Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.
Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Utusan Dari Istana
Perjalanan keluar dari Kerajaan Kencana membawa Bobon dan Wulan melewati hutan lebat di sebelah timur. Bobon memimpin jalan dengan langkah mantap, sesekali berhenti untuk merasakan denyutan di pergelangan tangan kirinya. Segel kelima terus berdenyut seperti jantung yang berdetak, membimbingnya ke arah yang tidak diketahui.
"Kau yakin kita menuju ke arah yang benar?" tanya Wulan sambil berjalan di sampingnya.
"Aku tidak bisa menjelaskannya, Wulan. Tapi aku merasakan tarikan dari arah ini. Seperti ada suara yang memanggilku."
"Suara apa?"
"Suara yang familiar. Seperti... seseorang yang aku kenal."
Wulan mengerutkan kening, tapi tidak bertanya lebih lanjut. Dia percaya pada Bobon. Selama bertahun-tahun dia meragukan segalanya, tapi sekarang dia memilih untuk percaya.
Mereka berjalan selama beberapa jam sampai tiba di sebuah persimpangan jalan. Di sana, mereka melihat sekelompok orang berkumpul. Mereka berpakaian rapi dan membawa bendera kerajaan. Itu adalah utusan dari istana.
Bobon mendekat. "Ada apa? Kenapa kalian di sini?"
Seorang utusan yang tampaknya pemimpin kelompok itu menatap Bobon dengan mata serius. "Kami mencari Tuan Bobon. Kami dari Kerajaan Kencana. Ada kabar penting."
"Aku Bobon. Ada apa?"
Utusan itu membungkuk. "Tuan, kami diperintahkan untuk menyampaikan pesan dari Yang Mulia Raja Arya. Ada gerakan mencurigakan dari Sekte Iblis di wilayah timur. Mereka mengumpulkan pasukan di dekat Gunung Batu Hitam."
"Gunung Batu Hitam? Di mana itu?"
"Sebelah timur dari sini, sekitar tiga hari perjalanan. Kami mendengar mereka merencanakan sesuatu. Mungkin serangan besar-besaran."
Bobon mengangguk. "Aku akan ke sana. Aku akan menyelidiki."
"Tuan, Yang Mulia juga memerintahkan kami untuk memberi tahu bahwa Nenek Mira sudah kembali ke istana dengan selamat. Dia meminta Tuan untuk berhati-hati."
"Terima kasih. Sampaikan salamku pada Yang Mulia."
Para utusan itu pergi. Bobon berdiri di persimpangan jalan, memikirkan keputusannya. Denyutan di pergelangan tangannya menunjuk ke arah yang sama dengan Gunung Batu Hitam.
"Sepertinya takdir membawaku ke tempat yang sama," gumam Bobon.
"Kau yakin?" tanya Wulan. "Ini mungkin jebakan."
"Mungkin. Tapi aku harus tetap pergi. Jika Sekte Iblis merencanakan serangan, aku harus menghentikannya."
Wulan menghela napas. "Baiklah. Aku ikut denganmu."
Mereka melanjutkan perjalanan ke arah timur. Sepanjang jalan, Bobon merasakan energi di sekitarnya semakin kuat. Alam tampak lebih hidup. Pohon-pohon berbisik, burung-burung bernyanyi, dan angin membawa aroma bunga yang harum.
"Bobon, aku ingin bertanya sesuatu," kata Wulan tiba-tiba.
"Tanya saja."
"Setelah kita menghentikan Sekte Iblis dan semua segelmu terbuka, apa yang akan terjadi padaku?"
Bobon menatap Wulan. "Kau akan tetap di sisiku. Itu yang aku inginkan."
"Tapi aku pernah menjadi Jenderal Iblis. Aku melakukan banyak hal buruk. Apakah orang-orang akan menerimaku?"
"Aku akan memastikan mereka menerimamu. Kau sudah berubah, Wulan. Itu yang terpenting."
Wulan tersenyum. "Terima kasih, Bobon. Kau selalu membuatku merasa lebih baik."
Mereka berjalan bergandengan tangan. Untuk sesaat, mereka melupakan semua bahaya yang menanti. Hanya ada kedamaian di antara mereka.
Pada hari ketiga perjalanan, mereka tiba di kaki Gunung Batu Hitam. Gunung itu benar-benar hitam, terbuat dari batu vulkanik yang mengkilap. Tidak ada tumbuhan yang tumbuh di sana. Udara terasa panas dan kering.
"Di sini tempatnya," kata Bobon. "Aku merasakan kehadiran banyak orang di atas sana."
