NovelToon NovelToon
Ustadzah Pengganti Pengantin

Ustadzah Pengganti Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

"Sekarang, bersihkan rumah ini sampai bersih! Dan Bryan, jaga dia, jangan sampai lepas!"

perintah Adrian dengan suara menggelegar, melemparkan pandangan jijik terakhirnya pada Fatma sebelum melangkah pergi.

Bryan menundukkan kepala takzim. "Baik, Tuan," jawabnya patuh.

Adrian segera menyambar kunci mobilnya, melangkah lebar keluar rumah, dan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju ke perusahaan.

Baginya, pekerjaan dan tumpukan berkas di kantor jauh lebih penting daripada melihat wajah wanita yang teramat dibencinya itu.

Begitu deru mobil Adrian menghilang dari pelataran, tubuh Fatma seketika limbung.

Cengkeraman penanya terlepas ke lantai. Kepalanya berputar hebat, pandangannya mengabur menjadi bintik-bintik hitam, dan kesadarannya hampir meredup akibat rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya yang belum sempat beristirahat.

Tubuhnya yang lemas nyaris menghantam sudut meja jika tidak ditangkap dengan cekatan.

"Nyonya!"

Bryan dengan sigap menahan tubuh Fatma agar tidak tersungkur ke lantai.

Ia memapah Fatma perlahan, membimbingnya untuk duduk di sebuah sofa panjang di ruang tengah.

Bryan menatap wajah Fatma yang pucat pasi dengan guratan rasa bersalah dan iba yang mendalam.

"Tunggu sebentar, Nyonya," ucap Bryan pelan.

Pria itu bergegas menuju dapur. Dengan gerakan cepat namun tenang, ia menyeduh secangkir teh manis hangat.

Tidak butuh waktu lama, Bryan kembali ke ruang tengah sambil membawa cangkir yang masih mengepulkan uap tipis tersebut.

"Minum teh hangat ini dulu, Nyonya," ucap Bryan dengan nada suara yang sangat lembut, jauh berbeda dengan sikap tegasnya saat berada di depan Adrian.

Ia menyodorkan cangkir itu ke dekat tangan Fatma yang gemetar.

Fatma menerima cangkir tersebut dengan kedua tangannya yang masih lecet bekas ikatan tali.

Ia menyesap teh hangat itu perlahan. Rasa manis dan hangatnya seketika mengalir ke tenggorokannya, memberi sedikit energi baru bagi tubuhnya yang teramat lemas.

Setelah napasnya agak teratur, Fatma mendongak dan menatap tangan kanan suaminya itu dengan tatapan sayu.

"Terima kasih, Bryan. Terima kasih banyak," lirih Fatma dengan tulus, merasa sangat bersyukur karena Allah masih mengirimkan orang baik seperti Bryan di tengah-tengah neraka yang diciptakan Adrian.

Bryan menatap Fatma yang sedang memegangi cangkir teh hangat dengan pandangan yang sarat akan rasa tidak tega.

Sebagai orang kepercayaan Adrian yang kerap menyaksikan kekejaman tuannya, hati kecil Bryan menolak untuk tinggal diam melihat penderitaan wanita suci di hadapannya ini.

"Kenapa Anda tidak pergi saja dari neraka ini, Nyonya?" tanya Bryan dengan suara rendah, mencoba membujuk Fatma untuk menyelamatkan dirinya sendiri selagi Adrian sedang berada di kantor.

Fatma terdiam sejenak. Ia menatap cairan teh di dalam cangkirnya, lalu perlahan menggelengkan kepalanya dengan senyum getir yang dipenuhi kepasrahan.

"Aku tidak bisa, Bryan. Pondok pesantren Abahku taruhannya," lirih Fatma. Suaranya bergetar menahan beban berat yang menghimpit dadanya.

"Jika aku melangkah keluar dari rumah ini untuk kabur, Mas Adrian tidak akan segan-segan menghancurkan tempat bernaung ratusan santri dan mata pencaharian keluargaku."

Bryan mengepalkan tangannya di sisi tubuh. "Tapi Anda di sini juga korban, Nyonya. Anda tidak pantas menerima perlakuan sekasar ini atas kesalahan yang tidak pernah Anda lakukan."

"Aku tahu, Bryan..."

Air mata Fatma kembali merebak di sudut matanya, namun ia buru-buru menghapusnya dengan punggung tangan yang gemetar.

