NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Anak Kucing di Balik Kacamata

Pintu ruang VIP tertutup di belakang Arjuna Pratama saat ia melangkah pergi dengan langkah panjang yang tidak pernah ragu.

Koridor belakang lokasi syuting tidak terlalu luas. Kotak-kotak properti ditumpuk rapi di sepanjang dinding, staf berlalu-lalang dengan ekspresi sibuk yang seragam. Pandangan Arjuna menyapu sekeliling dengan malas—sampai terhenti di sudut yang relatif sepi.

Di sana, sebuah bangku lipat murah bersandar di dinding.

Di atasnya, duduk seorang gadis.

Kemeja kotak-kotak kusam. Celana jins pudar. Rambut panjang diikat longgar, beberapa helai terlepas menutupi sebagian wajah. Sepasang kacamata berbingkai hitam tebal bertengger di pangkal hidungnya—hampir menutupi separuh mukanya. Bagian wajah yang terlihat tampak kusam, dengan lapisan krim yang terlalu terang untuk kulitnya. Hanya bibirnya yang menunjukkan warna merah alami yang lembut, seperti tidak sengaja.

Secara keseluruhan: tidak mencolok. Hampir tidak terlihat.

Tapi postur tubuhnya menarik perhatian Arjuna sebelum ia sempat memutuskan untuk tidak memperhatikan.

Gadis itu memegang naskah tebal, membacanya dengan konsentrasi yang tidak pura-pura. Tubuh mungilnya condong ke depan, ujung jari ramping membalik halaman dengan hati-hati seperti sedang memegang sesuatu yang berharga. Ia tampak tenggelam—bukan sedang bekerja, tapi benar-benar membaca.

Sinar sore menelusuri garis punggungnya yang lentur, menciptakan siluet yang kontras dengan penampilannya yang lusuh.

Langkah Arjuna terhenti tanpa ia perintahkan.

Ada sesuatu yang familiar. Ia tidak bisa langsung meletakkan jarinya ke sana, tapi,siluet itu. Postur yang tidak sadar pada dirinya sendiri. Aura seseorang yang sedang benar-benar hadir di tempat ia berada, bukan sedang berpura-pura.

*Gadis di toko bunga,* batinnya sekilas. *Tidak mungkin sama. Terlalu jauh berbeda.*

Tapi kakinya sudah bergerak sebelum pikirannya selesai berdebat.

---

Citra benar-benar tenggelam dalam naskah itu.

Tokoh "Suster Siska"—perempuan sederhana yang pelan-pelan menjadi tangguh bukan karena kekuatan tiba-tiba, tapi karena terus berdiri setelah jatuh. Ada sesuatu dalam karakter itu yang menyentuh sesuatu di dada Citra yang tidak mudah ia beri nama.

Ia begitu asyik hingga tidak menyadari bayangan besar yang muncul menghalangi cahayanya.

Sampai bayangan itu tidak pergi.

Citra menengadah.

Dari balik lensa kacamata tebalnya, mata almond nya yang jernih menatap ke atas—dan menemukan Arjuna Pratama berdiri melawan cahaya seperti seseorang yang tidak pernah diajarkan bahwa berdiri terlalu dekat dengan orang lain itu tidak sopan.

Ia tinggi. Lebih tinggi dari yang terlihat di foto-foto. Bayangannya menjulang, wajah tampan itu menampilkan senyum acuh tak acuh—tatapan seorang pria yang tidak pernah perlu berusaha untuk mendapatkan perhatian karena perhatian selalu datang sendiri.

Jantung Citra berdegup sekali, keras.

Ia tahu bertemu Arjuna adalah bagian dari rencananya. Tapi *langsung sekarang*, saat ia duduk di bangku lipat murahan dengan krim wajah tiga lapis dan kacamata yang hampir menutupi separuh wajah nya bukan skenario yang ia bayangkan.

Jari-jarinya mengepal pelan pada naskah. Ia menekan emosinya ke bawah, merapikan ekspresinya menjadi sesuatu yang datar dan sedikit bingung.

"Tuan Muda Arjuna," bisiknya, suaranya tipis dan pelan, mengandung rasa malu yang cukup meyakinkan. "Apakah Anda... membutuhkan sesuatu?"

Arjuna tidak menjawab langsung. Tatapannya menyapu wajahnya—kacamata, krim tebal, rambut yang sembarangan.

