NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pion catur Alden

Malam itu, kediaman keluarga Alden disulap menjadi tempat yang teramat megah. Lampu kristal berpendar mewah, bunga-bunga segar menghiasi setiap sudut ruangan, dan para tamu undangan dari kalangan elit tampak berbincang dengan gelas champagne di tangan mereka.

Suasana di dalam kamar utama yang luas itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada kemeriahan pesta di lantai bawah. Suara dentuman musik dan riuh rendah tawa para tamu hanya terdengar samar dari balik pintu kayu mahoni yang tertutup rapat.

Aleta terduduk di tepi ranjang berukuran king size dengan gaun pesta berwarna putih yang terasa seperti beban berat di tubuhnya. Ia menunduk dalam, menatap jemarinya yang gemetar.

Alden berdiri di depan cermin besar, sedang membetulkan letak cufflink di kemejanya. Ia menatap pantulan Aleta di cermin tak bisa di pungkiri Aleta begitu cantik malam ini.

"kamu dengar suara itu, Aleta?" ucap Alden dengan lembut panggilan nya pun menjadi biasa lagi

"Mereka semua di bawah sana mengira malam ini adalah malam kemenangan bagi keluarga aku dan keluarga Felicia. Mereka pikir pertunangan ini bakal berjalan mulus."

Alden berhenti tepat di depan Aleta, lalu berjongkok agar pandangan mereka sejajar. Ia meraih tangan Aleta dan menggenggamnya, namun kali ini bukan dengan cengkeraman paksa, melainkan dengan sentuhan yang terasa dingin dan penuh perhitungan.

"Tapi mereka salah besar," bisik Alden dengan nada yang sarat akan rencana jahat.

"aku gak pernah punya niat buat terikat sama perempuan seperti Felicia. Malam ini, kita akan menghancurkan segalanya. Dan kamu Aleta... kamu adalah pemeran utama dalam kehancuran itu."

Aleta memberanikan diri menatap mata Alden, meski dadanya berdegup kencang karena takut. "Apa maksudmu, ka Alden? Kenapa aku?"

Alden terkekeh, tangannya beralih mengusap lembut rahang Aleta, membuat gadis itu tidak bisa memalingkan wajah. "Karena cuma kamu yang bisa bikin rencana ini sempurna. Aku butuh kamu untuk muncul di tengah pesta, di saat yang paling krusial, di depan semua orang."

Alden bangkit berdiri, lalu memberikan isyarat agar Aleta berdiri juga.

"Nanti, tepat sebelum prosesi tukar cincin, ada orang yang akan jemput kamu, kamu harus tampil, Aleta. kamu harus tunjukin ke mereka semua, terutama ke orang tua Felicia, siapa sebenarnya yang ada di hati aku."

Alden menundukkan wajahnya, berbisik tepat di telinga Aleta

"Jadi, pilihannya ada dua: kamu nurut sama rencana aku, buat pertunangan ini hancur, dan aku bakal jamin nyokap lo aman. Atau... kamu menolak, dan aku sendiri yang bakal pastiin hidup nyokap lo berakhir besok pagi. Gimana, Aleta? Kamu siap buat jadi 'bintang' utama di pesta pertunangan yang bakal jadi bencana ini?"

Aleta terpaku, membeku di tempatnya berdiri. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia merasa seperti boneka kayu yang baru saja dijatuhi beban berat yang tidak sanggup ia pikul.

Di satu sisi, ia membenci Alden dengan segenap hatinya. Namun di sisi lain, ancaman mengenai ibunya adalah belenggu yang tidak bisa ia lepaskan. Jika ia setuju, ia akan menjadi alat penghancur bagi keluarga Felicia dan mungkin akan menjadi musuh publik—seorang gadis yang dianggap perusak pertunangan orang lain. Jika ia menolak, ibunyalah yang akan menanggung akibatnya.

Alden tidak memaksanya untuk menjawab. Ia justru berjalan menuju pintu kamar, tangannya sudah memegang knop pintu. Ia menoleh ke belakang, menatap Aleta dengan tatapan dingin yang menunggu.

"Waktu kita nggak banyak, Aleta," ujar Alden pelan, suaranya terdengar seperti lonceng kematian.