"Aku tahu aku korban. Tapi suamiku tidak mau tahu meskipun aku bicara fakta yang sebenarnya. Dia sudah dibutakan oleh cintanya pada Liana, hingga matanya tertutup dari kebenaran."

Mengingat waktu yang terus berjalan dan ancaman Adrian tentang rumah yang harus bersih, Fatma buru-buru meletakkan cangkir tehnya kembali di atas meja.

Dengan sisa tenaga yang dipaksakan, ia bangkit dari duduknya.

Rasa perih di punggung dan linu di sekujur tubuhnya kembali mendera, namun ia mengabaikannya.

Fatma mulai melangkah mengambil sapu dan kain lap, mengitari ruangan demi ruangan untuk membersihkan rumah mewah yang terasa seperti penjara itu.

Bryan hanya bisa berdiri terpaku, mengawasi ketegaran wanita itu dengan rasa hormat sekaligus iba yang teramat besar.

Setelah seluruh pekerjaan rumah selesai dan keringat dingin bercucuran di pelipisnya, Fatma segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Ia membasuh luka-lukanya dengan hati-hati, lalu berganti pakaian dengan gamis dan hijab syar'i yang bersih.

Ia memoles sedikit bedak tipis di wajahnya demi menyamarkan bekas lebam dan sudut bibirnya yang pecah agar tidak mengundang tanya di tempat acara nanti.

Tepat pukul delapan lewat, Fatma keluar dari kamar dengan membawa buku catatannya.

Ia menatap Bryan yang sudah menunggu di dekat pintu utama.

"Aku sudah siap. Mari kita berangkat ke tempat tausiah, Bryan."

Bryan melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai ramai menuju kantor Dinas Pendidikan.

Di sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti kabin mobil.

Bryan sesekali melirik dari spion tengah, menatap iba pada Fatma yang duduk bersandar di kursi belakang dengan pandangan kosong menatap keluar jendela.

Setibanya di pelataran parkir gedung Dinas Pendidikan, Bryan mematikan mesin mobil.

Pria berbadan tegap itu membalikkan tubuhnya menghadap ke belakang, menatap Fatma dengan raut wajah yang teramat serius.

"Nyonya, aku akan menunggumu di sini," ucap Bryan, suaranya merendah namun sarat akan ketulusan.

Ia menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan berbisik, "Jika Anda ingin kabur, pergilah sekarang lewat pintu belakang gedung ini. Aku siap untuk menanggung akibatnya dan dihukum oleh Tuan Adrian."

Mendengar tawaran nekat dari orang kepercayaan suaminya itu, Fatma tertegun.

Ia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa terima kasih di balik hijabnya. Fatma menggelengkan kepala pelan.

"Bryan, aku tidak akan kabur," jawab Fatma dengan suara lembut namun terdengar begitu tegar.

"Aku tidak ingin mengorbankan pesantren Abah, dan aku juga tidak ingin membiarkanmu terluka karena menolongku."

Fatma kemudian membuka tas kecilnya, mengambil beberapa lembar uang, lalu mengulurkannya ke arah Bryan.

"Aku masuk ke dalam dulu. Dan ini, ambillah, carilah sarapan di sekitar sini. Kamu pasti belum sempat makan karena harus menjagaku sejak pagi," ucap Fatma, memberikan uang itu sebagai bentuk penghargaan kepada Bryan yang sudah banyak membantunya.

Bryan menatap lembaran uang di tangannya dengan perasaan campur aduk.

Kebaikan dan ketulusan hati Fatma di tengah siksaan yang ia terima benar-benar menyentuh hati kecilnya.

"Terima kasih, Nyonya. Hati-hati di dalam," lirih Bryan sembari mengangguk takzim.

Fatma mengangguk, lalu membuka pintu mobil. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian agar luka di tubuhnya tidak semakin nyeri, ia melangkah keluar dari mobil, memantapkan hatinya untuk menunaikan amanah sang Abah di dalam gedung.

"Mbak Fatma?"

Fatma menoleh ke arah suara yang memanggilnya di koridor gedung Dinas Pendidikan.

Langkahnya terhenti. Matanya membelalak kecil saat mengenali sosok pemuda yang berdiri tak jauh darinya.

