Arunika Safana terpaksa menurut ketika kedua orang tua angkatnya memintanya untuk menikahi Bratasena Arka Sadajiwa, karena kakak angkatnya -Bianca- kabur tepat di hari pernikahannya dengan Sena. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Aruni menyetujui permintaan kedua orang tuanya meskipun Aruni dan Sena terpaut usia yang cukup jauh yaitu 12 tahun.
Sena; "Semua orang kek anj*ng! semua gara-gara Lo, Bii! kenapa Lo harus kabur di hari pernikahan kita! dan gue harus menikah dengan bocah ini?!"
Arunika; "Astaga kayak mimpi! Nggak ada yang tau, kalau selama ini aku memang suka sama Mas Sena. I have loved him since the first time we met, 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus menggantikan Kak Bi jadi pengantin Mas Sena? absolutely I do!"
Gimana ya, keseruan Arunika untuk mendapatkan hati Sena? berhasilkah dia? yuk ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang menggemparkan.
Setelah menikmati hidangan laut yang sangat nikmat di tepi pantai, Aruni dan Sena kembali ke vila. Udara malam terasa sejuk, angin laut membawa wangi garam dan dedaunan tropis. Tapi begitu masuk ke dalam, mereka berdua terdiam.
Hanya ada satu kamar tidur.
Satu ranjang.
Satu selimut.
Aruni menatap Sena. Sena menatap Aruni.
"Mas," Aruni memulai pelan. "Kamar mandinya ada dua?"
"Ada."
"Terus kamar tidurnya?"
"...satu."
Jeda panjang. Angin malam bersiul di luar.
"Mas Sena tidur di sofa aja kayak biasanya?" tanya Aruni dengan nada optimis.
“Kayak biasanya? Memangnya sudah berapa lama kita bersama sampai kamu bisa bilang ‘kayak biasanya’?” decihnya kesal.
Sena melihat ke sofa di ruang tamu. Sofanya empuk, tapi ukurannya terlalu pendek untuk tubuhnya yang tinggi. Kakinya pasti akan menjuntai. Punggungnya akan sakit besok pagi. Dan tadi malam pun dia sudah tidak nyenyak tidur.
"Aku tidak bisa tidur di sofa," jawab Sena jujur. "Punggungku sakit."
"Terus gimana?"
Sena menatap ranjang. Ranjang ukuran king size, cukup besar untuk dua orang. Bahkan tiga orang pun muat. Tapi tetap saja, itu ranjang. Satu ranjang.
"Kita tidur berdua," kata Sena akhirnya.
Aruni memekik kecil. "Apa?!" walaupun –jujur- Aruni mau saja tidur berdua dnegan sang Suami. Mereka kan suami istri SAH! Nggak salah, kan?
"Di ranjang. Aku di kiri, kamu di kanan. Jaga jarak. Tidak usah aneh-aneh." Ucap Sena cepat karena melihat wajah Aruni yang terlihat tak keberatan. “Gadis ini sepertinya berbahaya!” batin Sena.
"Tapi…."
"Ini satu-satunya pilihan, Aruni. Kecuali kamu mau tidur di luar bersama nyamuk-nyamuk Bali yang katanya bisa bawa demam berdarah."
Aruni membayangkan dirinya digigit nyamuk puluhan. Dia langsung merinding.
"Oke." Jawab Aruni sambil mendesah pasrah –akting.
Sena mendengus. "Dari awal Aku sudah bilang, ini fasilitas honeymoon, jadi nggak mungkin ada Vila bulan madu dengan dua kamar? Nggak ada pegantin baru yang berpisah kamar, kan… kecuali kita! Tenang saja, aku nggak akan dekat-dekat denganmu!"
Mereka berdua setuju. Tapi dalam hati, Aruni tahu ini akan menjadi malam terpanjang dalam hidupnya. Tak sabar ingin segera berbaring di samping sang suami tercintanya.
