berjalan menuju koridor utama, ia langsung disambut oleh Dinda yang sudah melambaikan tangan dengan heboh.

​"Yun! Segar banget mukanya? Katanya tadi mau ganti baju doang, kok kayak abis facial? Cantik amat," goda Dinda sambil merangkul pundak Yuna saat mereka berjalan menuju kantin fakultas untuk membicarakan tugas kelompok sebelum kelas dimulai.

​"Ih, apa sih, Din. Efek mandi siang aja kali," kilah Yuna sambil tertawa kecil, menyembunyikan fakta bahwa rona bahagianya berasal dari kecupan kening sebelum berangkat tadi.

​Mereka memesan dua gelas es jeruk dan mulai menggelar beberapa diktat materi di atas meja kantin yang cukup ramai siang itu. Yuna sedang serius menjelaskan pembagian tugas kelompok mereka ketika mendadak atmosfer di sekitar kantin mengalami sedikit pergeseran. Suara bisik-bisik dari meja sebelah terdengar riuh.

​"Eh... eh... Yun, bentar. Jangan kedip," bisik Dinda tiba-tiba, matanya melotot menatap ke arah gerbang masuk kantin.

​Yuna mendongak, ikut memperhatikan arah pandang Dinda. Seorang cowok bertubuh tinggi tegap dengan jaket denim longgar dan rambut hitam yang sedikit berantakan tampak melangkah masuk.

​Arsen.

​Dia adalah idola kampus dari Fakultas Teknik Mesin—atlet basket universitas yang terkenal dengan ketampanannya yang cuek dan senyumannya yang mematikan. Anak-anak Arsitektur jelas tahu siapa Arsen, meskipun cowok itu sangat jarang, atau bahkan hampir tidak pernah, menginjakkan kaki di kantin Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan tempat Yuna berada karena jarak gedung mereka yang berjauhan.

​Arsen berjalan santai sambil memainkan kunci motor di jarinya. Namun, langkah kakinya mendadak melambat tepat saat melewati koridor tengah kantin. Tatapan matanya yang semula acuh tak acuh tanpa sengaja terkunci pada satu titik.

​Tepat ke arah Yuna.

​Gadis berumur 21 tahun yang sedang duduk di bawah bias cahaya matahari siang, dengan rambut yang tertiup angin halus dan blouse cantik yang melekat di tubuhnya, benar-benar mencuri perhatian Arsen. Cowok itu sempat terpaku selama beberapa detik, terpesona oleh kecantikan natural Yuna yang tampak sangat menonjol di antara keramaian.

​Alih-alih melanjutkan langkahnya keluar kantin untuk kembali ke fakultasnya sendiri, Arsen tiba-tiba mengubah arah. Dengan seringai tipis yang sengaja dipasang, ia berjalan menuju jajaran meja kosong yang berjarak hanya sekitar tiga meter dari bangku Yuna dan Dinda.

​Arsen mengempaskan tubuhnya di kursi kayu tersebut, memosisikan duduknya agar menghadap langsung ke arah meja Yuna. Pria itu menyandarkan punggungnya santai, menopang dagu dengan satu tangan, dan mulai secara terang-terangan memperhatikan setiap gerak-gerik Yuna dengan tatapan intens yang penuh minat.

​"Yun... Yun..." Dinda menyenggol kaki Yuna di bawah meja dengan brutal, wajahnya memerah menahan heboh. "Arsen Teknik Mesin... dia duduk di sana sengaja buat ngeliatin lo! Sumpah, dia nggak lepas pandangan dari tadi!"

​Yuna melirik sekilas ke arah meja Arsen dan mendapati cowok itu langsung memberikan senyuman tipis yang sangat menawan begitu mata mereka bertemu. Jantung Yuna sempat berdesir karena terkejut dikagumi oleh idola kampus, namun sedetik kemudian, bayangan wajah tegas Pak Labib dengan kacamata bacanya langsung melintas di benaknya.