"Tamu-tamu sudah mulai berkumpul di depan panggung. Sepuluh menit lagi, bersiaplah."

Alden membuka pintu sedikit, membiarkan suara riuh rendah pesta di bawah sana masuk ke dalam kamar, seolah memberikan tekanan tambahan pada Aleta.

Klik.

Pintu tertutup rapat kembali. Aleta kini sendirian di dalam kamar yang luas dan dingin itu. Ia gemetar hebat, kakinya terasa lemas hingga ia kembali terduduk di tepi ranjang. Suara musik di bawah sana yang tadinya terdengar megah, kini terdengar seperti suara dentuman palu hakim yang sedang menjatuhkan vonis atas hidupnya.

Aleta menatap gaun yang dikenakannya di cermin, tampak cantik namun terasa seperti kostum untuk sebuah tragedi. Ia harus memutuskan: apakah ia akan keluar sebagai "penghancur" demi keselamatan ibunya, atau tetap bersembunyi dan membiarkan bencana yang lebih besar menimpa orang yang paling ia sayangi?

Tangannya meremas kain gaunnya kuat-kuat, buku jarinya memutih. Hening menyelimuti kamar itu, hanya menyisakan deru napasnya yang tidak beraturan dan suara detak jantungnya yang berdegup kencang seolah menghitung sisa detik yang ia miliki sebelum ia harus turun ke sana.

🌍🌍🌍

Pintu kamar terbuka dengan satu dorongan yang mantap. Sosok orang kepercayaan sekaligus tangan kanan Alden yang selalu bergerak dalam bayang-bayang, berdiri di ambang pintu dengan wajah datar tanpa ekspresi. Tatapannya tertuju pada Aleta yang masih terduduk di tepi ranjang, terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan jiwanya.

ia tidak perlu banyak bicara. Ia sudah sangat paham dengan tugasnya. Ia masuk ke dalam kamar, lalu berhenti beberapa langkah di depan Aleta. Suasana hening yang mencekam menyelimuti ruangan tersebut, hanya diisi oleh suara musik orkestra dari lantai bawah yang terdengar seperti iringan menuju sebuah petaka.

"nona Aleta," panggil Farhan dengan nada dingin yang tidak bersahabat, namun sopan secara formalitas.

"mas Alden sudah menunggu di bawah. Waktunya sudah tiba."

Farhan sedikit melangkah mundur, memberi ruang dan isyarat dengan tangannya agar Aleta segera bangkit. Ia adalah eksekutor dari perintah Alden; baginya, perasaan Aleta tidak lebih penting daripada kepatuhan terhadap perintah bosnya.

"Silakan, Nona. Jangan buat mas Alden menunggu lebih lama"

Dengan tubuh yang limbung, Aleta perlahan bangkit dari tempat tidur. Kakinya terasa seperti pemberat besi yang sulit diangkat, namun ia melangkah maju menuju pintu, di mana seorang pria itu sudah siap mengawal langkahnya menuju panggung kehancuran.

🌍🌍🌍

Suasana aula yang tadinya riuh mendadak hening. Ratusan pasang mata tadinya tertuju pada sosok Aleta yang berjalan menuruni tangga utama. Gaun yang dikenakannya tampak kontras dengan suasana pesta.

beberapa orang berbisik karena melihat kecantikan gadis di atas, cantik yang begitu alami dan kelihatan begitu lembut.

Tepat saat Aleta mencapai pertengahan tangga, Alden—yang sedang memegang kotak cincin berlian—tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia tidak memasangkan cincin itu ke jari Felicia.

Felicia yang masih tersenyum manis dengan tangan terulur, tampak bingung.

"Alden? Ada apa? Kok berhenti?"

Alden tidak menjawab. Ia perlahan menarik tangannya, memutar tubuhnya, dan memberikan tatapan yang paling memuja ke arah Aleta yang sedang terpaku di tangga. Senyum hangat—senyum yang selama ini ia cadangkan hanya untuk memanipulasi—kini ia tunjukkan terang-terangan di depan seluruh elit kota.

Langkah Alden mantap saat ia mulai menaiki kembali anak tangga, bergerak menjauhi panggung, menjauhi Felicia, dan berjalan lurus ke arah Aleta.