*Tidak cukup cantik,* simpulnya dingin. *Jauh dari standar.*

Tapi mata di balik lensa tebal itu membuatnya sedikit berhenti. Jernih seperti air pegunungan,bersih dengan cara yang tidak dibuat-buat.

Ia menyilangkan tangan dan sedikit membungkuk, memperpendek jarak di antara mereka dengan cara yang terasa seperti kekuasaan lebih dari sekadar gerakan fisik.

"Kamu Asisten Kecil Shafira Maharani?" Matanya melirik sekilas ke lencana di dada Citra. "Citra Lestari?"

Ia menyebut nama itu dengan lambat,seperti sedang mencicipi sesuatu yang belum ia putuskan apakah menarik atau tidak.

Lalu matanya mengangguk ke arah naskah. Senyumnya semakin lebar, penuh arogansi yang sudah menjadi bagian dari wajahnya.

"Begitu asyik membaca? Apa, kau juga ingin jadi bintang besar?"

Nadanya mengandung sikap orang berkuasa yang sedang main-main...*kamu kira kamu layak?*

Pipi Citra memanas di bawah lapisan krimnya. Bukan karena malu,tapi karena ejekan ringan itu menyentil sesuatu di dalam dirinya yang tidak suka diperingan.

Ia menundukkan bulu matanya, menghindari tatapan itu, lalu menggelengkan kepala pelan. Suaranya tetap tipis, tapi mengandung sesuatu yang berbeda dari yang ia rencanakan.

"Tidak. Saya hanya berpikir karakter ini ditulis dengan sangat baik."

Ujung jarinya menyentuh halaman naskah. "Dia kuat dan berani,tipe orang yang saya kagumi. Itu saja."

Arjuna tidak bergerak selama dua detik.

Tidak ada sanjungan. Tidak ada penjelasan panik. Tidak ada rasa tersinggung yang harus ia kelola. Hanya pernyataan sederhana,tulus, sedikit keras kepala, tidak meminta persetujuannya.

Ia menatap gadis yang kepalanya masih tertunduk, wajahnya tersembunyi di balik kacamata dan rambut yang berserakan.

Mengingatkannya pada seekor anak kucing Ragdoll yang pernah ia pelihara kecil dulu. Fisiknya kecil dan tidak mengancam siapa pun,tapi harga dirinya tidak pernah minta izin untuk ada.

Terkekeh pelan, suaranya lebih dalam dari yang ia rencanakan. "Ambisi 'Asisten Kecil' ternyata tidak kecil. Baiklah,kalau begitu terus saja mengaguminya."

Ia menegakkan tubuh. Tekanan yang mencekam itu sedikit mereda.

Satu tatapan terakhir pada gadis yang lusuh dan agak aneh ini...tidak menarik, tidak masuk standarnya, tidak perlu diingat,lalu Arjuna berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

*Rasa penasaran yang tidak berguna,* simpulnya. *Cukup sampai di sini.*

---

Baru setelah suara langkah itu benar-benar menghilang, Citra Lestari menghela napas panjang.

Di balik lensa kacamata, ekspresi bingung dan malu itu luruh. Matanya yang jernih menyipit pelan, dingin dan Penuh Perhitungan,wajah yang berbeda dari yang baru saja ia perlihatkan.

Arjuna Pratama persis seperti file sistem. Sombong, angkuh, dan memperlakukan orang seperti memperlakukan properti. Saat tatapan elang itu tertuju padanya, ada momen di mana rasanya seperti penyamarannya bukan pelindung yang cukup tebal.

Pria itu berbahaya. Itu bukan metafora.

Tapi ia juga bisa didekati. Dan tadi....meski hanya sebentar,ada celah kecil yang terbuka.

Citra menatap naskah di tangannya, jarinya menyentuh nama pemeran utama wanita di halaman itu.

*Apakah Citra Lestari tidak layak?*

Ia ingat kemarin sore. Shafira dimarahi sutradara karena aktingnya yang kaku, lalu melampiaskan amarahnya dengan menyiram kopi panas ke bahu sang sutradara. Bahu pria itu masih merah hingga hari ini.

Citra menggenggam naskah lebih erat.

Jalan di depan masih panjang. Tapi setidaknya kini ia tahu satu hal yang tidak ada di dalam file sistem manapun—cara Arjuna tertawa saat tidak menduga dirinya akan tertawa.

Itu informasi yang jauh lebih berguna dari sekadar data.

1
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!