Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Merah
Waktu memperlihatkan pukul dua belas malam. Ketut Candra sedang berada di dapur.
Ia melirik ke arah Putu Gantari—bapanya yang sedang tertidur pulas setelah ia pijat barusan, sebelum mendengar kabar jika bibinya meninggal dunia.
Sang bapa terlihat pulas, sehingga ia tak ingin menggangu tidurnya.
Ketut Candra mencuci tangannya yang berpasir akibat terjatuh saat tadi.
Ia melihat tanda merah bekas sentuhan Saraswati saat tadi hilang. Ia seperti sebuah tatto yang tampak permanen, dan tak dapat di hapus.
Semakin ia mencoba mencucinya, maka warnanya semakin terang. Ia tampak bingung dengan apa yang terjadi.
ia menuang air untuk menghilangkan busa sabun.
Ssssssssshs!
Air mendadak mendidih dan mengeluarkan asap saat mengenai bekas merah tersebut.
"Hah!" ia tersentak kaget, dan wajahnya memucat.
"Apa-apaan ini?" gumamnya dengan rasa bingung.
Tok!
Tok!
Tok!
Tiba-tiba saja pintu belakang di ketuk dengan suara yang cukup pelan.
Ketut Candra mengintip dari dalam.
Akan tetapi, ia tak melihat siapapun. Hanya saja ia melihat sesajen canang sari yang di letakkan tepat di depan pintu.
Namun isinya bukan kembang, melainkan kuku manusia, dan juga rambut yang panjang.
Di atas canang sari, terlihat ada tulisan yang menggunakan darah. 'Saat Kajeng Kliwon, jangan lupa buat sesajen Canang Sari, jika kamu tidak ingin menjadi sesajen berikutnya'
Ketut Candra meremas tanda merah di tangannya yang terasa panas. Kepalanya terasa berdenyut, dan tiba-tiba saja muncul bayangan tentang Saraswati yang berdiri di tengah setra.
Di tangannya terdapat trisula yang memancarkan cahaya keemasan. Sedangkan di depan sang gadis, berdiri sosok Leak dengan wajah Wayan Ratri, dengan organ tubuh yang menjuntai.
Wuuussh!
Kesadaran Ketut Candra kembali. Tetapi wajah paniknya masih tergambar jelas.
"Dadong? Dia Leak? Apakah dia yang membunuh ibu dan juga Bibi Kadek Cempaka?" gumamnya dengan suara yang sangat pelan.
"Dan gadis itu... Sia bukan gadis biasa." bisiknya lagi.
Mendadak ia teringat akan Nyoman Lingga. "Paman..." ia tampak sangat khawatir, lalu bergegas meninggalkan dapur.
Ketut Chandra tak peduli, jika saat ini sudah terlalu sangat larut.
Ia memilih pergi untuk ke rumah bibinya.
****
Ketut Candra melaju dengan cukup kencang. Ia menggunakan motor Putu Gantari, sebab motor miliknya sudah hancur.
Setibanya di rumah duka. Suasana sudah mulai sepi, hanya Nyoman Lingga dan juga suami Kadek Cempaka yang terlihat sangat berduka. Sedangkan Ketut Wira, suami dari Kadek Cempaka sedang tertidur bersama bayinya.
Ketut Candra melirik ke arah Nyoman Lingga yang terlihat berjaga di dekat jasad adik perempuannya, sebab esok akan di makamkan.
"Paman..." bisiknya dengan suara yang sangat pelan.
"Kenapa kau baru datang?" tanya pria itu dengan nada datar.
"Paman, ada hal penting yang ingin aku sampaikan," ia terlihat menatap ke sehala arah, mengawasi agar ucapannya tidak di dengar oleh orang lain.
"Ada apa?"
"Aku melihat... Jika dadong adalah Leak," ungkapnya dengan menegaskan.
Wayan Lingga menoleh ke arahnya, menatap dengan tatapan dingin.
"Kamu jangan asal bicara! Ini sudah keterlaluan, dan mencurigai dadongmu sebagai Leak itu sangat keji sekali," Wayan Lingga merasakan nafasnya tersengal.
Amarahnya sudah menguasai hatinya.
"Ketut melihatnya sendiri. Tusuk konde tagel milik ibu ada dirumah dadong. Dan ketut melihat jika siang itu, dadong memakan sesuatu yang mirip kepala, dan sebelum kejadian bibi Kadek Cempaka meninggal, Ketut melihat ada bola yang melintasi atap rumah kita semua," Ketut Candra bersikeras.
