Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manuisa cacat.
Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.
Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai element api.
Salah satunya adalah kakek Shen yifan.
Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Belajar bersama membuat pil Part 2
Shen yifan dan Nangong yue mendekati Tungku besar itu.
"Yue, sebelum membuat pil. Basis kultivasi mu ranah apa sekarang?" tanya Shen yifan penasaran.
"Sekarang aku berada di ranah Foundation Establishment tahap awal." jawab Nangong yue.
Mendengar hal itu, Shen yifan sedikit terkejut. Benar menurut perkiraan bahwa Yue sudah di atas dirinya, dalam kultivasi.
"Kalau begitu, kenapa kamu mencari alkemis grade 3? Maksudnya ranahmu diatasku di tambah sama-sama punya Flame devouring, tapi kenapa kamu belum bisa membuat pil grade 3?" Shen yifan benar-benar penasaran. Shen yifan ingat betul saat itu perkataan Bingxue, Seandainya Yi fan berada di ranah Foundation Establishment, kemungkinan pil penghangat jiwa ini akan naik tingkat menjadi grade tiga tahap menengah.
"Kamu masih ingat kan, perkataan kak bing?" lanjut Shen yifan.
Nangong Yue tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. "Tentu aku masih ingat." Jemarinya mengusap perlahan permukaan tungku raksasa di hadapannya, seolah sedang menyusun kata-kata yang tepat.
"Sebenarnya, ranah kultivasi memang sangat berpengaruh terhadap alkemis. Semakin tinggi ranah seseorang, semakin besar pula cadangan Qi spiritual yang dimilikinya. Itu membuat proses pemurnian tanaman herbal menjadi lebih mudah dan lebih stabil." Ia berhenti sejenak, lalu menatap Shen Yifan.
"Namun, itu bukan satu-satunya syarat untuk menjadi alkemis grade tiga." Shen Yifan mengernyit penasaran. "Bukan?"
Yue menggeleng pelan. "Untuk membuat pil grade satu dan dua, pengendalian api yang baik biasanya sudah cukup. Tetapi memasuki grade tiga, yang diuji bukan lagi besarnya Qi spiritual, melainkan seberapa halus kita mengendalikannya. Sedikit saja tekanannya berlebihan, tanaman herbal akan langsung hangus. Sebaliknya, jika terlalu lemah, esensi tanaman tidak akan pernah menyatu menjadi pil."
Ia mengangkat telapak tangannya, lalu memunculkan kobaran Flame Devouring sebesar kepalan tangan. Api biru itu berkobar tenang, namun beberapa saat kemudian nyalanya mulai bergetar. Yue menghela napas kecil sebelum memadamkannya. "Aku selalu gagal pada tahap itu. Qi spiritualku memang lebih banyak darimu, tetapi aku belum mampu mengendalikannya dengan cukup presisi untuk membuat pil grade tiga."
Mendengar penjelasan itu, Shen Yifan perlahan mengangguk. Kini ia mulai memahami mengapa Bingxue mengatakan bahwa seandainya dirinya berada di ranah Foundation Establishment, Pil Penghangat Jiwa yang dibuatnya mungkin sudah mencapai grade tiga tahap menengah. Bukan karena ranah kultivasi menentukan kualitas pil secara mutlak, melainkan karena ranah yang lebih tinggi memberikan cadangan Qi spiritual yang lebih besar untuk mempertahankan kestabilan api selama proses pembuatan pil.
Shen Yifan kemudian tersenyum tipis sambil mengingat perkataan kakeknya. "Kakekku pernah berkata, seorang alkemis tidak pernah kalah karena kekurangan Qi spiritual. Mereka kalah karena tidak mampu mengendalikan Qi yang mereka miliki."
Nangong Yue terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi baginya terasa jauh lebih berharga daripada teori-teori yang selama ini ia pelajari. Ia akhirnya mengangguk mantap sambil tersenyum. "Kalau begitu. Hari ini aku ingin belajar mengendalikan Qi spiritualku, bukan hanya belajar membuat pil." Shen Yifan membalas senyum itu. "Bagus. Kalau fondasinya sudah benar, membuat pil grade tiga hanya tinggal menunggu waktu."
......................
"Sangat jarang melihat nona Yue tersenyum seperti itu," ujar Jian Chen sambil menggigit bakpau di tangannya. Dengan santai, ia melempar satu bakpau lagi ke arah Bingxue.
Bingxue menangkapnya dengan cekatan, lalu tersenyum tipis sebelum menggigitnya. "Iya. Biasanya dia hanya diam dan menghabiskan waktunya untuk berlatih alkemis. Melihatnya hari ini, entah kenapa aku merasa sedikit lega."
Jian Chen menoleh penasaran. "Lega?"
Bingxue mengangguk pelan sambil mengunyah. Tatapannya menerawang ke arah pintu kamar tempat Shen Yifan dan Yue sedang belajar bersama.
"Aku selalu merasa gagal sebagai kakaknya."
