Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.
Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.
Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.
"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Ponsel Evan yang berada di saku celananya tiba-tiba berdering. Ia mengeluarkannya, lalu mengernyit saat melihat nama yang muncul di layar. Papa Baskara, rahang Evan mengeras. Ia sudah bisa menebak alasan panggilan itu.
"Ehm ... saya angkat sebentar."
Laras hanya mengangguk sopan.
"Silakan, Tuan."
Evan melangkah keluar kamar Aurora, lalu menutup pintu perlahan agar tidak membangunkan bayi yang sedang tertidur. Baru beberapa detik panggilan tersambung, suara bentakan langsung terdengar dari seberang.
[Evan! Apa yang sebenarnya terjadi? Berani sekali kamu mengusir Carolin!]
Evan memejamkan mata sejenak.
"Pa, izinkan saya menjelaskan."
[Tidak ada yang perlu dijelaskan! Kamu lupa siapa yang membesarkan bisnismu! Kamu lupa siapa yang membuatmu berdiri sampai hari ini!] Suara itu terdengar semakin keras.
Di balik pintu kamar, Laras hanya melirik sekilas. Ia tahu, malam ini Evan pasti sedang menerima akibat dari semua yang telah terjadi.
Perlahan Laras mengeluarkan ponselnya. Ia membuka sebuah nomor yang sudah lebih dari sebulan tidak pernah dihubunginya. Nama di layar itu membuat sudut bibirnya terangkat.
Beberapa saat kemudian, panggilan tersambung.
[Halo?] Suara Elang terdengar hangat dari seberang.
[Laras? Kamu akhirnya menghubungiku juga.]
Laras tersenyum kecil.
"Maaf, baru sekarang aku bisa menelepon. Aku harus berhati-hati."
Elang mengembuskan napas lega.
[Aku sempat khawatir. Bagaimana keadaanmu?]
Laras menatap Aurora yang masih terlelap.Matanya dipenuhi tekad.
"Aku berhasil."
[Apa maksudmu?]
"Aku berhasil membuat hubungan Evan dan Carolin retak. Mereka bertengkar hampir setiap hari. Bahkan malam ini Evan mengusir Carolin dari rumah."
Di seberang sana, Elang terdiam beberapa saat.
[Berarti rencanamu mulai berhasil.]
"Iya, tapi..." Suara Laras berubah lirih.
"Aku sudah tidak peduli lagi soal harta. Aku tidak peduli apakah perusahaan Hartono kembali kepadaku atau tidak. Aku hanya..."
Laras menggenggam tangan mungil Aurora.
"Aku hanya ingin Aurora kembali menjadi anakku. Itu saja." Suaranya mulai bergetar.
"Aku ingin membesarkannya. Aku ingin dia memanggilku Ibu. Itu lebih berharga daripada semua kekayaan yang pernah kumiliki."
Elang memejamkan mata. Ia tahu, selama ini yang paling dirindukan Laras bukanlah perusahaan ataupun kehidupan mewahnya.
Melainkan putri yang direnggut dari pelukannya.
[Laras, Aku akan membantumu. Apa pun yang terjadi.]
Laras mengangguk pelan meski Elang tak bisa melihatnya.
"Terima kasih."
Elang melanjutkan dengan suara mantap.
[Soal perusahaan Hartono ... kalau memang nanti diperlukan ... Aku bisa membeli saham-saham yang sudah berpindah tangan. Sedikit demi sedikit. Kalau perlu, kita rebut kembali kendali perusahaan itu. Aku punya kemampuan untuk melakukannya. Tapi keputusan tetap ada di tanganmu.]
Air mata Laras perlahan menetes.
"Terima kasih, Elang. Selama ini ... hanya kamu yang selalu ada untukku."
Elang tersenyum tipis.
[Aku sudah berjanji. Aku tidak akan membiarkan kamu berjuang sendirian. Perebutan Aurora baru saja dimulai. Dan kali ini ... kamu tidak akan kalah lagi.]
Laras memandang wajah putrinya yang tertidur damai.
Dengan penuh keyakinan ia berbisik pelan,
"Tunggu Ibu, Sayang ... Ibu pasti akan membawamu pulang."
Berlin, Jerman.
Malam yang tenang menyelimuti sebuah rumah bergaya modern.
Elang mengakhiri panggilan teleponnya dengan Laras, lalu meletakkan ponsel di atas meja kerja. Tatapannya masih kosong, memikirkan wanita yang sejak dulu selalu ia lindungi, meski hatinya tak pernah benar-benar dimiliki olehnya.
Pintu ruang kerja terbuka perlahan.
Seorang wanita masih terlihat begitu muda masuk sambil menggendong seorang bayi perempuan yang sedang tertidur pulas di pelukannya.
"Mama Ara..." gumam Elang pelan. Wanita itu tersenyum hangat.
"Kamu baru selesai menelepon Laras?"
Elang mengangguk. "Iya, Ma."
Ara mendekat, lalu duduk di sofa yang berada di dekat putranya.
"Dia belum menyerah?"
Pertanyaan itu membuat Elang tersenyum tipis.
"Bukan, Laras sudah menyerah pada cintanya kepada Evan. Tapi dia belum menyerah memperjuangkan hidupnya. Dan dia belum menyerah untuk merebut kembali putrinya. Aku akan terus membantunya. Selama dia masih membutuhkan bantuanku."
Ara menghela napas pelan. Tatapannya beralih pada bayi mungil yang masih tertidur damai dalam gendongannya.
Elang ikut menatap bayi itu.
"Sudah tidur?"
Ara mengangguk sambil mengusap lembut kepala bayi tersebut.
"Iya, Acha memang baru saja tertidur."
Melihat wajah bayi itu, senyum Elang perlahan mengembang. Sesaat kemudian, ia kembali menatap ibunya.
"Ma ... kalau semua urusan Laras sudah selesai. Aku akan pergi dari hidupnya."
Ara terdiam. Elang melanjutkan dengan senyum yang menyimpan banyak kepedihan.
"Dia berhak memulai hidup yang baru. Tanpa bayang-bayang masa lalunya. Dan tanpa aku, Aku hanya ingin memastikan dia mendapatkan kembali apa yang telah dirampas darinya. Setelah itu ... aku akan mundur."
Ara menatap putranya penuh kasih sayang. Seorang ibu tentu mampu melihat perasaan yang disembunyikan anaknya. Ia tahu selama ini Elang bukan hanya membantu Laras karena rasa iba. Melainkan karena cinta yang begitu dalam. Namun, cinta itu dipilihnya untuk tetap diam.
Ara tersenyum lembut.
"Kalau itu memang keputusanmu ... Mama akan mendukung. Yang penting jangan pernah menyesali pilihanmu nanti."
Elang mengangguk pelan.
"Aku tidak akan menyesal, Ma. Asal Laras dan Aurora bisa hidup bahagia."
Ara tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengusap pelan bahu putranya.
Di dalam keheningan malam itu. Seorang pria memilih mengubur cintanya sendiri demi melihat wanita yang dicintainya mendapatkan kembali masa depan yang telah dirampas.
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Makin seru ajh nih,,
kasih tau Ama dunia ini orang jadi ibu palsu
pencitraan aja
tapi emang.. jadi keinget dulu ada artis China yg nyari ibu pengganti buat ngelahirin ank ank nya karena dia ga mau badannya berubah
hadeeeh🫣🥹🥹.
ya..pas udah lahir,ga ada sama sekali ikatan batin nya sama anknya
akhirnya ga Deket...dan kyk orang asing