NovelToon NovelToon
Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: momon Joy

Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.

Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.

Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.

Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.

Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.

Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:

Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.

Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Pertahanan Mulai Runtuh

Raungan Kembali menggema dari arah Pegunungan Seribu Bintang mengguncang seluruh Kota Qinghe.

Genteng rumah bergetar. Jendela-jendela kayu terbuka akibat tekanan yang menyapu jalan. Beberapa penduduk jatuh berlutut sambil menutup telinga, sedangkan anak-anak menangis dalam pelukan orang tua mereka.

Di atas tembok utara, para kultivator yang bertarung menghentikan gerakan.

Luo Zhentian berdiri di antara bangkai Serigala Taring Besi. Pedangnya meneteskan darah, sementara jubah birunya robek di beberapa bagian. Ia mengangkat kepala dan menatap ke arah lautan debu di kejauhan.

Feng Jianhong berdiri di atas tembok dengan wajah mengeras.

Han Yue mengusap darah di sudut bibirnya. “Apakah penguasa kawanan mereka akan muncul?”

Feng Jianhong tidak menjawab. Telapak tangannya menekan batu tembok yang terus bergetar.

Ia telah hidup lebih lama daripada kebanyakan orang di Kota Qinghe. Ia pernah menghadapi dan membunuh binatang iblis Tingkat 3. Namun tekanan yang menyebar dari arah pegunungan saat ini membuat aliran Qi di dalam tubuhnya menjadi berat.

Makhluk yang mendekat bukan sesuatu yang dapat mereka lawan.

Luo Zhentian juga menyadarinya.

Ia melompat kembali ke atas tembok dan mendarat di samping Feng Jianhong. “Kita perlu memindahkan penduduk dari bagian utara kota.”

“Bukan hanya bagian utara.” Feng Jianhong memandang rumah-rumah di belakang tembok. “Mulai evakuasi seluruh kota.”

Han Yue menoleh tajam. “Seluruh kota? kita masih bisa mempertahankan gerbang.”

“Gerbang itu tidak akan berarti apa-apa kalau Binatang iblis itu datang ke sini.”

Luo Zhentian tidak membuang waktu. Ia mengangkat pedang dan mengalirkan Qi ke suaranya.

“Semua penjaga dengarkan! Pertahankan tembok, Kirim utusan menuju setiap keluarga besar. Kumpulkan penduduk dan arahkan mereka ke gerbang selatan!”

Para penjaga bergerak menjalankan perintah. Beberapa meniup tanduk peringatan. Suaranya menyebar dari menara ke menara dan membuat keadaan kota semakin kacau.

Feng Jianhong mencabut pedangnya.

“Ketua Han, kau ambil alih tembok utara. Aku kembali ke Keluarga Feng.”

Han Yue mengerutkan dahi. “Tetua Feng, kami membutuhkanmu di sini.”

“Keluargaku membutuhkan seseorang untuk membawa mereka keluar sebelum terlambat.”

Feng Jianhong tidak menunggu jawaban. Ia melompat dari tembok ke dalam kota dan melesat menuju kediaman Keluarga Feng.

Di halaman utama Keluarga Feng, seluruh anggota keluarga telah berkumpul.

Para pelayan membawa peti obat, makanan kering, dan batu roh. Murid-murid keluarga mengenakan pakaian tempur sambil memegang pedang atau tombak. Tidak ada yang tahu berapa banyak barang yang bisa mereka selamatkan, sehingga halaman dipenuhi teriakan dan perdebatan.

“Jangan bawa peti perhiasan! Ambil pil dan pakaian saja!”

“Anak-anak masuk ke gerobak pertama!”

“Di mana kelompok penjaga timur?”

“Masih menuju kemari!”

Feng Tian Yu berdiri di depan tangga aula keluarga. Pedangnya tergantung di pinggang. Meskipun baru berusia enam belas tahun, sikapnya jauh lebih tenang dibanding para anggota keluarga yang lebih tua.

Ia menunjuk dua murid keluarga.

“Bawa semua anak kecil ke halaman belakang. Jangan biarkan mereka keluar dari kelompok. Yun He, periksa formasi gerbang selatan keluarga.”

Feng Yun He menggulung sebuah peta formasi, lalu menjawab, “Formasi pelindung keluarga bisa bertahan dari beberapa serangan Pembentukan Fondasi. Kalau yang datang Binatang Iblis Tingkat 3, formasi ini hanya menahan satu atau dua pukulan.”

“Itu cukup untuk memberi kita waktu keluar.”jawab

Tian Yu

Feng Ling Yue membantu seorang anak perempuan mengikat sandalnya. Setelah itu ia berdiri dan menatap Tian Yu.

“Bai Hu masih berada di Aula Alkimia.”