Jian Chen menghentikan gerakan tangannya. "Gagal? Bukankah selama ini kalian terlihat sangat akrab?" sahut Jian chen.
"Itu hanya yang terlihat dari luar." Bingxue tersenyum pahit. "Di keluarga Nangong, kami diajarkan untuk selalu menjaga sikap. Di depan orang lain kami harus terlihat harmonis, sopan, dan saling mendukung. Tetapi. Kenyataannya, kami jarang benar-benar mengobrol sebagai saudara."
Ia menundukkan pandangannya. "Sejak kecil Yue lebih sering mengurung diri di ruang alkemis. Sementara aku sibuk berlatih kultivasi dan menjalankan tugas keluarga. Kami tinggal di rumah yang sama, tetapi rasanya seperti hidup di dunia yang berbeda."
Jian Chen terdiam mendengarkan.
"Sebagai kakak." Bingxue menghela napas pelan. "Aku bahkan tidak tahu makanan kesukaannya, apa yang membuatnya tertawa, atau apa yang sedang dipikirkannya. Yang kutahu hanya... Dia terus memaksakan dirinya menjadi alkemis yang lebih hebat."
Ia melirik ke arah ruangan itu lagi. Dari balik pintu terdengar samar suara Shen Yifan dan Yue yang sesekali diselingi tawa kecil.
Sudut bibir Bingxue perlahan terangkat.
"Sudah lama sekali aku tidak mendengar Yue tertawa seperti itu."
Jian Chen ikut menoleh ke arah pintu, lalu tersenyum kecil.
"Mungkin. Yang dia butuhkan selama ini bukan seorang guru alkemis."
"Hm?"
"Melainkan seorang teman yang bisa belajar bersamanya."
Bingxue terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Mungkin... kamu benar."
"Hah." Jian Chen menghela napas panjang. "Kamu memang terlalu khawatir, Nona Bing. Baiklah, aku akan mengantarkan bakpau ini. Seharian belajar pasti membuat mereka lapar." Ia berdiri sambil membawa dua bakpau hangat di tangannya, lalu berjalan santai menuju ruangan tempat Shen Yifan dan Nangong Yue sedang berlajar alkemis.
Sesampainya di depan pintu, ia tersenyum kecil. "Yi Fan, Nona Yue... Aku membawa bakp—" Belum sempat kalimatnya selesai, suara ledakan dahsyat mengguncang seluruh ruangan.
Gelombang kejut menghantam pintu hingga hancur berkeping-keping dan tubuh Jian Chen terpental beberapa meter ke belakang.
"Urghh!" Ia berguling beberapa kali di tanah sebelum akhirnya berhenti.
Dua bakpau di tangannya terlempar tinggi ke udara. Dengan refleks yang luar biasa, Jian Chen justru melompat menangkap kedua bakpau itu sebelum menyentuh tanah. "Syukurlah. Bakpaunya selamat."
Saat mendarat, ia baru menyadari rambut bagian depannya telah hangus, wajahnya dipenuhi jelaga hitam, bahkan asap tipis masih keluar dari mulutnya setiap kali bernapas.
Di kejauhan, Bingxue hanya bisa memijat pelipis sambil menghela napas panjang. "Sudah kuduga." Asap hitam perlahan mengepul keluar dari dalam ruangan, disusul suara batuk yang saling bersahutan.
Beberapa saat kemudian, Shen Yifan keluar sambil batuk-batuk dengan wajah yang sama hitamnya seperti dasar tungku.
Pakaiannya penuh lubang kecil akibat ledakan, sementara rambutnya berdiri ke segala arah. Di belakangnya, Nangong Yue berjalan keluar dalam keadaan yang tidak kalah mengenaskan.
Wajah cantiknya kini dipenuhi jelaga hingga hanya kedua matanya yang masih terlihat jernih.
Keduanya saling memandang beberapa saat, lalu Shen Yifan menghela napas panjang. "Sepertinya. kita terlalu memaksakan diri membuat pil grade tiga." Yue mengangguk lemas. "Aku juga berpikir begitu."
Shen Yifan kemudian melirik tungku raksasa milik Yue yang masih mengeluarkan asap tipis. "Untung tungkunya tidak rusak." Yue ikut menoleh ke arah tungkunya, lalu mengangguk lega. "Iya. Kalau rusak pasti mahal sekali."
Mendengar itu, Jian Chen yang masih memegang erat kedua bakpaunya langsung membelalakkan mata. "Hei! Kalian baru saja meledakkan pintu dan hampir melemparkanku ke langit, Kenapa yang kalian khawatirkan malah tungkunya?!"
Shen Yifan dan Nangong Yue saling berpandangan sesaat sebelum menjawab hampir bersamaan dengan wajah polos. "Karena pintu masih bisa diganti."
Jian Chen hanya terdiam, menatap langit dengan ekspresi pasrah. "Aku mulai mengerti. Ternyata seorang alkemis memang sedikit tidak normal."