NovelToon NovelToon
REINKARNASI SI PAHLAWAN 5 ELEMEN

REINKARNASI SI PAHLAWAN 5 ELEMEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Anime / Reinkarnasi
Popularitas:961
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.

Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Pertemuan dengan Gadis Elf, Sylfia

Setelah beberapa menit beristirahat, warna wajah Sylfia perlahan mulai membaik. Rasa lemas dan nyeri yang tadinya terasa menusuk kini berkurang drastis, membuatnya bisa menggerakkan tubuh tanpa kesakitan berlebihan. Ia menatap Rey yang sedang duduk berjauhan sambil mengamati sekeliling dengan waspada, dan rasa penasaran bercampur rasa percaya perlahan tumbuh di hatinya.

“Rey… bagaimana bisa lukaku membaik secepat ini?” tanya Sylfia dengan suara lembut. “Bahkan obat terbaik dari desa kami butuh waktu berjam-jam untuk menetralkan racun itu. Padahal baru sekitar setengah jam saja.”

Rey menoleh dan tersenyum tipis, memberikan jawaban yang aman tanpa membuka rahasia sebenarnya. “Aku sering berburu dan merawat luka sendiri di hutan sejak kecil. Jadi aku tahu cara mencampur tanaman obat dan menggunakannya dengan benar. Mungkin juga karena tubuhmu sendiri sudah memiliki daya tahan yang kuat, jadi penyembuhannya lebih cepat.”

Jawaban itu terdengar masuk akal, meskipun masih ada sedikit keraguan di benak Sylfia. Namun ia memutuskan untuk tidak menekannya lebih jauh. Setidaknya, hingga saat ini Rey telah membuktikan dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya.

Tiba-tiba, telinga panjang dan runcing milik Sylfia bergerak sedikit, menandakan ia menangkap suara yang sangat samar. Wajahnya langsung berubah tegang.

“Rey… ada suara langkah kaki. Banyak orang, mendekat dari arah timur,” bisiknya dengan nada waspada. “Itu pasti kelompok penyerang yang mengejarku tadi.”

Rey langsung berdiri tegak, tangannya memegang gagang pedang dengan santai namun siap. Ia pun merasakan getaran tanah dan aliran energi yang tidak biasa—sekitar tujuh hingga delapan orang mendekat, membawa niat jahat yang terasa jelas.

“Diamlah di sini dan tetap bersembunyi. Jangan keluarkan suara apa pun. Aku akan menghadapi mereka,” ujar Rey tenang.

“Tapi mereka banyak dan membawa senjata beracun! Kau sendirian bisa bahaya,” cegah Sylfia dengan khawatir.

Rey hanya mengangguk meyakinkan. “Tenang saja. Aku tahu apa yang aku lakukan. Tetaplah bersembunyi di balik akar pohon itu, jangan keluar sampai aku memanggilmu.”

Tanpa menunggu jawaban lagi, Rey melangkah keluar dari tempat persembunyian mereka dan berdiri tepat di tengah jalan setapak yang menjadi satu-satunya akses masuk ke tempat itu. Ia berdiri tegak, ekspresinya datar tanpa rasa takut sedikit pun.

Tidak lama kemudian, muncul delapan sosok pria berpakaian serba gelap, mengenakan penutup wajah, dan membawa berbagai senjata tajam serta busur beranak panah. Begitu melihat sosok Rey berdiri sendirian di tengah jalan, mereka berhenti dan tertawa sinis.

“Wah, ada tikus kecil yang lewat di sini,” kata salah seorang dari mereka, yang tampak sebagai pemimpin kelompok itu. “Hei, anak muda. Pergilah dari sini kalau tidak ingin terluka. Kami sedang mengejar barang buruan kami.”

Rey menatap mereka dengan pandangan dingin, lalu menjawab dengan suara tenang namun tegas: “Tempat ini adalah jalur umum. Kalau ada urusan, selesaikan dengan cara yang sah. Kalau kau mengejar seseorang hanya untuk menjualnya, maka kau telah melanggar hukum kerajaan.”

Kata-kata itu membuat mereka tertawa lebih keras lagi.

“Dasar anak desa bodoh! Hukum tidak berlaku bagi kami di tengah hutan ini. Kalau kau menghalangi jalan, maka kau juga akan menjadi korban hari ini!” teriak pemimpin itu sambil memberi isyarat pada bawahannya. “Serang dia! Jangan sampai ada saksi yang hidup!”

Empat orang langsung melangkah maju, mengayunkan pedang dan kapak ke arah Rey dengan gerakan kasar dan penuh amarah.

Di balik semak-semak, Sylfia menonton dengan napas tertahan. Ia siap mengeluarkan sihirnya untuk membantu jika keadaan berbahaya, meskipun tenaganya masih belum pulih sepenuhnya. Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat matanya terbelalak kaget.

Begitu senjata-senjata itu hampir menyentuh tubuh Rey, pemuda itu bergerak secepat kilat. Ia melangkah menyamping dengan kecepatan yang tidak wajar, lalu memukul gagang pedangnya ke pergelangan tangan salah satu penyerang. Suara tulang yang retak terdengar, dan senjata itu terlempar jauh.

Tanpa memberi mereka kesempatan untuk berteriak, Rey mengerahkan sedikit saja energi angin di kakinya, membuat gerakannya semakin ringan dan cepat. Ia berputar menghindari serangan lain, lalu menggunakan tenaga yang terukur—tidak membunuh, tapi cukup untuk melumpuhkan—menghantam titik-titik tubuh mereka dengan teliti.

Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, keempat orang itu sudah tergeletak di tanah, kesakitan dan tidak bisa bangun lagi.

Pemimpin kelompok itu tertegun melihat kenyataan di depannya. Matanya melotot tidak percaya, lalu ia berteriak marah: “Kau… kau punya kekuatan sihir? Semua maju sekaligus! Bunuh dia!”

Sisa empat orang lainnya mengangkat busur dan melepaskan anak panah sekaligus ke arah Rey. Panah-panah itu melesat cepat, bahkan ujungnya terlihat berlumuran cairan kehijauan yang berbahaya.

Namun Rey hanya tersenyum tipis. Ia mengangkat kedua tangannya, dan tanpa terlihat jelas oleh mata biasa, ia mengerahkan energi angin yang cukup kuat namun terkontrol.

“Berhenti.”

Seketika itu juga, di udara terbentuk pusaran angin tak terlihat yang menangkap semua anak panah itu, lalu memutarnya kembali ke arah pengirimnya dengan kecepatan dua kali lipat lebih cepat.

DOR! DOR! DOR!

Panah-panah itu menancap tepat di depan kaki para penyerang, menancap dalam ke tanah dan membuat debu beterbangan. Jika Rey ingin, ia bisa saja menancapkannya ke tubuh mereka, tapi ia memilih memberi peringatan keras.

Suasana menjadi hening seketika. Para penyerang itu mundur ketakutan, tubuh mereka gemetar melihat kekuatan yang baru saja ditunjukkan.

“K-kekuatan macam apa ini? Dia bukan pemula biasa!” seru salah satu dari mereka dengan suara bergetar.

Rey melangkah maju perlahan, pandangannya tajam menusuk ke dalam hati mereka. “Aku hanya akan memberi satu kesempatan. Lempar senjatamu, pergi sejauh mungkin dari hutan ini, dan jangan pernah kembali lagi untuk berbuat jahat. Kalau tidak, serangan berikutnya tidak akan hanya menancap di tanah.”

Suara itu terdengar tenang, namun membawa tekanan yang luar biasa seolah datang dari kedalaman bumi. Tanpa berpikir dua kali lagi, mereka langsung melempar senjata mereka, lalu berbalik lari terbirit-birit meninggalkan teman-temannya yang masih tergeletak di tanah.

Rey mendekati empat orang yang tergeletak itu, memeriksa kondisi mereka—hanya keseleo dan memar, tidak ada luka parah yang membahayakan nyawa. Ia mengikat tangan dan kaki mereka dengan tali dari rambat pohon yang kuat, lalu meninggalkannya di tempat yang aman agar bisa ditemukan pasukan penjaga hutan nanti.

Setelah memastikan semuanya aman, Rey kembali ke tempat persembunyian. Begitu ia muncul, Sylfia sudah berdiri menunggunya dengan pandangan penuh kekaguman sekaligus rasa ingin tahu yang membara.

“Rey… kekuatanmu itu… itu bukan kekuatan biasa, kan?” tanyanya dengan nada terkejut. “Kecepatanmu, cara kau menghentikan panah itu… itu adalah sihir tingkat tinggi yang bahkan sedikit penyihir hebat pun bisa melakukannya.”

Rey menggaruk belakang kepalanya dengan canggung, lalu tersenyum. “Hanya sedikit trik yang aku pelajari selama bertahun-tahun. Lagipula, aku hanya menggunakan secukupnya saja untuk melindungi diriku dan orang yang butuh bantuan.”

Melihat ketulusan di mata Rey, rasa curiga yang tersisa di hati Sylfia lenyap seketika. Ia mengangguk pelan, lalu melangkah mendekat dan membungkukkan badannya dengan hormat.

“Terima kasih banyak, Rey. Kalau bukan karena kau, aku pasti sudah tertangkap atau mati di tempat ini. Hutang nyawa ini akan selalu aku ingat.”

Rey segera menahannya dan mengangkat tubuh gadis itu dengan lembut. “Tidak perlu berterima kasih berlebihan. Manusia atau elf, kita sama-sama makhluk yang berhak hidup aman. Sekarang, lukamu sudah mulai membaik, tapi kita tidak bisa tinggal di sini semalaman. Lebih baik kita segera pergi ke tempat yang lebih aman sebelum malam tiba.”

Sylfia mengangguk setuju. Ia merasa tenang dan aman berada di dekat Rey—sesuatu yang jarang ia rasakan saat bertemu manusia lain.

Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan keluar dari hutan dengan Rey memimpin jalan. Di sepanjang perjalanan, Sylfia mulai bercerita lebih banyak tentang kehidupannya, kebiasaan sukunya, dan keadaan hutan-hutan di wilayah itu. Sementara itu, Rey mendengarkan dengan penuh perhatian, menyerap setiap informasi yang berguna untuk perjalanannya ke depan.

Tanpa mereka sadari, langkah kaki mereka itu telah memulai ikatan yang lebih erat—yang nantinya akan menjadi dasar dari tim yang akan mengguncang sejarah benua ini.

📌 jangan lupa follow,like,dan komen setiap novel di akun ini ya.. 🥰

1
SecretivePlotter
setidaknya bukan keluarga budak
SecretivePlotter
rey keisuke cucunya kakek sugiono
SecretivePlotter
authornya pasti 29 thun juga🤭
SecretivePlotter
bayi koek
SecretivePlotter
kalo lu mau sosialisasi juga gak bakal sepi
SecretivePlotter
nolep
anggita
ikut ng👍like, iklan aja, moga novelnya lancar jaya👌.
Nacha Adhi: 😍😍😍😍 makasih senior
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!