.
Mereka tidur dengan posisi seperti patung. Aruni di sisi kanan, Sena di sisi kiri. Jarak di antara mereka bisa muat satu bantal guling. Bahkan dua.
Aruni menarik selimut sampai ke dagu, menghadap ke jendela. Sena menghadap ke dinding. Keduanya berusaha bernapas sekecil mungkin agar tidak terdengar.
Namun, di luar vila, nyamuk-nyamuk mulai bersiul. Dengungnya mengganggu. Beberapa nyamuk bahkan berhasil masuk melalui celah pintu teras yang tidak ditutup rapat.
Ngiiiing….
Aruni menoleh, mencari-cari asal suara yang mengganggu itu. Tiba-tiba dia melihatnya, di pipi mulus Sena yang putih bersih, menclok seekor nyamuk montok yang sepertinya sedang menyedot darah lelaki itu.
“Dasar nyamuk kurang ajar! Aku istrinya aja belum pernah cium itu pipi, kamu nyamuk malah berani duluin!” geram Aruni dalam hati. Perlahan Aruni bangun, lalu mengangkat satu tangannya dan dengan kekuatan penuh dia hendak memukul pipi Sena, eh nyamuk yang menclok di sana, maksudnya.
Sayangnya, Sena yang ternyata belum tidur, bergerak, menoleh ke arah Aruni dan terkejut. Namun dengan gerak reflek dia menangkis tangan Aruni dan menggenggamnya erat.
“Kau mau apa? Memukulku? Atau mau membunuh suamimu?” ucap Sena dengan suara menggeram dalam.
“Bu-bukan mas!” Kaget Aruni, karena tangannya dicengkram Sena.
“Terus mau apa?! Heh?” Sena menarik tangan Aruni, hingga Aruni goyah dan jatuh ke arah Sena. Untunglah tangannya yang satu segera menopang tubuhnya, hingga wajah Aruni berhenti tepat lima centi di atas wajah Sena.
“Ta-tadi…” Aruni menatap Sena, menatap bibirnya lalu menelan saliva beberapa kali. Bibir itu.. benar-benar mengundang untuk di cium. Seksi, mempesona dan penuh godaan. “Tadi ada nyamuk… mas…” desis Aruni, napasnya mulai tak beraturan dan matanya terpaku pada bibir tipis yang terlihat lembut itu. Tanpa sadar Aruni menggigit bibir bawahnya sambil membayangkan yang nggak-nggak.
Sena bukannya tak sadar dengan muka mesum Aruni. Dia tau sekali gadis ini sangat menginginkannya. Tapi Sena, entah kenapa memasang tembok tinggi dan tak mau Aruni memasukinya.
Sena melepaskan cengkraman tangannya di lengan Aruni, lalu menonyor lembut wajah Aruni yang ‘mupeng’ maksimal.
“Kondisikan mukamu! Kayak cewek jablay aja!” gertak Sena.
Wajah Aruni langsung merona, lalu buru-buru berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut –malu.
Kalau di sana ada lobang, Aruni pasti sudah menceburkan dirinya ke dalam lubang itu untuk bersembunyi.
Sena memandngi Aruni yang terbungkus rapat persis kepompong lalu mendengus keras dan mencoba kembali tidur. Pipinya terasa gatal, sepertinya yang di ucapkan Aruni tadi benar, ada nyamuk di pipinya.
“Besok harus beli lotion anti nyamuk!” gumamnya sambil mkmbali membaringkan tubuhnya.
.
.
Aruni terbangun dengan perasaan hangat di sekujur tubuhnya. Ada sesuatu yang berat di pinggangnya. Dan kepalanya... kepalanya terasa nyaman di atas sesuatu yang empuk.
Dia membuka mata perlahan.
Dia melihat dada.
Dada bidang. Berotot. Bunyi jantung berdetak pelan.
Bukan bantal.