Tian Yu mengatupkan rahang.

“Aku akan menjemputnya.”

“Aku ikut.” Ucap Feng Ling Yue

“Tidak. Kau jaga Ibu dan anak-anak.”potong Tian Yu

Ling Yue memegang lengan kakaknya. “Aula Alkimia berada lebih dekat dengan tembok utara. Kalau jalan di sana sudah dipenuhi binatang iblis, kau membutuhkan bantuan.”

Tian Yu menatapnya beberapa saat, kemudian mengangguk. “Baiklah kita pergi bersama. Yun He, jangan bergerak sebelum Tetua Agung kembali.”

Yun He menutup peta formasinya. “Kalian punya waktu paling lama setengah jam. Kalau keadaan di luar memburuk, aku akan membawa keluarga keluar.”

“Aku mengerti.”

Tian Yu dan Ling Yue baru melangkah menuju gerbang ketika sosok Feng Jianhong turun dari udara dan mendarat di tengah halaman.

Semua orang langsung menundukkan kepala.

“Tetua Agung!”

Feng Jianhong mengangkat tangan. “Tidak perlu memberi hormat. Kita meninggalkan Kota Qinghe melalui gerbang selatan.”

Suasana halaman langsung hening.

Seorang tetua keluarga mendekat. “Apakah keadaan di tembok separah itu?”

“Lebih buruk. Jangan bawa barang yang memperlambat perjalanan. Pil, batu roh, makanan, dan senjata saja.”

Feng Tian Yu maju satu langkah. “Bai Hu masih di Aula Alkimia. Aku dan Ling Yue akan menjemputnya.”

Feng Jianhong memandang keduanya, lalu menoleh kepada seorang pria paruh baya berjubah cokelat yang baru keluar dari aula.

Pria itu adalah Feng Zhen, ayah Bai Hu dan ketiga saudaranya.

“Aku yang akan pergi,” kata Feng Zhen.

Seorang wanita berpakaian sederhana segera menyusul dari belakang. Wajahnya tampak pucat, tetapi ia tetap berdiri tegak. Ia adalah Mei Lin, ibu Bai Hu.

“Aku akan ikut menjemput anakku.”

Feng Zhen menggeleng. “Kau tetap di sini. Bawa anak-anak keluar bersama Yun He.”

Mei Lin mencengkeram lengan suaminya. “Bai Hu baru tujuh tahun. Bagaimana aku bisa pergi tanpa melihatnya?”

Feng Zhen menurunkan suaranya. “Karena kalau kita berdua pergi dan tidak kembali, siapa yang menjaga anak-anak lainnya?”

Jemari Mei Lin mengencang. Ia ingin membantah, tetapi Feng Ling Yue memegang bahunya.

“Ibu, aku akan membawa Bai Hu kembali.”

Mei Lin memandang putrinya. “Jangan tinggalkan adikmu.”

Ling Yue mengangguk. “Aku tidak akan meninggalkannya.”

Feng Jianhong menunjuk empat penjaga keluarga. “Ikuti Feng Zhen dan kedua anaknya. Ambil jalan tengah kota. Jangan mendekati tembok utara.”

Feng Zhen menarik pedang dari pinggangnya. “Kami akan kembali sebelum rombongan bergerak.”

Mereka segera meninggalkan kediaman keluarga.

Aula Alkimia dipenuhi korban luka.

Darah mengalir di antara meja pengobatan. Bau obat, keringat, dan daging terbakar bercampur di udara. Murid-murid membawa pil dari gudang tanpa berhenti, sedangkan para alkemis menggunakan Qi untuk menutup luka yang paling parah.

Bai Hu berlari dari satu meja ke meja lain sambil membawa tiga botol Pil Penghenti Darah.

“Dua pil untuk meja ketiga! Satu botol ke ruang belakang!”

Liang Chen menerima botol dari tangannya. “Kau jangan berlari terlalu cepat. Lantai licin oleh darah.”

“Kalau aku berjalan pelan, pilnya terlambat sampai.”

Bai Hu berbalik dan mengambil keranjang lain. Wajahnya pucat, tetapi tangannya tidak berhenti bekerja.

Di dekat pintu, seorang penjaga dibawa masuk dengan tombak masih menembus pahanya. Dua murid meletakkannya di atas meja.

“Jangan cabut tombaknya!” bentak Tetua Guo. “Potong batangnya dahulu. Kalau kalian mencabutnya sekarang, darahnya akan keluar lebih banyak.”

Bai Hu mengambil pisau dan menyerahkannya kepada Liang Chen. Saat ia hendak kembali ke gudang, tanah bergetar kuat.

Rak-rak obat bergoyang.

Beberapa botol jatuh dan pecah.

Dari luar terdengar suara tembok runtuh, disusul jeritan penduduk.