"Alden!" suara orang tua Felicia mulai meninggi, tersinggung oleh sikap sang calon menantu.

"Apa yang kamu lakukan? Acara pertunangannya sedang berlangsung!"

Alden mengabaikan teriakan itu. Ia tetap fokus pada Aleta, menatap gadis itu dengan binar mata yang obsesif. Ia terus berjalan hingga akhirnya berdiri satu anak tangga di bawah posisi Aleta. Kini, Alden berada tepat di hadapan Aleta, menatap lurus ke matanya.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Alden membuka kotak cincin yang seharusnya disematkan kepada Felicia. Cahaya lampu kristal memantul dari berlian itu, berkilauan di antara mereka berdua.

Alden meraih jemari Aleta yang dingin dan gemetar, lalu dengan gerakan lambat dan sengaja, ia membiarkan cincin pertunangan itu menggantung di antara jari mereka.

"Cincin ini tidak pantas ada di tangan orang lain," ucap Alden dengan nada yang terdengar seperti janji sekaligus ancaman mematikan.

"Aleta, kamu tahu ke mana cincin ini seharusnya berakhir, kan?"

Di bawah sana, Felicia sudah mematung dengan wajah pucat pasi, sementara bisik-bisik para tamu berubah menjadi keributan besar. Alden tidak peduli. Ia terus menatap Aleta, menanti gadis itu menerima cincin tersebut di depan semua orang—menghancurkan reputasi Felicia sekaligus mengikat dirinya sendiri selamanya di hadapan publik.

Alden kembali menatap Aleta, matanya seolah menghipnotis gadis itu agar tetap diam. Ia meraih tangan Aleta dengan kelembutan yang sangat manipulatif, seolah-olah ia sedang memuja sesuatu yang paling berharga di dunia ini. Ia tidak peduli pada Felicia yang kini berdiri kaku dengan mata berkaca-kaca di bawah sana; bagi Alden, Felicia hanyalah pion yang sudah ia singkirkan.

"Aleta," bisik Alden, suaranya cukup keras untuk didengar oleh barisan tamu di depan.

"Jangan sembunyikan wajah cantikmu itu. Biarkan mereka semua melihat, siapa pemilik hatiku yang sebenarnya."

Alden dengan perlahan menyelipkan cincin pertunangan itu ke jari manis Aleta. Di bawah sana, para tamu tampak terpana, beberapa mulai bertepuk tangan secara spontan karena terbuai oleh aura dramatis dan kecantikan Aleta yang memikat. Alden telah berhasil; ia tidak hanya membatalkan pertunangan, tetapi ia telah menahbiskan Aleta sebagai miliknya di depan semua orang terpandang di kota itu, mengubah sebuah skandal menjadi sebuah "romansa" yang terlihat begitu indah di mata publik.

🌍🌍🌍

1
Putri Ayu/PqxxyZ
oh tidak bisa😭 sudah berkeliling pikiram
Nalara amora: di larang keras woy ka itulah 😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
mama aku takut banget sama Alden 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
obat itu... ngeri sih..😭 agak lain memang
Putri Ayu/PqxxyZ
wah ini nih.. oke lanjut baca lah.. 😭
Putri Ayu/PqxxyZ
gak bang.. aku gak bang😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
seperti ada kebanggaan ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo bisa ayo kabur mbak😭 takut banget hidup kek gitu
Putri Ayu/PqxxyZ
mas yang bener aja lah... cinta memaksa gitu gak baik toh mas
Putri Ayu/PqxxyZ
Aleta.. run mbak.. run 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ini betulan gak dibawa ke RS gitu? kasian banget lemes gini
Enz99
menarik
Putri Ayu/PqxxyZ
langsung di hap aja deh🤭
Putri Ayu/PqxxyZ
no no ya.. gak boleh gitu ama cewek toh bang
Putri Ayu/PqxxyZ
lohh ini mah hukuman seumur hidup namanya
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat di rekomendasi baca ini.. Keren banget
Putri Ayu/PqxxyZ
enak tau teh di UKS tuh 🤣 kek beda gitu rasanya
Putri Ayu/PqxxyZ
aw gentle sekali... bungkus deh 😭🤭
Nalara amora
seruu bgt
Nalara amora
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!