Oh tidak… sejak kapan Mas Sena melepas kaosnya?
Aruni mengangkat kepala pelan. Matanya bertemu dengan wajah Sena yang masih tertidur. Wajahnya damai, tidak ada kerutan kesal seperti biasanya. Bulu matanya panjang. Bibirnya sedikit terbuka.
Benar-benar pemandangan terbaik di pagi hari yang cerah ini.
Dan tangan Sena -tangan kiri Sena- melingkar erat di pinggang Aruni. Sementara tangan kanan Aruni bertumpu di dada Sena.
Mereka berpelukan. Sungguh-sungguh berpelukan.
Ya Allah, kapan ini terjadi?!
Aruni mencoba bergerak mundur perlahan. Tapi Sena mengerang kecil, lalu tanpa sadar menariknya lebih dekat.
"Jangan pergi," gumam Sena dalam tidur.
Jantung Aruni hampir meledak.
Dia mimpi? Atau sadar?
Tapi kemudian Sena membuka mata. Matanya yang tajam langsung fokus ke wajah Aruni yang hanya berjarak beberapa sentimeter.
Mereka berdua membeku. Saing menahan napas sesaat.
Udara seakan berhenti -sunyi. Hanya suara ombak di kejauhan dan burung-burung yang berkicau di luar sana.
Sena menelan salivanya berat, lalu melirik tangannya yang dengan santainya melingkari pinggang Aruni. Lalu beralih ke tangan Aruni yang mendarat nyaman di dadanya yang polos.
Lalu serentak mereka melepaskan seperti terkena sengatan listrik.
“Se-sejak kapan tanganmu menempel di dadaku?!” desisnya sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Konyol sekali!
"Mas Sena yang memelukku duluan!"
"Aku? Nggak mungkin! Jangan berkhayal!"
"Siapa yang berkhayal! Mas Sena bener-bener memelukku!"
"Kamu juga memelukku!"
"Aku terbangun dan tanganmu ada di pinggangku!"
"Tanganmu juga di dadaku!"
"Karena aku tertidur dengan posisi itu!"
"Aku juga!"
Mereka berdua duduk di ranjang, saling menjauh dengan cepat. Wajah mereka memerah. Telinga Sena merah padam. Pipi Aruni seperti tomat.
"Kita..." Sena mengusap wajahnya kasar. "Kita lupakan ini."
"Setuju."
"Tidak pernah terjadi."
"Tidak pernah."
"Itu.. tidak disengaja."
"Iya. Tidak snegaja."
Tapi diam-diam, Aruni tersenyum kecil di dalam hatinya. Pelukannya hangat. Aku tidak keberatan jika itu terjadi lagi.
Dan Sena? Sena justru tidak bisa menghentikan detak jantungnya yang terus bergemuruh.
pantes kalo malem suka kluyuran 🤭🤣🤣🤣
tak tunggu bgt ms brot bucin akut sama runi kk tam
emang mas brot ngeri juga vi kalo mode posesip .....
sampe ngaku kalo do'i jelose kalo perlu🤭🤣🤣🤣
kayake adit sama vivi satu frekuensi dah kk
..... asbun 🤭🤣🤣🤣🤣
kpn lagi numpak mobil mahal .......
trik mu emang siiip lah...👍
dalam benak mas broot ....
mbok yo kira kira lah vi . mosok macak cantik . mbahenol secara lo kan milih dress merah menyala ada belahanya dandan cetar membahana kok naik motor awut awutan loh nanti pas turun 🤭
padamu
bnyak tiponya
berasa godaan setan yang terkutuk itu run 🤭🤣🤣🤣
ternyata diam " jutek" ada rasa yang mulai menjalar tumbuh di hati mas brot..... gass lah mas brot runi kan hallal🤭
mungkikah.. mas brot jatuh cinta dgn runi ....?????
kk tam iki pie .......?
🤭🤭