​Yuna menelan ludah. 'Aduh, kalau sampai Mas Labib lewat dan lihat ada cowok lain yang ngeliatin aku kayak gini... hukuman apa lagi yang bakal aku terima di rumah nanti?' batin Yuna panik.

​Yuna meremas pulpennya dengan gugup, berusaha keras menjaga pandangannya tetap tertuju pada kertas kalkir di atas meja. Tatapan intens dari Arsen yang berada beberapa meter di sampingnya membuat tengkuk Yuna terasa dingin.

​"Din, udah, cuekin aja. Jangan dilihatin balik," bisik Yuna setengah mendesak, suaranya naik satu oktav karena panik. "Ayo lanjutin ini, bagian fondasinya gimana?"

​Dinda yang awalnya heboh, langsung merapatkan tubuhnya ke meja saat melihat ekspresi tegang sahabatnya. "Iya, iya, Yun. Tapi sumpah ya, si Arsen itu tatapannya kayak mau bungkus lo bawa pulang. Gila, lu pelet pakai apa sih semalam di kosan gue?"

​"Dinda, ih! Nggak lucu," omel Yuna dengan pipi yang mendadak bersemu merah.

​Yuna terus membolak-balik halaman buku referensinya dengan gerakan acak, pura-pura sangat sibuk dan tidak menyadari keberadaan sang idola kampus. Sementara itu, Arsen di seberang sana tampak semakin tertarik melihat respons Yuna yang terkesan jual mahal. Cowok Teknik Mesin itu menaikkan satu alisnya, bersiap untuk berdiri dan tampaknya berniat menghampiri meja mereka.

​Jantung Yuna sudah berdegup kencang. Ia melirik jam tangan, berharap dosen mereka segera masuk atau ada keajaiban yang menyelamatkannya dari situasi canggung ini.

​“Woy, Sen! Malah nongkrong di sini lo!”

​Sebuah teriakan lantang dari arah gerbang kantin seketika memecah ketegangan. Tiga orang cowok berbadan tegap dengan jersei basket universitas berjalan cepat menghampiri meja Arsen. Salah satu dari mereka langsung merangkul leher Arsen dengan kasar.

​"Ditungguin di lapangan dari tadi, malah melipir ke fakultas anak teknik sipil. Nyari siapa lo?" sahut temannya yang lain sambil tertawa.

​Arsen terkekeh pelan, menepis tangan temannya tanpa mengalihkan pandangannya dari Yuna untuk terakhir kali. "Bentar, lagi ada pemandangan bagus."

​"Halah, telat latihan lima menit lagi, bisa digantung kita sama Coach. Ayo cepetan!" Teman-temannya tidak memedulikan protes Arsen. Mereka langsung menarik jaket denim Arsen dan menyeret cowok itu secara paksa untuk segera keluar dari kantin menuju lapangan basket.

​Arsen akhirnya pasrah berdiri dan mengikuti langkah teman-temannya, namun sebelum benar-benar berbalik, ia sempat melemparkan senyuman tipis dan kedipan mata jail ke arah Yuna.

​Begitu rombongan anak basket itu menghilang di balik koridor, Yuna langsung mengembuskan napas lega yang teramat panjang, seolah baru saja lolos dari kejaran ujian dadakan.

​"Fiuh... selamat," gumam Yuna sambil menyandarkan punggungnya lemas ke kursi.

​Dinda hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kagum. "Sayang banget, Yun! Padahal kalau dia ke sini tadi, lo bisa dapet nomor HP-nya Arsen. Tapi beneran deh, muka lo tadi panik banget kayak ketahuan selingkuh sama suami orang aja."

​Yuna tersedak air liurnya sendiri mendengar celetukan Dinda. Ia buru-buru meminum es jeruknya untuk menutupi kepanikan yang sesungguhnya. 'Bukan suami orang, Din... tapi suami gue sendiri yang bisa berubah jadi macan kalau tahu kejadian ini!' batin Yuna menjerit.

1
Rian Moontero
mampiiirrrrR🤣
Sri Afrilinda
so sweet😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!