"Cukup! Kamu jangan keterlaluan!" Nyoman Lingga sudah benar tak sanggup menahan amarahnya, ketika Wayan Ratri sang ubu di curigai oleh cucunya sendiri sebagai penyebab kematian Bintari dan juga Cempaka.
"Tolong, Paman. Percaya padaku." Ketut Candra semakin memaksa, jika apa yang diucapkannya adalah sebuah kebenaran.
Plak!
Tamparan Nyoman Lingga mendarat di pipi ketut Candra. Bukan hanya keras, tetapi cukuo membuat telinga sang pemuda berdenging.
"Tutup mulutmu, Ketut!" suara Nyoman Lingga bergetar. Nada bicaranya bukan marah, melainkan rasa takut. "Kau tahu hukumannya jika menuduh orang Leak sembarangan? Bisa metanjung malu satu soroh!"
(Metanjung malu satu soroh\=Menanggung malu satu sekeluarga)
Ketut Candra mengusap pipinya yang terasa panas dan juga sakit. Tanda trisula di telapak tangannya semakin panas, dan seperti di setrika. "Paman... Aku tidak mengarang cerita. Bahkan tadi saat aku memboncengnya kemari... Dia bukan Dadong."
"Aku bilang diam!" Nyoman Lingga melirik ke arah jasad Kadek Cempaka. "Bibimu baru saja mati. Kau mau membuatnya tidak tenang karena fitnah?"
Tiba-tiba saja, dari dalam kamar, bayi Kadek Cempaka menangis.
"Uweek... Uweeeek..." Suara tangisannya terdengar sangat aneh. Dimana seolah sedang menanggung ketakutan yang luar biasa.
Ketut Wira–suami dari Kadek Cempaka keluar dari kamar sembari menggendong bayinya. "Lingga... Anakku panas." ia terlihat sangat khawatir.
Nyoman Lingga menghampiri adik iparnya, lalu meletakkan punggung tanggannya di kening sang bayi. Terasa sangat panas.
"Hah! Ini panas sekali. Mungkin karena terikat oleh perasaan ibunya. Kita bawa ke puskesmas saja," saran Nyoman Lingga.
Ketut Candra mundur selangkah. Bayangan saat di dapur tadi, saat melihat Leak Wayan Ratri yang berdiri di depan Saraswati kembali terngiang di benaknya.
"Dadong ke mana, Paman?" bisik Ketut Chandra.
Mendadak Nyoman Lingga kerasa kaku. "Tadi... Katanya mau ke Pura. Mau mendoakan sendiri anaknya,"
"Ke Pura saat tengah malam sendirian? Untuk apa?" gumamnya Ketut Candra dalam hatinya.
Mendadak ia teringat saat sedang tersungkur di jalanan ketika membonceng dadong, melihat sesuatu melintas terbang di tepi laut.
Ketut Chandra mengepalkan tangannya. Ia merasa sangat khawatir akan nasib keponakannya. Tetapi tak ada yang benar bisa mempercayai ucapannya.
Sementara itu, suara lolongan anjing di luar rumah, terdengar bersahutan.
"Ketut! Ayo, bantu paman bawa ponakan kamu ke puskesmas," ucapnya dengan suara bergetar.
Ketut Candra hanya menurut. Meskipun ia sedikit kesal terhadap apa yang baru saja di lakukan oleh pamannya, ia tetap berusaha patuh.
****
Ketut Candra berhenti di depan puskesmas. Ia di sambut oleh petugas jaga, dan langsung mendata sang bayi yang baru saja di lahirkan.
Saat bersamaan, Saraswati muncul dari arah lorong. Ia baru saja membantu Dwi sepupunya yang tiba-tiba merasa nyeri hebat.
Ketut Candra tersentak kaget. Lalu menatap gadis yang ia anggap sangat misterius.
Akan tetapi, debaran di dadanya bergemuruh, entah gejolak apa.
"Bu, anak ini suhu tubuhnya 38° dan gejalanya baru beberapa saat ini," sang perawat menjelaskan.
"Saraswati menyentuh kening sang bayi."
Wuuussh!
Mendadak ia seperti tersedot ke tempat lain. Di mana ia melihat Wayan Ratri sedang duduk bersila di depan arca Dewa Durga.
"Putu Saraswati. Tentukan pilihanmu! Kau biarkan aku mengambil cucuku, atau keponakanmu beserta adik sepupumu!" ancam Wayan Ratri.
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh