Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.9
Sore harinya, Ali langsung pulang sekolah dengan berjalan kaki. Saat bel sekolah telah berbunyi, dia langsung berlari pulang karena harus membantu ibu nya di rumah.
"Li, nanti main bola yuk!" ajak denis sebelum berpisah di gerbang sekolahan.
"Aku ga bisa Denis, aku harus membantu ibu di rumah."
"Yo wes, gpp hati hati yo."
"Okey." ucap nya mengacungkan jempol nya sambil tersenyum tipis.
Luka di wajah nya sudah mulai lumayan. sebab tadi pihak UKS memberikan nya salep memar agar luka nya tak semakin sakit.
sesampainya di rumah, Ali melihat Dinda tampak ingin mencuci piring yang akan di cuci di sungai belakang rumah nya.
"Dek, kamu mau cuci piring ya."
"Iya kak, piring nya udah banyak."
"Yo wes, kakak bantuin sek."
"Gausah kak, Dinda bisa sendiri. kakak makan dulu sana. Ibu tadi masak singkong rebus."
"Iya dek, nanti kakak makan, oh ya ibu kemana kok ga kelihatan?"
"Ibu lagi di rumah nya pak kepala desa kak, lagi nyuci disana. Kata ibu kakak di suruh antar ubi rebus nya ke sawah kak. Ayah sedang membantu menyiram pupuk di sawah nya kepala desa." ucap dinda yang menyampaikan pesan kepada kakak nya itu.
Deg... Mendengar ucapan adik nya, Ali tampak berpikir keras. Raka adalah anak dari kepala desa. Bagaimana nanti nya saat kepala desa tau, bahwa anak nya sering menindas Ali di sekolah. apakah ibu dan ayah nya akan di pecat.
Ketakutan mulai muncul di benak Ali, dia tampak merenung sejenak. mengapa keluarga nya harus berada di situasi seperti ini. mengapa dia tak bisa seperti anak anak lainnya. Tekad nya untuk menjadi sukses semakin besar. Dia tak boleh menyerah, dia tak salah. karena dia tak mengusik siapapun. Raka pantas mendapatkan nya. Itulah pikir nya.
Di rumah kepala desa sukamaju ini, tampak seorang pria paru baya tampak kelelahan setelah seharian bertarung dengan dokumen yang menumpuk. Tak lama kemudian, ponsel nya berdering menandakan bahwa ada panggilan masuk di ponsel nya. Dengan terpaksa dia pun mengangkat nya.
"Alo assalamualaikum" kata nya sambil menempelkan layar ponsel nya ke telinga.
"Walaikumsalam, saya dari kepala sekolah nya Raka pak."
"Ya ada apa ya pak?"
Setelah itu pak Imran langsung menceritakan kejadian di sekolah tadi, dan memberikan informasi tentang Raka bahwa terlibat dalam kasus kriminal di sekolah nya. Pak Rusdi langsung memijit pelipisnya yang terasa sakit. Putra nya itu selalu saja membuat ulah, tapi dia selalu memanjakan nya. Karena Raka merupakan anak satu satu nya dengan istri nya yang bernama Romlah. kedua pasangan itu hanya memiliki Raka saja. Maka sebab itu, apapun keinginan Raka sejak kecil, selalu saja di turuti.
Itulah sebab nya, Raka menjadi anak yang manja. Suka sekali menyombongkan kekuasaan nya, apalagi sebagai anak kepala desa, dia tampak di hormati di desa. Jadi dia bisa sesuka hati dalam bersikap. apapun ulah nya, selalu ayah nya yang membereskan.
"Baiklah pak, besok saya akan ke sekolah!"
"Baik pak, terima kasih banyak. Maaf telah menganggu waktu nya."
"Bu....Ibu!" panggil nya sedikit keras membuat Bu Romlah langsung bergegas menuju ke arah suami nya.
"Ada apa sih pak, kok jerit jerit. Ibu ga budeg ya!" kata nya dengan sedikit kesal.
"Raka berulah lagi, dia memukul anak nya Ratna di sekolah!"
"Terus kenapa pak?" tanya Romlah yang tampak santai.
"Ya kamu urus anak mu itu Bu, jangan buat malu keluarga kita!"
"Loh kok bapak bela anak nya Ratna yang miskin itu, Raka itu ga salah pak. Anak nya ratna aja yang lemah. Di pukul kok ngadu kepala sekolah." cibir Romlah yang merasa tak bersalah sedikitpun.