Tetua Guo menoleh ke pintu.

Seorang murid berlari masuk dengan napas tersengal.

“Tetua! Tuan Kota memerintahkan evakuasi. Penduduk diarahkan menuju gerbang selatan!”

Liang Chen menghentikan tangannya. “Bagaimana dengan para korban?”

“Kita bawa yang masih bisa diselamatkan,” jawab Tetua Guo. “Yang bisa berjalan harus membantu mengangkat yang tidak bisa bergerak. Ambil semua pil yang mudah dibawa. Tinggalkan tungku dan bahan yang terlalu berat.”

Beberapa murid menatap tungku alkimia mereka dengan berat hati.

Tetua Guo membanting telapak tangannya ke meja.

“Nyawa lebih penting daripada tungku! Cepat Bergerak!”

Semua langsung menjalankan perintah.

Bai Hu menatap gudang yang selama ini menyimpan ribuan tanaman spiritual. “Tetua, bagaimana dengan kebun dan persediaan di ruang bawah?”

“Kita tinggalkan.”

Mata Bai Hu membesar. Nilai seluruh persediaan itu mungkin mencapai ribuan batu roh.

Tetua Guo melihat ekspresinya dan mencengkeram bahunya.

“Bai Hu, dengarkan aku. Kekayaan hanya berguna selama kau masih hidup. Jangan mati karena mencoba menyelamatkan barang yang bisa dicari lagi.”

Bai Hu menatap ke arah gudang, lalu mengangguk.

“Aku mengerti.”

Suara ledakan terdengar lagi.

Kali ini lebih dekat.

Dinding Aula Alkimia bergetar dan retakan muncul di salah satu tiang.

Liang Chen memegang pedangnya. “Guru, aku akan melihat keadaan di luar.”

“Tidak perlu. Kita keluar bersama.”

Belum sempat mereka bergerak, pintu depan terbuka keras.

Feng Zhen masuk dengan pedang berlumuran darah. Feng Tian Yu dan Feng Ling Yue menyusul di belakangnya bersama empat penjaga keluarga.

“Bai Hu!”

Bai Hu menoleh cepat.

“Ayah! Kakak!”

Feng Ling Yue langsung menghampiri dan memeriksa tubuhnya dari kepala sampai kaki.

"Apa kau terluka?”

Bai Hu menggeleng. “Tidak. Kakak datang menjemputku?”

Ling Yue menariknya ke dalam pelukan. “Tentu. Ibu hampir menyusul sendiri karena kau belum kembali.”

Bai Hu memegang ujung bajunya. “Bagaimana keadaan keluarga?”

“Semua sedang bersiap meninggalkan kota.”

Feng Zhen memberi hormat kepada Tetua Guo. “Tetua, Kota Qinghe tidak dapat dipertahankan. Keluarga Feng akan keluar melalui gerbang selatan. Ikutlah bersama kami.”

Tetua Guo memandang para korban luka. “Aku harus membawa mereka.”

“Kami akan membantu.”

Feng Tian Yu memanggil para penjaga keluarga dan membagi mereka untuk mengangkat korban.

Bai Hu berdiri di samping Ling Yue. “Kakak, apakah kota benar-benar akan hancur?”

Ling Yue tidak langsung menjawab.

Ia mengusap debu di pipi Bai Hu, lalu tersenyum tipis. “Selama keluarga kita masih bersama, kita bisa membangun rumah baru.”

“Bagaimana kalau rumah baru itu mahal?”

Ling Yue menahan tawa. “Dalam keadaan seperti ini, kau masih memikirkan uang?”

“Aku hanya ingin tahu berapa banyak yang harus kukumpulkan.”

Ling Yue mengetuk dahinya. “Kumpulkan setelah kita keluar. Sekarang tetap dekat denganku.”

Feng Zhen berdiri di depan pintu. “Semua siap? Kita bergerak menuju gerbang selatan.”

Rombongan mulai keluar dari Aula Alkimia.

Di jalan, pemandangan Kota Qinghe telah berubah.

Toko-toko terbuka tanpa pemilik. Gerobak terbalik di tengah jalan. Penduduk berlari membawa anak dan barang seadanya. Beberapa rumah di bagian utara terbakar setelah terkena serangan Elang Angin.

Penjaga kota berusaha mengatur arus pengungsi.

“Jangan berhenti! Cepat bergerak ke selatan!”

“Bantu orang tua dan anak-anak!”

“Jangan membawa barang yang tidak penting!”

Feng Tian Yu berjalan paling depan. Pedangnya sudah dicabut. Ling Yue berada di tengah bersama Bai Hu, sedangkan Feng Zhen menjaga bagian belakang.

Baru beberapa ratus langkah mereka bergerak, sebuah bayangan melintas di atas atap.

“Semua merunduk!” teriak Tian Yu.

Seekor Elang Angin Tingkat 1 menukik dari udara.

Tian Yu menghentakkan kaki dan melompat. Pedangnya mengeluarkan cahaya tipis saat ditebaskan ke atas.

“Tebasan Angin Patah!”

Bilah pedang mengenai sayap kanan elang. Darah menyembur dan tubuh binatang iblis itu berputar sebelum menghantam dinding rumah.

Feng Ling Yue mencabut pedangnya dan menusuk leher elang tersebut sebelum ia sempat bangkit.

Bai Hu menatap kedua kakaknya.

Ini pertama kalinya ia melihat mereka benar-benar membunuh binatang iblis.

Tian Yu mencabut pedangnya. “Jangan berhenti. Binatang lain akan datang setelah mencium bau darah.”

Mereka kembali bergerak.

Di kejauhan, suara dentuman besar terdengar dari gerbang utara.

Lalu langit berubah gelap.

Bai Hu mengangkat kepala.

Awan hitam berkumpul di atas Kota Qinghe meskipun matahari masih bersinar. Tekanan yang berat turun dari langit dan membuat banyak penduduk jatuh berlutut.

Feng Zhen menancapkan pedangnya ke tanah agar tidak kehilangan keseimbangan.

Tetua Guo menahan tubuh seorang korban luka sambil menatap utara.

“Tekanan ini bukan milik Binatang Iblis Tingkat 3.”

Dari balik tembok utara, sebuah raungan terdengar.

Gelombang suara menyapu kota.

Atap-atap rumah terangkat. Kaca dan keramik pecah. Dinding bangunan yang sudah retak runtuh ke jalan.

Feng Ling Yue menarik Bai Hu ke dalam pelukannya dan membelakangi pecahan batu yang beterbangan.

Salah satu penjaga keluarga terlempar dan menghantam dinding.

Feng Zhen berteriak, “Lindungi anak-anak! Masuk ke lorong!”

Mereka berlindung di antara dua bangunan batu. Debu menutupi jalan. Orang-orang menjerit sambil mencari keluarganya.

Bai Hu mengangkat wajah dari pelukan Ling Yue.

“Kakak... apa itu?”

Ling Yue menatap langit yang menghitam. Senyumnya telah hilang.

“Aku tidak tahu.”

Di atas tembok utara, Feng Jianhong yang telah kembali untuk membantu Luo Zhentian memandang sosok yang akhirnya keluar dari balik debu.

Seekor binatang iblis raksasa berdiri di kejauhan.

Tubuhnya menyerupai singa, tetapi tingginya melampaui gerbang kota. Bulu merah gelap menutupi seluruh tubuhnya. Dua tanduk hitam tumbuh melengkung dari kepalanya, sementara api hitam keluar setiap kali ia mengembuskan napas.

Luo Zhentian menahan pedangnya dengan kedua tangan agar tidak terlepas.

“Binatang Iblis Tingkat 5...”

Feng Jianhong menggeleng. “Tekanannya sudah mendekati Tingkat 6.”

Binatang itu mengangkat kepala dan menatap Kota Qinghe.

Tekanan dari tubuhnya saja membuat formasi pelindung kota bergetar hebat.

Retakan cahaya menyebar di udara.

Beberapa detik kemudian, seluruh formasi pertahanan pecah seperti kaca.

Ledakannya mengguncang Kota Qinghe.

Tembok utara runtuh sepanjang ratusan meter.

Ribuan binatang iblis langsung meraung dan menerjang masuk melalui celah.

Luo Zhentian mengangkat pedangnya.

“Semua mundur ke selatan! Jangan pertahankan tembok lagi!”

Namun perintah itu datang terlambat.

Kota Qinghe telah terbuka.

Dan gelombang binatang iblis mulai mengalir masuk seperti banjir hitam yang tidak bisa dihentikan.

Di tengah reruntuhan jalan, Feng Ling Yue menggenggam tangan Bai Hu.

“Jangan lepaskan tanganku.”

Bai Hu membalas genggamannya sekuat tenaga.

“Aku tidak akan melepaskannya.”

namun,,mereka belum mengetahui bahwa sebelum matahari tenggelam, janji sederhana itu akan menjadi sesuatu yang paling sulit dipertahankan.

Bersambung..

1
REY ASMODEUS
atau jadi tetua agung? 🤣🤣🤣🤣
omes
kocak novel yang sangat mengocakan 🤣🤣🤣
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut
Gege
coba MC belajar alkemis kan bisa tuh Thor.. jadi kuat jadi hebat bisa kayah rayah dan engga mati muda...🤣
Joy: bisa juga itu,, terimakasi untuk masukanya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!