"Hakam? Kamu di sini?" tanya Fatma tak percaya. Seingatnya, kemarin adik iparnya ini berpamitan bersama mertuanya untuk kembali ke Yogyakarta.

Hakam melangkah mendekat sambil mengulas senyum ramah.

"Iya, Mbak. Mas Adrian pasti enggak cerita ya kalau adiknya ini bekerja di sini sebagai staf dinas? Kemarin Hakam memang ikut pulang ke Yogya sebentar untuk mengantar Mama dan Papa, tapi subuh tadi Hakam sudah kembali lagi ke sini karena harus masuk kerja."

Namun, senyuman di wajah Hakam mendadak surut.

Saat jarak mereka mengikis, netra Hakam menangkap sesuatu yang janggal pada wajah kakak iparnya.

Ia mengernyitkan keningnya dalam-dalam, menatap lekat-lekat ke arah sudut bibir Fatma yang tampak bengkak dan memar keunguan, meski sudah coba disamarkan dengan bedak tipis.

Raut wajah Hakam berubah tegang dan dipenuhi rasa khawatir.

"Mbak, apa Mas Adrian menampar Mbak lagi?" tanyanya dengan suara berbisik, sarat akan kemarahan yang tertahan atas kelakuan kakaknya.

Fatma tersentak. Detik itu juga, ia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba memasang ekspresi senormal mungkin demi mematuhi kontrak dan ancaman Adrian.

"Nggak, Kam. Ini, Mbak cuma kurang hati-hati kemarin," bohong Fatma, berusaha tersenyum meski sudut bibirnya terasa berdenyut nyeri.

‘Andaikan saja kamu tahu, Hakam, kalau masmu melakukan hal yang jauh lebih kejam daripada sekadar menampar,’ ucap Fatma meratapi nasibnya dalam hati.

Bersamaan dengan kebohongan yang diucapkannya, Fatma harus menahan ringisan di dada.

Setiap kali ia menarik napas atau bergerak, kulit di punggung dan lengannya terasa seperti terbakar, menjeritkan rasa sakit yang luar biasa akibat cambukan ikat pinggang Adrian yang membabi buta semalam. Namun, semua penderitaan itu harus ia telan bulat-bulat dalam kesunyian.

1
ahs@
Adrian stress... melampiaskan kekesalannya kepada fatma yang tidak tahu apa" .Liana sendiri yang selingkuh dengan Jamie..
falea sezi
mau like kasih hadiah yo males
falea sezi
🤣🤣 uda di aniyaya tp di beri kesempatan 🤣🤣 maaf ya thor. pantes like sepi wong goblok
falea sezi
males MC nya oon skip aja😒 emosi q liat cwek bloon lulusan pesantren tp goblok
falea sezi
goblok klo. uda. ketauan belangnya jangan ampe balikan mending crrai😒
falea sezi
🤣 orang gila cari tau dlu calon istri mu yg gatel nyalahin orang😒
Soviani
lanjut up ny
sri hastuti
huuhh goblok banget sih fatma ini, mau mati ya, sdh bongkar aja kejahatan suamimu, bikin jengkel, jd wanita jangan ngalah terus, km gak salah, ayolah thor kelamaan, cepet dibongkar kejahatan Adrian 😡😡😡
sri hastuti
huuh pengen tak bunuh aja adrian thor, bikin jengkel aja, kelamaan thor ,bisa mati itu fàtma, 😡😡😡😡
sri hastuti
pie to ini,sdh gila si adrian,ah jd males aku, orang kok goblok dan kejam spt itu dibiarkan thor , huuhhh bikin 😡😡😡
keynara
si Adrian emang bener bener udah gila nyiksa Fatma tanpa ampun
Himna Mohamad
lanjut kk
keynara
la kasian Fatma nggak tau apa apa jadi sasaran dendam si Adrian duh ujian Fatma berat banget💪
lanjut thor🙏
sri hastuti
konyol ini adrian thor, huuhhh pengen tak pukul aja ,jd laki2 kok spt itu, gak mau trima kenyataan, dasar pengecut , 😡😡😡
bikin jengkel aja thor 😡😡
my name is pho: sabar kak🤭🙏
total 1 replies
sri hastuti
dasar Adrian konyol, yg selingkuh tunangannya kok gak mau trima, dasarr laki2 bego, malah memaksa orang lain, sdh gila dia 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!