"Apa kita naik?" tanya Wulan.
"Kita naik. Tapi hati-hati. Ada sesuatu yang aneh di sini."
Mereka mulai mendaki. Setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya. Bobon merasakan energi gelap menyelimuti gunung itu. Energi yang akrab. Energi yang mengingatkannya pada sesuatu.
Saat mereka mencapai puncak, Bobon melihat pemandangan yang mengejutkan. Di sana, puluhan prajurit Sekte Iblis sedang berkumpul di sekitar sebuah altar batu hitam. Di tengah altar, ada seorang pria berjubah hitam dengan wajah tertutup topeng.
Bobon merasakan denyutan kuat di pergelangan tangannya. Segel kelima bergetar seperti akan pecah.
"Siapa dia?" bisik Wulan.
"Aku tidak tahu. Tapi aku merasakan... hubungan. Seperti aku mengenalnya."
Pria berjubah hitam itu menoleh ke arah mereka. Dia tersenyum di balik topengnya. "Kau datang, Bobon. Aku sudah menunggumu."
"Kau tahu aku akan datang?"
"Aku tahu. Karena aku memanggilmu. Dengan segel di tanganmu."
Bobon terkejut. "Kau... kau yang membuat segel ini berdenyut?"
"Benar. Aku adalah orang yang menaruh segel-segel itu di tubuhmu 10 tahun lalu. Aku adalah orang yang mengubahmu menjadi bocah."
Bobon terdiam. Semua yang dia pikirkan selama ini ternyata salah. Dia mengira segel-segel itu adalah kutukan, tapi ternyata ada yang menaruhnya dengan sengaja.
"Kenapa?" tanya Bobon dengan suara bergetar. "Kenapa kau melakukan ini padaku?"
Pria itu melepas topengnya. Wajah di bawahnya tampan dan familiar. Sangat familiar. Bobon merasakan dadanya sesak.
"Saudaraku," bisik Bobon. "Kau... kau saudaraku."
Pria itu tersenyum. "Benar, Bobon. Aku adalah saudaramu. Aku yang mengubahmu menjadi bocah. Aku yang menyegel kekuatanmu. Dan aku yang akan menghancurkanmu."
Bobon jatuh berlutut. Air mata mengalir di pipinya. Segalanya terlalu berat. Terlalu menyakitkan.
"Kenapa?" bisiknya lagi.
"Karena kau terlalu kuat, Bobon. Kau terlalu baik. Kau membuatku terlihat lemah di mata ayah kita. Aku benci itu."
"Ayah kita? Siapa ayah kita?"
Pria itu tertawa. "Kau benar-benar lupa segalanya, ya. Ayah kita adalah Kaisar Kegelapan. Aku adalah putra pertamanya. Dan kau... kau adalah putra keduanya yang dikirim untuk menghancurkannya."
Bobon merasakan dunia berputar di sekelilingnya. Semua yang dia tahu selama ini ternyata bohong. Dia bukan Pendekar Dewata yang terlahir kembali. Dia adalah anak dari Kaisar Kegelapan.
"Tidak mungkin," bisik Bobon. "Aku tidak percaya."
"Kau harus percaya. Karena itu kenyataan. Dan sekarang, kau akan mati di tanganku. Seperti yang seharusnya terjadi 10 tahun lalu."
Pria itu mengangkat tangannya. Energi gelap berkumpul di telapaknya. Bobon tidak bisa bergerak. Tubuhnya terasa beku.
Tapi Wulan bergerak. Dia berdiri di depan Bobon dan meniup serulingnya. Melodi yang kuat dan keras keluar dari seruling itu, menahan serangan pria itu.
"Jangan sentuh dia!" teriak Wulan.
"Wulan, kau wanita bodoh. Kau pikir kau bisa mengalahkanku? Aku adalah orang yang mengajarkanmu semua ilmu iblis itu."
Wulan terkejut. "Kau... kau guru iblisku?"
"Benar. Aku yang melatihmu menjadi Jenderal Seruling Kematian. Dan aku yang akan menghancurkanmu sekarang."
Pria itu mengayunkan tangannya. Energi gelap melesat ke arah Wulan. Tapi Bobon sudah bangkit. Dia melompat di depan Wulan dan menangkis serangan itu dengan dadanya.
"BOBON!" teriak Wulan.
Bobon jatuh ke tanah. Dadanya terasa terbakar. Tapi di balik rasa sakit itu, ada sesuatu yang lain. Energi segel di pergelangan tangannya mulai meleleh.
Segel kelima terbuka.